Ketika Telinga Bayi Tertutup Earwax / Serumen

Bismillahirrahmanirrahim

 

Plis kalo ga suka jorok, minggir duluuu yeuh. Karena bisa jadi ada ibu-ibu lain yang sedang butuh info dan cari di google, maka taraa.. ketemulah kalau ada yang mau nulisnya, hehehe. Sesimpel nyari resep nasi goreng, yang mungkin anak SD aja bisa masak tapi bagi sebagian yang lain itu nasi goreng pertama-nya, rite?

Jadi, entah itu sebelum demam atau sesudah demam lupa, aku sudah lihat telinga anak keduaku yang berusia 15 bulan paka senter. Aw. Berbeda dengan kakaknya yang earwax nya yellow dan berminyak (plis minggir kalau jorok, karenaaa sangat beruntung ternyata punya earwax jenis ini), si adik dari dulu kubersihin telinganya memang ga kelihatan ada yang kotor. Ternyata dia tipenya kering, jadi pas aku senterin dari luar sudah hampir menutupi liang telinga.

Agak cemas deh, karena aku tahu ini harus diambil ke Sp. THT dan ini PANDEMI! Huh. Since dia juga pilek lengket dan demam nggak sembuh juga walau sudah minum antibiotik, bahkan aku cek lab (kamu tim mana nih kalau anak sakit? tim santay tar juga sembuh atau tim segera cepet sembuh kita berangkat ke dokter!). Yap soalnya demamnya udah seminggu, dan keluhannya cuma pilek doang. Dan aku nggak suka ngasih antibiotik sendiri.

Akhirnya aku kontak temen di PMI Purwokerto Adyaksa. Di sana ada dokter THT lengkap dan semua senior. Ada dr Ratna, Sp. THT, dr. Agus, Sp.THT-KL, dr. Mugi, Sp.THT dan tersebar di seluruh golden hours. Haha, pagi, siang, sore ada. Alhamdulillah. Aku datang siang, karena ngeri PMI kalau malam suka kayak pasar, hihi.

Begitu masuk PMI sibayi nangis of course, asing. Pas masuk kamar praktek lebih nangis lagihh. Setelah dilihat si serumen/ear wax-nya, dicoba untuk diambil. Yang kanan berhasil diambil pakai serumen spoon dengan perjuangan megangin anak kecil yang kuat ini, sementara yang kiri gagal diambil karena takut melukai gendang telinga/ membran timpani.

Sehingga, oleh dr Agus dikasih forumen dulu, untuk ditetes ke telinga kiri. Lalu datang lagi 3 hari mendatang untuk dievakuasi si serumen itu. Untuk pileknya memang harus antibiotik karena walaupun bening tapi lengket, itu indikasi infeksi bakteri (even aku cek lab leukosit masih bagus). Sooo, pulanglah kami, dengan PR antibiotik harus habis > 5 hari.

Untuk diketahui aku tobat banget ngasi obat ke si bungsu ini. Karena dia kalau dikasi obat, baru liat orangnya aja udah mau muntah. Apalagi udah kecium baunya dan kerasa di lidah. Muntahnya udah kayak ada peningkatan TIK (Tekanan Intra Kranial – na’udzubillah) gitu, jadi nyemprot, yang di perut udah keluar lagi lah. Udah nyoba pakai apapun. Hasilnya gitu deh, terus dikasi drop sama dr Agus. Seingetku dulu minum sanmol drop juga muntah, makanya aku pilih puyer aja karena kalo sirup ni anak lebih parno.

Daan, untungnya cefadroxil 2 x sehari ya. Aku males banget kalau harus ngasih obat tiap 8 jam, masalahnya harus ngebangunin anak yang lagi bobo enak. Tapi ini juga aku kasihnya dia abis bobo sih. Jadi, tips buat anak yang gampang vomit ini pertama adalah bangun tidur ngasihnya. Pertama tenaga dia masih lemah, belom 100%. Kedua, perutnya masih kosong, jadi mau muntah juga ga ada isinya. Selain itu, ternyataa dikasih drop dia nyaman.

Tunggu sampai dia buka mulut, pas nangis, biarin (herannya ni anak nangisnya bisa mingkem, rrhhh). Semburin dah tuh, udah ditakar di gelas takar obat 5 ml trus diambil pakai pipet 1 ml (kalau ada pipet yang lebih besar lebih bagus). Mmh, hal gini mungkin kelihatan remeh, tapi kalo dibaca sama orang yang butuh mah info pentingg. Trus semprotnya jangan di bukal (dalam pipi), dulu aku begitu dah.. ternyata makanya gak ngaruh, harusnya langsung semprot ke kerongkongan, lalu dudukin dia jadi refleks menelan (jangan terlalu dongakin kepala takut keselek).

2 malam netesin forumen ke telinga, kurasa itu serumen sudah mengembang. Ingat ya ibu-ibu kalau netesin forumen (cairan minyak) ke telinga anak, 2 hari kemudian harus ke dr THT untuk diambil. Nah, begitu ke PMI lagi dia sudah tau hawa-hawanya. Dari rumah di mobil dia udah pasang muka gak suka hahaha. Pas masuk pelataran nangis deh. Sambil nunggu dokter datang dia dislimur dulu. Begitu sudah datang, langsung masuk aja ke ruangan. Mau diambil pakai suction, dia gerak terus takut kanulnya nyogok.  Jadi diirigasi deh, naaah langsung glosor itu earwax.

Sama dokter disarankan tiap 6 bulan sekali, karena earwax nya belum keras. Nahhh.. sekiaan deh, setelahnya jelas si bayi lebih nyaman dong. Bobo lebih nyenyak hehehe. Semoga bisa bermanfaat yaaa..

Slowdown di Rumah

Bismillahirrahmanirrahim…

Wow, lama sekali nggak bisa mampir ke sini. Terlalu sibuk (scrolling tiktok?) di instagram. Apa kabar teman WP? Semoga semua baik saja ya 🙂

Di bulan-bulan yang menjadi ujian ini kita mungkin menonton berita yang sama. Semoga kita selalu diberi perlindungan oleh Allah. Sebagai tenaga medis, sampai hari ini aku juga masih tetap selalu ber-APD ketika memeriksa pasien. Qadarullah bekerja di Balai Kesehatan Paru Masyarakat tentu saja kami selalu menemui pasien dengan gejala saluran pernafasan.

Di awal pandemi, qadarullah aku batuk dan agak sesak. Haha, itu saat masih belum pakai APD lengkap sepertinya. Ada suara mengik di punggung kanan bawah. Wow. Wheezing pertama seumur-umur. Sebagai makhluk parnoan, di rumah aku selalu pakai masker. Dan besoknya langsung foto thorax dan cek laboratorium. Pneumonia ringan. Tetap aware dan takut. Hu. Minum obat, dan tidak pernah lepas masker. Berkat itu aku turun 4 kg. Berita baiknya sekarang sudah kembali lagi BB-nya hehehe.

Minggu lalu sudah rapid (alhamdulillah tenakes diberi kesempatan oleh daerah untuk cek) hasilnya negatif (meski sensitivitas tidak sebanding dengan PCR atau TCM). Yang jelas berusaha semaksimal mungkin ber-APD. Walau ya.. kadang berada di balik kaca dan menggunakan N95 dobel masker bedah membuatku berteriak dan itu melelahkan jujur.

BTW sebelumnya kami memang sudah sering merawat pasien TBC dan masih terus merawat sampai sekarang. Tingkat kematiannya juga tinggi dan masih fenomena gunung es juga. Sempat lebih parno di luaran tapi masih lebih santai menghadapinya, mungkin karena sudah ada obatnya yaa.

Di awal pandemi pun uangku drastis langsung dialokasikan ke APD. Alhamdulillah bertubi BKPM mendapat bantuan banyak APD dll. Dari teman, orang tak dikenal, orang-orang baik di luar sana sehingga sampai sekarang kami masih bisa pakai APD. Tapi kami berhemat sebisa mungkin. Karena kami termasuk risiko minimal terpapar sebetulnya APD level 1 masing memungkinkan. Tapi saya tetap menggunakan lebih lengkap.

Banyak ritual yang harus dilakukan sekarang ini, sebelumnya baju selalu langsung dicuci sembari mandi. Sekarang lebih strict. Kalau kamu bagaimana? Apa yang signifikan berubah sejak pandemi ini muncul? Apakah kamu juga membaca bagian teori konspirasinya? Hhihi. Stay safe guysss…

Organizing Acara Ulang Tahun Anak

Bismillahirrahmanirrahim

Jadi sudah beberapa bulan yang lalu, atau malah 1 tahunan si Akak minta ulang tahun. “Aku mau ulang tahun.”

Aku cuma iyain sih. Walaupun dulu pernah sepakat sama suami ga ada ulangtahun. 3 tahun pertama biasanya kita bikin nasi kuning aja, semacam bikin hari lebih spesial aja. Sharing sama kanan-kiri aja udah gitu. Nah sebenernya juga budget ya mefet ampir kecemplung.

Awalnya mau undang 3 orang aja haha. Tapi jadi merembet-merembet. Yang kuundang cuma 10 orang maksimal, hanya lingkungan dan yang sering main sama Kakak. Hanya sekitar 1 mingguan, setiap pulang kerja aku melipir.

Pertama aku booking mainan untuk di rumah. Rumah-rumahan per hari 150 an kalau nggak salah, dan trampolin besar 2 minggu 200 ribu, dengan biaya antar 25 ribu (jujur aku ga bisa ambil mau yang praktis aja). Jadi mereka antar di pagi hari acaranya. Nama IG-nya @dolananbocah_

Kedua aku pesan kue dari 1 minggu sebelumnya. Sebenernya ini tuh penting ga penting. Kami nggak terlalu suka makan kue. Dan Ichi juga begitu, paling hanya sedikit. Hanya simbolis saja, aku pesan dengan tema yang dia pilih sendiri. Cake fondant gambar pemadam kebakaran. Seharga 285 ribu di Kapukeki yang memang menghias kuenya sudah pro. IG @kapukeki_purwokerto

Ketiga aku beli sovenir jajanan di RITA Kebondalem yang kalau beli grosiran akan lebih murah. Isinya adalah : susu kotak UHT, Chiki Balls, My Jelly Wong coco, Twister (ini semua di bawah 10 ribu), dan Kotak Makan seharga 14.500.  Dan dibungkus dengan tas spunbond serut seharga 23 ribuan isi 12 pcs.

Nasi kuning beli di Dapur Asyifa seharga 10 ribu per wadah, pesan 20 wadah.

Donat sebetulnya suka banget sama donat kentangnya Fit Donat, harganya 5000 yang besar dan lembut. Tapi kehabisan, gak pesan dulu hehe. Jadi nyari ke Queen Bakery, beli 3 dus yang isi 6 pcs per dus. Harga per pcs 6000 rupiah.

Untuk minuman di acaranya aku buat Milo tanpa es. Lalu beli puding cup seharga 6000 an isi 3 kalau nggak salah, lupa. Pudingnya mangga. Karena Kakak suka warna kuning, jadi sebagian besar berwarna kuning.

Untuk hiasan, balon, backdrop, tulisan, undangan semua dibeli di Xiuxiu Jl. Kombas sebelah Queen Bakery, semua ada di sana. Di Rita Kebondalem ada juga, cuma lebih sedikit.

Sukses sih alhamdulillah. Yang jelas anaknya senang banget, dan kooperatif. Alhamdulillah. Bunda senang karena nggak harus keluar dari rumah. Foto disusulkan dari Ponsel ya hehe. Bagaimana menurutmu? Ada pengalaman serupa?

Sembelit pada Anak

Bismillah

Sembelit. Apa yang terbayang kalau mendengar kata itu? Kira-kira kalau anak kita sembelit, apakah kita bisa menanganinya dengan mudah?

Dulu sebelum ngalamin sendiri waktu ada selebgram sharing tentang anaknya yang sembelit, terus sampai dibawa ke Singapura aku sampai berpikir, wow.

Sebelum lahiran kemarin, pas udah hamil gede kan nyiapin minuman untuk persiapan lahiran ya. Karena pengen simpel, nggak pengen ngerepotin orang rumah jadi udah nyiapin minuman kotak dan kue kering. Nah, si kakak ini suka ngikut minumin teh kotak. Abis itu sekali dia BAB keras, lalu trauma, lalu hancurlah pola BAB nya setelah itu.

Dia trauma, mulai BAB tiap 1 minggu sekali. Nggak cuma itu, mules kan hampir setiap hari tapi dia nahan dengan cara minta gendong sepanjang hari dan merengek kalau mulesnya berasa. Nggak enak makan nggak enak main. Begitu udah kebelet banget, dia cuma nangis minta gendong. Kadang aku sengaja plorotin celananya biar dia nggak ada daya untuk nahan, lalu akhirnya dia BAB dan ngejen sampai keringat sejagung-jagung. Nangis lah pasti. Ya sakit udah pasti, kita aja ga BAB berapa hari sakit dan keras banget.

Itu terjadi bersamaan dia punya adik baru. Bersamaan aku punya anak lagi. Jadi antara dia dan aku juga sama-sama baru memasuki hal baru. Kami sama-sama bingung. Aku menjadikan ini sebagai salah satu penyebab stres ibu baru. Ya walaupun nggak ngaruh apa-apa sih.

Apa saja yang kulakukan?

  1. Aku cari tahu ritmenya. 1 minggu sekali. Tanda-tanda kalau dia sudah mules dan upayanya menahan dengan cara minta gendong.
  2. Aku sendiri tidak mau menggendong dia. Pipo Mimonya juga. Yang masih menuruti adalah ART dan ayahnya, jadi ketika mereka masih ada di rumah Kakak tidak akan BAB karena tertahan. Setiap kali mereka tidak ada di rumah barulah dia BAB, biasanya kalau dia sudah gelisah aku copot celananya.
  3. Tapi aku juga menggunakan laktulose dan microlax. Laktulose sirup itu mirip kayak minyak, aku kasih jarang-jarang sesuai dosis BB tapi nggak banyak ngaruh. Microlax seingetku cuma sekali ngaruhnya deh, abis itu aku juarang banget pakai.
  4. Banyakin minum air putih, kurangi minum teh, banyak minum yogurt dan agar-agar. Banyak kasih buah.
  5. Terus support dan yakinkan kalau BAB tidak boleh ditahan, semakin ditahan akan semakin keras dan sakit. Instruksikan pada keluarga tidak boleh menggendong atas alasan mules dan pengen nahan pup.

Ini semua terjadi sampai anak bayi usia 6 bulan, baru kakaknya mulai rutin BAB tiap hari dan tanpa drama berarti. Alhamdulillah fase ini akhirnya terlewati. Ternyata sembelit saja bisa menjadi drama. Beberapa pengalaman yang lain bahkan sampai dibawa ke dokter spesialis. Bisa saja hal ini terjadi lagi, tapi semoga tidak, melelahkan juga hehe.

Melahirkan Kali Kedua

BismillahHello, peeps. Ini sudah memasuki minggu keempat sejak melahirkan anak kedua. Ku ingin menuliskan pengalaman di sini, boleeh yaa, hihi.

Jadi saat itu tanggal 2 Maret 2019. Sejak 1 Maret 2019 alhamdulillah SK turun. Sudah langsung orientasi di tempat bekerja yang baru. Pagi tanggal 2 bloody show. Di kehamilan pertama kenceng rutinnya nggak nunggu bloody show dulu, jadi ini kali pertama ada lendir darah sebelum kontraksi. Saat orientasi, saya sudah mulai menanyakan prosedur cuti untuk CPNS. Berhubung anak baru, kami masih harus diperkenalkan di apel pagi, jadi rencana kami akan mulai mengurus cuti setelah lewat hari Senin.

Tapi ya memang ibunya sudah pengen lahiran, prediksi memang maju semingguan seperti kakaknya. Siang hari kontraksi hilang. Ayahnya sampai dari perjalanan pulang jam 10 malam, kontraksi merutin. Aku hanya diam tiduran di kamar sambil hirup yleo lavender, ngitung pakai aplikasi contraction counter. Kenapa nggak gerak atau jalan-jalan? Karena sudah malam, ikan bobo. Hehe. Sudah malam, menyiapkan tenaga. Jadi selama bisa tidur, tidur.

Jam 4 pagi sudah tak tahan. Siap-siap di kamar mandi berasa ada yang keluar buanyak. Ekspektasi pengen mandi, bebersih, dandan, nyatanya mana mongkenn. Kupikir ketuban rembes atau ngepyok. Ternyata saat dilihat bidan, itu lendir darah buanyaak. Sampai ditanya plasenta letaknya dimana. Takut plasenta previa.

Sudah bukaan 4 saat sampai di RS. Sesuai harapan sih karena pengen pakai BPJS haha. Pas ditanya mau pakai asuransi apa ya BPJS, tapi naik kelas. Alhamdulillah dari Kelas 1 naik ke VIP.Ekspektasiku ketinggian. Aku pikir aku sudah cukup belajar dari persalinan sebelumnya. Kupikir akan lebih cepat dan lebih mudah, dan lebih nyaman. Pada kenyataannya ya sakit tetep. Suami sudah kuwanti-wanti, harus tetap ada di situ. Tingkat ngeremes tangan berbanding lurus dengan bukaan. Makin tinggi bukaan, makin sakit remesannya.

Di bukaan 5, kepala udah di bawah banget. Tapi bukaan belum lengkap. Aduhai pengen ngejan tapi kutahu tidak boleh. Hampir tiap kontraksi aku nekan bel. Bodo amaat nambah biaya manggil bidan haha. Untung bidannya baek-baek. Sampai jam 8 pagi kurang aku udah beneran pengen ngejan. Begitu dicek memang sudah hampir lengkap. Dokter sudah otw.

Oya, selama menunggu lengkap, muntah sekali. Masup angin gaes. Kali ini kutak sanggup makan kurma, jadi kuganti coklat. Saat proses mengejan, kali kedua ini aku lebih drama.

Sumprit sudah habis kesabaranku untuk menahan rasa itu hahaha. Aku ngejan tapi pendek – pendek. “Fil, santai aja. 1 jam pun aku tungguin. ” Aku ngeluh cape, kunang-kunang. Tapi setelah ditenangin, baru deh aku inget harus ngapain. Tarik napas, tahan, ngejaaaaannn. Ga lama si bayik brojol. Alhamdulillah, palanya mulus bunder ga stuck haha. Kali ini barengan ama pup (sori yah jorok) dah. “Dok maaf ya saya pup ya? ” “Malah bagus dong.

“Jadi, kalau pup itu emang berarti ngejennya bener di bawah. Maap aja jorok. Tapi saat aku di stase obsgin dulu, aku sudah hafal bau ketuban campur darah campur pup. Haha. Sungguh selama stase VK belakang (Verloos Kameer alias Kamar Bersalin) ga tidur dan bau dan jeritan itu sudah biasa.

Brojol. Lagi-lagi ga IMD karena anaknya merintih. Bawa ke perina, headbox. Pas lihat videonya, paska ku jahitan perineum, anaknya lagi headbox dan pakai alat saturasi oksigen aku kaco lagi. Takut kan. Suami kusuru tanya kenapa dipakein itu dan suruh tanya saturasi oksigennya. Ternyata 100% alhamdulillah, aku parno banget kalo soal bayi.

Paska melahirkan. Aku mencoba lebih baik dari sebelumnya. Dulu aku retensi urin, nggak bisa BAK setelah melahirkan. Jadi sebelum melahirkan aku laporan, urin dikeluarkan dulu. Lalu aku ada varises vulva, aku laporan lagi. Setelah lahiran aku ga nafsu makan, cuma makan sedikit. Dan kontraksi rahim kurang kuat, jadi dua jam post partum aku masih sor soran keluar darah. Stolsel dalam rahim dibersihkan oleh bidan, it means jahitan baruku diobok-obok lagi. Sakit.

Aku harus kencing dan harus turun dari bed. Jadi aku sudah mulai miring post lahiran. Duduk, masih pusing. Ke wc pakai kursi roda, bersih-bersih, balik bed lagi. Karena kamar vip penuh aku ke kamar kelas 2 dulu. Nggak bisa tidur karena sempit, sumuk dan suara ngorok penunggu sebelah terlalu keras. Sore akhirnya aku bisa masuk VIP dan anakku di rooming in.

Awalnya aku mau berdua ibu aja, karena kakaknya lagi nempel banget sama ayahnya. Eh jam 11 malam kejer minta tidur di RS ampe tetangga denger smua. Akhirnya kami bobo di RS ramai-ramai. Hihi.

Saatnya menyusui tibaa. Alhamdulillah aku senang dengar suara glek2 dari sibayi yang artinya aku memproduksi asi dong ya. Gak kayak dulu kakaknya yang ngisep kosong doang. Pup mekonium juga beberapa kali, pipis juga. Pulang bilirubin 5. Aku agak parno, karena kakaknya dulu juga sama dan berakhir fototerapi. Oya, hiperbilirubinemia di awal usia bayi ini bisa karena konsumsi asi dan juga bisa karena kekurangan asi. Kalau di usia 2 minggu udah beda lagi. Dan ilmu terbaru setahuku sinar matahari ga ada andil apa-apa untuk kasus hiperbilirubin. Cmiiw ya.

Hari keempat karena kuningnya sudah sampai ke kaki aku bawa ke RS lagi untuk cek cepat bilirubin. Ternyata 19 dan lebih tinggi dari kakak nya dulu.

Aku udah nyiapin hati dari rumah kalo anaknya harus rawat inap. Tapi tetep nangis jugaaaa. Pas anaknya udah di perina, langsung masuk ke box untuk fototerapi 24 jam.

Ayahnya pulang ambil baju, susu formula (yes, aku siapkan ini untuk jaga-jaga asip ku nggak banyak karena bayi sering dikasi jam minum susu dan ganti pospak). Aku nggak ikut nginap di RS seperti kakaknya dulu. Selain menghemat biaya, aku pikir dari pengalaman dulu aku pun nggak yang nungguin terus di dekat bayi. Jadi lebih baik aku pulang, beres-beres dan rutin pumping. Hasilnya alhamdulillah cukup untuk 3 sesi minum asi di hari besoknya. Oyaa sepanjang hari ayahnya nungguin di depan kamar, cuma malam pulang. Pulang dari RS alhamdulillah asi terus.

Esoknya kakaknya aku ajak jemput baby dari jam 2. Magrib baru datang DSA nya yang kami kenal, dulu mahasiswa bapak juga jadi kami ngobrol panjang dan seru. Alhamdulillah jelang jam 9 administrasi selesai, kami pulang.

Oya, saat melahirkan aku pakai bpjs. Tapi saat baby K masuk untuk fototerapi dia belum punya bpjs jadi sayang sekali kami pakai umum.Biaya yang kami keluarkan selama melahirkan dan rawat inap bayi. Total biaya melahirkan dengan bpjs kelas 1 naik VIP adalah kurang lebih 4,8 juta. Obat ada yang paten, aku minta untuk anti nyeri. Agak amazing juga karena biayanya nggak beda jauh dari jaman kakaknya. Ini lahiran normal, 2 hari 1 malam. Tanpa induksi. Kamar VIP luas, kasur penunggu, meja kursi, TV, kulkas.

Untuk klaim uang kembali kurang lebih 2,6 juta. Dan untuk bayi rawat inap kira-kira 1,6 juta. Alhamdulillah abis itu juga langsung dibantuin bikin bpjs sama temenku, Gellyn. Thankyou so much much much! Baby K punya bpjs alhamdulillah.

Untuk lahiran kedua ini aku lebih mempersiapkan mental. Aku ga mau terlalu cape dan stres. Barang baru yang aku butuhkan adalah barang yang sangat menunjang masa paska lahiran. Salah satunya upang sterilisasi uv. Ini aku udah dari awal hamil menyisihkan budget yang memang cukup mahal. Sempat tergoda beli Coby yang lebih murah 1 juta tapi watt nya tinggi beda jauh. Dulu waktu kakaknya aku udah pakai 2 sterilan uap dan semua rusak sebelum waktunya. Di akhir aku pakai metode rebus tapi cukup merepotkan. Anak 2, harus lebih sigap. Apalagi aku sudah bukan part timer lagi, yang masi santay leha-leha.

Aku donlod iflix (ikut mba Tya) dan drama korea yang bisa aku donlod sewaktu-waktu untuk teman pumping. Oya aku juga meminjam nuna leaf (sudah booking duluan) dan breastpump hospital grade spectra. Alhamdulillah penyewaan di Purwokerto berkembang pesat. Untuk nuna kupikir tidak terlalu banyak gunanya di bulan awal, jadi pilihan tepat tidak beli. Breastpump nya sangat oke. Karena memancing LDR berkali-kali.

1 minggu pertama, tepatnya cuma sekitar 4 hari, aku mengundang bidan yang memang untuk memandikan bayi. Juga untuk massage pd yang ngaruh banget jadi berisi karena sumbatannya hilang, cuma.. Sakit banget. Setelah itu aku terus yang mandikan bayi.

Karena ART lagi flu, kakak ketularan, dan adeknya juga. Baru usia seminggu udah pilek huhu. Sedih banget. Akhirnya kubawa ke DSA, males pusing. Sekalian ngadu kulitnya yang awalnya kupikir eritema toxicum neonatorum dan acne neonatorum tapi kok nular ke kulitku dan merembet ke seluruh badan bayi.

Dokter Bas bilang bayi harus tetap mandi 2 x, sebelumnya kalau sore cuma diseka. Dan ga boleh dicemplung, harus disiram. Ga dikasi salep apapun sama dokter. Tapi aku kasih mustela stelatopia dan air mandi kukasi lactacyd. Seminggu udah mulusss kulitnya. Alhamdulillah. Batpilnya dikasi sirup. Lalu pukpuk pakai tangan ditangkup di bagian punggung.Alhamdulillah jelang 1 bulan, dari berat lahir 3,3 berat pulang 3,1 sekarang sekitar 4,5 kilos. Kadang aku bisa tidur bareng bayi, tapi anak 2 udah ga ada istilah ‘bayi tidur emak tidur’. Teman-teman juga sudah banyak yang nengok, alhamdulillah bikin hepi ngobrol cemacem. Ada yang kirim kue juga karena belum sempat datang. Makasi banyak semua..

Istilah diet adanya cuma diet tinggi kalori dan tinggi protein. Karena makan 5 kali dan bikin susu berkali-kali tu wajib kalau mau anaknya kenyang. Ga usah takut gendut yang penting anaknya wajib naik sekilo. Tetap bahagia ibuibu menyusuii.

Baby Blues

Bismillahirrahmanirrahim

Hari ini capture tentang story seseorang yang dianggap mumpuni dalam agama dll. Ada soal baby blues. Yang mana karena pribadinya yang realistis, PR pribadi sebelum menikah sudah selesai, tidak baperan, jadi sejak anak pertama tidak mengalami syaitan baby blues. Saya setuju pribadi yang realistis kemungkinan kecil mengalami Baby Blues. Atau PR suami istri yang sudah selesai sebelum punya anak juga punya pengaruh. Tapi soal baperan dan syaitan ini saya kurang setuju.

Saya mau cerita tentang Baby Blues yang saya alami dulu di kelahiran anak pertama. Ringan, ringan banget. Sampai-sampai saya nggak ngeh dan baru ngeh beberapa bulan kemudian. Karena teringat celetukan saya sendiri secara sadar, “Nggak mau punya bayi kalau gini caranya.”

Saya sudah 8 bulan menanti kehamilan. Suami berada di luar jawa, dan hanya 2 kali kunjungannya ke rumah selama saya hamil, 3 dengan saat menemani melahirkan. Saya pikir saya siap untuk hamil kan, karena saya diberi waktu cukup oleh Allah.

Saya ikut kuliah tentang ASI dan MPASI. Saya punya hampir semua buku tentang ASI dan MPASI. Saya ikut senam hamil. Saya dokter, mengalami 13 minggu di stase obsgin dan berkali-kali mendampingi ibu melahirkan. Saya hanya belum tahu rasanya kontraksi ternyata begitu hebat.

Lalu setelah nyeri kontraksi yang hebat. Saya sampai tidak bisa BAK, sebagaimana saya berusaha. Saya dibawa ke toilet, karena, “Ibu harus belajar jalan.” Saya ngejan di toilet untuk membuang urin yang terasa sangat penuh. Yang ada saya mau pingsan. Saya kembali, lalu dikateter urin. Retensi urin. Masalah beberapa wanita post partum yang tidak bisa membuang kencing.

Kalau dibilang PD kempes tidak bisa dibilang tidak ada ASI, bisa jadi. Tapi saat itu ASI saya tidak bisa keluar. Selama 3 hari pertama saya kekeuh anak saya masih kuat. Tapi di hari ketiga bilirubinnya naik, kuning, demam 38 derajat. Saya menangis di ruang tempat ia dicek bilirubin. Hancur.

Ibu agak menyalahkan, karena saya tidak mau menggunakan susu formula. Bidan juga, selentingan berkata “Dokter tapi nggak ngerti.” Saya merasa itu sudah indikasi medis. Ia harus minum susu formula. (Di akhir, akhirnya ibu malah senang dan bangga karena sejak 3 bulan anak saya sudah lepas susu formula dan full ASI)

Saya ikut menginap di RS. Tapi di malam hari saya tidak menengok anak saya yang sedang difototerapi. Saya berada di kamar lain. Berusaha memompa ASI dan memberikannya pada bidan. BB bayi turun drastis menjadi terlihat kurus dengan tulang rangka yang menonjol. 1 minggu pertama saya seperti zombie dalam arti sebenarnya. Pucat dan tidak bertenaga.

Menyusui sambil nungging, inverted nipple, keringat yang bercucuran seperti hujan, kurang tidur, pumping untuk demand ASI, bayi yang menangis saat saya benar-benar lelah dan ingin tidur sempat membuat kesal. Lalu saya berujar dalam hati, “Tau gitu nggak usah punya bayi.” Jahat kan?

Bayi kejer, sampai melengkung-lengkung nggak jelas. ASI-nya kurang. Membuatku di 3 bulan pertama nggak berani berkaca atau berfoto. Bentukan badan yang beleber dan muka yang kusut, nggak pengen dilihat orang.

Baby blues dan Post Partum Depression itu nyata, dan harus full support dari semua keluarga dekat. Bukan hanya masalah tuntasnya PR pribadi. Atau gampang baper. Faktor intrinsik dan ekstrinsik berperan. Dan harus dipersiapkan kondisi mental seorang ibu, bukan hanya baju bayi popok dll. Setiap ibu berbeda, dan tidak ada satupun yang boleh men-judge.

Tips untuk ibu yang akan melahirkan, dalam hal persiapan mental.

  1. Belajar hypnotherapy, hypnobirthing. Persiapkan masa melahirkan sebaik mungkin. Anak pertama akan lebih gambling.
  2. Persiapkan suami, ceritakan keinginan kita tentang melahirkan yang kita inginkan. Mohonkan bantuan kepadanya. Jangan sampai kita riweuh sendiri, karena itu kan anak berdua. Untuk para suami, plis jangan cuma asyik tidur. Tahu sih cape nungguin lahiran, tapiii tahu nggak sih yang lahiran lebih cape lagi?
  3. Siapkan semua keperluan melahirkan dan paska melahirkan secara lengkap, termasuk per-ASI-an. Hal ini faktor penting bagi sebagian orang. Jangan memaksakan keadaan. Terima dengan ikhlas apabila belum dapat sempurna. Karena yang paling sempurna hanya Allah.
  4. Persiapkan film, drakor, buku, yang menghibur, juga cemilan untuk menemani masa-masa begadang. Apalagi kalau begadang sendirian. Apalagii kalau sudah anak kedua dst. Ini pasti lebih banyak tantangannya.
  5. Tetap bahagia, pilah pilih siapa yang akan kita follow di instagram. Jangan membandingkan. Mereka sharing oke. Tapi kalau tidak cocok dengan kita, jangan memaksakan karena setiap pribadi itu unik. Bahkan anak kembar sekalipun.
  6. Tetap semangat! Dan ingat pahala seorang ibu yang mengasihi anak-anaknya. 🙂
  7. Jika sudah terjadi baby blues atau Post partum depression. Sharing, curhat, dan carilah bantuan. Jangan takut dibilang gila atau baperan. Kita sendiri yang menentukan kebahagiaan kita.

Thread THE URBAN MAMA tentang Baby Blues dan PPDThread THE URBAN MAMA tentang Baby Blues dan PPD

Jurnal tentang Baby Blues dan PPD

Baut Kok Ditelan?

Bismillah

Hari sabtu, jam 12 siang. Pulang praktek, ambil pesanan di PMI, hape ditinggal di mobil. Sampai rumah, adik laporan, ” Ichi nelan baut. Lagi ke IGD. ”

Kalau dibilang dunia runtuh saat itu, bisa jadi. Nggak tahu kondisinya bagaimana, sesak nggak, perdarahan nggak, kalau boleh milih saat itu aku pengen skip hari aja. Lalu bangun dan berharap itu mimpi.

Aku telpon ibu, posisi di IGD Elizabeth. Aku suru geser ke RS Geriatri karena Spesialis lebih banyak. Aku sambil menuju ke lokasi, nyetir dengan pikiran nggak tahu kemana. Kebayang anakku yang lucu itu kondisinya gimana. Karena kadang kondisi asli yang dilaporkan palsu. “Bisa napas kan Bu? ” tanyaku saat itu. Bisa. Entah palsu atau benar.

Ichi ditolak di Geriatri, ketiadaan SDM dan alat. Saran kr RSUD Margono. Aku minta stay di situ sebentar, aku mau 1 mobil saja. Ichi dalam kondisi tenang. Aku peluk dia, kupangku. Mulutnya menganga lebar. Ingin aku menangis saat itu juga. Aku takut dan khawatir. Bagaimana kalau posisi baut tidak menguntungkan? Goncangan mobil membuat sirkulasi nafas nya terganggu. Meski orang medis, aku nggak yakin akan bisa mengorek ilmuku saat itu.

Jalanan padat. Pipo-bapakku yang nggak pernah marah sampai bentak petugas kartu. Perjalanan ke Berkoh saja terasa lama. Ichi ngantuk. Aku waswas. Kuperhatikan nafasnya. Kadang ia lupa menganga, tapi sambil terpejam ia kembali membuka mulutnya. Ya Allah Nak…. Sabar ya. Kurapalkan doa yang aku ingat. Aku cuma ingin dia selamat.

Sampai di IGD RSUD kami dijemput tante yang bekerja di sana. Dibimbing, karena aku sudah nggak tahu masih punya otak nggak. Dokter kuminta periksa vital sign. Aku sudah mikir kesana sana minta Sp. THT atau siapapun, mengeluarkan baut itu, karena Ichi masih menganga.

Sekali waktu kutanyai. Ichi sakit nggak? Sakit. Tahan ya, nanti dibeliin mainan. Mau mainan apa? Pengeruk, katanya masih bisa bicara. Tapi kembali menganga lagi. Sakit sekali dadaku saat itu. Sepanjang dioper, dia pasti haus.. Tapi belum berani kasih minum.

Dari IGD kami langsung ke radiologi. Ichi hanya mau digendong olehku yang perutnya buncit, bodo amat, selama kuat aku bisa. Saat mau rontgen, dia minta kutemani tapi mustahil. Jadi akhirnya dia menurut masuk bersama Mimo. 2 kali jepret.

Alhamdulillah sudah di bawah. Kelegaan agak menguar. Kecemasan berkurang 10%. Masih ada risiko lain karena kupikir benda itu cukup tajam. Kami kembali ke IGD. Ditanyai rawat inap atau tidak. Segera kujawab ya, karena aku nggak bisa menanggung kecemasan sendirian. Kalau tiba-tiba ada gejala acute abdomen bagaimana? Aku merasa lebih aman di RS. Tante membantu menyatukan kamar, dapat.

Ichi kubelikan es krim. “Ichi, sudah turun bautnya ke perut, makan es krim dulu ya, coba dulu deh. ” Awalnya ia menolak mengatupkan mulutnya. Aku tahu pasti dia masih trauma dengan rasa nyeri tersangkut baut di kerongkongannya. Kelamaan dia mau juga mencicipi es krim dan mulai mengatupkan mulut.

Pergantian dokter. Dokternya kebetulan kenal. Tante juga lebih kenal. Langsung dikonsulkan ke Sp. Bedah Anak. Respon cukup cepat, kami boleh pulang, rawat jalan. Kecemasanku turun lagi 10%. Harusnya nggak apa-apa karena kami boleh pulang. Memang karena sudah di pencernaan, lebih baik kami observasi. Ichi sudah minta pulang, sambil mainan barang-barang di meja dokter.

“Pulang saja ya, saya bawakan antibiotik, nanti dilihat saja tiap kali pup. Kalau ada gejala acute abdomen segera ke IGD. Seminggu suruh kontrol kalau belum keluar, rontgent ulang.”

“Ayo pulang, beli mainan ya. ”

Kami pulang, mampir ke Toko mainan. Anak ini harus happy, dia baru mengalami hal traumatis. Kami belikan mainan. Lalu mampir ke Geriatri ambil mobilku. Aku pulang sendiri sambil mampir beli roti tawar, es krim, buah naga dan pisang Ambon.

Karena belum makan siang, sepulangnya dari RS Ichi makan pisang. Sorenya makan nasi. Pup pertama, nihil.

Sebisa mungkin kami beri makanan tinggi serat, tinggi karbo. Nasi, telur, pisang, buah naga, es krim, roti tawar. Sambil terus berdoa bautnya berjalan ke bawah. Hanya 1 klep lagi yang harus dilalui. Dengan bentuk runcing, kami berharap posisinya baik, dan melewati saluran pencernaan dengan mudah.

Flashback kejadian.

Ichi suka alat-alat pertukangan tapi belum pernah main benda seperti baut. Sambil ditemani, ia ambil baut yang tertanam di tembok, lalu menempelkannya di magnet obeng. Lalu entah bagaimana, benda itu langsung masuk ke kerongkongan. Ibuku ngeh dan berusaha mengeluarkan bautnya. Gagal. Beliau lari ke mushala sambil gendong Ichi, jam 12 siang tanpa sandal. Pipo juga pulang berlari tanpa sandal. Mungkin kalau kubayangkan mereka seperti sedang bertawaf di siang terik, hanya dengan degup jantung yang mungkin tak beraturan.

Malam tiba aku nggak bisa tidur nyenyak. Kupandangi terus di bocah yang tidurnya juga berulang kali merintih. Kutanya sakit? Katanya enggak. Kadang ingin lama menangis membayangkan kejadian itu, kemungkinan ke depan. Tapi demi Ichi kutahan. Sharing dengan dr Prita Sp. OG, dr Sri, Sp. A membuat agak lega. Kadang kalau sedang seperti ini aku benci kenapa LDM. Seolah aku sendiri yang harus mengatasi stressor setinggi itu. Tapi Allah maha baik.

Di hari Senin, aku memutuskan tidak berangkat kerja. Aku harus mengawasi bocah itu. Mungkin kalau bentuk logam tidak runcing, aku sedikit lebih tenang. Siangnya dia bilang mau pup. Aku bershalawat.

Saat itu juga kuputuskan bernadzar. Bukannya riya, tapi aku harus cerita karena kekuatan nadzar ini berkali-kali memberiku mukjizat. Ichi, doa ya biar bautnya keluar. Nanti beli mainan ya? Iya, boleh. Kamu minta apa aja kayanya bakal aku bolehin Nak, asal kamu sehat.

Tibalah masa menegangkan itu. Setelah selesai membersihkan pup Ichi. Aku duduk di hadapan feses berbau segar itu. Bagai mencari emas di tumpukan jerami. Aku perhatikan satu per satu bagiannya. Sekali sisir, nihil. Belum percaya kusisir lagi dengan bayangan benda kecil berwarna perak. Toing. Ada sebuah benda hitam dan itu… Baut!

Aku berteriak memanggil adikku, minta segera difoto. Ichi menangis melihatku menangis dan berteriak. Jangan bunnn jangan bunnn. (Ok aku mulai nangis lagi nih). Chii, bautnya sudah keluaar chiiiii udah keluar. Boleh beli mainann ya? Beli mainan? Boleeeh boleehh.

Ibu dan bapak yang baru pulang berlarian karena teriakanku. Mereka mengerubungi hasil penemuanku. Harta karun yang membuat kami tidak nyenyak tidur dan tidak nafsu makan. Alhamdulillah… Kukabarkan ke keluarga yang kemarin kuminta doanya. Mungkin kebahagiaan itu lebih membahagiakan daripada hari pernikahan.

Murnya masih di perut? Tanya Ichi. Engga Chi, udah keluar. Ni fotonya. Coba liat foto ronsennya. Ni masih di perut. Iya, tapi sekarang udah keluar. Boleh beli mainan? Bolehh. Nanti nunggu Pipo pulang ya. Iya. Boleh beli mainan? Pertanyaan itu terulang terus.

Ichi waktu bautnya masuk, sakit? Iya, di sini (tunjuk dada).. Uh.. Trenyuh.. Ngebayangin kalau kita nggak sengaja nelan benda besar, rasa sakitnya bagaimana.

Terima kasih Allah memberi kesempatan ini, dan memberi jawaban dan akhir yang Indah. Aku tulis di sini untuk trauma healing ku. Dan supaya ibu-ibu lebih waspada. Qadarullah, tapi semoga tidak terjadi lagi.

Apakah Harus Membuat Resolusi?

Bismillahirrahmanirrahim

Tahun lalu aku membuat resolusi. Ini resolusiku tahun lalu. Simpel saja, tapi tetap belum bisa terpenuhi. Heran. Ngapain saja sih aku tahun ini?

Tidak ada hal yang terlalu menarik. Hmm.. Menyapih anak termasuk progress ya? Di awal tahun akhirnya aku berhasil menyapih anak sulungku yang saat itu berusia sekitar 2,5 tahun. Dengan apa akhirnya? Karena sounding saja tidak cukup, aku menyapih dengan bratawali mentah (bukan kering, kering masih belum manjur).  Dan akhirnya berhasil.

Menyusui menyenangkan, pasti. Tapi ada kegembiraan juga terbebas dari kegiatan rutin yang membuat lengan terasa pegal setiap pagi, hahaha. Lalu apa lagi ya. Di pertengahan tahun alhamdulillah diberi amanah dalam hal keluarga. InsyaAllah nambah personil. Keinginan yang sudah dari tahun sebelumnya, alhamdulillah berkat doa Maryam 1-11, perbaikan pola makan, doa Nabi Zulkarnaen, Habbatussauda, ketepatan masa subur, intensitas bertemu suami, akhirnya Allah ijabah di waktu yang tepat.

Di akhir tahun, diberi amanah baru dalam hal pekerjaan. InsyaAllah resign dari pekerjaan utama yang selama 3 tahun kujalani, untuk pindah ke pekerjaan baru yang akan lebih teratur dan tanpa free day di weekday. Allah sudah mengatur, berdasarkan doa setiap orang yang mendoakan. Jadi akan dijalani dengan baik, insyaAllah. Semoga lancar dan barakah.

Jadi kalau dibilang, 2018 itu : Keluarga, Pekerjaan, Kesehatan. Alhamdulillah lebih buanyak (sekali) sehatnya dibanding sakitnya. Meski saat sakit pasti rasanya remuk redam. Terima kasih Allah memberi kesempatan untuk istirahat di akhir tahun.

Lalu, apa resolusi ke depan? Terinci dong bu. Plis.

Menjadi Pribadi yang Lebih Baik

Ah gitu lagi kan. Ya, nanti patokan resmi akan ditulis tangan saja. Kalau bisa ditempel sekalian. Karena progresivitas tabungan kok kayanya ga cihuy, ini harus ditingkatkan di tahun mendatang. Karena sungguh setahun itu ternyata benar-benar sebentar. Bagaimana nanti di akhirat? Apakah resolusi kita hanya soal duniawi? Hiks. Semoga Allah mudahkan kita dalam meraih yang terbaik dalam hidup kita. Meski resolusi tidak tercapai, jangan pernah berpikir kita gagal. Setuju?

Review – Zalfa Lippiematte

Bismillahirrahmanirrahim

Kondisi terkini : Anak bobo, hujan deras.

Beberapa waktu yang lalu, Zalfa (brand kosmetik muslimah) baru meluncurkan lipcream bertajuk : Zalfa Lippiematte. Peluncuran ini tersandung sebuah intrik (eh) di mana salah satu brand kosmetik ternama di Indonesia ini meminta Zalfa menghapus iklan ber-model milik mereka, dengan alasan modelnya sama dengan yang digunakan oleh si brand besar ini. Aku sendiri belum sampai menduga siapanya.

Hanya, warnanya yang lucu, dan line tentang Halal, BPOM, Paraben free (ini yang biasanya dipakai oleh ibu-ibu hamil dan menyusui). Jadi, walaupun aku masih punya stok lipstik dari MiCa (yang kecil-kecil) aku memutuskan pesan 2 biji dengan harga terendah di shoppee (harga diskon).

Dicuci pakai air dan digosok sedikit

Warna yang kupilih adalah Peachfull dan Maccared. Maccared ini aku beli untuk bikin ombre lips haha. Harusnya aku beli Nudetella untuk pasangannya, tapi malah beli Peachfull karena aku punya warna nude hadiah dari adik.

Sebenarnya aku belum pernah menemukan kecintaan pada lipcream, karena dari pengalamanku aku nggak menemukan yang cocok. Tapi ternyata si Lippiematte ini enak banget dipakai. Sekali pulas dia pigmented, wanginya seperti es krim, dipakai makan nggak mbrudul. Selama ini aku nggak suka kalau pakai lipcream karena kalau makan, itu kayak ngelotok di bibir. Harus dibersihkan dulu baru re-touch. Kalau ini, enggak.

Oya, aku juga coba swatch di tangan, aku pakai mandi berkali-kali stain-nya masih ada haha. Tapi asiknya ini kan halal, beda sama brand luar. Pokoknya nggak menyesal kalau beli ini. Harga ecerannya memang lumayan tinggi, tapi insyaAllah worthed.

Kondisi terkini : anak sudah bangun, hujan masih deras.

Note : Lipcream ini mengandung argan oil, dan uv filter. InsyaAllah akan melindungi bibir dengan baik. Ah suka deh.

Make Up Haul Focallure

Bismillahirrahmanirrahim

Sejak mulai mengenal dengdong, aku suka mengumpulkan barang-barang ngelenong. Hmm nggak lebay sih karena makin ke sini ternyata undangan makin sedikit, haha. Dulu waktu baru lulus, duh kayanya tiap bulan adaa aja undangan nikahan. Harus pinter yekan dandan, biar nggak amblas kalau ketemu teman-teman.

Dulu tuh nyari shading aja aku sampai belinya eyeshadow matte yang refill. Make up vlogger kayaknya belum musim dah. Yang jelas ilmu dandan itu bermanfaat banget sampai-sampai waktu khitbah aku juga dandan sendiri, dan dibilang cantik (sama keluarga aku, dan keluarga dia. Aku lupa sih dia bilang cantik enggak, sebelum sah aku kan sok jaga hati gitu), ihir.

Pas hamil kedua ini, dibanding hamil pertama yang lebih klewus dan buluk, agak mendingan lah. Karena mungkin lebih nyantai. Kerja juga lebih suka, dibanding tidur. Karena kalau tidur badan sakit semua dan kaki beraat banget. Kalau kerja, mual nggak terlalu berasa dan lebih hepi.

Makin seneng dandan, iya. Suka nontonin IG para make up vlogger. Terus jadi doyan belanja make up hahaha. Aduh gawat juga. Tapi aku kepincut sama Focallure nih. Brand make up dari Cina ini sempat booming ya. Kukira dari manee gitu ternyata Cina. Nah berhubung barang lenong beberapa memang butuh beli lagi, jadilah aku beli beberapa merk Focallure ini.

Sejak nikah, aku rupanya lebih suka barang make up dengan packaging warna hitam. Dulu aku beli make up bareng sama Bulik buat dibayarin beli bakal seserahan, hahaha. Aku beli Make Over, emang kece sih. Sekarang malah nggak pernah beli, mahal.

Aku beli Focallure ini di Shopee. Dan langsung diterbangkan dari Tiongkok sana. Harganya beda jauh sama di sini. Karena konon memang di sana harganya murce abis, karena diproduksi massal. Cuma ya itu harus suabaaar banget yak nunggunya. Tapi dengan harga segitu dan ongkir yang 10 ribu doang, aku nggak menyesal.

Pas barangnya datang, aku videoin proses unboxing-nya karena takut kenapa-napa barangnya. Etapi lengkap dan aman. Oke banget sih packagingnya.

Aku udah nyobain, dan aku salah karena nyobain barengan sama barang baru lainnya suncream wardah dan primer wardah yang baru juga aku cobain bersama Focallure baru. Alhasil jerawat geday bermunculan di dagu-ku. Huaaaa… sedih.

Akhirnya aku stop pakai primer dan foundie Focallure. Harusnya kan memang nyoba barang baru tu satu-satu, jadi tau mana yang bikin break out ya, haha. Etapi pas aku stop, jerawatnya berhenti muncul. Sekarang masih proses menenangkan si mantan jerewi dan rajin pakai skin care dulu.

Eh tapi si Focallure bener-bener cakep! Aku beli shading, foundie, hilither, concealer, dan blush on. Packagingnya oke dan simpel. Isinya nggak terlalu banyak, jadi kalau nggak cocok ya nggak engap. Secara keseluruhan, kalau dipakai oke sih. Pernah kupakai buat dandanin total orang rumah, okee gitu.

Penasaran nggak apa yang aku pakai untuk skin care selama hamil ini? Dann… aku yang udah lama banget nggak pakai perawatan apapun. Lama-lama tengsin juga ya, wajah dikasi sama Allah dibiarin aja. Bahkan pakai suncream aja cuma pagi doang, kan kasihan.. akhirnya jadi nggak sehat.

Skin care-nya di postingan selanjutnya yaa..