My Baby Delivery

Bismillahirrahmanirrahim

SONY DSC

Setelah 9 bulan atau tepatnya 39 minggu di dalam perut bundanya, akhirnya si kecil menunjukkan tanda-tanda ingin keluar sejak 17 Oktober 2015.

“Mungkin dia nunggu tanggal 17 kali, biar samaan sama nikahan orangtuanya?” Kataku. Pagi itu Sabtu, perut sudah mules. Berdasar teori blablabla, tetap saja aku belum pernah merasakan his/kontraksi. Pagi itu aku tanya-tanya bagaimana rasanya kontraksi sih? Nyerinya seperti nyeri haid, nyeri suprapubik dan nyeri low back. Pagi itu hampir rutin tiap 8 menit. Aku hitung pakai aplikasi contraction counter. Tapi tetap ke RS untuk kontrol rutin. Dan siap mental kalau langsung suruh mondok.

“Belum lah, nih di USG aja nggak kenceng. Kalau sudah nggak bisa tidur, baru deh. Pak, dipacu ya… Paham nggak?” Pesan bu DSOG, pada suami yang kali pertama nemani kontrol kandungan. Yaa.. selama 9 bulan ini baru pernah nemani ke RS hehe.

Agak siangan mules memanjang jedanya, bisa tidur siang meski kadang terbangun. Mulai jam 8 malam-an, kontraksi merutin. Tiap 8 menit, lalu makin sering. Tapi masih bisa tidur-tidur ayam. Karena belum ada bloody show, masih santai. Malam jam 12, menurut hitungan aplikasi, kontraksi sudah rutin tiap 5 menit selama 40 detik. Nggak bisa tidur. Suami nanya, “Mau lahiran ya?” Nggak tahu, kataku. Masih belum bloody show. Tetap tarik napas buang napas. Suami ngusap punggung sambil kadang ketiduran. Entah kenapa diusap malah jadi makin kerasa, jadi aku minta nggak diusap.

Sampai jam 3 pagi udah nggak kuat, minta ke RS aja meski belum ada lendir/darah. Pas siap-siap ternyata kerasa kayak ada lendir tapi entah juga ga penting, udah ga enak. Berangkat ke RS, langsung masuk ke VK (kamar bersalin) lalu pee dulu ternyata sudah ada darah +, cek VT sudah buka 3-4. Sejak itu makin susah fokus atur napas karena hasrat mengejan dan sakitnya kontraksi. Muntah 2 kali karena perut kosong. Ibu maksain kurma yang memang aku siapkan untuk persiapan lahiran.

Tiap jam aku tanya jam berapa ke suami yang sengaja pasang tampang kocak yang buatku tampak menyebalkan karena nyeri banget haha. Soalnya yaa ini kan primigravida alias kehamilan pertama, yang menurut teori bukaan-nya lambat gitu, aku sampai berpikir mau SC aja meski nggak terucap, dan mikir harus berapa jam lagi sampai lengkap? Tiap kontraksi aku remas bed, bukannya tangan suami. Begitu ibu datang lagi ke RS, tangan ibu yang jadi sasaran.

Ternyata… jam 5 pagi sudah buka 9, bahagia juga karena akhirnya DSOG ditelpon. Aku memotivasi diri, sebentar lagi, sebentar lagi, tinggal nunggu dokter datang lalu lahir! Kontraksi datang seperti tanpa jeda, kata bidan aku panik, nggak rileks makanya masa jedanya sebentar. Bodo amat dah aku fokus napas ajaa, hahaha.

Dokter datang, ketuban ngepyok, bukaan lengkap. Sekitar setengah jam kemudian bayi lahir dengan drama :

“Filly ayo jangan ngejen di leher, di bawah kaya mau pup!”

“Kakinya ditarik, jangan njejak aku doong.”

“Lho lho gimana sih, pan***nya jangan diangkat, taroh Fil.”

“Ngejennya yang panjang, jangan pendek-pendek kasihan dedeknya nih udah mau keluar.”

Dengan segenap daya dan upaya, demi bayi aku usaha banget ngeluarin. Latihan ngejan dan pernapasan saat senam hamil menguap tiba-tiba saat di medan perang. Kalimat itu kalimat yang sama yang aku teriakkan pada para pasien melahirkan. Daaan ternyata memang terjadi hehe. Setelah ada tangis keras yang menggema, aku legaaaa banget. Akhirnya aku bisa melahirkan, haha. Sakit yang terjadi setelahnya nggak ada apa-apanya.

Sejak kontraksi sebelum melahirkan, sudah nggak bisa BAK. Setelah selesai jahit menjahit, kepingin pee. Pakai pispot dulu, nggak bisa keluar. Dipancing juga keluar dikit doang. Nggak berapa lama masih kebelet. Disuruh ke WC sambil latihan. Karena masih pusing, pakai kursi roda. Eh tetep nggak keluar sampai hampir pingsan di WC akhirnya balik ke bed dan pasang kateter. Sampai tengah hari baru boleh pindah kamar perawatan setelah pengawasan selesai.

Bladder training (latihan pee pakai kateter) sampai malam, baru deh kateter dilepas. Besoknya baru boleh pulang setelah bisa pee dan pup. Semalam jadi ibu baru, di mana badan masih remuk redam. Ditemenin ibu dan suami di kamar, dijengukin keluarga. Alhamdulillah. Welcome baby…

Baby Biodata

Untuk cerita 9 bulan ke belakang, sudah ada di draft. Cerita 2 minggu ke belakang yang penuh warna-warni insyaAllah ditulis kalau ada waktu, seperti sekarang, saat baby I bobok setelah ngajakin begadang. Seminggu awal masih kayak zombie yang pucat, sampai dipaksa-paksa makan, selain karena jadi ibu baru juga karena baby I harus mondok di RS :’) Doakan semoga sehat selalu ya..

Advertisements

28 thoughts on “My Baby Delivery

  1. Barakallah mba Fillyyy, semoga sehat selalu & dedek jadi anak yg sholeh aamiin ^^ Btw sempet terlintas mau SC ya mbaa, dagdigdug bacanya >_< :""D

Kamu kayak lagi baca koran deh, di read doang. Komen dooonggg ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s