Pengemis atau Pemulung?

Bismillahirrahmanirrahim

Tadi pas nungguin adek di pinggir kampus, di bawah pohon yang teduh dan semilir angin. Tiba-tiba kakek-kakek (masih gagah) yang sedang memanggul karung mendekati.

“Maaf Mba mau minta tolong. Saya nggak punya uang buat naik angkot pulang.”

Aku agak ngerasa ini Pak Tua cuma modus. “Maaf nggak ada Pak.”

“Oh ya sudah.” Makin mendekatiku.

Aku yang sadar kalau di dompetku ada uang, dan secara sadar mengucap, “Maaf nggak ada.” Takut jadi ilang beneran, padahal bohong untuk kebaikan insyaAllah nggak apa. Tapi aku memutuskan ngubek dompet dan mengeluarkan uang 2000 karena nggak tahu ongkos angkot sekarang.

“2000 ya pak.”

“Iya Mba makasih. Mba lagi ngapain? Rumahnya mana?” Mulai ngajak ngobrol.

“Ng, Pak, silahkan cari angkot saja.”

“Iya Mbak.”

Si Pak tua jalan sekitar 200 meter dari aku. Tampak bicara dengan mahasiswa yang lagi duduk di bawah pohon rindang dekat Perpustakaan. Lalu si mahasiswa itu menampakkan gestur merogoh saku, lalu menyodorkan uang.

Nah. Silahkan berekspektasi. Tapi buatku pribadi, lebih baik memasukkan uang ke kotak infak daripada memberi pada para pengemis (terutama yang masih muda dan cakap bekerja).

Coba bayangkan, di pertigaan dekat GOR di sini ada seorang penjual koran yang menjual korannya di tengah jalan. Bisa tebak dia orang yang seperti apa?

Laki-laki tanpa kaki sempurna. Ya, untuk berjalan normal dia tidak bisa. Tingginya mungkin hanya sepanggul orang dewasa. Tapi dia memilih jalan yang halal dan bermartabat dari sekedar menipu atau meminta belas kasihan.

Miris ya?

Advertisements

34 thoughts on “Pengemis atau Pemulung?

  1. iya mak miris liat pengemis apalagi yang masih strong, makanya kalau liat bapak2 tua yang semangat cari nafkah seperti ngangkot, supir taksi, tukang sampah, dagang langsung kudoain semoga diberkahi rejeki yang banyak…mereka semangat mencari rejeki…

  2. Jaman sekarang banyak yang modus gitu si jadi susah mana yang beneran butuh dan hanya sekedar “ngemis” aku pribadi kadang juga bingung tapi sebelum kasih biasanya bismillah aja yang penting niat kita menolong sesama dan kebanyakan aku juga prefer kasih via lembaha terpercaya gitu or ke panti asuhan

  3. Percaya ga percaya nih. 16 tahun lalu *ketauan umurnya deh* waktu pertama kuliah dikampus ini, ada pengemis ibu2 masih muda berkeliaran sekitaran kampus. sekarang aku balik ke kampus yang sama, si ibu2 ini masih setia berkeliaran 😦

  4. Iya ya Filly, kadang aku juga jadi males ngasih2 gitu. Kok dia dengan mudahnya mengemis, padahal masih ada cara lain kan ya yg insyaallah lebih mulia dan halal.

Kamu kayak lagi baca koran deh, di read doang. Komen dooonggg ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s