Tetangga Dambaan

Bismillahirrahmanirrahim…

Suatu siang yang sepi-sepi ramai (iya, pas tugas di bagian Kesehatan Ibu Anak, pasien datang satu per satu tapi banyak juga kalau dihitung) aku dan teman mengobrol soal tetangga. Sudah pasti, kita akan hidup bertetangga. Nggak ngebayangin punya rumah eksklusif di tengah hutan yang tetangganya berjarak sekilo kan? Haha. Gimana kalau kita butuh?

Contoh, dulu Bapak pernah kram perut, saat itu selain Bapak belum ada yang bisa nyetir mobil. Akhirnya yang nolong nganter ke dokter ya tetangga juga.

Dambaan setiap kita adalah punya tetangga yang baik. Jadi kita harus belajar jadi tetangga yang baik juga ya. Memangnya ada tetangga yang nggak baik? Ada dong. Seperti cerita salah seorang teman, yang pohon pepayanya diaku-aku oleh tetangga depan rumah yang merasa membuang biji ke halaman rumah temanku ini. Hoo, ada ya rupanya, hihi. Lucu.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda “Diantara kebahagiaan seorang muslim adalah memiliki rumah yang luas dan tetangga yang baik dan kendaraan yang nyaman”. (HR Al Bukhari). 

Cerita di atas sesuai sekali dengan cerita yang barusan aku baca dari postingan bunda Retno.

“Why curse others when you can make dua for them?”  (Muslim Speakers)
***
Jleb banget baca kalimat di atas. Jadi ingat kisah Rabi’ah bin Ka’ab:

“Rasulullah memberiku sebidang tanah bertetangga dengan tanah milik Abu Bakar, selanjutnya dunia mendatangiku, sampai aku berselisih dengan Abu Bakar atas sebatang pohon kurma. Aku berkata ‘Pohon ini di tanahku.’ Abu Bakar berkata ‘Tidak, ia di tanahku.’ 

Aku bersikeras, sehingga Abu Bakar mengucapkan kata-kata yang aku tidak menyukainya. Begitu kata-kata tersebut terlontar darinya, dia langsung menyesal, lalu berkata ‘Wahai Rabi’ah, ucapkan kata-kata yang sama sebagai qishash.’

Aku menolak, lalu Abu Bakar mengadukanku kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam karena telah menolak melakukan qishash terhadapnya. Ketika Rasulullah SAW menanyakan ini, aku menjawab ‘Ya Rasulullah, dia ingin agar aku mengucapkan apa yang telah dia ucapkan kepadaku, namun aku menolak.’

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallambersabda, ‘Benar, jangan mengucapkan apa yang telah dia ucapkan. Akan tetapi ucapkan, ‘Semoga Allah mengampunimu wahai Abu Bakar.’

Aku pun berujar, ‘Semoga Allah mengampunimu wahai Abu Bakar.’

Maka Abu Bakar pulang dengan bercucuran air mata dan berujar ‘Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, wahai Rabi’ah bin Ka’ab. Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, wahai Rabi’ah bin Ka’ab’.”

(disarikan dari: Kisah Rabi’ah bin Ka’ab dalam buku Mereka adalah Para Shahabat, Kisah-kisah Manusia Pilihan dari Generasi Terbaik Umat Muhammad; Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya; At-Tibyan; h.285-286)

*Postingan lumayan berisi, dengan segelas kecil kopi karena sesiangan rencana gagal akibat tertidur (kayak dicucup lalat tse-tse deh, ngantukan banget)

 

Advertisements

3 thoughts on “Tetangga Dambaan

Kamu kayak lagi baca koran deh, di read doang. Komen dooonggg ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s