Etika Berkendara

Bismillahirrahmanirrahim

Suatu kali sedang menuju Depo, di belakang ada taksi yang berulang kali klakson tapi masih belum punya kesempatan mendahului. Kami selalu berada di depannya. Kadang si taksi itu tersalip mobil lain, tapi tetap main klakson. Sampai akhirnya berhasil menyalip kami di jalur 2 arah menuju bundaran Margono, ternyata taksi itu hanya berisi supir taksi. Dan tujuannya hanya… PANGKALAN. Kirain lagi ngantar orang lahiran Pak.. sampai segitunya.

Ahad kemarin aku pergi sama teman ke sebuah bazar buku di GOR Satria. Waktu mau belok kanan ke pintu masuk GOR, ada pengendara mobil berhenti di samping marka. Otomatis mengganggu jalan ya… kasihan orang di belakang, sudah antri. Aku klakson sekali hanya untuk mengingatkan. Ternyata mobil itu masuk ke arah yang sama, di belakangku. Aku berhenti karena harus bayar tiket, tapi si pengemudi di belakang  mengklakson seolah terburu-buru ke suatu acara di dalam GOR.

Setelah selesai membayar parkir aku mengajukan mobilku, santai. Tapi pengemudi tadi menyalip (kaca jendelaku masih terbuka ya, harusnya dia lihat yang nyetir perempuan) dan menempatkan mobilnya di depanku. Kalau tadi dia mengklakson dan menyalipku, kenapa dia nggak langsung pergi ke tujuan kalau terburu-buru?

Ternyata dia sengaja menempatkan posisi di depanku, lalu berjalan pelan menghalangiku. Aku paham, aku menyalip ke kanan karena kondisi sangat lengang. Aku kembali menempatkan mobil di depan mobil tadi. Temanku teriak-teriak karena aku memang agak ngebut karena khawatir si pengemudi tadi berbuat nekat. Tak sampai sedetik si pengemudi mobil tadi menyalip dari arah kiri, memotong jalanku, dan menempatkan diri di depan mobilku… lalu memelankan laju kendaraannya lagi. Tepat di pintu masuk bagian belakang GOR.

Oh oke. Harus ada pemenang di sini.

Dan aku berhenti. Tidak ada mobil di belakang. Aku hanya ingin tahu reaksi lelaki pengendara mobil yang kekanakan itu. (Sayang sekali aku nggak catat nopolnya, tapi buat apa?)

Jujur aku kesalll sekali saat itu. Kekanakan. Tidak ada artinya sama sekali dia bertingkah seperti itu. Kenapa pula aku ladeni? Karena aku tidak pernah suka pengendara ugal-ugalan dan melanggar lalu lintas. Selama ini sebisa mungkin aku menaati aturan yang ada. Saat belok kiri dilarang dan banyak yang melanggar, aku tetap berhenti. Saat lampu hijau sebentar lagi menyala dan orang lain ada yang sudah melaju, aku masih menunggu sampai benar-benar hijau. Selama menggunakan mobil tidak pernah makan tempat khusus untuk roda 2, jadi aku sering sebal kalau ada pengguna mobil makan tempat yang tidak seharusnya.

Eh… masih menunggu reaksi orang tadi ya?

Akhirnya dia pergi tuh, ke arah kanan. Dan aku santai masuk ke parkiran lurus di depanku. Dan… aku merasa menang. Cukup sekali saja meladeni orang seperti itu. Darahku mendidih. Haha.

Ada pengalaman serupa? Share yuk!

Advertisements

22 thoughts on “Etika Berkendara

  1. Aiihhh, sebel banget ya Fi. Tapi mmng gak usah diladeni ama orang ky gitu, dia pasti gak mau kalah.
    Etika berkendara di Indonesia mmng masih parah. Aq sendiri jg masih harus banyak belajar etika, tp setidaknya bersikap sopan itu wajib ya.

  2. Sing waras ngalah wae, hahaha. Aku klo nemu supir kayak bgitu, paling cm ngomel aja keras2 di mobil. Tp ga pernah nyuruh yg nyetir untuk ngebalap or apalah. Aku pernah baca artikel ttg hal spt ini, kira2 isinya begini: biarkan dia (si supir ugal2an itu) terlibat kecelakaan di tempat lain. Kita biarkan aja dia lewat, spy kita ga terlibat dgn masalah apapun yg menimpanya nanti.

  3. Aku dulu waktu SMA pernah mbak, waktu itu jalanan cukup lengang. Aku sebagai pengendara motor kan otomatis ada di lajur yang paling kiri. tiba-tiba ada pengendara mobiil, ugal-ugalan banget, klakson-klakson sambil nyalip kenceng. hampir kesrempet aku. terus aku sok-sokan ngejar gitu. nggak kekejar, mobil itu udah melaju duluan. Sekitar 700 meter kemudian, aku liat mobil itu nabrak pembatas jalan ._.

Kamu kayak lagi baca koran deh, di read doang. Komen dooonggg ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s