To: My Daddy Bear

Bismillahirrahmanirrahim

Kepada Papichu tercinta.. My Daddy Bear

Sore ini, saat Papichu bertanya, “Sedang masak sup kepala ikan ya?” Belum terbayang di benak akan memasak sup kesukaan Papichu, tapi langsung kukumpulkan bahan masakan dan memasaknya dalam 30 menit. Ya, supaya sup yang masih panas itu bisa mengisi perut gembul Papichu sebelum berangkat ke Surabaya malam ini.

Tahukah Papichu betapa sayangnya aku padamu? Dan pada Ibung, tentu saja. Anak yang hampir 25 tahun ini, yang masih suka menempel di punggung Papichu kalau Papichu berjalan, kemanapun, saat aku sedang ingin. Seperti anak panda minta gendong. Menempel dan bersandar di punggung Papichu itu menyenangkan. Lalu pada saat yang lain, menyerang perut gembulmu dengan brutal. Bersandar di dada, mendengarkan lub dup lub dup sambil mengusapkan pipi di sana. Nyaman, Pap.

Bagaimana rasanya menikahkan anak kecil ini? Yang dulu selalu menunggu Pap pulang di depan pintu dengan es tung-tung di tangan? Menunggumu pulang kantor, lalu menaiki vespa yang kau bawa masuk ke dalam rumah. Lalala. Aku tahu Papichu terharu. Kalau aku menuruti perasaanku, tentu saja aku akan kembali menangis seperti anak kecil saat meminta ijin menikah padamu kemarin dulu. Tapi tidak. Aku sudah ketakutan, membayangkan mukaku akan dipenuhi bedak dan eye liner yang luntur. Dan aku tidak suka menangis di depan orang-orang yang tidak kukenal, maka kuputuskan untuk tidak menangis. Tapi kau tetap meneteskan air mata, di tengah senyuman terbaikku untukmu. Di hari saat aku harus mengecup tanganmu setelah resmi menjadi seorang istri.

Terima kasih atas segala yang kau berikan padaku, Pap. Rela mengantar-jemput saat aku harus dinas ke Rumah Sakit, meski lelah. Menjawab semua pertanyaan bodoh. Menanggapi curhat-anku setiap kegalauan menghadang. Menenangkan dengan, “Nggak apa-apa, yang penting sudah usaha.”

Itu Bapak, Papichu, Babeh, dan entah apa lagi panggilan yang sering kugunakan untuk memanggilmu. Bapak, yang sudah membesarkanku dengan tanpa amarah apalagi pukulan saat menasehatiku. Yang lebih suka melakukan apa-apa sendiri. Seperti siang tadi saat harus memotong celana panjang yang akan kau bawa ke Surabaya. Pergi ke penjahit, lalu memutuskan untuk menge-sum sendiri lipatan celana yang sudah dipotong pendek dan diobras di penjahit.

“Paak, nanti aku yang nge-sum.” Aku pun mendekatimu, lalu mencoba membantu menjahit bagian bawah celana. Baru kali ini kulakukan, kupikir selama ini Pap hanya menaruh saja celana yang kepanjangan di penjahit lalu voila sudah rapi. Ternyata tidak. Maka tidak heran kalau hasil jahitanku berantakan, bandingkan dengan pola jahitan zig-zag milikmu. Hihi. Lucunya, aku kalah pelajaran menjahit dari seorang bapak usia 56 tahun. Bapak hebat.

Siapa yang selalu melongok ke dapur, saat dua gadis-nya memasak entah apa di sana? Bapak. “Sedang masak apa?” Lalu berulang kali melongok untuk memastikan kami sudah selesai atau belum. Atau saat kami berada di depan laptop di kamar masing-masing, melongok dan bertanya, “Sudah makan?”  Atau saat kami minta diantar ke toko buku, lalu dengan jahilnya kami meminta dijajankan buku dengan menodong paksa.

Yeah, that’s you… My daddy bear, BapakBabeh, Papichu, Pipo.. dan segudang panggilan aneh-ku untukmu yang tak pernah protes. Terima kasih banyak sudah menjadi Bapakku. Cinta pertama bagi para anak gadismu. Yang sudah memilihkan suami untukku. Memberi berbagai wejangan padaku. Semoga tetap sehat, dan ingat, rajin olahraga!

 

Your daughter..

PS : Ini hanya selembar surat saja yang kutulis, karena sudah berlembar-lembar tulisan yang sering kubuat tentangmu di blog. I love you. 

DSC01716_1204_800

 photos by Motion Creative 


 

Surat ini diikutsertakan dalam kontes menulis Surat untuk Bapak dalam rangka International Father’s Day.. Ditulis menjelang deadline (biasa banget deh..)

10414536_10152518538048980_3195246879564596447_n

 

Siang tadi buka info pengumuman, oh masih lama, jam 8 malam. Setengah 9 malam baru keinget pengumuman, pas aku buka, alhamdulillah 🙂 Papichu menang, congratz.. ^^ Terimakasih banyak GagasMedia..

 

wott2

 

wott

 

Advertisements

8 thoughts on “To: My Daddy Bear

  1. Luar biasa ya ayah itu. Ihikss dulu pas pertama kali bertanya ttg nikah (bukan pas akad) juga bergetar dan merasa sedih krn entah apa yg ada di pikirannya saat anak kecilnya ini sudah besar ;’)

Kamu kayak lagi baca koran deh, di read doang. Komen dooonggg ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s