Hiking to the Mount Selok and the Beach!

Bismillahirrahmanirrahim

SONY DSC

SONY DSC

 

Ini catatan perjalananku untuk mengakhiri liburan panjang di 2013. Jadi ingat, waktu itu ditanyain sama teman, liburan kemana. Dengan sedih aku jawab nggak ke mana-mana, hehe. Kata temanku yang lain, sebelum internship manfaatkanlah waktu untuk pelesir. Niscaya nanti pas udah kerja nggak ngarep jalan-jalan. Oke, Selok cuma sekitar 1 jam punjul/lebih perjalanan, tapi pretty cool.

Aku tahu pantai ini dari Mba Em, yang menyebut-nyebut Pantai Selok saat pernikahannya, bagus katanya. Aku yang bosan disodori pantai di daerah Cilacap pun penasaran, seperti apa bagusnya sih? Letaknya di Adipala, Cilacap. Kalau lewat Rawalo, lokasi ini nggak terlalu jauh dari rumah. Tanpa persiapan berarti, Sabtu waktu duha kami-aku,bapak,adek- berangkat. Yang jelas, si kecil Alph (kameraku Sony A200) harus ikut.

Begitu masuk kawasan wisata, kami disodori 2 pilihan, gunung Selok atau pantai Selok. Aku jawab, “Mana saja yang penting ada WC!” Akhirnya entah atas pertimbangan apa Bapak ambil kanan, berarti Gunung Selok. Bayar tiket, per orang 3000 x 3 + biaya mobil = 12.000 Qadarullah lampu indikator aki menyala, ada yang tidak beres. Aku tanya, “Yakin bisa naik? Kalau enggak udah deh nggak usah.” Aku khawatir tahu-tahu nanti mesin mati, kejadiannya kayak dulu deh turun gunung tanpa mesin menyala.

Bapak terlalu yakin meski tidak meyakinkan. Akhirnya kami tetap naik. Obyek pertama adalah Gua Jepang. Uh, menyeramkan, hanya numpang foto saja. Lanjut lagi sampai di gerbang Padepokan Jambe Lima, sama seramnya, mistis. Lagi-lagi cuma numpang foto. Padahal itu sedang nahan (banget) hajat kecil. Akhirnya sampai di lahan parkir. Cari WC, ada. Alhamdulillah air-nya lumayan bersih dan lancar.

Setelah markir mobil dalam posisi agak njungkir, kami menuruni jalan setapak yang katanya menuju pantai. Waini patut dicoba, pikir kami. Dengan bangunan gapura kokoh di depan jalan. Awalnya paving blok masih dalam kondisi mulus dan indah. Kelamaan suasana hutan makin terasa menyeramkan. Khawatir ada ular atau monyet yang lewat, apalagi saat itu memang tampaknya cuma kami turis lokal sok jago yang lewat situ.

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

Kayak di Pura Bali kaaan 🙂

 

SONY DSC

 

Di tengah perjalanan kami melewati jembatan, dengan nuansa kuno. Lalu pemandangan pantai dari kejauhan mulai tampak. Wow, seperti Menganti dilihat dari bukit. Keren! Apakah pantai itu akan terjangkau pemandangan itu oleh kaki-kaki kami? Setelah puas berfoto, kami melanjutkan perjalanan yang kelamaan berubah haluan menjadi hiking *tepok jidat*.

Tampaklah sebuah bangunan yang menampakkan aura tersendiri berdiri kokoh di depan kami. Bagaimana tidak, bangunan yang cukup indah itu berwarna putih kelabu di bagian pintu gapura depannya, dan.. ini kan hutan bro. Milik siapakah hunian itu? Ingin sekali masuk dan melongok.

Papan penunjuk jalan mengatakan jarak goa dan pantai masih 300 meter. Hm. Jarak segitu dengan medan begini, apakah tidak seram? Dan… 300 m itu lumayan jauh kan bro. Tapi kata adekku, “Ayolah, masa nyerah!” Akhirnya, meski pagi hanya makan sepotong telur dadar aku tetap melaju.

Hwaa perjalanan makin menegangkan! Jalanan curam, paving mulai menghilang. Okeoke, pantai sudah makin terlihat meski cukup jauh juga. Tapitapitapi, iniii…. Jalanan sudah menukik, tangga basah berlumut dengan derajat 60 kurang lebih. Aku takuuutt. Tapi nggak ada jalan lain yang lebih oke. Adekku mulai merongrong, sia-sia kalau sudah sampai sini nggak lanjut. Lagipula nanti bisa cari jalan lain. Jalan lain apanya! Kalau naik lagi ke atas aku nggak mungkin sanggupppp, kalau mutar, masa iya harus jalan di pesisir pantai terus naik gunung jalan kaki di pantai sepi ini?

SONY DSC

Lihat tuh di kejauhan 🙂

 

SONY DSC

SONY DSC

Rumah putih itu konon dibangun Presiden Soeharto

 

SONY DSC

SONY DSC

Ini curam banget lho, dan licin. Hati-hati ya!

Di akhir dari perjalanan menuju dataran rendah itu, sebuah tangga dengan lebar tidak terlalu nyaman untuk dipijak terbentang berbalut lumut dan basah oleh air. Di atas tadi saja aku hampir menggelundung karena tanah yang membuat terpeleset. Naini? Parah. Adekku sudah mulai turun, berpegangan pada bambu yang digantung di tebing. Bapak menyusul. Setelah memotret, dan memosisikan Alph dalam keadaan lebih aman, aku mulai turun sambil berdoa dan berpegangan pada apa saja yang bisa dipegang.

Tap, tap, tap. Huah. Sampai juga di dataran rendah, rasanya gemetaaar. Sampai di tanah berpasir itu kami langsung disambut Gua yang berbau hio. Lalu berjalan lagi rupanya ada 2 buah warung di sana, dengan beberapa orang di dalamnya. Rasanya cukup mistis karena pengaruh hio tadi. Sepi pula. Orang-orang berkata-kata pelan. Kami memutuskan mampir di warung untuk melepas lelah.

Goreng mendoan, minuman, dan mi cup jadi pilihan, tidak ada es di sana padahal cuaca cukup panas. Kami ditanyai lewat mana. Begitu menceritakan kami lewat atas, semua menyarankan untuk tidak kembali naik ke sana. Capek, hehe. Nggak akan kuat. Jadi bapak ngojek ambil mobil di parkiran, sembari lanjut ngisi air aki yang habis.

Berjam-jam kami menunggu, dalam posisi kekenyangan, tidak bisa beranjak karena tidak bawa uang sepeserpun. Lupa. Uang di mobil. Bapak terlanjur pergi sebelum membayar makanan. Jadi sambil duduk, ngobrol, bengong kami menunggu. Banyak beberapa rombongan datang, membawa juru kunci atau tidak. Masuk ke gua dengan membawa jerigen, dupa, sesajen. Makin terasa seperti berada di Dunia Lain. Beberapa orang di warung juga datang dari Jakarta, sengaja datang ke tempat itu untuk melakukan ‘sesuatu’. Masuk ke gua, harus membayar tiket masuk. Dan jerigen (yang banyak dijual di warung-warung sekitar) itu untuk mengambil air (yang katanya) suci.

Bagimu agamamu, bagiku agamaku.

Oya, sembari menunggu, ada ayam berkaki empat yang bulunya bagus tapi sayang jalannya hanya bisa dengan 1 kaki (padahal punya 4 kaki ya). Aku lupa namanya, tapi jelas ayam ini tidak untuk dijual. Terus bapak nanya-nanya soal Pak Harto yang konon sering singgah di situ. Ternyata memang benar, dan rumah pagar putih itu yang biasanya ditinggali beliau.

SONY DSC

SONY DSC

Seperti telaga yaa

 

Waktu sudah makin sore, belum dhuhur pula. Lihat-lihat nggak ada tempat yang bisa kupakai untuk shalat. Tempat ini membuatku berpikir bahwa hanya kami berdua saja yang muslim. Padahal mungkin tidak. Untungnya bapak segera datang membawa si mobil yang tadi akinya ngadat. Segera saja kuajak pulang setelah membayar.

Sebetulnya tempat itu sepertinya sulit dijangkau oleh tipe-tipe mobil dalam kota kalau melalui jalur pantai. Ada 2 mobil seperti panther yang mampu menjangkau tempat tadi, melewati pepasiran luas yang memisahkan gunung dengan laut. Sangsi, tapi bapak memaksa membawa mobil kecil itu. Begitu kami keluar menuju pantai, wow, rasanya seperti di gurun. Oke mungkin seperti Bromo. Atau apalah tapi ini keren. Yang jelas bapak konsentrasi menyetir melintasi jalan yang penuh pasir. Tersaruk-saruk, sampai pelepah pohon turut menyangsang di bagian bawah mobil.

Kami sampai di dekat pantai. Ada mushala. Shalat dulu di sana. Tadinya berniat langsung pulang, tapi sayang belum ke pantai. Meski aku sangsi pantainya akan indah. Tapi ternyata wowww… sepi dan luaass. Sejauh mata memandang hanya ada pasir dan laut. Di kejauhan gunung terlihat samar karena cahaya matahari yang menyilaukan. Pasirnya bersih, dan membentuk salur-salur yang indah. Langsung berpose karena kamera sedang dikuasai adek. Dan hasilnya aku suka 😀

Puas main air (sampai copot sepatu) main pasir, giliran adekku mainan, aku motrek. Subhanallah, penciptaan Allah yang begitu rupa. Mungkin pantai ini salah satu destinasi pantai yang aku suka. Terutama di weekday, karena sepii. Nggak ada pedagang, jadi harus siap bawa makanan.

Kamu tinggal di Jawa Tengah atau daerah lain? Wajib datang ke pantai ini. Suka hiking atau naik gunung? Mencari gunung, pantai, gurun sekaligus? Coba sensasinya naik-turun gunung hutan SELOK ini. Puas sekali!

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

 

Tulisan ini re-post. Postingan lalu dari blog lama, sudah diubah settingan jadi draft. Aku pindah sini supaya lebih banyak yang baca, moga-mogaa.. Yuk visit Jawa Tengah, explore dulu daerahmu sebelum kamu main ke daerah lain 🙂

1 Banner Jan-Feb 2015

 

Advertisements

15 thoughts on “Hiking to the Mount Selok and the Beach!

  1. Emang asik buat hiking ya lokasinya, betapa banyak lemak yg terbakar kalo jalan-jalan kesana. Aku pulang kampung ke Jateng sekitra 2013 lalu, ngggak tau kapan bisa balik kesana lg…

Kamu kayak lagi baca koran deh, di read doang. Komen dooonggg ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s