Karotenemia : Kulit Menguning karena Wortel? 

Bismillah

Yuhuy.. Hari yang panas hari ini. Tapi tetap bersyukur, setidaknya kami sehat semua. 

Selasa minggu lalu tiba-tiba aku mengalami vomit, diare, dan demam. Sejak pagi, aku buru-buru kontak klinik karena mungkin nggak bisa praktek. Betul saja sampai siang makin parah. Masbayi yang kadang pengen mendekat diasuh ART dulu kecuali saat ng-asi dan bobo. Nrimo banget dia, pas lagi pengen dekat, mainan sendiri anteng, lalu ng-asi sebentar terus bobo siang. Malamnya juga. 

Besoknya sudah mendingan, tapi tetep nggak berangkat praktek. Selang sehari, masbayi vomit ini kali pertama lihat si kecil itu vomit. Lumayan sering ya, sehari ada 5 x kalo ga salah.. Kadang lagi tidur, mancur kaya air mancur taman. Jika sedih rasanya. Badan subfebris, anget aja. Minta minum terus. Berbekal ilmu yang dipunya cuma kukasi obat antimuntah karena biasanya muntah ini merupakan gejala saja bukan diagnosis. 

Hari kedua tambah gejala diare. Dia nggak sampe mules2 segala tapi langsung aja nge-sorrr.. Mulai males makan dan minum. Tapi siangnya aktif aja. Walaupun sudah beli oralit dan prebiotik, tapi karena Pipo Mimo nya khawatir akhirnya dibawa ke RS. Dikasih antidiare, antimuntah, antibiotik. Malemnya sambil tidur pun dia masih diare aja. Nggak rewel dan nggak bangun. Malah bikin cemas.

Besoknya ke DSA langganan karena BAK udah kurang, makan minum berkurang, lemes. Ngeri banget kan.. Kalo dehidrasi. Walauuu nggak ada tanda dehidrasi berat. Akhirnya ketemu dr Bas our fav pediatrician.. Ganti antibiotik. 

Yap. Pada dasarnya anak diare yang terpenting atasi dulu dehidrasi. Makanya penting untuk ngasih oralit, air apapun tajin, air sayur, air teh bahkan boleh. Justru dr Bas nggak ngebolehin minum air putih karena bikin kembung. Sepulang dari DSA masih diare. Tapi yang aku wajibin minum adalah zinc dan prebiotik selain air teh dll. 

Zinc memang pilar diare yang penting banget (meski di hari ke berapa mas bayi mau muntah karena minum zinc kemungkinan refluks karena konsumsi obat terlalu lama). Biasanya meski sudah tidak diare zinc disarankan untuk tetap diminum untuk menghindari kekambuhan. 

Di atas adalah 5 pilar diare menurut WHO, antibiotik diberikan sesuai anjuran (apabila memang benar-benar diperlukan). Oralit menurutku penting, meski pada kenyataannya mas bayi lebih suka minum yang lain ketimbang oralit.

Hari keempat meski masih lemes, tapi dia sudah nggak diare, subfebris masih. Sejak hari senin Pipo Mimo sudah bilang kalau tangan dan kakinya kuning. Hari selasa baru aku bener-bener cek dan ngeh kalau yep sibayi kuning. 

Agak syok yaa.. Secara dia baru sembuh mual muntah demam yang mana bikin parno. Setelah konsul via WA dengan pediatrician, dari fotonya mirip kaya warna kebanyakan wortel. Memang agak oranye gitu. Tapi tetep disarankan ke DSA untuk cek lebih lanjut. 

Perjuangan cari DSA di akhir tahun. Pagi itu agak panik karena aku mulai parno .. Mikir diferensial diagnosis yang mungkin. Aku nyari ganti jaga untukku supaya jam 12 bisa langsung ke DSA pembimbingku dulu, karena dr. Bas gak praktek. Sudah dapat, pas nelpon RS ternyata beliau keluar kota. Akhirnya tetep jaga dan pulang jaga langsung bebenah dan nyomot bayi yang belum mandi karena ngejar antrian.

Apotek yang dituju, DSA libur juga. Pindah RS berikutnya, poli tutup dan DSA yang dituju juga libur. Akhirnya ngejar ke yang masih praktek. Dr baru.

Awalnya DSA yakin ini kuning karena makanan, karena di sklera putih nggak kuning/ ikterik. Tapi lihat perut juga kuning, DSA ragu dan saran ambil lab. Emaknya jadi melas. Cuma, demi memastikan akhirnya bayi diambil darah untuk cek bilirubin dan enzim hati. 

Untungnya bayi masih dalam kondisi lemes, aku nahan sendirian saat diambil darah masih kuat. Nangisss kejer. Tapi setelah spuit dicabut dan dia digendong berhenti nangis. Dulu waktu koas sering lihat bayi bolak2 tusuk buat diinfus. Kasihan aja. Kalau anak sendiri apalagi, meskipun aku tahu susah buat ambil darah pada bayi dan aku ga boleh marah2 kalau ternyata itu kejadian. Alhamdulillah sekali ambil, selesai ambil darahnya. Setengah jam nunggu hasil agak takut hasilnya jelek. Hasil keluar, enzim hati naik sedikit tapi masih ok. Diagnosis yang aku simpulkan karena DSA dikonsul hasil lab aja, dan ngeresepin curcuma dan multivit : karotenemia. 

Ternyata beberapa temen ada yang mengalami hal serupa. Dan ehem aku pun pernah dapat pasien yang demikian. Dan.. Tentang karotenemia ini pun sudah pernah kubaca di buku MPASI lalu. Tapi berhubung ada riwayat GEA (Gastroenteritis Akut) jadi pikiran kemana-mana. 

Jadi apa sih Karotenemia? Itu adalah kelebihan betakaroten dalam darah. Kenapa? Karena terlalu banyak konsumsi makanan tinggi betakaroten. Siapa tersangkanya? Biasanya buah yang berwarna oranye dan sayur yang berwarna hijau pekat. Meski, beberapa juga di luar syarat itu. 

Masbayi sempet gtm nggak mau makan nasi, dan protein hewani. Jadi hampir tiap hari makan puding jagung telur susu, kadang tambah oatmeal. Sayuran kesukaannya buncis dan wortell. Buah yang liat aja udah minta ya.. Pepaya. Padahal wortel udah kubatasi, tapi aku lupa makanan yang lainnya. So.. Itulah yang terjadi. 

Sekarang dia lagi puasa wortel dan mengurangi betakaroten. Warna kuning khas karotenemia adalah warna kuning oranye di kulit. Sklera atau selaput putih mata tidak ikut kuning, ini yang paling penting. Dan nantinya warna itu akan hilang dengan stop konsumsi makanan tinggi betakaroten. Meski agak lama ya hilangnya. Hal ini tidak berbahaya. 

Ada yang pernah ngalami anak diare? Atau karotenemia? Share yaa.. 

Advertisements

2 thoughts on “Karotenemia : Kulit Menguning karena Wortel? 

Kamu kayak lagi baca koran deh, di read doang. Komen dooonggg ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s