Pejuang ASI

Bismillahirrahmanirrahim

Sungguuh kangennya nulis di sini. Setelah sebelum melahirkan bikin bosen temen karena selalu posting masakan, lalu bikin bosen dengan postingan hamil dan melahirkan, setelahnya akan bikin bosen postingan tentang anak. Mau gimana lagi, 100% hidupku sekarang pasti tentang mengurus anak. Nggak bisa sering praktek masak macem-macem, jalan-jalan seru (ini si emang aslinya arum-anak rumahan), nggak bisa posting seru deh.. pasti ngebosenin. Maafkan ya..

Lihat aja isi sd card smartphone, dulu masih ada foto narsis diri sendiri, sekarang semua isinya baby bunny. Dulu heran sama yang tiap hari ganti PP BBM sekali sehari selalu pajang foto anak bayi dengan pose dan baju yang beda, sekarang aku mengerti… karena nggak ada yang lain di hape. Sungguh, nggak ada ide lain.

Tentang pejuang ASI, aku udah dari sebelum melahirkan sangat kukuh berniat menjadi pejuang ASIX. Tapi nyatanya, karena sesuatu hal, bayi kemasukan sufor. Hal ini sama terjadi pada beberapa teman, bahkan yang juga konselor laktasi. Setiap ibu menginginkan yang terbaik bagi mereka, bagi anak-anak orang lain juga. ASI paling bagus. Tapi nyatanya kadang tidak semulus itu.

Meski sempat baby blues, terutama karena judge orang lain yang merasa mampu memberi ASIX pada bayinya… berniat menyebarkan virus #mamabahagiaasinyabanyak #pejuangasix supaya tidak ada yang memberikan sufor pada anak mereka, tapi malah jatuhnya membuat asi para ibu baru yang asinya nggak deras makin macet.

Dukungan suami yang bilang, “Udahlah, anak asi dan sufor sama cerdasnya, nih ada bukunya.”

Manajemen penggunaan sufor seminimal mungkin, lalu saat anak bayi minum sufor aku pumping untuk mulai persiapan ASIP. Alhamdulillah sekitar 3 bulan sudah lepas sufor. Ibu yang tadinya menyarankan sufor + asi saja supaya lebih santai, karena dulu asi beliau juga nggak deras, menjadi bangga cucunya sekarang hanya asi dan nggak butuh beli sufor.

Selain itu, ambil jadwal praktek minimal, nggak bisa lama kalau keluar rumah, dll adalah salah satu yang kuanggap perjuangan ASI. Pernah baca kalau bayi menyusu langsung hasilnya pasti beda dengan perah. Dan ASI perah masing-masing ibu berbeda, ada yang bisa banyak dalam beberapa menit saja, ada yang empot-empotan.

Yang jelas, bagi para mamasui… bahagialah, karena hanya itu jalan untuk membesarkan anak yang bahagia. Mau seperti apapun, asi, sufor, campur, fc, spoonfeeding, dll… kalian tetap seorang ibu yang melahirkan dan membesarkan anak dengan bahagia. Betul kan?

Oya, hari ini setengah judge datang ke aku karena jual botol susu. Botol susu si bayi kelebihan, daripada mubazir aku jual. Tapi malah dibilang, “pakai botol?” sama seperti waktu jual sufor yang nggak kepake, “pake sufor?”. Memang aku nggak menganjurkan pakai botol, pakai sufor pun engga yaa.. itu terpaksa, meski beberapa kawan konselor laktasi memakainya dengan alasan ketidakmampuan sumber daya untuk memberikan dengan selain botol. Dibilang nanti ga pinter nyedot sedotan, ga pinter minum gelas, soalnya pasti balik ke botol. Senyumin aja, dan bilang si anak ini nerimo-an, hehe.. pakai sendok dia mau, pakai botol dia mau. Tapi tetep, yang terbaik bukan dengan botol, dan bukan dengan nyinyir 😀 Salam ^^

Advertisements

6 thoughts on “Pejuang ASI

Kamu kayak lagi baca koran deh, di read doang. Komen dooonggg ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s