herstory, kuliner, perjalanan

Solo-Travelling to Solo

Bismillahirrahmanirrahim

Hola. Sejak muncul leaflet Simposium Penyakit Kulit di Solo, aku pengen banget ikut. Kasus kulit cukup banyak, dan percaya nggak kalau tantangan tersendiri mengobatinya. Seperti kasus jamur diterapi steroid, atau bentuk asli Ujud Kelainan Kulit sudah tidak jelas karena krim yang tidak jelas. Pusing.

Awalnya aku mau boyong si sulung, yang berarti harus membawa serta 2 orang dayang. Mengapa 2? Yang 1 untuk momong which is ART, yang 1-nya lagi untuk momong ART. Hehe. Kalau dihitung-hitung, butuh dana yang nggak sedikit di perjalanan ini. Dan lagi saat kutanya ART, sepertinya doi agak mikir-mikir repotnya dan capeknya. Jadi kuputuskan untuk pergi sendiri.

Ijin Permaisuri dan Raja

Untuk pergi dan menginap tanpa membawa anak adalah hal yang cukup menantang. Tantangan pertama adalah ijin dari orang yang akan ditinggali anak. Meski masih serumah, sebagian besar kepengasuhan tidak diserahkan ke orangtuaku. Aku mengerjakan sendiri, dibantu ART. Sesekali saja bila butuh dibantu orangtua atau keluarga di rumah. Awalnya ijin nggak mulus, tapi akhirnya acc juga.

Sounding Anak

“Ich, bunda mau ke Solo. Nginap semalam. Boleh?”]

“Boleh.”

“Nggak tidur bareng. Tidurnya sama Pipo di rumah.”

“Iya. Nanti beliin mainan ya?”

“Iya.”

Menyiapkan Award

Sudah siap semuanya. Mimo – Nenek mulai ragu, karena Ich kadang masih suka nangis panggil bunda kalau bangun. Aku menyiapkan es krim, coklat, sereal, untuk kondisi-kondisi tertentu yang mungkin akan terjadi supaya kalau nangis, nggak lama-lama.

Pagi Jumat 9 / 11/ 18 subuh hari, aku berangkat menggunakan Kereta Api Logawa. Karena Ich belum bangun, aku nggak pamit. Tapi hal ini biasa terjadi karena aku bekerja, kadang terjadi seperti ini. Dan Ich ternyata paham. Buktinya selama 2 hari ke depan Ich tidak kesulitan melalui hari tanpaku. Justru aku yang berjuang hidup tanpanya.

Pergi tanpa anak pertama kalinya itu… nggak enak. Tapi seperti kata temenku, jangan mikirin anak, nanti dia kerasa. Oyaa aku pertama kali pergi ke Solo, katro yaa? Kalau ke Jogja sering, padahal Solo nggak terlalu jauh, tapi kok belum pernah, hehe.

Sepanjang perjalanan, berhubung dalam masa kehamilan 5 bulan agak kurang nyaman ternyata naik kereta ekonomi. Kakiku hampir kram karena duduk di tempat sempit diapit 4 orang laki-laki. Hikkkkksss. Aku memilih kursi dekat toilet, u know what lah ya.. itu kalau kandung kemih lagi ditendang-tendang rasanya pengen terbang ke toilet.

Toilet jongkok dan kereta berjalan adalah suram. 😀 Badan lagi gede-gedenya, goncang-goncang, bawa tas, tidaaakkssss… Wajib bawa pouch berisi dalaman karena bisa saja terjadi tragedi, air muncrat. Hahaha. Sejak saat itu aku ke toilet saat kereta berhenti. Tenang, kereta sekarang punya septic tank. Jadi nggak kayak jaman dulu, itu pee pada jatuh di rel kereta.

Di setengah jam terakhir aku sudah gak tahan, pengen meluruskan kaki. Akhirnya aku pergi ke restorasi, pesan bakso. Ternyata baksonya enak lho. Sayangnya karena hampir sampai, aku nggak habiskan mie-nya. Seger banget padahal. Huhu. Harganya.. ehem.. 20 ribu. Hahaha.

Pertama kali menginjakkan kaki ke Stasiun Purwosari. Yeay, happy. Langsung menuju toilet untuk berhajat. Setelah itu minta becak mengantar ke lokasi Simposium di Harris Hotel. Kan nggak tahu ya awalnya, ternyataaa itu cuma sejalur doang nggak sampai 1 km. Dan berapa bayar becaknya? 20.000 ngetok banget sih, tapi aku nggak bisa naik gojek, takut jatoh.

Karena acara di Harris Hotel, dan aku sendirian. Aku memilih menginap di hotel lain yaitu Pop Hotel yang harganya lebih murah. Yang ternyata 1 manajemen dan letaknya itu nempel dan dalam 1 lingkungan. amsohappy. Ih seneng.

Hotelnya asyik, millenial. Baik Harris maupun Pop, mereka sepertinya mengusung tema sporty. Seragam mereka bukan ala-ala hotel bintang 4 (Harris Hotel Bintang 4) mereka pakai kaos, semi jeans, sepatu olahraga. Begitu juga di Pop Hotel (Bintang 2) bahkan kadang sepatu kanan dan kiri beda warna.

Di Pop hotel, kamar yang aku pilih adalah kamar yang paling murah sepertinya, 235.000 di traveloka. Tanpa sarapan. Free wifi. Free pembatalan. Mengapa pilih tanpa sarapan? Karena aku nggak mau sarapan hotel, maunya nasi liwet. Hahaha. Dan beneran aku nyari nasi liwet emperan di pagi hari sendirian. Enaaak.

Apa saja isi kamarnya? Aku sengaja nggak bawa toiletries (demi keringkasan bawaan bumil) karena berharap di sana berlimpah, ternyataaa…

Kamar berisi 2 kasur bersekat pendek, sekatnya bisa dilepas, dan kasur bisa disatukan. Enak. TV dengan saluran berbayar. Brankas. Wastafel. Shower. Toilet duduk. Sampo 1 sachet, sabun kecil bundar. Karena aku belum nyoba ke kafe Pit Stop aku nggak tahu printilan ada di sana. Jadi saat malam pas aku nyari mainan buat oleh-oleh, aku sekalian beli sikat gigi, pasta, dll. Padahal sih di kafe-nya ada.

Kafenya seru lho. Malam-malam setelah keliling di Solo Grand Mall yang buatku rasanya seperti Cempaka Mas, aku nyobain ke kafe. Yah lapar mata beli jajan, minuman, bahkan hot cappucino yang enaaak. Kenapa aku memaksakan diri jalan sendirian malam-malam di Solo?

Butuh beli oleh-oleh mainan.

Lapar, tapi pengen nyari keluar.

Pengen menikmati Solo di kala malam.

Biar capek dan bisa tidur. Karena kalau di hotel aku sering kebangun nggak nyaman.

Pokoknya misi malam itu berhasil. Aku pulang, chat ama temen, nonton HBO lalu tidur. Kebangun di jam 1 nonton HBO lagi, lalu tidur lagi ingin cepat besok lalu pulang. Hari kedua Simposium berakhir jam 2. Di jam ishoma, aku pesan go-food untuk beli serabi notosuman Ny. Lydia dan Richeesee. Sorenya makan Richeesee di kamar, lalu check out.

Oya harusnya CO jam 12 tapi aku perpanjang, bayar 50% harga hari itu. Nggak papa dari pada aku pulang belum mandi, belum makan, belum siap-siap. Setengah 5 sore aku keluar padahal jadwal kereta jam 6 sore dan stasiun dekaat banget. Cuma cuaca udah mendung banget, dan aku takut nggak dapat becak. Rempong kan bawaan.

Di stasiun hujan deras banget. Tempiasnya ke kursi tunggu, seram pokoknya. Nunggu Jaka Tingkir datang. 5 jam kami berjalan pulang karena banyak berhenti menunggu persilangan. Sejujurnya aku lebih suka perjalanan siang. Aku nggak akan bisa nyenyak tidur di kereta karena memang nggak terlalu capek. Setengah 11 lebih akhirnya sampai di kota tercinta. Disambut si sulung yang bertanya terus soal mainannya, lalu tertidur dengan tabung pemadam mainan di pelukannya. FIN.

Advertisements
herstory

Body Shaming – Oldskool

Bismillahirrahmanirrahim

body shaming

Hari ini hati sedang kelabu biru sendu. Cailah. Perasaanku sih aku nggak pernah ngatain orang terlalu gemuk atau terlalu kurus. Kecuali anakku kupanggil ‘ndut’ padahal gak gendut.

Beberapa kali ku dikatai gemuk, oleh beberapa orang. Hiks. Kalau dalam kondisi mental maupun fisik yang biasa mungkin aku hanya ketawa saja. Tapi saat lagi hamil, dikatain, kadang beda hari masih dikatai sama aja oleh orang yang sama. Pengen nangis seketika itu juga.

Ingin ku memasang wajah seperti biasa. Hanya hatiku bilang, harus ada perubahan warna wajah. Mungkin bagi sebagian orang bercanda tentang postur itu biasa ya, tapi sebenarnya itu cukup menyakitkan. Ya diet dong. Ehem. Yaa.. kalau gampang ceritanya sih.

Tapii, mungkin ini bisa jadi batu loncatan supaya nanti di status ibu dua anak, tubuhku bisa kaya Yulia Baltschun gitu ya, hihi. Suatu kali akan kubuktikan, hahaha. Kalau sudah begitu sih, aku lebih baik menyendiri aja. Bukan tipikalku langsung mencak-mencak juga, lalu memusuhi orangnya.

Aku cuma berdoa banyak orang yang akan tercerahkan. Mau itu soal bugar dan sehatnya seseorang, bukankah lebih baik tidak menjadikan itu candaan ya? Apalagi dikatakan di depan orang banyak, atau di depan orang lain yang bukan teman kita? Apa mungkin yang berkata seperti itu sebenarnya iri pada kita dalam hal lain ya? Lalu mencari celah untuk membuat mereka bisa sedikit berbangga? Wallahu a’lam yang jelas seharian aku jadi harus mencari cara supaya hati bisa bahagia lagi. Menangis-nangis sambil membaca Al-Qur’an adalah salah satu yang mujarab.

Kamu pernah jadi korban Body Shaming? Saling menguatkan yuk 🙂

herstory, review

Make Up Routinity

Bismillahirrahmanirrahim

Minggu lalu di akun Jouska, akun tentang financial plan membuat insta story untuk bertanya kepada follower : ” Berapa dana yang dihabiskan untuk skin care/ make up selama setahun.

Jawabannya cukup bervariasi dan sempat membuat kaget juga. Ada yang menjawab di bawah 1 juta, 10 juta, bahkan 25 juta. Selain kaget biaya bisa menjadi sangat mahal, kaget juga bahwa sebenarnya masyarakat kelas menengah pun bisa mengalami hal serupa. Katakanlah di kota kecil ini perawatan di sebuah layanan kecantikan yang cukup ternama paling tidak 400 ribu 1 bulan, lalu kalikan 12. Lumayan ya.

Hal ini membuatku berpikir juga. Kemarin-kemarin, sempat terpikirkan keinginan membeli sepaket kecil lipstik kesayangan, gel aloe vera (karena harganya sedang murah), dan lain-lain. Tapi karena tanggal tua alhamdulillah masih bisa digagalkan dengan : pake dulu yang ada aja ga habis-habis.

Sejujurnya, kadang aku bisa beli beberapa lipstik kalau sedang ‘ingin’ padahal nantinya yang dipakai hanya satu saja. Jadi sekarang aku agak malas ganti ke merk baru, karena sudah cocok sekali dengan make up yang dipakai.

Aku pun bukan make up junkie. Secara rutin aku lihat make up mana yang sudah expired lalu kubuang. Yang ternyata tidak cocok kadang ku-prelove atau kuserahkan ke yang lebih cocok. Cuma kadang pengen coba yang hits, em.. walaupun ujung-ujungnya sering ga cocok.

Aku akan cerita rutinitas make up pagi ya. Kalau dinas sore aku jarang ber-make up. Make up-ku sebetulnya juga nggak covering amat, nggak flawless, cuma tetap terlihat lebih segar dan nggak kusam. Maklum kerja di layanan publik. Ini benda-benda yang selalu aku pakai sehari-hari, ada beberapa yang sudah sering repurchased.

  1. Pertama aku pakai Wardah Aloe Vera untuk melembabkan. Karena dengar-dengar walaupun kulit berminyak, pelembab itu penting juga. Aku belum pernah pakai merk Koreyah jadi nggak bisa membedakan. Sudah berkali-kali beli kalau ini. Harganya juga terjangkau lah. Awet pula.
  2. Kedua aku pakai UV filter. Sebelumnya sempat coba merk dari jepang yang terkenal itu (ga mahal sih) tapi jadi break out entah karena memang sedang masanya BO atau karena nggak cocok. Sempat istirahat, pakai lagi, eh jerawatan lagi. Lalu kucoba si Ice Sun NR Koreyah itu. Adem-adem gimana gitu, tapi terasa kurang mantap karena aku nggak berasa dia udah nempel atau belum. Harganya juga lumayan tapi sepertinya cepat habis. Sekarang aku masih nebeng aja si pakai Biore. Nggak lengket, cepat kering dan belum berasa gak cocok.
  3. Ketiga aku pakai foundation. Ku sudah pakai ini berulang kali, repurchased. Dia sih nggak full coverage juga. Cuma cukuplah buatku untuk sehari-hari. Lite, nggak berat dan nggedibel. Harga masih masuk kantong, halal.
  4. Keempat kalau lagi pengen pakai blush on. Hasil ngembat, karena punyaku nggak tahu di mana sih. Ini oriflame, dan cakep. Dan awet buanget.
  5. Kelima pakai bedak. Bedak yang cocok gak susah nih, karena nggak suka yang tebal, yang panas. Dan cari yang warna kulitnya cocok itu mayan susah juga. Sampai sekarang yang paling cocok adalah si mineral botanica ini dan bedak ponds. Ringan banget nggak kayak pakai bedak.
  6. Keenam tinggal pakai lipstik. Dari beli-beli macam-macam, akhirnya ini yang paling cocok. Mineral botanica udah paling cocok. Dia lembab, nggak bikin kering, tapi nggak berasa tebal. Warnanya juga udah cocok banget nggak ngejreng. Dan aweeet banget.
  7. Kalau lagi inget, dan wajah bersih, diolesin Laneige itu. Jarang banget sih, cuma pas bangun memang moist enak. Dan alhamdulillah cocok.

Sampai sini wajahku yang penting nggak breakout aja aku udah seneng banget. Selain itu cuma pakai facial foam aja. Minyak wangi, pakai switzal yang awet bianget… Lainnya udah nggak pernah pakai lagi. Sekian dan terima sharing.

Untuk harga, packaging, silahkan cari di para suhu make up. Hihi. Aku seringnya beli di shopee sih membandingkan harga yang paling murah tapi jelas ori. Atau di @ummuaisha yang barangnya pasti ori. Make up tuh memang cocok-cocokan banget. Mau itu mahal kalau nggak cocok ya wassalam. Jadi kalau udah cocok sih saranku pertahankan aja, daripada beli mahal abis itu ngejogrok.

family, healthstory, herstory

Tragedi Jatuh : Bibir Sobek dan Gigi Patah

Bismillahirrahmanirrahim

Beberapa kali dapat pasien anak sobek kepala, sobek bibir, sobek bagian kulit lain. Sekali waktu lihat teman sejawat, kepala anaknya sobek, dijahit 1 atau 2 hanya pakai chlor etil. Tuhaaan… Ku langsung berdoa semoga anakku nggak akan pernah mengalami hal seperti itu. Walau, aku sendiri pernah jahit 5 atau 7 di kepalaku, karena pingsan di warung tetangga.

Throwback.

Dulu lagi liburan sekolah, aku belum sarapan, diajak beli jus di warung gang sebelah. Emang dasar hipotensi postural mungkin ya, jadi kelamaan berdiri aku pingsan aja gitu. Setengah sadar, aku lagi dibaringin di risban, dengan kepalaku berdarah menetes-netes di kepala. Hihi. Aku kalau ketemu pasien anak, selalu bilang, “Bu Dokter juga pernah nih dijahit kepalanya, gapapa kok.”

Back to the jungle.

Jadi si sulung itu maunya bobo di kamar Pipo – Mimo (Eyang) dia tidur di tengah. Lalu Mimo shalat malam. Dia akrobat dan jatuh di bagian mulut dulu. Tergopoh-gopoh tengah malam itu Pipo bopong ICH yang darahnya ngucur di bibir, ke kamarku. Sontak aku bangun (ini udah kebiasaan banget, karena kalau di IGD dulu ada pasien selalu bangun kalau sedang bisa tidur). Aku gendong di anak yang lagi nangis itu.

Aku cuma kasi instruksi ambil sana-sini. Adekku yang masih stay tanggap. Karena Pipo udah lunglai diam aja di kursi. Mimo juga bingung mau ngapain dan agak merasa bersalah walau udah ngasi bantal di pinggiran kasur. Minta handuk kecil. Aku tekan perdarahannya, lama nggak berhenti. Udah khawatir lebar dan dalam, butuh dijahit. Aku udah mikir arahnya mau dibawa kemana. Tapi alhamdulillah lama-lama berhenti. Aku minta ambil es krim, untuk menghentikan perdarahan. Tapi bocahnya nggak mau.

Setelah darah berhenti, dia cape. Minta minum. Aku kasi air es. Abis itu dia minta gendoooonggg… baru akhirnya bisa kuletakkan di kasur. Aku observasi sampai jam 3 pagi. Sesekali dia kebangun merintih kesakitan, lalu tidur lagi. Aku cek luka di bagian dalam bibir bawahnya, dan giginya patah 1.

Paginya aku udah siap es krim. Lalu setelah mandi, dibawa beli 3 es krim sekaligus. Mungkin hari itu hari yang indah buat dia. Oya, aku juga meliburkan diri dari jadwal pagi sore klinik karena khawatir si bocah nggak siap mengalami nyerinya. Ternyata dia kooperatif.

Paginya kubuatkan oatmeal pisang kesukaannya, makan tanpa mengenai lokasi nyeri. Lalu beli agar pepaya. Lalu kupesankan brownies alpukat yang enak sekali dari temanku. Yang jelas aku membebaskannya makan hari itu. Membuatnya lupa dengan nyerinya tanpa obat anti nyeri atau antibiotik.

Setiap hari kupantau, karena kalau sampai lukanya terkena bakteri ya harus segera diberi antibiotik dan aku nggak terlalu suka memberikan obat yang harus habis diminum. Anaknya susah haha. Hari itu mulutnya masih bau anyir. Aku konsul ke teman drg seharusnya memang cek. Tapi aku takut kalau cek sekarang malah nantinya dia akan trauma, jadi nanti-nanti nunggu episode selanjutnya.

Di hari ketiga baru aku berani menyikat giginya. Gumpalan darah yang menempel di gigi atas alhamdulillah jadi bersih. Aroma pun jadi makin segar. Bibir bagian dalamnya sedang menyembuhkan lukanya, membentuk sariawan. Ada obat untuk sariawan, tapi ku memilih memberinya makan telur untuk proses penyembuhan luka.

Sekarang sudah 1 minggu sejak kejadian dan bibirnya sudah baik. Alhamdulillah proses recovery dimudahkan Allah. Aku pun menjadi lebih aware. Oya, aku langsung beli rail bed untuk jaga-jaga supaya dia nggak jatuh. Beli di informa. Memang agak kurang tinggi karena kasurku tebal, tapi itu sudah bagus sekali.

Hati-hati ya Moms. Dan kalau hal itu terjadi, jangan panik. Aku share tips untuk menangani luka di rumah ya 🙂

  1. Tetap tenang meski itu sulit. Kalau panik, anak juga akan membaca kepanikan kita. Sementara kita sendiri tidak akan bisa berpikir panjang.
  2. Cek kesadaran. Apakah anak sadar atau pingsan. Apakah ada kesulitan bernapas? Apakah ada yang tersangkut di jalan napas (hidung, mulut) entah itu darah, benda, muntahan.
  3. Tekan perdarahan di manapun lokasinya. Lokasi di kepala akan terlihat lebih banyak darah karena di sana banyak pembuluh darah. Tunggu 10 menit, bila masih tidak berhenti, baik itu dengan handuk maupun handuk yang diberi air es, segera bawa ke tempat pelayanan kesehatan terdekat. Terutama ke IGD RS atau klinik 24 jam dengan ruang tindakan.
  4. Jika darah sudah berhenti, tenangkan anak. Beri minum air dingin. Bantu kompres dengan lap dingin. Bila anak merintih berikan obat anti nyeri. Paracetamol dengan dosis 10 mg/ kgBB. Misal anak dengan berat 10 kg, beri dosis 100 mg. Paracetamol umumnya memiliki sediaan 120 mg/ 5 ml sendok takar.
  5. Bila luka diobservasi lebar, dalam, banyak, kotor, sebaiknya bawa ke dokter untuk penanganan lebih lanjut.
  6. Pemberian makanan diutamakan yang lembut dan dingin, seperti oatmeal, bubur sumsum, agar, puding, buah, es krim bila luka ada di bibir dalam.
  7. Luka jahitan tidak boleh terkena air, kontrol rutin 2 hari sekali ke layanan kesehatan terdekat.
  8. Beri kesibukan yang menyenangkan untuk anak supaya lebih mudah melupakan rasa sakitnya.
  9. Tetap semangat.
herpregnancy, herstory

Bundle of Joy – Best Moment 2018

Bismillah

Ada beberapa lomba blog yang sedang diadakan, tapi aku merasa lebih ingin ikut lomba blog di sini 🙂 Ehm temanya aku banget dan hadiahnya sesuai kebutuhan.

Best moment pasti akan selalu diabadikan di dalam smartphone, jadi ide kreatif blog giveaway ini pasti punya banyak peserta. Tapi hasil akhirnya tetap serahkan pada yang di atas *cengir.

unnamed

Foto ini belum lama di-capture, dan belum pernah tayang di media sosial manapun yang kupunya. Tapi di antara yang lain, mungkin foto ini berarti paling indah buatku, buat kami sekeluarga. Sejak 2 tahun lalu (maybe) aku sudah siap untuk hamil lagi. Nggak pernah pasang KB, karena memang nggak menunda punya anak lagi. Long Distance aja KB-nya, hehe. Karena sepertinya hal itu cukup menjarakkan kami kan. Buktinya, beberapa kali hasil testpack yang diharap positif, kebalikannya.

Karena usia mendekati 30 tahun, berbagai pertimbangan memutuskan kami untuk segera membuat program anak kedua. Ternyata Allah mengabulkan doa kami sebagai oleh-oleh Lebaran 2018 😀 As always sebelum hari terjadwal haid, aku sudah mulai testpack. Positif samar, 7 hari setelah ayahnya pulang kembali ke Aceh. Tapi hal itu masih meragukan, kan.

Selang beberapa hari berikutnya dicoba tes lagi, Masya Allah hasilnya makin jelas. Alhamdulillah, Kaichi akan punya adik, insyaAllah. Happy? Banget! Waktu ini paling tepat untuk kami, meski BB idealku belum tercapai, okelah nanti setelah lahiran akan kuperjuangkan hihi.

Di minggu ke-5 sejak Hari Pertama Haid Terakhir aku pergi ke SPOG langganan-ku. dr Yelly, Sp. OG yang menyatakan kalau kantung kehamilan sudah terlihat dan janinnya masih suangat kecil, belum bisa diukur. 3 minggu kemudian aku disarankan kembali. Dan terdeteksi kista hormonal sebesar 2,5 cm.

Saat kembali kontrol, ukuran janin sudah membesar sesuai usia kehamilan 7 minggu meski kalau terhitung sejak HPHT seharusnya berusia 8 minggu. Kata dokter nggak perlu khawatir, yang penting denyut jantung sudah terdeteksi. Dan kista, masih ada.

Bicara soal kista ini, kadang saat kehamilan memang bisa muncul kista hormonal yang wajar sekali. Dengan ukuran di bawah 5 cm hal ini seharusnya tidak masalah, karena biasanya saat plasenta terbentuk sempurna di usia kehamilan 3 bulan maka kista akan menghilang. Dan ya alhamdulillah di usia kehamilan 13 minggu kemarin kista sudah tidak terdeteksi.

Alhamdulillah gunanya smartphone, momen-momen yang nggak akan terulang ini bisa kembali dilihat dan membuat bibir tersenyum bahagia. Apalagi harus laporan sama Pak Bos di Aceh sana, harus ada bukti otentiknya kan. Ngomong-ngomong soal smartphone, buatku sampai sekarang yang terpenting adalah memori internal dan kameranya. Terakhir aku mengganti smartphone yang baru 2 tahun usianya karena pengen upgrade ke memori internal 64 GB.

Dannnn ternyata di hape Huawei Nova 3i  ada 2 kekuatan super itu, selain kemampuan keren lain sih. Gila ga sih dia punya memori internal 128 GB? 2 kali lipatnya hape-ku sekarang. Ini sih mendukung banget untuk jualan, pepotoan selfi, dan.. ehem game-nya anakku. Ini gede banget asli.

Terus gaes, sejujurnya aku juga baru tahu soal AI ini, haha katro ya. Hape Huawei Nova 3i ini punya kamera yang diperkuat sistem AI. Jadi dia tuh sistem yang cerdas gils. Jadi dia bisa mendeteksi apakah itu gambar pemandangan lansekap, atau objek yang seharusnya dibuat bokeh karena makro. Dan ada teknologi facial recognition yang secara otomatis mengenali pemilik wajah yang terdeteksi di kamera. Kita nggak perlu atur banyak, mereka melakukan semua sendiri. Wow. Mau lebih kaget lagi ga. Kamera diaaa di belakang itu 16 MP + 2 MP daan di depaan 24 MP + 2 MP. Mamam tuh.

Huawei Nova 3i ini punya desain yang masyaAllah keren, ada 2 warna dan yang iris purple tu aku banget Ya Allah. Jangan mupeng ya 😀 Layarnya 6,3 inch enak untuk nunyuk-nunyuk tapi ga kegedean juga ampe bleber tangan harus kepake semua.

huawei_nova3i_color_gradient

Untuk yang suka main game pasti hape ini akan membuat mereka nggak bisa tidur saking lancarnya main game dengan teknologi GPU Turbo. Selain itu ada bebas notifikasi juga, well siap-siap istri ngambek karena bebas hambatan. Hahaha. Untung suamiku ga suka gaming.

Tulisan ini diikutsertakan dalam giveaway blognya Jiwo. Terima kasih Jiwo, aku jadi punya bahan seru untuk di-posting. 🙂 Semoga aku dapat hadiahnya juga. Kalau iya, hape sebelumnya akan kulungsurkan ke suami yang hapenya sudah mulai hang. Ehem, tetep yang baru buatku ya.

 

Salam, Bunichi

herstory

Hello Again

Bismillah

Wow. Setelah bertahun-tahun mengandalkan memori komputer. Suatu kali akun nggak bisa dibuka karena nggak otomatis, dan lupa email dan password sekalian. Pyuh. Untungnya sudah bisa teratasi. Kangen banget nulis di blog. >,<

Sudah gitu aja sih 😀

perjalanan

Drama Salah Kereta (Cerita Mudik)

Bismillah

Sebelumnya izinkan Ourcosmic mengucapkan ‘Taqabbalallahu minna wa minkum. Taqabbal Yaa Karim… Mohon maaf lahir batin apabila selama berinteraksi ada hal yang menyinggung.’

Ceritanya kami mudik ke Kroya dari Purwokerto (iya jangan syok, haha. Selama 3 tahun sebelumnya lewat jalan darat selalu kena macet, jadi mulai asyik pulang-pergi dengan kereta). H2 kami kembali dari Kroya ke Purwokerto dengan KA Serayu.

Jadwal keberangkatan 16.40 dari Stasiun Kroya. Kami sampai jam 16.30 dan ada pengumuman Kereta Api Serayu… Kiaracondong.. akan segera diberangkatkan, mohon kepada penumpang untuk segera naik ke KA. Panik, panik.

Di pintu masuk, langsung periksa kartu cepat. Kami bilang mau naik Serayu sudah mau berangkat ya? Langsung diarahkan naik ke kereta. Begitu sudah naik di pintu, kami tanya lagi. “Ini ke Purwokerto kan?”

“BUKAN BU, INI KE BANDUNG.”

MATENG AKU MAAAKKK SALAH NAIK KERETA.

Satpam kereta mengecek kartu. Sementara petugas lain ribut akan menurunkan kami segera padahal kereta sudah dalam hitungan detik akan berangkat.

“Ini harusnya naik Ranggajati!” Ranggajati apaan, karcisnya Serayu! “Eh bukan, Serayu ini, bener Serayu. Serayu ke Purwokerto, salah bu salah. Turun sini.”

PANIK!

Kereta mulai jalan pelan. Kakiku sudah mengambang mau memijak tangga, tangganya ditarik petugas stasiun. Kakiku batal turun. Kuberikan Ichi anakku ke petugas stasiun, rencananya aku mau lompat. Ichi sudah di tangan petugas, aku takut loncat karena kereta makin melaju dan pintunya tinggi. Takuutttttt.

Ichi mulai nangis ketakutan. Kami bingung dan panik. “Bu jangan loncat Bu.”

TETAPI, ALHAMDULILLAH sebelum kereta melaju makin cepat, petugas stasiun memberi kode MERAH kepada masinis. Kontan masinis kembali berhenti. Aku bahagia dan LEGA, langsung merosot turun tanpa tangga yang penting bisa kugendong si balita yang sedang menangis ketakutan. Oh anakku. >,<

Sepasang ayah ber-anak pun datang, hendak naik kereta itu. Merasa bersyukur karena keretanya batal berangkat. Tapi ternyata mereka salah juga seperti kami. Hendak naik kereta Serayu Purwokerto-Kiaracondong. Padahal tujuan kami sebaliknya. Kepala KA ini berada di posisi sama, baik itu ke Purwokerto atau ke Bandung.

“Jangan nangis ya!” Kata Pak Satpam kereta berwajah sangar.

Aku sampai lupa berterima kasih. Segera kudiamkan Ichi. “Kenapa nangis?” “Nggak jadi naik kereta!!!”

Kasihan sekali. Tapi di benakku muncul kejadian serupa. Seingatku itu mimpi, mimpi yang buruk. Tapi bisa jadi itu de ja vu.

Setelah Serayu tujuan Bandung berangkat, datanglah Ranggajati yang tak lama singgah. 1 Keluarga tergopoh datang ketika Ranggajati sudah mulai menggerakkan rodanya. Pak petugas memberi sinyal berwarna merah pada masinis, tapi terlambat, kereta sudah melaju kencang dan tidak dapat dihentikan lagi. Mereka gagal naik kereta.

Menunggu agak lama, baru kereta kami datang. Setelah memastikan kereta yang tepat, kami masuk ke gerbong kami. Alhamdulillah sepi dan lengang. Sambil menyuapi Ichi dengan nasi bekal, kami menikmati setengah jam perjalanan kami sambil sesekali mengingat kejadian barusan.

Pengalaman itu sangat menegangkan bagi kami. Meski seharusnya kami harus tetap tenang, karena kedua bapak ibu mertua masih menunggu di luar menyaksikan drama kami. Mentok-mentoknya seharusnya kami tetap tenang bertiga di dalam, lalu turun di Stasiun Maos tak jauh dari Kroya. Tapi yah tahu sendiri, otak selalu macet dalam keadaan genting.

________________

Di rumah, kami penasaran apakah Ichi trauma dengan kejadian tadi. Ada pertanyaan yang kami ajukan pada Ichi yang Oktober nanti genap 3 tahun.

Q : Ichi takut nggak ditinggal ayah bunda tadi naik kereta?

A : Iya takut, Ichi nanis (nangis) digendong bapak-bapak.

Q : Kalau ayah bunda pergi naik kereta tadi, Ichi gimana?

A : Ichi nyusul sama bapaknya.

Q : Kalau bapaknya nggak mau nyusul?

A : Ichi nyusul sendirian naik kereta

Q : Kan di situ ada mbah

A : Oiyaya, ada mbah. Tapi mbah kan di rumah.

Yah, itulah pengalaman berharga kami. Jangan sampai terulang oleh kami, dan oleh rekan semua ya. Dan terimakasih kepada PT KAI yang sudah membantu kami. Semoga ke depan, meski dalam kondisi terburu-buru, pengecekan boarding pass tetap maksimal.

Selamat kembali ke dunia nyata! 🙂

herstory

Financial Planning

Bismillahirrahmanirrahim

Yaah. Nyapu-nyapu dulu nyah. Sayanya. 😀

Jadi belakangan ini saya baru baca buku Prita Ghozie. Sungguh aku menyesal tidak membacanya dari awal. Aku sudah lama tahu. Tapi memilih buku finansial lain yang menurutku lebih menarik. Beruntung dapat pinjaman dari Mimom baik hati.

Ini dia buku yang aku baca : (Percaya gak ini aku mulai males nulisnya dan mau close aja, huhuhu)

11 (1)

Di buku ini, Mbak Prita memaparkan bagaimana pentingnya berinvestasi. Investasi bukan cuma saham ya. Ternyata banyak sekali yang dinamakan investasi. Dan… di buku ini saya baru ngeh dengan yang namanya Reksa Dana. Bum! Katro ya.

Dan mulai belajar lalu mencari tahu. Beruntungnya teman-teman di AIMI beberapa merupakan pemain yang sudah lumayan berpengalaman. Ah, hari ini kami sharing lagi. Bicara lagi mengenai finplan. Sejujurnya saya sendiri juga masih belajar mengatur arus kas. Yang secara tidak saya sadari sudah hampir menjurus ke gaya hidup hedon.

Mm dan bahagianya lagi saya punya teman-teman yang meskipun di atas rata-rata namun gaya hidup mereka bersahaja. Meski sebagian yang lain, tidak hehe. Untuk itu saya belajar lagi mengerem. Ada banyak tips baru yang saya dapat di buku ini maupun sharing teman. Tapi akan saya ceritakan lain kali ya.

Kamu sendiri termasuk yang sudah melek financial belum? Atau masih dalam tahap ‘renovasi’ pengaturan kas ? Hihi. Kalau mau belajar lebih banyak, tulis komen ya. Oya silahkan berkunjung di instagram saya. Sekarang hanya untuk perempuan saja. Di sana saya share tentang montessori, gaya hidup / finplan, kesehatan. Hanya supaya ada keseimbangan di sana. Tidak melulu tentang hidup seseorang yang belum tentu berguna untuk orang lain. Hihi.

IG : @fillyulfa

herstory

Papsmear Pertama

Bismillahirrahmanirrahim

Enak banget ternyata nggak naruh aplikasi FB di hape. Ternyata nggak lihat FB pun hidupku nggak berubah, malah lebih tenang dan banyak melakukan hal yang lebih baik. Ahahahay. Sesekali pas buka laptop lihat FB malah pusing sendiri. Ya sudah.

Sudah lama pengen nulis blog, tapi setelah seminar kemarin, belum sempat cerita-cerita. Nanti deh kapan-kapan aku tulis.

Jadi mungkin hampir semua sudah tahu papsmear itu apa. Pap smear adalah suatu tindakan skrining untuk penyakit kanker serviks. Kanker serviks ini merupakan kanker terbanyak di Indonesia selain kanker payudara. Makanya digalakkan program preventif-nya. Coba siapa di sini yang sudah menikah dan sudah pernah pap smear?

Yeap. Untuk yang sudah aktif secara seksual memang diharuskan melakukan pap smear. Beberapa wanita ngeri untuk melakukan ini. Mendengar yang katanya sakit. Karena memang miss V kita akan dibuka dengan alat bernama cocor bebek, lalu rahim kita ‘dijepit’ dan dengan sikat kecil akan diambil contoh cairannya untuk di swab dan nanti akan dioles di kaca preparat dan dibaca oleh Spesialis Patologi Anatomi.

Aku sendiri sudah menikah selama 3 tahun, hihi. Tapi baru berani pap smear. Padahal tahun lalu ada program gratis kerjasama BPJS. Cuma aku baru siap kemarin. Setelah menyiapkan waktunya, saat sedang tidak menstruasi, dan tidak berhubungan dengan suami sebelumnya, aku pergi ke Sp. OG

Awalnya tegang. “Jangan tegang, rileks, biar nggak sakit.” Tahu sih, tapi antara malu sama grogi. Tapi beneran aku pengen biar nggak sakit, jadi ya dirileks-in. Beneran loh, nggak lama udah selesai dan nggak sakit. Baik itu saat dimasukkan alatnya, dijepit, dan dioles.

Alhamdulillah, dalam seminggu tinggal nunggu hasil. Alhamdulillah hasilnya nggak mengkhawatirkan. Ayo segera ke Sp. OG pilihan kalau belum pernah pap smear 🙂

dapoer HN, herstory

Bikin Donat Susah-Susah Gampang, Ternyata

Bismillahirrahmanirrahim…

Selama ini aku lebih suka beli donat daripada harus bikin. Aku bukan sweet tooth, bukan pula orang yang suka baking atau bikin roti. Pengalamanku lebih sering gagal karena suka nggak ngikutin resep haha. 

Udah gitu kalau mau bikin sesuatu kue, bahan-bahan sisanya akan nganggur karena nggak suka bikin kue. Ruginya lagi, sekeluarga ku semua bukan tipe pemakan roti, kalau dapat banyak lebih sering dikasih ke art atau kalau kelupaan membeku di kulkas. Makin males bikin.

Tapi ada bocah kecil yang setengah terobsesi sama donat. Kadang dia bisa berkali-kali makan donat. Tapi lebih suka kuenya, toppingnya biasanya dia buang. Udah lama pengen bikin berdua boscil. Akhirnya kamis kemarin aku eksekusi karena ga sengaja liat tepung kentang. 

Aku sampai ke 3 toko untuk mencari kelengkapan resep. Setelah sampai, langsung pengen ngajak anak bikin sambil nyuapin doi. Ternyata bikin donat bareng boscil tidak sesuai ekspektasi. Dia akhirnya kukasi tepung sendiri, dan berhasil mengguyur boneka Tayo barunya dengan tepung, membuang hampir separo tepung cakra, membuang hampir sampai habis baking powder. 

Karena terburu-buru aku lupa kalau ragi harus dipastikan ‘hidup’. Aku lama nggak pakai ragi instan. Dan bisa dipastikan aku mencampur adonan ragi yang belum berbuih. Akhirnya ku tambah kan BP. Well seperti dugaan donatku tidak mengembang. Aku pikir selain ragi, kesalahanku yang lain adalah tidak mengencerkan tepung kentang terlebih dahulu. Ngek. 

Donatku nggak proofing. Aku menyerah. Tetap menggorengnya walaupun bantat. Memberinya coklat dan bubuk gula halus. Boscil mencomot dengan semangat dan berkata, “Enak Bunda.”

Biasanya kalau aku merasa aku bisa tapi gagal, aku akan melakukannya terus sampai berhasil. Dan besoknya aku coba lagi. Dengan resep tanpa menguleni, asik kan?

Lagi-lagi aku nggak paten ama resep. 350 gr tepung cakra yang seharusnya dipakai, aku ganti dengan tepung kentang sebagian. Well akhirnya aku menyadari, untuk adonan tanpa diuleni tentu tepung kentang terlalu lembek. Padahal aku belain beli tepung tambahan ke Indomaret jam setengah 6 pagi bro. Hahaha. Yang ada adonannya terisi minyak semua. Pardon. But, anak kecil itu makan dengan suka ria. Hiks. Aku makin penasaran. 

Hari ini aku bikin donat lagi dengan resep berbeda, yang lebih simpel dan tanpa telur. Sayang telurnya bisa buat lauk xixi. Aku pakai resep ini. Sesuai resep semua. Tapi lago-lagi adonan donatku tidak mengembang 2 x lipat. Hanya mengembang sedikit. Sejauh ini dugaan ku karena baskom yang kupakai dingin. Entahlah. 

Kesalahan kedua adalah aku terlalu malas mencetak dan kemampuan membentuk donat manualku belum excellent. Jadi donat nya berbentuk tidak mulus. Meskipun saat digoreng ia mengembang. Donat ini mengingatkanku pada ibu donat. Penjual donat dll yang keliling Rumah Sakit untuk menjajakan jajanannya saat kami koas. Kehadirannya selalu ditunggu oleh para koas kelaparan. 

Yah, mungkin setelah ini aku vakum dulu dalam menguleni tepung. Karena donat-donat itu tidak jadi primadona, yang doyan cuma anakku sama aku doang. 😂 Pada ga demen kue-kue. Makanya aku males bebikinan. Apalagi aku juga sedang mengurangi tepung proses. Kalau liat donat imut dianggurin hasratku jadi goyah. Hahaha. 

Sharing dong resep donat apa yang pernah kamu coba. Apa saja si kesalahanku dalam membuat donat? Kamu lebih milih beli donat atau bikin? Share yaa 😘