Long Distance Marriage

Bismillahirrahmanirrahim

Suatu kali adik ketemu gede yang kami sendiri belum pernah ketemu, chatting soal kondisinya yang sedang dalam proses tapi masih mendapat beberapa tekanan karena ada kemungkinan bila mereka jadi menikah maka akan LDR selama bertahun-tahun karena statusnya yang CPNS baru di sebuah daerah terpencil.

Aku bertanya sejauh mana mereka terpisah? Yogyakarta – Cilacap. Lalu aku mengemukakan pendapatku, yang sejauh pengamatanku jarak seperti itu tidak terlalu jauh. Apalagi daerah asal mereka pun tidak lebih dari 1 jam perjalanan. Ia khawatir dengan banyak hal, terlebih karena akulah satu-satunya yang mengemukakan pendapat berbeda dibanding keluarga dan teman-temannya. Mereka berpendapat LDM bukan pilihan yang baik, ada banyak bahaya di baliknya.

Suatu kali yang lain, dalam curhatan pengantin baru. Aku yang menjerumuskan pengantin ini menjadi pengantin LDM, lebih jauh dari jarak aku dan suami (Jawa-Aceh) yaitu Jawa – Madinah. Tempat curhatnya ya aku. Bertanya, apakah ada sedih? Apakah ada tangis? Dan lainnya.

Kalau soal nangis dan sedih, ada dong meski jarang sekali. Sejak sebelum menikah kan memang orang bebas, sering pergi sendiri. Cuma pas PMS atau kondisi mellow lainnya yang bikin aku merasa merana. Kalau lagi pengen diturutin, ya sudah lah nangis sendiri di pojokan. Hehehe.

Eh kayaknya sih aku pernah bikin serupa ini tapi soal Line. Jadi ya itu sarana paling berguna saat ini selain medsos dan lainnya. Aku emang bukan orang yang bisa ngobrol panjang lebar, tapi kalau chatting bisa keluar semua. Makanya video call nggak tiap hari, yang harus tiap hari adalah say hello. Kepo-in fb, gangguin kalo doi lagi kerja. Kalo jawabnya pendek, baru deh mandek.

Nggak tahu juga akan bertahan berapa lama LDM ini, soalnya wacana tinggal bareng-nya ketunda mulu atas satu dan lain hal. Tapi tetep berdoa, semoga segera diberikan rezeki berupa tinggal serumah. Masak nunggu dinas luar mulu biar bisa ketemu biar hemat biaya perjalanan? Hehehe.

Ada yang LDM juga ? 😀 Saling menguatkan yah, hahaha

Advertisements

9 thoughts on “Long Distance Marriage

  1. ada temen kerja dulu yg LDM, malang-bandung dan malang-jkt. kyknya sampe skrg masih. udah bertahun2 krn sama2 pns. kalo pindah jg susah. dan mereka baik2 saja, ga ada tuh flirting2 kecil dgn org lain. hebat deh. kalo saya sih ga sanggup. makanya mending resign hehe.

  2. salut, tetap kuat ya, mudah-mudahan LDM nya bisa segera berakhir dan bisa kumpul sama2 dgn suami. saya sempat LDM setelah menikah krn masih terhalang beberapa urusan kelengkapan dokumen utk brkt tapi untungnya gak lama kok, jadi tau sedikit gimana gak enaknya LDM, tetap semangat ya!

  3. Mantan pelaku LDM 🙂 5 bulan LDM an. Untung dulu disambi ngerjain thesis dan ngurus dokumen2 pindah, jadi ga terlalu dirasain meskipun tetep nangis-nangis ga jelas haha. Semoga yang sekarang LDM an segera diberikan jalan yaa buat kumpul bareng 🙂

  4. Supervisorku yang dulu ldm 4 tahun bjm-makasar klo ga salah. Jd tiap bulan suaminya terbang ke mks. Skrg alhamdulillah sdh bisa pindah istrinya. Ada jg kakak di kntr yang ldm bjm-sby. Moga filly bisa segera kumpul sama suami yaa

Kamu kayak lagi baca koran deh, di read doang. Komen dooonggg ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s