Membentengi Diri dari Rasa Ingin

Bismillahirrahmanirrahim

Ingin menurutku hal yang wajar bagi manusia. Meskipun kita harus bisa menetapkan batasannya. Contohlah kasusku.

Saat yang lain wisuda, aku tertunda karena beberapa hal. Saat itu seingatku aku merasa ingin berada di samping mereka. Kesal karena kenapa aku belum juga? Meski ku akui, orangtua sangat mempercayakan semua padaku. Selain sistem yang tidak terlalu mereka mengerti, mereka tahu aku bisa bertanggungjawab sendiri. Saat itu aku nonaktifkan FB (sebagai penggoda paling jahanam) untuk stop berlalulalang di sana, dan stop melihat foto wisuda teman-teman.

Lalu bagi seseorang yang belum menikah, undangan pernikahan bertubi-tubi itu sama menyesakkannya dengan pertanyaan kapan menikah, mana pacarnya, sudah punya calon belum. Semua pasti mengalami. Aku yakin! Tapi kadang saat kita mengalami sendiri, mengalami sesuatu seperti ketemu cowok yang sesuai lalu bertanya “Dia bukan ya?” lalu ternyata tidak. Menanti yang belum pasti. Ingin berada di pelaminan bukan sebagai tamu undangan. Hahaha. Nggak konyol, karena itu wajar. Fase itu ada beberapa tahun sebelum akhirnya masa berserah dan menerima. Bahkan keasyikan menonton video klip wedding pengantin-pengantin Malaysia, menciptakan dongeng dan imaji sendiri di otak tentang pernikahan yang diinginkan (meskipun saat menikah, sudah malas bikin yang heboh-heboh). Meningkatkan kemampuan diri dan ikhtiar.

Kemudian bagi seseorang yang belum juga diberi keturunan. Hal ini lebih menyakitkan daripada belum diberi jodoh. Kenapa? Ya, suami ada, istri ada, lalu kenapa belum ada anaknya? Tangisan, dan rengekan ke suami untuk sering pulang menghabiskan uangnya terbang kembali ke kandang, haha. Unfollow FB yang sering share foto dan status terkait kehamilan. Hide status BBM dengan tipe serupa. Hanya upaya untuk mengurangi rasa terpuruk saja, karena kita tidak bisa membuat dunia mengerti tapi kita yang harus membentengi. Tapi lalu masa penerimaan kembali datang. Sering simpan foto bayi lucu, sharing dengan teman sejawat, ikhtiar lagi.

IG manusia tajir berseliweran. Hahaha. Bagi orang yang hidup di desa, berpakaian seadanya rupanya mengundang komentar. Dulu aku adalah makhluk yang tidak kenal dengan alat makeup. Wajah hitam terkena matahari, kerudung seadanya model anak SMA, kondangan saudara pun pakai tunik batik biasa. Ibu yang kena, karena punya anak gadis harus dirawat jangan cuma mikirin penampilan sendiri. Nggak mempan. BB masih overweight, baju buluk yang kalau mau perhatiin pasti tahu kalau cuma punya beberapa pasang aja buat kuliah. Sampai pada suatu masa mengenal makeup, dan cara berpakaian yang lebih elegan. Sempat diserang demam online shopping sejak punya gaji dan melihat IG orang yang warna-warni indah sekali. Lalu memutuskan unfollow beberapa online shop dan IG yang menurutku nggak penting amat karena membuatku tergoda membeli sesuatu. Baru nanti kalau butuh tinggal cari mana yang sesuai di kantong. Sampai sekarang masih mencoba bertahan tidak membeli baju di atas harga 200 ribu. Baiklah itu bagus dan berkualitas, tapi kemampuanku masih belum sejajar dengan itu semua. Bahkan sempat curhat sama suami, tentang kekhawatiran kalau nantinya punya uang lebih takut tergoda dengan barang dengan harga fantastis itu.

Ini rumahku, mana rumahmu? Melihat banyak pasangan muda sudah memiliki rumah, tentu akan menyesakkan bagi para kontraktor. Apalagi melihat postingan lahan kosong, berubah menjadi rumah yang cantik. Alhamdulillah rumahku sudah jadi. Alhamdulillah rumah yang di sini sedang dibangun, yang di sana sudah dikontrakkan. Hihi. Tapi itu pemicu dan pengingat diri sendiri. Sebagus apapun rumah mereka, tidak akan senyaman rumah kita. Dan aku selalu berpikir, kemampuan daya beli itu proses. Mereka sudah menikah beberapa tahun, tentu wajar memiliki benda tersier. Itu pilihan, apakah kita menggunakan uang untuk kebutuhan tersier atau investasi.

Kebanyakan postingan IG-ku makanan. Kemarin sempat baca ada yang sampai dimaki gara-gara posting makanan mulu di BB. Haha. Itu aku banget. Ibu yang juga punya BB mengingatkan, jangan keseringan pasang foto makanan, orang lain bisa ngiler. Padahal kalau aku pasang foto makanan di BB rata-rata adalah karena aku juga pengen makanan itu, alias foto lama. Kalau ada yang balas chat, pengen, aku juga pengen sebetulnya. Tapi nggak wajib beli juga. Kalau lihat foto makanan di IG, resep simpel akan ku – like dan kubuat saat senggang. Kalau lihat makanan yang aku pengen dan bikin drooling, ya udah, kalau nggak ada ya cari substitusi atau bertawakal hahaha. Nggak ambil pusing.

Intinya sih, toleransi. Kita toleransi pada orang lain, juga mentoleransi pada kemampuan orang lain. Ibu-ibu sosialita yang posting gamis syari jutaan, tenteng kamera mahal, foto ootd di berbagai tempat bagus, mobil keren, pinter masak dan difoto keren juga, rumah indah dengan shabby-shabby mahal? Hak mereka, kita hanya membentengi diri dari rasa ingin memiliki yang sama. Dan berusaha mendapatkan apa yang memang kita butuhkan. Jadi mereka nggak dosa, kita nggak dosa. Kalau nggak sanggup lihat yang bling-bling, tutup mata saja. Pilihan kita untuk membiarkan apa yang harus kita lihat dan tidak.

Tapi ini note to my self juga, nggak boleh lebay dalam berbahagia. Meski merupakan suatu anjuran juga menyebarkan berita bahagia. Dan ga boleh lebay merutuki nasib sendiri saat melihat yang oke di luar sana. Karenaa… kita juga sudah diberi yang lebih oke sama Allah. Begitu kan? 

Advertisements

16 thoughts on “Membentengi Diri dari Rasa Ingin

  1. Kakau aku gara-gara nggak terlalu puas same make up pas walimahan jadinya selalu ngiri pas lihat foto walimahan orang lain. Kalau sudah gitu akhirnya solusinya cari foto nikah yang paling oke trus pajang deh. Hehe

  2. Bener Haya, membentengi diri sendiri dari sesuatu yang berlebihan. Karena memang kalau berlebihan tidak baik, kecuali berlebihan yang positif, bisa itu disedekahkan 🙂

  3. undangan nikah dr teman2 bertubi2 emang bikin ‘iri’, tp lebih nyesek lg kalo undangan dr mahasiswa sendiri dtg bertubi2. hehehe curcol.

    setuju deh dgn isi tulisan ini. sangat penting menyadari bahwa Allah sudah kasih yang terbaik buat kita di waktu yang tepat, agar tidak terjebak dalam rasa iri dan dengki, hingga lupa bersyukur.

    thanks for the reminder!
    btw, sy jg sering ngiler liat foto2 makanan di sosmed. yg bisa dilakukan jika sangat ingin makan makanan spt itu adalah: bikin sendiri. hehe.

Kamu kayak lagi baca koran deh, di read doang. Komen dooonggg ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s