Hemi-Detox Digital

Bismillahirrahmanirrahim…

yasmin-mogahed-don-t-get-attached-to-moments-islamic-quotes-001

Beberapa waktu lalu saya membaca lagi tentang kiamat, lalu membayangkannya. Setiap membaca tentang kiamat, ketakutan datang menghampiri. Sebagaimana kata hadits : ‘Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas.’ (HR. Ibnu Majah, Thabrani, dan Al Haitsamiy. Syaikh Al Albaniy dalam Shahih Ibnu Majah 2/419 berkata : hadits hasan)

Sumber: https://muslim.or.id/5598-ingat-mati.html

Lalu dalam satu waktu, saya ingin segera menutup personal akun di beberapa media sosial. Untuk saya sekarang ini, media sosial itu lumayan memberikan mudharat yang lebih dari manfaatnya. Ini opini personal, absolutely. Apa saja mudharat yang terjadi di sana.

  1. Kehilangan waktu spesial dengan anak. Mau tidak mau, sesekali saat bisa ‘duduk’ saya selalu tergoda untuk scrolling media sosial. Mau itu instagram, fb, atau wa.
  2. Selalu ingin posting. Terutama insta-story atau wa story. Tentu sharing yang penting dan bermakna, sama sekali dianjurkan. Tetapi kadang saya sendiri masih suka posting yang tidak penting. Apalagi kalau sampai posting nyinyir, na’udzubillah. Karena kita tidak berhak menghakimi.
  3. Ingin mengemukakan pendapat pro-kontra. Kadang saat melihat isi timeline fb, ada yang nggak cocok, pengen bikin status kontra. Nyindir-nyindir yang lain >,< Padahal, kalau dipikir sekarang, apa yang menurut kita tidak baik belum tentu demikian menurut Allah. Saya sudah tidak ingin menyakiti dan membaperi diri sendiri maupun orang lain. Tidak penting.
  4. Ini yang paling penting sebetulnya. Waktu produktif untuk menabung hari akhir menjadi berkurang. Ini murni menurut saya pribadi, karena manajemen waktu yang kurang. Karena kalau sedang tidak ada pasien, untuk menghilangkan bosan, sambil buka media sosial. Sekarang rasanya sudah bukan masanya untuk saya begitu lagi. Ada banyak PR yang lebih baik. Banyak ayat-ayat yang terlewat.
  5. Paling tidak dengan sementara menutup media sosial, saya belajar lagi bagaimana mengatur waktu yang lebih bermakna.  Belajar nyuekin hape. Ini masih belajar, kadang kalau bosan baca buku masih buka instagram juga karena masih jadi enterpreneur via instagram.
  6. Saya masih harus menghilangkan reflek untuk memosting sesuatu yang sebenarnya tidak ada perlunya. Ya.. ini agak susah, karena kadang ingin sharing hal-hal baik juga. Tapi kadang sharing itu menjadi bumerang, atau bahkan melukai seseorang. Hiks, na’udzubillah. Kalau membayangkan masa lalu tanpa media sosial, kayaknya hidup itu ya santai aja sih. Udah bahagia dengan mendekap buku Harry Potter di pojok kasur. Hihi.
  7. Saya beberapa kali jadi korban ‘status nyinyir’ dari teman sendiri. It’s okay kalau kami sedang ‘bermasalah’. Hal seperti ini sepertinya wajar saja. Biasanya kami butuh ruang untuk saling mengerti, berpikir, saling menghormati sampai nantinya kami bisa kembali seperti biasa. Tapi ada beberapa yang lebih suka menumpahkan rasa kecewanya kepada media sosial, bahkan sampai membawa-bawa masalah fisik. Kecewa berat. Tapi kami sudah sama-sama minta maaf. Hanya lubangnya masih belum bisa tertutup sempurna. Ada scar. Tapi bukan ini penyebab detox digital, itu masa lalu. Ini soal masa depan.

Untuk yang lupa, kalau hari kiamat itu pasti dan kita makin mendekatinya… Bersama Taqy Malik mari didengarkan dan dicermati 🙂

 

Advertisements

Dry Socket (Nyeri yang Belum Berakhir)

Bismillahirrahmanirrahim

dry socket

Untuk yang sudah baca postingan sebelum ini, cerita kemarin masih berlanjut. H + 5 odontektomi geraham 3 dan cabut gigi geraham 2 gigiku terasa linu. Awalnya di gigi seri bawah, lama-lama bekas cabutan terasa juga. Karena baru pernah mencabut gigi yang kelihatannya masih baik-baik saja, rasanya odontektomi kali ini lebih parah. Nyerinya belum hilang juga.

Sabtu karena parno, kontrol gigi ke Spesialis Bedah Mulut. Pulang praktek seharian, bau kecut, masuk ruangan langsung aff hecting alias ambil benang jahitan. Laporan nyerinya, katanya ga mungkin berhubungan sama odon. Mungkin karena bengkaknya jadi merembet di saraf.

Hari berlalu sampai H+10 masih belum ada perubahan, malah makin nyeri.  Pas kulihat sendiri seperti ada lubang menganga yang dalam. Akhirnya kontrol ke sejawat, ruangannya sebelahan. Bener aja ada sesuatu. Dry socket. Sebelum kontrol, sudah googling dan ketemu 2 suku kata ini kok agak mirip kasusnya denganku. Tapi karena bukan dokter gigi, aku harus menyerahkan pada ahlinya.

Dry socket adalah  kondisi peradangan yang dialami bagian tulang rahang pada tiga atau empat hari pasca pencabutan gigi permanen. Komplikasi yang terjadi setelah pencabutan gigi ini menyerang 2-3 persen pasien, dan 20 persen dari mereka terpaksa mencabut gigi geraham bungsu (wisdom teeth) bawah. Want to know more about dry socket?

Akhirnya gigiku dikuret jaringan nekrosis-nya, alias jaringan yang mati sampai bersih. Lalu dibuat perdarahan dengan sengaja supaya membentuk gumpalan bekuan darah yang akan melindungi saraf. Setelah setengah jam menggigit kapas, aku makan dan segera minum obat karena cenut-cenutnya sudah lumayan. Kata drg biasanya dry socket ini bikin nggreges, alhamdulillah aku ga ngalamin. Cuma giginya memang senut-senut banget sampai gigi depan, kalau leher sakit entah memang karena si dry socket atau karena salah tidur >,<

Obatnya minum lagi, analgetik, antibiotik, dan NSAID. Sebaiknya kontrol rutin untuk membersihkan gusi, supaya jaringan baru cepat tumbuh. Butuh waktu 7-10 hari sampai pulih. Yah… mungkin makannya harus dijaga dulu ya, jangan nggragas hihi.

Salam sehat. Jangan lupa gosok gigi dengan baik minimal 2 x sehari ya. Dan periksakan gigimu tiap 6 bulan, meski tanpa keluhan. :*

My Second Odontectomy

Bismillah

catsblog

 

Ada yang sudah familiar dengan kata ‘odontektomi’? Odontektomi merupakan tindakan bedah untuk mengambil gigi. Biasa dilakukan apabila Molar 3 alias gigi geraham bungsu (kenapa bungsu, karena dia tumbuh di usia 20-an awal) tidak tumbuh sempurna. Ada beberapa grade, nah M3 ku kalau kata dokter gigi adalah yang paling tinggi grade-nya. Horizontal Class III. Karena si gigi sama sekali nggak muncul di permukaan gusi. Yang artinya dia tiduran, mendesak gigi depannya.

impaksigigi

Operasi pertama dilakukan tahun 2014, oleh drg Helmi, Sp. BM (Bedah Mulut). Seingatku operasi saat itu cukup lama, 1 jam mungkin. Paska operasinya baik, nggak sampai 2 jam darah berhenti, kalau nggak salah ingat ya. Dan nyerinya cukup pakai 1 asam mefenamat sang analgetik andalan karena dulu belum menyusui.

Beberapa hari terakhir kepalaku sering migrain, Tension Type Headache, dan semua daerah gigi bungsu senut-senut. Penyebab primer sakit kepala ada beberapa hal, salah satu yang harus disingkirkan adalah area gigi. Karena pakai kacamata sudah, kok tetap sakit kepala. Nah, akhirnya mulailah ikhtiar.

Sebenarnya pakai BPJS bisa gratis lho. Di Purwokerto ini, biasanya operasi odontektomi Impaksi Molar 3 dilakukan di RS Margono Soekarjo dengan dr. Pedro, Sp. BM. Biasanya, operasinya menggunakan bius total alias General Anestesi. Hmm.. buat orang sepenakut saya, untuk operasi gigi yang bisa dibius lokal ini, nggak mau lah sampai anestesi umum. Hiks. Seram.

Jadi meski harus dengan biaya sendiri, saya lebih pede untuk odontektomi di praktek pribadi dr. Helmi, Sp.BM di jalan Kalibener. Hari itu dengan berbekal budget perkiraan dana 2 juta untuk umum, harga sejawat ada perbedaan. Saya datang ke praktek-an setelah magrib. Jam praktek 4-8 malam. Alhamdulillah nggak menunggu lama, cuma 1 pasien sebelum saya.  Setelah dijelaskan macam-macam, ditawarkan mau tindakan kapan.

Oya, saya sudah berbekal foto panoramic 3 tahun lalu. Saya mau hari itu juga diambil. Okay. Begitu alat disiapkan, injeksi anestesi disuntikkan, dokter lihat M2 kiri bawah saya di depan M3 yang akan diambil, post tambalan. Sementara di rontgent belum ada. Hikkss. Tadinya si khawatir ga jadi. Masalahnya sudah dibius bro! Oya, masalah dibius lokal ini, melalui injeksi. Sakit sedikit, tapi masih lebih sakit sakit gigi ya. Hehe.

Dikasi pilihan M2 mau diambil duluan nggak. Karena sepertinya sudah jelek. Kalau M3 diambil, terus ternyata M2 jelek. Masalahnya jadi nambah panjang. Juga bisa jadi penyebabnya gigi M2 itu yang suka senut-senut dan bikin migrain. Setelah tanya bagaimana kelanjutan proses memamahbiakku kalau M2 hilang, yang artinya ketiadaan 1 gigi geraham itu ya punya arti banyak memang. Kalau dikonstruksi, gigi geraham agak susah. Tapi masih bisa sih ngunyah. Yasudah lah aku rela gigiku diambil. Dalam hati sih sedih. Tapi karena dari penampakan sudah jelek, dan ada kemungkinan M2 itu yang bikin suka migrain. Untuk kasus yang parah bisa timbul nanah dll lha… Kasusnya baru ada belakangan, ditangani juga sama dokternya. Ya akhirnya cabs deh.

Sesungguhnya odon kali ini lebih membuat agak trauma. Tapi masih wajar sih. Cuma lebih tegang aja karena yang diambil 2. Dan tahu nggak kalau tenaga super drg itu saat menarik gigi yang akarnya masih bagus, berasa rahang mau copot juga. Huhu. Ya merem-merem gimana gitu, bikin dokternya agak keki kayaknya karena ambang nyeriku rendah (dipijet aja ga mau keras-keras).

Setelah M2 diangkat, M3 lebih mudah diambil. Dipecah dulu dengan bor berbahan super-keras yang berkali lipat lebih kuat dari baja. Harganya mahal (katanya hihi). Bolak-balik drg bilang ini sulit sebenernya posisinya, kuasa Allah juga karena nggak kena syaraf. Dikit lagi kena ini di bawahnya. Untung M2 diambil dulu.

Oya… drg Helmi, Sp.BM lebih suka tindakan odontectomy impaksi ini diambil secara bius lokal. Pasien masih sadar, bisa diajak bicara, memudahkan saat operasi dan paska operasi yang harus menggigit kassa untuk dep perdarahan.

Sebelum operasi, drg sudah bilang kalau Impaksi M3 meski gigi semua sudah habis, dia akan selalu bikin masalah. Jadi memang harusnya diambil. Masalahnya bisa macam-macam yang jelas seram. Masalah gigi memang nggak bisa diabaikan. Bisa bernanah, infeksi, merambat kemana-mana, merusak gigi lain, dll.

Jadi, sebelum terlambat, ayo periksakan gigimu tiap 6 bulan. Kalau sudah ada indikasi odontektomi, jangan menunggu sering mendapat keluhan yaaa. Salam sehat. Jangan takut operasi gigi, masih lebih menyeramkan kalau anak nggak mau makan. Bhay!

Sumber foto 

Rekreasi : Jalan-jalan ke Purbasari Riverworld

Bismillahirrahmanirrahim

PicsArt_07-13-09.12.34-01

Siapa ibu yang paling males jalan, lebih seneng ngendon di rumah? Aku yang paling duluan angkat tangan. Karena sebagai Ikatan Anak Rumahan Indonesia, aku paling males jalan-jalan terutama kalau hari libur hehe.

Rencana ini sudah lama banget dipikirkan. Bahkan tadinya mau janjian double date tapi kendala kendaraan belom ada. Qadarullah hari ini ada odong-odong yang nganggur dan bisa dibawa jalan. Ada yang rela nemenin pula, karena berdua aja ke tempat begini oh aku tak sanggup.

Pertama kali aku ke tempat ini adalah saat SD dulu, naik angkot sekelas haha. Bhayangkhan sudah lama banget kan. Nah karena konon sudah jauh lebih besar dan berbeda, jadi aku pengen mengenalkan keanekaragaman hayati pada anak. Kasihan dia jarang main kecuali ibunya free day.

Kami berangkat agak kesiangan, jam setengah sebelas setelah kusiapin segala bekal yang mungkin dibutuhkan. Sampai sana seperti biasa si anak mengkirut, gak mau turun dari gendongan. Tipikal anak ini, agak lama ‘manasinnya’. Kami masuk, mulai ke aquarium yang tentu sudah lebih baik daripada dulu. Banyak ikan-ikan sungai yang fantastis. Piranha ada juga lho. Serem banget lewat depan mereka, semua menghadap ke kami. Baris kayak mau nerkam, hihi.

IMG_20170713_110334-01.jpeg

Selain itu bintangnya adalah Arapaima Gigas yang dulu cuma sebiji doang, sekarang udah kayak kumpulan ikan mas di kolam. Banyak dan gedhaayy. Eh lupa ngasih tahu kalau di sana tadi ramai banget karena banyak yang wisata. Pupus sudah bayanganku wisata-pribadi karena kupikir anak-anak sudah pada sekolah (bhay).

Setelah lihat ikan dan burung, mampir main ayunan sambil nyuapin anak dulu. Kami nggak beli jajan atau minum. Sudah bawa air putih dari rumah. Buat anak, sudah bawa makan, buah, jajan, minum. Komplit. Setelah itu barulah si anak kecil ini mau diajak jalan.

Lihat perahu aku iseng nanya, “Ich mau naik perahu?” “Au.” Wow, dia mau. Okaylah. Kami beli tiketnya yang murah, cuma 3000 per orang buat keliling kolam naik perahu. Mau ngetes si anak juga, dia takut gak, ternyata enggak, masih tetep makan jagung keju meski ga senyum sedikitpun.

Abis itu si anak lebih aktif main naik tangga, dan jalan-jalan sendiri. Eh tapi malah udah waktunya pulang karena pintu keluar sudah di depan, hehe. Pas lihat pelampung bebek dia nunjuk-nunjuk sambil bilang “Bebe Bebe.” Mungkin dia minta, tapi nggak kukasih lah.

Sekian channel travelling with baby kali ini. Hihi. Semoga next bisa bikin judul Berlibur di Malang, dan main ke Batu Secret Zoo 🙂 ciao~

Gamis by @hayalabelle

 

 

#MomenPertama Pergi ke Pasar Berdua

Bismillahirrahmanirrahim

1499740395318.jpg

Cie… ke pasar aja dibikin blog. Ya kaya ga tau aja blogger, hal yang ga penting bisa dijadiin penting. Setuju? Hihi.

Kali ini Buni mau cerita tentang #MomenPertama. Jadi ceritanya si bayi lagi dalam proses penyapihan dari gadget. Ini murni kesalahan emak-nya. Pas sebelum lebaran bayi sakit, jadi biar dia diem di kasur dikasihlah tontonan. Sebelumnya anaknya aktif dan eksis, dia cuma mau nongkrongin hape sebentar aja, atau pas mau tidur (ini karena emaknya pengen dia berhenti main dan segera ngantuk).

Abis dia sakit, giliran emaknya sakit. Bolak-balik dia minta gendong emak yang lagi sempoyongan demam, minta ‘ana’ ‘mimi madu’ dll. Jadi demi kesembuhan segera, anaknya dikasi gadget biar emak bisa tidur. Niatnya kalau sudah sembuh, puasa gadget lagi.

Eh.. abis emak sembuh. Emak sakit lagi seminggu setelah lebaran. Nempel lagi sama gadget, dan dia jadi fasih bilang ‘awat n tadi’ alias pesawat yang tadi. ‘eta n tadi’ alias kereta yang tadi. Dan dia milih kalau mau nonton, ga bisa dikasi yang ga suka. Pasti rewel dan nangis.

Abis emak mendingan, anaknya sakit lagi >,< Pokoknya berat banget deh kemaren, eh ga juga sih. Alhamdulillah hehe. Saking abis Vomit dan Diare seharian, besoknya si anak ikutan Vomit. Buni ga minum obat, lupa. Lupa ngisi perut tepat waktu juga. Pas masuk kerja sekaki-kaki semua kesemutan, hampir mati rasa, dan aneh aja.

Pusing si biasa aja. Tapi bersyukur di hari yang biasanya pasien banyak, hari itu sedikit. Ditensi ternyata 80/60. Jadi pulangnya dengan kaki kebas itu pergi ke sate kambing, 😀 Udah cukup setrong belum sih sebagai makhluk LDM?

Back to the topic. Jadi karena pagi ini setelah mainan semua ditumpahin dan bayi bosen, dia mulai nyari gadget. Sementara dia belum mau makan, dan comfort food dia yaitu OATMEAL BUAH kehabisan stok oatmeal. Jadi, kuajak aja dia ke mini market. Kami gak mandi, ngapain mandi? Haha. Mungkin ini biasa bagi sebagian orang, tapi bepergian gak mandi biasanya BIG NO buatku.

Bayi senang diajak jalan naik mobil. Kami masuk ke mini market 24 jam. Ichi kukasi keranjang merah, tapi dia mau yang biru. Dia jalan, masukin barang-barang yang menurutnya menarik tapi kutaro lagi saat dia ga tau. Aku ajak dia cari oatmeal dan beberapa barang. Terakhir kuajak ke mini market dia nongkrong di depan rak susu dan gak mau pergi. Oya, dia minta wafer, lapar.

Alhamdulillah kali ini dia nurut untuk beli yang dibutuhkan aja dan pergi ke kasir. Karena tenaga masih full. Sekalian aja kuajak dia ke PASAR MANIS. Info aja PASAR MANIS ini Pasar yang belum lama diresmikan oleh Presiden. Awalnya berupa Gedung Kesenian, tapi disulap jadi Pasar Modern.

Tempatnya nggak terlalu besar, seruangan itu isinya sudah pepek (e dibaca seperti beras) artinya lengkap. Ruang utama berisi sayuran, buah-buahan, jajanan, lauk, bumbu-bumbu, daging. Naik ke tingkat 2 ada sembako. Turun ke basement ada aneka ikan. Pasarnya cenderung bersih, nggak becek. Kecuali bagian ikan ada lah basahnya tapi masih ditolerir.

Ngomong-ngomong ini kali kedua aku ke pasar ini. Karena bawa bayi, aku belanja yang aku paling butuh aja. Di pasar ini bisa pembayaran non tunai, dan sebetulnya ada troli belanja. Aku sombong banget berangkat ga bawa gendongan karena kupikir bayi udah bisa jalan inih. Dan ternyata zonk.

Begitu masuk tempat baru dan ramai, bayi nggak mau turun dan harus digendong. Jadi, tips pertama adalah BAWA GENDONGAN. Ini penting banget kalau kamu pergi berdua doang. Padahal ga penting banget tips-nya alias geje wkwk.

Abis itu beli barang di tempat yang paling lengkap. Tujuanku adalah beli sayur, itu yang utama. Karena nggak mau ribet, aku cari di 1 kios yang hampir mencakup semua yang aku mau. Sayuran apa sih, sayuran yang jarang ada di warung. Rontak-rantek (sejenis rumput dan krokotan) yang mungkin kalau kalian lihat kayak makanan kambing hihi, kembang turi (aku suka banget, kemarin beli yang putih dan mupeng sama yang pink), daun pepaya jepang (ini ga pahit sama sekali, enakk). Karena banyak, aku titipin dulu di penjualnya sementara aku cari bumbu. Ini tips kedua : TITIPIN BARANG BIAR GA BERAT.

Bumbu juga cuma bawang merah ama putih, mayan harga lagi turun, hihi. Udah kelar, cuma beli itu doang. Tapi berat lho sodara-sodara. Bayi udah agak mau turun pas disuruh ambil jeruk sambal yang dikasi penjualnya buat mainan, abis itu dia ga mau lagi jalan, takut liat pedagang lain. Padahal kalo ditanyain penjualnya juga nyaut si. Tips ketiga : BELI YANG PALING PENTING, JANGAN LAPAR MATA, BERAT NDAN!

Pas mau balik, udah ambil titipan, mau dibawain sekalian karena liat kerempongan paripurna emak yang jalan ke pasar ama anaknya tapi gak mandi. Tapi aku nolak karena parkir mayan di seberang, kesian. Jadi selain gendong anak 11 kilo, aku bawa 2 keresek belanjaan. Eh ada jajan, mampir. Beli yang dipilih sama anak. Jadi tips nomer empat : GA USAH BEKEL, BELI AJA BANYAK KALI, hehe.

Sekeluarnya dari pasar, liat tukang ikan hias aku iseng tanya ke anak kicik. “Mau ikan?” “Au.” Wow kemajuan, biasanya nggak ada tertarik-tertariknya sama ikan. Jadilah kubeli dengan niatan bisa menarik si anak kecil supaya gampang mandi, lupa gadget, dan latihan motorik halus (nangkap ikan).

Akhirnya kami pulang. Di jalan as always dia minta kode rahasia para bayi, aku bilang, “Sebentar lagi sampai ya….” Dia ketiduran di jok sebelah 😛

Bagi yang penasaran nasib ikan di atas. Dengan sangat menyesal, anak bayi lagi suka nuang cairan dari 1 benda ke benda lain. Jadi toples isi air ikan itu dituang ke wadah yang lebih besar ama dia, dikobok dan ditangkapin ikannya. Entah ikannya terlalu lemah, atau anaknya tangannya lihai… akhirnya si ikan dipijit ama dia… huhu. Demi menyelamatkan teman-temannya, ikannya dilepas di selokan kolam ikan depan rumah.

 

THE END

 

Ada yang suka belanja ke pasar berdua anak aja? Share yuk 🙂

My Wishlist Come True (Review Singer Heavy Duty 4423)

Bismillahirrahmannirrahim..

Screenshot_2017-05-16-00-11-37-324_com.instagram.android.png

Siapa sih yang nggak punya wishlist? Dan berapa banyak wishlist yang kita mau? Sebanyak apapun boleh. Salah satu WL-ku adalah mesin jahit portable. Sudah lamaaa pengen.

Belajar jahit itu sejak SD. Ingat keliling nyari bahan, minta ke tukang jahit kain-kain perca untuk jahit baju barbie (kala itu, haha.. barbie juga yang murahan yah). Adekku yang berjarak 5 tahun juga jahit, pakai tangan. Kalau nggak ada bahan, kami pakai kaos kaki dan celana olahraga TK warna pink… digunting dan dibikin gaun atau rok.

Makin tua karena ada mesin jahit jadul nganggur, mulai belajar makai. Nggak ahli, tapi bisa. Lama-lama menjahit menjadi salah satu kegiatan untuk menghilangkan penat, bosan, dan menghabiskan waktu yang longgar.

Waktu hamil anak pertama (anak kedua soon insyaAllah, aamiin) kerjaannya ya njahit, ya masak, ya jualan buku, ya ngerajut. Itu karena kerjaan emang belum mau full. Nah kalau sekarang, paling kalau senggang.

Sempat maju mundur untuk beli Mesin Jahit Portable. Pertama, (tadinya) masih ada mesin jahit jadul. Kedua, apakah mesin jahit itu akan lebih banyak manfaatnya dibanding kalau aku ga ada mesin jahit? Saat sudah ada rencana proyek, dan mesin jahit lawas sudah dilempar ke orang lain, dan kebetulan rejeki ada budget… suami juga mendukung. Aku mengajukan arisan mesin jahit awalnya.

Sebelumnya pengen beli Janome, yang katanya tangguh dan banyak dipakai oleh crafter. Harga yang aku tahu, 2.500.000 dengan arisan 10 bulan. Murah kan? Makanya suami langsung setuju. Waktu ditanyakan, yang akan diarisankan itu yang seharga 3.800.000 yaitu Janome ST 24. Hanya dikenai ongkir 50.000. Arisan kehabisan, adanya cicilan 6 bulan.

Masih terasa berat. Aku kembali mempelajari spesifikasinya. Harga yang awalnya 2.500.000 sudah naik jadi 3.100.000 (harga arisan) dan konon harga arisan dan cicilan, dengan harga cash bedanya tidak jauh. Menurut yang mengadakan arisan.

Tapi karena galau, aku cari-cari harga di tempat lain. Ada yang jauh lebih murah. Tapi kembali galau, dengan merk-nya. Berkunjung ke toko mesin jahit, mendapat pencerahan kalau Janome belum ada dealernya di kota ini dan spare part lebih susah.

Dari penjual dan pemrakarsa arisan Janome, sebetulnya ada garansi 1 tahun dan free ongkir. Tapi kalau dilihat dari harga, Janome masih belum masuk ke budget-ku. Secara bukan crafter, hanya menyalurkan hobi. Aku butuh yang simpel, kuat, tapi juga tidak terlalu mahal kan.

Di dealer ada best seller yaitu Singer Heavy Duty 4411 dan 4423. Masing-masing hanya berbeda di pemasangan jarum otomatis, lubang kancing 4 vs 1 langkah, dan jenis jahitan 11 dan 23. Masing-masing berharga 2.400.000 dan 2.800.000 jauh ya dengan Janome.

Kalau untuk crafter yang memang pekerjaannya menjahit dan ada budget lebih, tentu saja pilih Janome tipe yang tinggi. Tapi untukku sekarang, Singer 4423 cukup oke. Hihi. Bahkan sebetulnya 4411 juga cukup sekalii.

IMG_20170511_133432-01.jpeg

Selama hampir 1,5 jam ditentir di Dealer. Bagaimana memasang benang, mengisi sekoci, menjahit biasa atau motif, membuat lubang kancing, memasang kancing, memasang resleting. Mesin ini juga memiliki lampu LED warna putih. Saklar. Perlengkapan tambahan lainnya.

IMG_20170511_133442-01.jpeg

Meski hujan, tetap pergi ke dealer untuk beli. Haha. Karena kepikiran terus. Bawa pulang pakai motor, karena nunggu ada mobil kelamaan.

Yang jelas, membeli ini dan suami ridho serta mendukung, sangat membahagiakan. Haha. Karena dulu pernah ngajuin belum acc. Uangnya ya pakai uang sendiri, dan pengen disaur dengan uang hasil menjahit juga. Hmm… wanita memang banyak maunya, tangan cuma 2, otak cuma 1 tapi maunya macam-macam.

Ini salah satu jualan yang kujahit sendiri… Sudah sold dan mengantri on booking lain. Tapi mamak ini sedang tevar.. Belum bisa jahit pesanan xixi..

IMG_20170512_221454-01.jpeg

Hey, ngomong-ngomong apa nih Wishlist teman-teman yang masih ingin dicapai? Share ya 🙂

Laporan SPT via E-SPT dan E-Filing

Bismillahirrahmanirrahim

pajak2

Assalamu’alaikum.

Howla! Hari ini beban hidupku berkurang 1 yaitu laporan SPT haha. Buat pemilik NPWP pasti sudah paham kalau kita harus laporan pajak, yekan. Nah makin ke sini kita diminta untuk mengisi pajak secara elektronik. Apalagi ASN katanya wajibun ya.

Aku udah pusing-pusing ingat kalau harus laporan. Ehem dengan penghasilan yang nyantai gini sih ga ada yang perlu dibayar 😀 Tapi harus tetep laporan. Nah, ternyata harusnya tuh DOKTER masuknya ke form 1770 jeng.. jeng.. yang mana butuh file CSV yang bacanya aja aku koleng.

Intinya adalah untuk DOKTER kita harus menggunakan aplikasi e-spt dan mengisi dengan e-filing. Kalau sejauh form 1770 S atau SS via web saja sudah bisa mengisi, enak dan mudah nggak perlu hitang-hitung.

Aku mau cerita ya. Jadi berhubung aku ga ada ide soal e-spt dan CSV akhirnya aku pergi ke KPP (Kantor Pajak Pratama). Di sana aku ditanyai sudah ngisi form belum? Mau e-filing, aku bilang sudah punya e – fin. Tapi begitu tahu aku belum punya aplikasi dan gak bawa laptop (batere mati, niatnya cuma mau minta aplikasi atau SPT manual) akhirnya disuruh ngisi manual.

Setelah lama ngisi, disuruh pindah meja. Ternyata aku WAJIB e-filing karena 2 tahun kemarin sudah pakai e-filing. Capedeh. Akhirnya aku ke meja pengisian e-spt yang karena aku gak bawa laptop, cuma dikopiin file untuk aplikasinya.

Sebetulnya di web tuh ada file-nya tapi entah kenapa nggak bisa dibuka dan diinstal. Baru aja semalam aku coba instal (dari pegawainya aku suruh instal 1 aja e-spt aplikasi) ternyata nggak lama. Mulai ngisi sesuai panduan online tapi ketiduran, dilanjut tadi pagi dan wow cepet juga sudah jadi.

Berhubung aku gak pakai bukti potong (gajiku nggak dipotong dari kantor) jadi lebih cepat nggak usah pakai lampiran.

Buat kamu yang gaptek dan kagok dan baper (eh bukan) dan galau… sebelum tanggal 21 April 2017 segera lapor SPT ya. Kalau bingung banget mending ke KPP, di sana nggak terlalu ramai kok sudah. Kalau pemalas kayak aku, silahkan belajar dari link di bawah ini ya. Mudah insyaAllah.

KLIK LINK DI SINI dan DI SINI 

image source

Family Portrait Minim Budget

SONY DSC

Assalamu’alaikum

Heylo 🙂 Siapa yang suka baper lihat foto keluarga temen lain? Yang kece-kece itu pastinya.. hihi. Made in studio foto yang kece. Keluarga Long Distance ini, emaknya juga kepengen punya foto keluarga yang agak-agak kece gitu kan. Nah mumpung si ayah lagi pulang selama 2 malam (catet, hahaha.. kami ga punya banyak waktu bareng tiap kali ayah berkesempatan pulang) jadi kami–emak red–pengen foto keluarga, titik harus jadi.

Sebetulnya hari Ahad itu Buni (emak,-red) harusnya praktek, tapi ngepasi ART ga bisa datang jadi minta ijin gantikan dulu alhamdulillah ada pengganti. Dan kelupaan harusnya memang jangan praktek karena ayah ada di rumah, dan ada acara kece AIMI Purwokerto juga.

17880209_10208940373935367_514338312835402360_o

Kami datang ke lokasi agak telat, lokasi di Merah Putih Resto Dekat Pasar Wage. Jam 10 bayi baru bangun, langsung mandiin dan bawa perlengkapan sedapatnya. Alhamdulillah lokasi dekat, gak sampai 10 menit sampek. Karena niatnya pulangnya tu mau cari spot foto yang ok, dan kalau gak dapat ya ke studio foto yang murah saja. Jadi kami bawa kamera si Sony Alpha A200 dan tripod yang kebetulan lagi gak sembunyi.

Gak kepikiran mau foto di MP, lupa kalau lokasinya cakep dan instagramable sampai Mimom menawarkan untuk foto keluarga (love u deh Mom >,<). Dengan kamera sakti Mimom, kami dijepret beberapa pose. Eits ini mau numpang foto apa ikut acara? Hihi. soalnya ruangan yang kami pesan udah full dengan peserta dan konselor yang kece-kece, jadi sambil momong anak kami ngungsi ples pepotoan.

Setelah itu, Buni juga ambil kamera jadul dan tripod untuk jejepretan di tempat-tempat strate(kh)is yang penting ada foto bertiga dalam fokus yang baik haha. Sampai si ayah kecapekan sesi foto kami hentikan :p

Yeay! Jadi kami punya foto (mayan) bagus dengan budget hanya es teh, es sarang burung, dan french fries. Ga jadi keluar uang dan waktu lebih lama.

Itulah salah satu tips Foto Keluarga Minim Budget kami, ada yang pernah melakukannya juga? Di mana lokasi favorit keluarga kalian? Share ya 🙂

Bhay >,< See you latte !

Fotonya sih banyak, tapi yang bisa kami share cuma ini ya :*

This slideshow requires JavaScript.

Review Viva Matte Lipstick vs Purbasari Matte Lipstick

Hola. Halo. Assalamu’alaikum.

IMG-20170403-WA0016-02.jpeg

Siapa ibu-ibu yang ga suka lipstik? Eh ada sih, tapi sebagian besar pasti punya paling gak 1 lah meski ada yang awet banget ga pernah dioles xixi. Aku sendiri suka lipstik sejak kapan ya.. Mungkin waktu Profesi Dokter, itupun jarang banget makenya. Karena sebelumnya bedakan aja males banget.

Jajan lipstik sempat jadi keasyikan tersendiri buatku. Sempat beli 3 atau 4 lipstik dalam waktu yang sama, karena penisirin sama booming-nya. Tapi setelah nyoba sebiji lip cream, rupanya lipstik masih lebih cocok untukku yang males ribet.

Kali ini aku akan mengulas lipstik matte terbaru dari Viva. Viva itu merk jadul banget kan.. Siapa yang gatau ya kan.. Nah aku penasaran abis ama viva matte nya yang harganya setara ama Purbasari matte yang masih tetep eksis.

IMG_20170403_200318-01.jpeg

Berby jajan lipstik. Itu cuma viva aja punya aku. Jajannya di @ummuaishaart

Dari segi packaging oke sih, warnanya kuning gonjreng. Biasa aja info yang terkandung kayak yang lainnya ya. Simpel.

IMG-20170403-WA0019-01.jpeg

Lipstik yang aku beli ini warna Peach Nectar. Karena aku liatnya cuma di ig padahal mah tokonya dekeet dari tempat praktek. *takut borong yang lainnya hahaha. Jadi ini minta ambilin ama OB.

IMG-20170403-WA0016-01

Mari kita bandingkan dengan Purbasari yang aku punya sebelumnya… Sori ya Purbasari-nya sudah penyok-penyok. Emang karena sudah mau abis jadi aku beli baru lagi.

IMG-20170403-WA0023-01

Viva vs Purbasari

IMG-20170403-WA0011-01

Atas Viva 701, bawah Purbasari 90

IMG-20170403-WA0018-01

Viva Peach Nectar (701) 

Dipulas di bibir, biar coveringnya ok si Viva ini harus pulas berulang kali. Ini kalau bibir item kayak aku ya. Kalau bibir pink si sekali pulas udah cukup banget. Peach Nectar ini cenderung ke oranye (terrnyataa) aku suka sih, meski oranye nya agak dominan.

Dibanding Purbasari, Viva ini lebih light.. Karena kalau Purbasari rasanya cukup ‘nggedibel’ tebel di bibir. Viva gak seberat itu. Lebih lembab.

Warna, dibanding Viva 701 aku lebih suka Purbasari 90. Tapi belum coba shade lain yaaa.. Aku ga mau cuma koleksi shade, jadi penting beli yang dibutuhkan aja.

Purbasari itu cukup transferproof menurutku jadi ga gampang hilang kayak merk lain. Pas aku coba Viva juga sama, awet. Aku coba tempel di gelas, di tangan, ga banyak yang pindah. Mirip-mirip lah.

Minusnya. Purbasari kadang suka ada yang ngegumpal. Jadi kalau dapet yang begitu, potong aja sampai gumpalan terbuang. Viva belum tau si ada yang gumpal gak.

Masalah wadahnya aku lebih suka Viva, bulat dan lebih kokoh.

Repurchase? Yes. InsyaAllah. Baik Viva maupun Purbasari. Karena murah 😍

Ada yang sudah pernah coba ? Kamu lebih suka yang mana?

 

 

 

 

Bayi Opname

Bismillahirrahmanirrahim

PicsArt_03-28-11.11.10.png

Adalah hari Selasa. Badan tiba-tiba berasa flu dalam sekali jeglek dan merinding-rinding naga-naganya berasa mau sakit (dalam artian sakit beneran). Menamatkan praktek siang itu sambil meriang, dan pulangnya melawan hujan. Sampai rumah udah memutuskan gak akan mandi, karena badanku tidak seperti dulu (Ceila). Sebenernya karena sakit ‘agak’ parah sebelumnya rasanya sama kayak gini, dan diperparah karena maksa mandi. Gak mau mengulangi.

Bener aja sorenya menggigil disko, suhu naik. 38 derajat C. Langsung minum obat dan meringkuk, jadwal jaga sore dialihkan. Nggak berakhir seperti sakit yang biasanya, malamnya masih demam. Adumak… sakit beneran. Kepala nyut-nyutan. Bayi nemplok kayak perangko. Malem masi meringkuk sambil gigil-gigil sedap. Nafsu makan masih bisa dipaksakan.

Ehla kok besokannya, magrib si bayi semlenget anget. Maunya bobooooo. Jam 9 malam ditengok demam, cek suhu 40 derajat. Dibangunin kasi paracetamol oral, dimuntahin. Buru-buru pesan Dumin supp. Dikasi paracetamol dari dub** turunnya cuma 38, naik lagi 40. Nggak mau nyusu, nggak bersuara, tiduuurr aja.

Sebetulnya demam baru 1 hari biasanya sih masih observasi ya, cuma karena anaknya lemes banget dan nggak mau nyusu jadi meski perih diputuskan untuk infus saja. Dikuat-kuatin denger tangisannya. Sampai malam berikutnya setelah masuk paracetamol oral dan injeksi demam masih di kisaran 39 derajat. Ada ptekie (bintik merah) di dada.

PicsArt_03-28-11.19.20.png

Hasil lab alhamdulillah normal, jadi DSA minta urinalisis untuk cari tahu penyebab infeksi. Buat dapetin urin agak susah ya, coba ditatur anaknya nangis. Akhirnya pakai plastik dipakein di dalam pampers, nangiiisss lah gak nyaman, dan berkali-kali nggak dapat juga, sampai sore baru diakumulasiin sampai peras-peras tu plastik 😀

Malam pertama anaknya susah tidur, jadi yang nungguin juga nggak tidur. Secara tengah malam infus macet dan diobok-obok hampir 1 jam untuk cari posisi, yang ternyata 3 jam kemudian tangan bengkak, cairan gak masuk pembuluh darah tapi ke jaringan sekitarnya.

PicsArt_03-28-11.20.20.png

Paginya infus dicopot sambil berdoa demamnya gak naik lagi supaya gak perlu pakai infus. Tapi ternyata demam lagi 38 derajat, tapi masukin Dumin saja dari bawah. Abis itu subfebris saja, anget-anget. Semalam aman. Paginya DSA visit, karena sudah gak demam dan hasil lab serta urinalisis bagus jadi BLPL (boleh pulang).. Yeay!!! Meski sampe sekarang masi males makan dan lemes. Semangat kakak!!

Ada yang punya pengalaman serupa? Pelukan yuk.