Kelas Edukasi MPASI AIMI Purwokerto

Bismillahirrahmanirrahim

Setelah hari yang padat, hari ahad kemarin masih memadatkan acara dengan menghadiri kelas edukasi MPASI AIMI. Alhamdulillah di Purwokerto sudah ada pergerakan ini (ceileh pergerakan) jadi nggak kudet amat ya. Soalnya aku sendiri pun masih butuh banyak belajar tentang ilmu baru ini. Seharusnya ada 3 kelas edukasi, 2 pertama adalah tentang ASI. Yang pertama ketinggalan, yang kedua berbarengan sama kegiatan lain, sehingga baru bisa terlaksana yang bagian terakhir.

Dengan konselor laktasi Mba Ika dan Mba Ayu yang menerangkan dengan mudah dimengerti, akhirnya yang awalnya datang sambil ngantuk karena kurang tidur jadi beger lagi. Apalagi ada gamesnya dan mencoba membuat sendiri MPASI.

Apa sih yang kamu tahu tentang MPASI? Ya ngasih makan anak, abis 6 bulan gitu. Jujur, aku sendiri belum beli buku dan belum baca banyak tentang MPASI. Cuma sekilas lalu kadang baca di website parenting. Dan aku harus mengakui hal ini ternyata amatlah penting.

MPASI bukan cara kita untuk membuat anak menjadi (harus) makan. Tapi membentuk pola supaya nantinya si anak tidak picky eater dan menikmati kegiatan makan. Kami diberi penjelasan bagaimana tekstur, jumlah, frekuensi, keragaman, dll untuk usia 6 bulan (2 minggu pertama), 6-9 bulan, 9-12 bulan, dst. Beda-beda tentu karena kebutuhan mereka berbeda dan kemampuan mereka pun berbeda.

Untuk usia 2 minggu pertama sejak 6 bulan, anak diberi 1-2 kali makan dengan porsi 2-3 sendok saja ditambah minum asi. Bubur lembut dengan menu tunggal. Menu tunggal di sini maksudnya sekali pemberian hanya 1 jenis makanan saja. Misal pure buah saja, atau bubur nasi lembek saja. Tidak perlu punya blender, karena kita hanya butuh saringan murah dan mencampurnya dengan air sampai ketika dibalik si bubur ini tidak langsung jatuh (jangan terlalu encer karena kandungan nutrisi akan kurang). Seringkali keluhan datang tentang BAB anak yang menjadi jarang, ternyata ini berkaitan dengan serat. Hindari semacam havermut karena kandungan serat terlalu tinggi. Juga perhatikan keragaman makanan. Jangan melulu diberi buah yang tinggi serat, nanti BAB terlalu padat. Ingat 4 bintang ya. Misal pagi bubur nasi, siang bubur alpukat, besok bubur daging begitu.

Makin besar anak, kemampuan motorik bagian mulut harus makin diasah. Sehingga tekstur makanan pun makin berubah. Menjadi bubur saring, lalu cincang, food finger, dan di atas 1 tahun sudah bisa makan makanan rumahan sama seperti orang dewasa. Untuk food finger, kita menyediakan makanan yang bisa digenggam oleh si anak dan dimasukkan ke dalam mulutnya. Kita tes dulu di langit-langit mulut kita, apabila begitu didorong ke langit-langit mulut si potongan makanan itu (misal wortel kukus) langsung patah berarti itu sudah baik untuk anak.

Bagaimana dengan susu? Anak saya nggak gemuk-gemuk. MPASI ini bisa kita tambahkan dengan lemak seperti margarin, mentega, minyak kelapa, dobel porsi daging untuk menambah protein. Jadi kita bisa mendapatkan manfaat makanan dari selain susu.

Usahakan beri makanan lokal dan terjangkau. Mengapa? Makanan lokal perjalanannya lebih dekat pada konsumen dibandingkan makanan impor. Juga tidak mengandung pengawet, serta tingkat kematangan dan nutrisinya tentu lebih baik. Maka tidak perlu memaksakan untuk membeli makanan ‘indah’ yang di luar kebiasaan makan kita.

Anak saya susah makan! Jangan menunjukkan kekecewaan dan kemarahan di depan anak, jangan paksakan makanan dengan mendorong keras pada anak. Reflek anak saat usianya cukup ia akan ingin meraih-raih makanan. Kadang anak memuntahkan makanan, mungkin refluk masih berjalan tapi tetap gigih dan lanjutkan pemberian. Apabila anak menolak, boleh kita sudahi dan ulangi lagi dalam beberapa waktu ke depan. Jangan biarkan anak makan > 30 menit, karena biasanya anak sudah bosan dan makanan sudah kurang enak. Ambil makanan dan ulangi lagi nanti. Jangan berikan makanan saat anak mengantuk atau baru menyusu, pasti tidak mau makan.

Oya, usahakan saat makan jangan biarkan konsentrasi terpecah. Dudukkan anak, supaya ia terlatih bila makan harus duduk. Contohkan demikian, jangan sampai orangtua makan sambil jalan-jalan. Jangan sambil menonton tv, main game, dll, biarkan ia menikmati proses makannya. Biarkan makanannya berceceran toh bisa dibersihkan.

Biasakan makan dan memasak di rumah. Kalau keluarga terbiasa membeli makanan warung, yaaa… anaknya suka ikut-ikutan dan suka makanan luar.

Memanaskan makanan yang sudah disiapkan lama atau sudah masuk kulkas, cukup rendam wadahnya dengan air hangat seperti sedang memanaskan ASIP tidak perlu memanaskan di atas kompor.

Well.. sebetulnya banyak sekali ilmu yang bisa didapat. Mungkin sebagian ibu sudah banyak tahu, dan sudah merasakan suka duka memberi MPASI. Apalah aku ini yang belum pernah mencobanya, ya kan. Aku sendiri nggak memungkiri kalau teori terlihat sangat mudah, tapi usaha kita pasti akan ada nilainya.

Untuk acara selanjutnya ada seminar tentang menyusui saat Ramadhan, info menyusul di FB AIMI Purwokerto ya. Untuk kelas edukasi selanjutnya mulai bulan September.

Photo by Mba Yuli Dwi

Advertisements

8 thoughts on “Kelas Edukasi MPASI AIMI Purwokerto

  1. saya sedang mpasi jg. br mulai bbrp hari yang lalu.
    kalo boleh, share resep2 mpasi dong mbak hehe. biar saya bisa nyontek. makasih sebelumnya.

Kamu kayak lagi baca koran deh, di read doang. Komen dooonggg ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s