Rekreasi : Jalan-jalan ke Purbasari Riverworld

Bismillahirrahmanirrahim

PicsArt_07-13-09.12.34-01

Siapa ibu yang paling males jalan, lebih seneng ngendon di rumah? Aku yang paling duluan angkat tangan. Karena sebagai Ikatan Anak Rumahan Indonesia, aku paling males jalan-jalan terutama kalau hari libur hehe.

Rencana ini sudah lama banget dipikirkan. Bahkan tadinya mau janjian double date tapi kendala kendaraan belom ada. Qadarullah hari ini ada odong-odong yang nganggur dan bisa dibawa jalan. Ada yang rela nemenin pula, karena berdua aja ke tempat begini oh aku tak sanggup.

Pertama kali aku ke tempat ini adalah saat SD dulu, naik angkot sekelas haha. Bhayangkhan sudah lama banget kan. Nah karena konon sudah jauh lebih besar dan berbeda, jadi aku pengen mengenalkan keanekaragaman hayati pada anak. Kasihan dia jarang main kecuali ibunya free day.

Kami berangkat agak kesiangan, jam setengah sebelas setelah kusiapin segala bekal yang mungkin dibutuhkan. Sampai sana seperti biasa si anak mengkirut, gak mau turun dari gendongan. Tipikal anak ini, agak lama ‘manasinnya’. Kami masuk, mulai ke aquarium yang tentu sudah lebih baik daripada dulu. Banyak ikan-ikan sungai yang fantastis. Piranha ada juga lho. Serem banget lewat depan mereka, semua menghadap ke kami. Baris kayak mau nerkam, hihi.

IMG_20170713_110334-01.jpeg

Selain itu bintangnya adalah Arapaima Gigas yang dulu cuma sebiji doang, sekarang udah kayak kumpulan ikan mas di kolam. Banyak dan gedhaayy. Eh lupa ngasih tahu kalau di sana tadi ramai banget karena banyak yang wisata. Pupus sudah bayanganku wisata-pribadi karena kupikir anak-anak sudah pada sekolah (bhay).

Setelah lihat ikan dan burung, mampir main ayunan sambil nyuapin anak dulu. Kami nggak beli jajan atau minum. Sudah bawa air putih dari rumah. Buat anak, sudah bawa makan, buah, jajan, minum. Komplit. Setelah itu barulah si anak kecil ini mau diajak jalan.

Lihat perahu aku iseng nanya, “Ich mau naik perahu?” “Au.” Wow, dia mau. Okaylah. Kami beli tiketnya yang murah, cuma 3000 per orang buat keliling kolam naik perahu. Mau ngetes si anak juga, dia takut gak, ternyata enggak, masih tetep makan jagung keju meski ga senyum sedikitpun.

Abis itu si anak lebih aktif main naik tangga, dan jalan-jalan sendiri. Eh tapi malah udah waktunya pulang karena pintu keluar sudah di depan, hehe. Pas lihat pelampung bebek dia nunjuk-nunjuk sambil bilang “Bebe Bebe.” Mungkin dia minta, tapi nggak kukasih lah.

Sekian channel travelling with baby kali ini. Hihi. Semoga next bisa bikin judul Berlibur di Malang, dan main ke Batu Secret Zoo 🙂 ciao~

Gamis by @hayalabelle

 

 

#MomenPertama Pergi ke Pasar Berdua

Bismillahirrahmanirrahim

1499740395318.jpg

Cie… ke pasar aja dibikin blog. Ya kaya ga tau aja blogger, hal yang ga penting bisa dijadiin penting. Setuju? Hihi.

Kali ini Buni mau cerita tentang #MomenPertama. Jadi ceritanya si bayi lagi dalam proses penyapihan dari gadget. Ini murni kesalahan emak-nya. Pas sebelum lebaran bayi sakit, jadi biar dia diem di kasur dikasihlah tontonan. Sebelumnya anaknya aktif dan eksis, dia cuma mau nongkrongin hape sebentar aja, atau pas mau tidur (ini karena emaknya pengen dia berhenti main dan segera ngantuk).

Abis dia sakit, giliran emaknya sakit. Bolak-balik dia minta gendong emak yang lagi sempoyongan demam, minta ‘ana’ ‘mimi madu’ dll. Jadi demi kesembuhan segera, anaknya dikasi gadget biar emak bisa tidur. Niatnya kalau sudah sembuh, puasa gadget lagi.

Eh.. abis emak sembuh. Emak sakit lagi seminggu setelah lebaran. Nempel lagi sama gadget, dan dia jadi fasih bilang ‘awat n tadi’ alias pesawat yang tadi. ‘eta n tadi’ alias kereta yang tadi. Dan dia milih kalau mau nonton, ga bisa dikasi yang ga suka. Pasti rewel dan nangis.

Abis emak mendingan, anaknya sakit lagi >,< Pokoknya berat banget deh kemaren, eh ga juga sih. Alhamdulillah hehe. Saking abis Vomit dan Diare seharian, besoknya si anak ikutan Vomit. Buni ga minum obat, lupa. Lupa ngisi perut tepat waktu juga. Pas masuk kerja sekaki-kaki semua kesemutan, hampir mati rasa, dan aneh aja.

Pusing si biasa aja. Tapi bersyukur di hari yang biasanya pasien banyak, hari itu sedikit. Ditensi ternyata 80/60. Jadi pulangnya dengan kaki kebas itu pergi ke sate kambing, 😀 Udah cukup setrong belum sih sebagai makhluk LDM?

Back to the topic. Jadi karena pagi ini setelah mainan semua ditumpahin dan bayi bosen, dia mulai nyari gadget. Sementara dia belum mau makan, dan comfort food dia yaitu OATMEAL BUAH kehabisan stok oatmeal. Jadi, kuajak aja dia ke mini market. Kami gak mandi, ngapain mandi? Haha. Mungkin ini biasa bagi sebagian orang, tapi bepergian gak mandi biasanya BIG NO buatku.

Bayi senang diajak jalan naik mobil. Kami masuk ke mini market 24 jam. Ichi kukasi keranjang merah, tapi dia mau yang biru. Dia jalan, masukin barang-barang yang menurutnya menarik tapi kutaro lagi saat dia ga tau. Aku ajak dia cari oatmeal dan beberapa barang. Terakhir kuajak ke mini market dia nongkrong di depan rak susu dan gak mau pergi. Oya, dia minta wafer, lapar.

Alhamdulillah kali ini dia nurut untuk beli yang dibutuhkan aja dan pergi ke kasir. Karena tenaga masih full. Sekalian aja kuajak dia ke PASAR MANIS. Info aja PASAR MANIS ini Pasar yang belum lama diresmikan oleh Presiden. Awalnya berupa Gedung Kesenian, tapi disulap jadi Pasar Modern.

Tempatnya nggak terlalu besar, seruangan itu isinya sudah pepek (e dibaca seperti beras) artinya lengkap. Ruang utama berisi sayuran, buah-buahan, jajanan, lauk, bumbu-bumbu, daging. Naik ke tingkat 2 ada sembako. Turun ke basement ada aneka ikan. Pasarnya cenderung bersih, nggak becek. Kecuali bagian ikan ada lah basahnya tapi masih ditolerir.

Ngomong-ngomong ini kali kedua aku ke pasar ini. Karena bawa bayi, aku belanja yang aku paling butuh aja. Di pasar ini bisa pembayaran non tunai, dan sebetulnya ada troli belanja. Aku sombong banget berangkat ga bawa gendongan karena kupikir bayi udah bisa jalan inih. Dan ternyata zonk.

Begitu masuk tempat baru dan ramai, bayi nggak mau turun dan harus digendong. Jadi, tips pertama adalah BAWA GENDONGAN. Ini penting banget kalau kamu pergi berdua doang. Padahal ga penting banget tips-nya alias geje wkwk.

Abis itu beli barang di tempat yang paling lengkap. Tujuanku adalah beli sayur, itu yang utama. Karena nggak mau ribet, aku cari di 1 kios yang hampir mencakup semua yang aku mau. Sayuran apa sih, sayuran yang jarang ada di warung. Rontak-rantek (sejenis rumput dan krokotan) yang mungkin kalau kalian lihat kayak makanan kambing hihi, kembang turi (aku suka banget, kemarin beli yang putih dan mupeng sama yang pink), daun pepaya jepang (ini ga pahit sama sekali, enakk). Karena banyak, aku titipin dulu di penjualnya sementara aku cari bumbu. Ini tips kedua : TITIPIN BARANG BIAR GA BERAT.

Bumbu juga cuma bawang merah ama putih, mayan harga lagi turun, hihi. Udah kelar, cuma beli itu doang. Tapi berat lho sodara-sodara. Bayi udah agak mau turun pas disuruh ambil jeruk sambal yang dikasi penjualnya buat mainan, abis itu dia ga mau lagi jalan, takut liat pedagang lain. Padahal kalo ditanyain penjualnya juga nyaut si. Tips ketiga : BELI YANG PALING PENTING, JANGAN LAPAR MATA, BERAT NDAN!

Pas mau balik, udah ambil titipan, mau dibawain sekalian karena liat kerempongan paripurna emak yang jalan ke pasar ama anaknya tapi gak mandi. Tapi aku nolak karena parkir mayan di seberang, kesian. Jadi selain gendong anak 11 kilo, aku bawa 2 keresek belanjaan. Eh ada jajan, mampir. Beli yang dipilih sama anak. Jadi tips nomer empat : GA USAH BEKEL, BELI AJA BANYAK KALI, hehe.

Sekeluarnya dari pasar, liat tukang ikan hias aku iseng tanya ke anak kicik. “Mau ikan?” “Au.” Wow kemajuan, biasanya nggak ada tertarik-tertariknya sama ikan. Jadilah kubeli dengan niatan bisa menarik si anak kecil supaya gampang mandi, lupa gadget, dan latihan motorik halus (nangkap ikan).

Akhirnya kami pulang. Di jalan as always dia minta kode rahasia para bayi, aku bilang, “Sebentar lagi sampai ya….” Dia ketiduran di jok sebelah 😛

Bagi yang penasaran nasib ikan di atas. Dengan sangat menyesal, anak bayi lagi suka nuang cairan dari 1 benda ke benda lain. Jadi toples isi air ikan itu dituang ke wadah yang lebih besar ama dia, dikobok dan ditangkapin ikannya. Entah ikannya terlalu lemah, atau anaknya tangannya lihai… akhirnya si ikan dipijit ama dia… huhu. Demi menyelamatkan teman-temannya, ikannya dilepas di selokan kolam ikan depan rumah.

 

THE END

 

Ada yang suka belanja ke pasar berdua anak aja? Share yuk 🙂

My Wishlist Come True (Review Singer Heavy Duty 4423)

Bismillahirrahmannirrahim..

Screenshot_2017-05-16-00-11-37-324_com.instagram.android.png

Siapa sih yang nggak punya wishlist? Dan berapa banyak wishlist yang kita mau? Sebanyak apapun boleh. Salah satu WL-ku adalah mesin jahit portable. Sudah lamaaa pengen.

Belajar jahit itu sejak SD. Ingat keliling nyari bahan, minta ke tukang jahit kain-kain perca untuk jahit baju barbie (kala itu, haha.. barbie juga yang murahan yah). Adekku yang berjarak 5 tahun juga jahit, pakai tangan. Kalau nggak ada bahan, kami pakai kaos kaki dan celana olahraga TK warna pink… digunting dan dibikin gaun atau rok.

Makin tua karena ada mesin jahit jadul nganggur, mulai belajar makai. Nggak ahli, tapi bisa. Lama-lama menjahit menjadi salah satu kegiatan untuk menghilangkan penat, bosan, dan menghabiskan waktu yang longgar.

Waktu hamil anak pertama (anak kedua soon insyaAllah, aamiin) kerjaannya ya njahit, ya masak, ya jualan buku, ya ngerajut. Itu karena kerjaan emang belum mau full. Nah kalau sekarang, paling kalau senggang.

Sempat maju mundur untuk beli Mesin Jahit Portable. Pertama, (tadinya) masih ada mesin jahit jadul. Kedua, apakah mesin jahit itu akan lebih banyak manfaatnya dibanding kalau aku ga ada mesin jahit? Saat sudah ada rencana proyek, dan mesin jahit lawas sudah dilempar ke orang lain, dan kebetulan rejeki ada budget… suami juga mendukung. Aku mengajukan arisan mesin jahit awalnya.

Sebelumnya pengen beli Janome, yang katanya tangguh dan banyak dipakai oleh crafter. Harga yang aku tahu, 2.500.000 dengan arisan 10 bulan. Murah kan? Makanya suami langsung setuju. Waktu ditanyakan, yang akan diarisankan itu yang seharga 3.800.000 yaitu Janome ST 24. Hanya dikenai ongkir 50.000. Arisan kehabisan, adanya cicilan 6 bulan.

Masih terasa berat. Aku kembali mempelajari spesifikasinya. Harga yang awalnya 2.500.000 sudah naik jadi 3.100.000 (harga arisan) dan konon harga arisan dan cicilan, dengan harga cash bedanya tidak jauh. Menurut yang mengadakan arisan.

Tapi karena galau, aku cari-cari harga di tempat lain. Ada yang jauh lebih murah. Tapi kembali galau, dengan merk-nya. Berkunjung ke toko mesin jahit, mendapat pencerahan kalau Janome belum ada dealernya di kota ini dan spare part lebih susah.

Dari penjual dan pemrakarsa arisan Janome, sebetulnya ada garansi 1 tahun dan free ongkir. Tapi kalau dilihat dari harga, Janome masih belum masuk ke budget-ku. Secara bukan crafter, hanya menyalurkan hobi. Aku butuh yang simpel, kuat, tapi juga tidak terlalu mahal kan.

Di dealer ada best seller yaitu Singer Heavy Duty 4411 dan 4423. Masing-masing hanya berbeda di pemasangan jarum otomatis, lubang kancing 4 vs 1 langkah, dan jenis jahitan 11 dan 23. Masing-masing berharga 2.400.000 dan 2.800.000 jauh ya dengan Janome.

Kalau untuk crafter yang memang pekerjaannya menjahit dan ada budget lebih, tentu saja pilih Janome tipe yang tinggi. Tapi untukku sekarang, Singer 4423 cukup oke. Hihi. Bahkan sebetulnya 4411 juga cukup sekalii.

IMG_20170511_133432-01.jpeg

Selama hampir 1,5 jam ditentir di Dealer. Bagaimana memasang benang, mengisi sekoci, menjahit biasa atau motif, membuat lubang kancing, memasang kancing, memasang resleting. Mesin ini juga memiliki lampu LED warna putih. Saklar. Perlengkapan tambahan lainnya.

IMG_20170511_133442-01.jpeg

Meski hujan, tetap pergi ke dealer untuk beli. Haha. Karena kepikiran terus. Bawa pulang pakai motor, karena nunggu ada mobil kelamaan.

Yang jelas, membeli ini dan suami ridho serta mendukung, sangat membahagiakan. Haha. Karena dulu pernah ngajuin belum acc. Uangnya ya pakai uang sendiri, dan pengen disaur dengan uang hasil menjahit juga. Hmm… wanita memang banyak maunya, tangan cuma 2, otak cuma 1 tapi maunya macam-macam.

Ini salah satu jualan yang kujahit sendiri… Sudah sold dan mengantri on booking lain. Tapi mamak ini sedang tevar.. Belum bisa jahit pesanan xixi..

IMG_20170512_221454-01.jpeg

Hey, ngomong-ngomong apa nih Wishlist teman-teman yang masih ingin dicapai? Share ya 🙂

Laporan SPT via E-SPT dan E-Filing

Bismillahirrahmanirrahim

pajak2

Assalamu’alaikum.

Howla! Hari ini beban hidupku berkurang 1 yaitu laporan SPT haha. Buat pemilik NPWP pasti sudah paham kalau kita harus laporan pajak, yekan. Nah makin ke sini kita diminta untuk mengisi pajak secara elektronik. Apalagi ASN katanya wajibun ya.

Aku udah pusing-pusing ingat kalau harus laporan. Ehem dengan penghasilan yang nyantai gini sih ga ada yang perlu dibayar 😀 Tapi harus tetep laporan. Nah, ternyata harusnya tuh DOKTER masuknya ke form 1770 jeng.. jeng.. yang mana butuh file CSV yang bacanya aja aku koleng.

Intinya adalah untuk DOKTER kita harus menggunakan aplikasi e-spt dan mengisi dengan e-filing. Kalau sejauh form 1770 S atau SS via web saja sudah bisa mengisi, enak dan mudah nggak perlu hitang-hitung.

Aku mau cerita ya. Jadi berhubung aku ga ada ide soal e-spt dan CSV akhirnya aku pergi ke KPP (Kantor Pajak Pratama). Di sana aku ditanyai sudah ngisi form belum? Mau e-filing, aku bilang sudah punya e – fin. Tapi begitu tahu aku belum punya aplikasi dan gak bawa laptop (batere mati, niatnya cuma mau minta aplikasi atau SPT manual) akhirnya disuruh ngisi manual.

Setelah lama ngisi, disuruh pindah meja. Ternyata aku WAJIB e-filing karena 2 tahun kemarin sudah pakai e-filing. Capedeh. Akhirnya aku ke meja pengisian e-spt yang karena aku gak bawa laptop, cuma dikopiin file untuk aplikasinya.

Sebetulnya di web tuh ada file-nya tapi entah kenapa nggak bisa dibuka dan diinstal. Baru aja semalam aku coba instal (dari pegawainya aku suruh instal 1 aja e-spt aplikasi) ternyata nggak lama. Mulai ngisi sesuai panduan online tapi ketiduran, dilanjut tadi pagi dan wow cepet juga sudah jadi.

Berhubung aku gak pakai bukti potong (gajiku nggak dipotong dari kantor) jadi lebih cepat nggak usah pakai lampiran.

Buat kamu yang gaptek dan kagok dan baper (eh bukan) dan galau… sebelum tanggal 21 April 2017 segera lapor SPT ya. Kalau bingung banget mending ke KPP, di sana nggak terlalu ramai kok sudah. Kalau pemalas kayak aku, silahkan belajar dari link di bawah ini ya. Mudah insyaAllah.

KLIK LINK DI SINI dan DI SINI 

image source

Family Portrait Minim Budget

SONY DSC

Assalamu’alaikum

Heylo 🙂 Siapa yang suka baper lihat foto keluarga temen lain? Yang kece-kece itu pastinya.. hihi. Made in studio foto yang kece. Keluarga Long Distance ini, emaknya juga kepengen punya foto keluarga yang agak-agak kece gitu kan. Nah mumpung si ayah lagi pulang selama 2 malam (catet, hahaha.. kami ga punya banyak waktu bareng tiap kali ayah berkesempatan pulang) jadi kami–emak red–pengen foto keluarga, titik harus jadi.

Sebetulnya hari Ahad itu Buni (emak,-red) harusnya praktek, tapi ngepasi ART ga bisa datang jadi minta ijin gantikan dulu alhamdulillah ada pengganti. Dan kelupaan harusnya memang jangan praktek karena ayah ada di rumah, dan ada acara kece AIMI Purwokerto juga.

17880209_10208940373935367_514338312835402360_o

Kami datang ke lokasi agak telat, lokasi di Merah Putih Resto Dekat Pasar Wage. Jam 10 bayi baru bangun, langsung mandiin dan bawa perlengkapan sedapatnya. Alhamdulillah lokasi dekat, gak sampai 10 menit sampek. Karena niatnya pulangnya tu mau cari spot foto yang ok, dan kalau gak dapat ya ke studio foto yang murah saja. Jadi kami bawa kamera si Sony Alpha A200 dan tripod yang kebetulan lagi gak sembunyi.

Gak kepikiran mau foto di MP, lupa kalau lokasinya cakep dan instagramable sampai Mimom menawarkan untuk foto keluarga (love u deh Mom >,<). Dengan kamera sakti Mimom, kami dijepret beberapa pose. Eits ini mau numpang foto apa ikut acara? Hihi. soalnya ruangan yang kami pesan udah full dengan peserta dan konselor yang kece-kece, jadi sambil momong anak kami ngungsi ples pepotoan.

Setelah itu, Buni juga ambil kamera jadul dan tripod untuk jejepretan di tempat-tempat strate(kh)is yang penting ada foto bertiga dalam fokus yang baik haha. Sampai si ayah kecapekan sesi foto kami hentikan :p

Yeay! Jadi kami punya foto (mayan) bagus dengan budget hanya es teh, es sarang burung, dan french fries. Ga jadi keluar uang dan waktu lebih lama.

Itulah salah satu tips Foto Keluarga Minim Budget kami, ada yang pernah melakukannya juga? Di mana lokasi favorit keluarga kalian? Share ya 🙂

Bhay >,< See you latte !

Fotonya sih banyak, tapi yang bisa kami share cuma ini ya :*

This slideshow requires JavaScript.

Review Viva Matte Lipstick vs Purbasari Matte Lipstick

Hola. Halo. Assalamu’alaikum.

IMG-20170403-WA0016-02.jpeg

Siapa ibu-ibu yang ga suka lipstik? Eh ada sih, tapi sebagian besar pasti punya paling gak 1 lah meski ada yang awet banget ga pernah dioles xixi. Aku sendiri suka lipstik sejak kapan ya.. Mungkin waktu Profesi Dokter, itupun jarang banget makenya. Karena sebelumnya bedakan aja males banget.

Jajan lipstik sempat jadi keasyikan tersendiri buatku. Sempat beli 3 atau 4 lipstik dalam waktu yang sama, karena penisirin sama booming-nya. Tapi setelah nyoba sebiji lip cream, rupanya lipstik masih lebih cocok untukku yang males ribet.

Kali ini aku akan mengulas lipstik matte terbaru dari Viva. Viva itu merk jadul banget kan.. Siapa yang gatau ya kan.. Nah aku penasaran abis ama viva matte nya yang harganya setara ama Purbasari matte yang masih tetep eksis.

IMG_20170403_200318-01.jpeg

Berby jajan lipstik. Itu cuma viva aja punya aku. Jajannya di @ummuaishaart

Dari segi packaging oke sih, warnanya kuning gonjreng. Biasa aja info yang terkandung kayak yang lainnya ya. Simpel.

IMG-20170403-WA0019-01.jpeg

Lipstik yang aku beli ini warna Peach Nectar. Karena aku liatnya cuma di ig padahal mah tokonya dekeet dari tempat praktek. *takut borong yang lainnya hahaha. Jadi ini minta ambilin ama OB.

IMG-20170403-WA0016-01

Mari kita bandingkan dengan Purbasari yang aku punya sebelumnya… Sori ya Purbasari-nya sudah penyok-penyok. Emang karena sudah mau abis jadi aku beli baru lagi.

IMG-20170403-WA0023-01

Viva vs Purbasari

IMG-20170403-WA0011-01

Atas Viva 701, bawah Purbasari 90

IMG-20170403-WA0018-01

Viva Peach Nectar (701) 

Dipulas di bibir, biar coveringnya ok si Viva ini harus pulas berulang kali. Ini kalau bibir item kayak aku ya. Kalau bibir pink si sekali pulas udah cukup banget. Peach Nectar ini cenderung ke oranye (terrnyataa) aku suka sih, meski oranye nya agak dominan.

Dibanding Purbasari, Viva ini lebih light.. Karena kalau Purbasari rasanya cukup ‘nggedibel’ tebel di bibir. Viva gak seberat itu. Lebih lembab.

Warna, dibanding Viva 701 aku lebih suka Purbasari 90. Tapi belum coba shade lain yaaa.. Aku ga mau cuma koleksi shade, jadi penting beli yang dibutuhkan aja.

Purbasari itu cukup transferproof menurutku jadi ga gampang hilang kayak merk lain. Pas aku coba Viva juga sama, awet. Aku coba tempel di gelas, di tangan, ga banyak yang pindah. Mirip-mirip lah.

Minusnya. Purbasari kadang suka ada yang ngegumpal. Jadi kalau dapet yang begitu, potong aja sampai gumpalan terbuang. Viva belum tau si ada yang gumpal gak.

Masalah wadahnya aku lebih suka Viva, bulat dan lebih kokoh.

Repurchase? Yes. InsyaAllah. Baik Viva maupun Purbasari. Karena murah 😍

Ada yang sudah pernah coba ? Kamu lebih suka yang mana?

 

 

 

 

Bayi Opname

Bismillahirrahmanirrahim

PicsArt_03-28-11.11.10.png

Adalah hari Selasa. Badan tiba-tiba berasa flu dalam sekali jeglek dan merinding-rinding naga-naganya berasa mau sakit (dalam artian sakit beneran). Menamatkan praktek siang itu sambil meriang, dan pulangnya melawan hujan. Sampai rumah udah memutuskan gak akan mandi, karena badanku tidak seperti dulu (Ceila). Sebenernya karena sakit ‘agak’ parah sebelumnya rasanya sama kayak gini, dan diperparah karena maksa mandi. Gak mau mengulangi.

Bener aja sorenya menggigil disko, suhu naik. 38 derajat C. Langsung minum obat dan meringkuk, jadwal jaga sore dialihkan. Nggak berakhir seperti sakit yang biasanya, malamnya masih demam. Adumak… sakit beneran. Kepala nyut-nyutan. Bayi nemplok kayak perangko. Malem masi meringkuk sambil gigil-gigil sedap. Nafsu makan masih bisa dipaksakan.

Ehla kok besokannya, magrib si bayi semlenget anget. Maunya bobooooo. Jam 9 malam ditengok demam, cek suhu 40 derajat. Dibangunin kasi paracetamol oral, dimuntahin. Buru-buru pesan Dumin supp. Dikasi paracetamol dari dub** turunnya cuma 38, naik lagi 40. Nggak mau nyusu, nggak bersuara, tiduuurr aja.

Sebetulnya demam baru 1 hari biasanya sih masih observasi ya, cuma karena anaknya lemes banget dan nggak mau nyusu jadi meski perih diputuskan untuk infus saja. Dikuat-kuatin denger tangisannya. Sampai malam berikutnya setelah masuk paracetamol oral dan injeksi demam masih di kisaran 39 derajat. Ada ptekie (bintik merah) di dada.

PicsArt_03-28-11.19.20.png

Hasil lab alhamdulillah normal, jadi DSA minta urinalisis untuk cari tahu penyebab infeksi. Buat dapetin urin agak susah ya, coba ditatur anaknya nangis. Akhirnya pakai plastik dipakein di dalam pampers, nangiiisss lah gak nyaman, dan berkali-kali nggak dapat juga, sampai sore baru diakumulasiin sampai peras-peras tu plastik 😀

Malam pertama anaknya susah tidur, jadi yang nungguin juga nggak tidur. Secara tengah malam infus macet dan diobok-obok hampir 1 jam untuk cari posisi, yang ternyata 3 jam kemudian tangan bengkak, cairan gak masuk pembuluh darah tapi ke jaringan sekitarnya.

PicsArt_03-28-11.20.20.png

Paginya infus dicopot sambil berdoa demamnya gak naik lagi supaya gak perlu pakai infus. Tapi ternyata demam lagi 38 derajat, tapi masukin Dumin saja dari bawah. Abis itu subfebris saja, anget-anget. Semalam aman. Paginya DSA visit, karena sudah gak demam dan hasil lab serta urinalisis bagus jadi BLPL (boleh pulang).. Yeay!!! Meski sampe sekarang masi males makan dan lemes. Semangat kakak!!

Ada yang punya pengalaman serupa? Pelukan yuk.

Hotel Dalu vs Star Hotel Semarang

Bismillahirrahmanirrahim

Sejak punya bayi, kalau nginap di hotel ada beberapa pertimbangan. Pertama adalah kenyamanan. Saat di Semarang kemarin, karena kurang pengalaman dan info jadi memutuskan hotel yang sekiranya nyaman saja. Mari kita buat review VS nya :

Layanan jemput dari Stasiun / Bandara

Setahuku keduanya punya layanan ini. Yang aku nikmati adalah dari Hotel Dalu Jl. Majapahit, karena petualangan berawal dari sana. Jam 3 sore, 1 jam sebelum sampai di Semarang kami dikabari bahwa mobil tidak bisa menjemput. Kami disarankan naik taksi dari Stasiun dan biaya akan ditanggung hotel. Betul lho, yay!

Kamar tipe Superior

Hotel Dalu yang kupesan tipe yang ada di Pegipeg*.com saja. Terdiri dari 2 kasur single (menurutku lebih nyaman untuk kami dan terasa lebih lega), meja, gantungan baju, TV, toiletries (sikat gigi, handuk, sandal), kamar mandi air hangat (shower, WC duduk, wastafel), teko listrik plastik + cangkir + tehkopigula. Pemandangan kamar : tembok. Makan untuk 2 orang, tapi kami bertiga tidak dikenai biaya tambahan 🙂

Star Hotel. Jl. MT Haryono. Kami memilih kamar di lantai 9, sengaja karena ingin melihat suasana malam dari ketinggian. Kamar kami cukup lapang. Dengan 2 single bed, nakas, meja panjang, TV, almari, 2 bantal tambahan, kulkas, brankas, shower + WC duduk + wastafel air panas. Pemandangan kamar : kota Semarang dari ketinggian. Tidak mendapat sarapan.

Akses Kuliner / Wisata

Kedua hotel ini tidak terlalu jauh dari pusat kota / Simpang lima. Paling hanya 10 menit-an dengan gojek. Jadi untuk kuliner sebetulnya cenderung sama-sama mudah.

Hotel Dalu sejalur dengan Pempek Ny. Kamto, Richeesee Factory, bersebelahan persis dengan ACE Hardware (nyesel gak mampir liat sale haha), Lotte Mart.

Star Hotel bersebelahan persis dengan Java Supermall. Memudahkan sekali untuk mencari makan dan berjalan santai di mal.

Star Hotel ini sendiri punya sesuatu yang berbeda dari kebanyakan hotel. Dia punya swimming pool di rooftop, tepatnya di lantai 30. Dengan cafe untuk grill dan bersantai di sebelahnya. All you can eat. Aku sendiri cuma penasaran ke lantai tertinggi ini, jadi aku dan emak Laili ini bawa 2 krucil bayi lucu ke lantai 30 cuma buat mastiin di sana ada kolam renangnya hahaha. Masih bagusan kolam renangnya Grand Kanaya >,< tapi pemandangan lampu kelap-kelipnya wow. Kolam renang tutup jam 8 malam.

Sarana Pendukung ASIP/MPASI

Kalau dibandingkan tentu Star Hotel lebih mumpuni. Dia punya kulkas, dan teko pemanas air yang lebih bagus. Keduanya memudahkan untuk membuat MPASI dan menyimpan ASI.

 

Jadi kalian mau nginap di mana kalau ke Semarang? Hehehe

3 Nights at Semarang

Bismillahirrahmanirrahim

Bepergian membawa bayi ada di urutan bawah wishlist-ku. Well ya aku ngebayangin aja gimana rempongnya, hahaha. Anak rumahan begini ya. Tapi ada urusan tak terduga, di hari Selasa aku ditugasi ke Semarang untuk 4-5 Februari 2017. Bawa bayi 15 bulan untuk acara full day itu berarti harus bawa ART juga. Alhamdulillah konfirmasi ke ART, dia mau. Yeay.

Tapi, meninggalkan bayi hanya dengan ART bikin mikir juga hihi. Akhirnya aku bawa sertalah adikku. Langsung cari hotel dan tiket kereta. Aku sama sekali buta Semarang, dan aku nggak suka perjalanan dengan mobil ke sana. Jadi langsung aja pesan tiket kereta Kamandaka, kereta satu-satunya dari Purwokerto ke Semarang dengan jarak tempuh 5 jam kurang.

Mencoba pesan hotel dengan Travelok* tapi gagal, apalagi hotel di Jl. Majapahit yang muncul hanya 1 hotel (padahal aslinya banyak). Hmmm… Harus buru-buru pesan takut dapat hotel kejauhan (dan ternyata lokasinya masih tetap jauh, karena lokasi yang dituju pun nggak muncul di google map). Yoweslaaaaa… pake Pegipeg* akhirnya. Ga banyak cincong langsung booked.

Berhubung hotel yang kupilih untuk malam 1 dan 2 adalah hotel biasa, sayang ya… jalan-jalan bisa beberapa tahun sekali gitu hehe. Jadi untuk hotel di malam terakhir saat sudah bebas tugas aku cari hotel yang agak mendingan. Kenapa 3 malam? Harusnya sih bisa aja cuma 2 malam, tapi karena jadwal mepet sama jam keberangkatan terakhir kereta jadi diundur ke Senin pagi dini hari.

Di malam pertama kami menginap di Hotel Dalu Jl. Majapahit sementara malam ketiga kami memutuskan menginap di hotel Star Jl. MT Haryono. Pesan tiket untuk 4 orang supaya lebih longgar dan nyaman.

Kami berangkat hari Jumat 3 Februari jam 11 siang. Beberapa hari terakhir Ichi di-sounding secukupnya, aku kasi video Bob si Kereta, Thomas, dan Kereta Api. “Ichi mau ke Semarang, naik kereta? Tutututut gujes gujessss. Gimana? Tututut gujes gujess… ”

Aku memang khawatir, karena Ichi gampang takut. Meski sekarang udah mendingan gak kayak waktu masih kecil, bisa geger! Haha. Suara kereta kan besar ya, kalau dia takut, sepanjang perjalanan apa gak serem?

Tapi ketakutanku ternyata ga terjadi. Begitu masuk melewati pemeriksaan, Ichi antusias sekali lihat kereta. Wow… dia nunjuk-nunjuk kereta. Bahkan saat peluit menyala, dan kereta lain jalan dia masih antusias. Alhamdulillah. Hmm tahukah… sepanjang jalan dia ceria sekali, makan nggak berhenti, naik-turun koper saat sedikit bosan, dan tidur saat mengantuk. Tanpa minta jalan-jalan dan gendong. Good job, Boy! Proud of you! Menyanyi, dan menyapa tetangga kursi. Sampai dipuji Bude-bude kalau mas bayi anaknya anteng.

Pemandangan dari kereta

Setelah sampai di Stasiun Tawang, rencana awal kami dijemput oleh Hotel karena mereka punya layanan jemput juga. Tapi di perjalanan kami ditelepon karena ternyata mereka tidak bisa jemput, jadi kami akan diganti biaya taksi. Alhamdulillah.

Kamar kami kecil, tapi no problem lah. Kami dapat akses wifi. Bersebelahan dengan ACE Hardware (dan sekarang nyesal ga mampir). Sejalur dengan pempek Ny. Kamto, Richesee Factory, Lotte mart. Dengan lokasi yang dituju jaraknya memang agak jauh, jadi aku memutuskan download aplikasi gojek.

Pengalaman pertama order gojek sedikit lucu, karena salah pencet order, pak gojek ini datang padahal belum waktunya berangkat. Bayaran gojek rata-rata hanya 5000 saja, tapi atas dasar kemanusiaan biasanya kulebihkan.

Malamnya kami makan di Citraland, sibayi bahkan sempat minta ASI di taksi dan tertidur. Tapi begitu liat mall dia antusias dan makan lahap. Pulangnya ngantuk lagi. Untuk sarapan, Hotel Dalu punya menu sederhana yang enak. Aku suka deh pokoknya. Bahkan di sarapan kedua menunya lengkap sekali.

Malam kedua kami sudah capek dan ngantuk, jadilah order go-food Richessee ahay. Lemak-lemakkkk. Hari ahad siang aku ada acara, bayi dan kroco-kroco pindahan hotel. Untuk hotel dan wisata lebih lengkap kayaknya harus ada postingan lain, hihi. Tunggu yaaaa 🙂

Lunpia Express

Tekwan

Hari ahad itu menyenangkan. Wisata ke Masjid Agung Jawa Tengah dan penuh lampu kota Semarang (akan ada postingan berikutnya ya hehe) Special thanks to Mas Toffan dan Mba Ade yang ngajak kami ke sana. Hmmm. Indah! Lagi-lagi order go-food untuk beli oleh-oleh Pempek Ny. Kamto pesanan dan Lunpia Express pesanan (pesan crab tapi habis, huhu) karena waktu yang sempit. Gara-gara nunggu pesenan go-food gak datang-datang, temenku Laeli kelamaan nunggu di McD Java Supermall (kami janjian). Pas dia memutuskan ke lobi hotel, aku malah ke Mall beli Solaria karena belum makan malam. Tapi kami tetep ketemuan dong, bahkan ke rooftop segala. Jam 10 malam! Bersama 2 bayi, eim! Makasi kakak Kenzie..

Masjid Agung Jawa Tengah dari puncak Menara

Swimming Pool di Star Hotel Semarang

Paginya di hari terakhir kami bangun setengah 3, agak parno terlambat kereta tapi sebetulnya sih kalau cek ot jam 4.30 pun mungkin keburu banget. Tapi hikmahnya berangkat stasiun jam 4 ya shalat subuhnya di mushala Stasiun Tawang.

Perjalanan pulang sibayi cranky. Ngantuk. Minta ke bordes. Daripada bikin riuh dan jadi tontonan orang, aku bawa bayi ke bordes dan berdiri di sana bergetar hebat, goyang-goyang dan berisik. Tahu lah gimana bordes. Di depan toilet. Mana pintu ngebuka sendiri, pintu samping ituuu yang harusnya terkunci dengan baik >,< Aku takuut. Jadilah nyebrang ke gerbong belakang. Hey.. sepi.

AC adem, sepi, dan si bayi pun pulas. Sejak dari Slawi rewel, Bumiayu tidur sampai Purwokerto. Dan dia bangun dengan bahagia.

Pengalaman yang sangat menyenangkan >,<

Tips Bunichi Bepergian bersama Bayi Naik Kereta (ala-ala aja sih, ya)

  1. Prepare dengan baik masalah baju, jaket, makanan, mainan, buku, gendongan, dll. Ingat, tetep usahakan space jangan terlalu banyak, repot bawanya.
  2. Gimana kalau bayi nggak suka makanan hotel atau mall atau resto? Bunichi bawa oatmeal, dan buah-buahan. Jadi kalau sarapan si bayi lebih sering makan oatmeal buah.
  3. Mandinya gimana? Biasanya pakai bak. Sejujurnya yang mandiin bayi selalu rewang, tapi kalau pengalaman nginep di hotel sebelumnya, ya pakai shower mandinya. Kalau kemarin, pakai air wastafel diguyur pakai baskom (bawa baskom buat steril alat)
  4. ASIP gimana? Jam siang bayi datang ke klinik untuk ng-ASI, tapi dia terlalu asyik main jadi nggak mikir ng-ASI, lebih suka jegjegan. Tetap bawa BP meski nggak dipakai hehe. Sebaiknya sih mompa, terutama kalau masih banyak ASI-nya.
  5. Untuk kasus darurat, Buni save video mainan dan Bob si Kereta. Walaupun pas lagi pulang tuh ini nggak mempan, tapi pas berangkat sempat bikin dia agak anteng dibanding naik-turun kursi.
  6. Selalu siap ng-ASI dimanapun berada, baik di kereta maupun di taksi.
  7. Jangan lupa sounding ya. Pas pulang bayi lupa disounding, tapi juga karena ngantuk jadi nggak kayak berangkatnya.

    Kalau tips kalian apa? 

    Karotenemia : Kulit Menguning karena Wortel? 

    Bismillah

    Yuhuy.. Hari yang panas hari ini. Tapi tetap bersyukur, setidaknya kami sehat semua. 

    Selasa minggu lalu tiba-tiba aku mengalami vomit, diare, dan demam. Sejak pagi, aku buru-buru kontak klinik karena mungkin nggak bisa praktek. Betul saja sampai siang makin parah. Masbayi yang kadang pengen mendekat diasuh ART dulu kecuali saat ng-asi dan bobo. Nrimo banget dia, pas lagi pengen dekat, mainan sendiri anteng, lalu ng-asi sebentar terus bobo siang. Malamnya juga. 

    Besoknya sudah mendingan, tapi tetep nggak berangkat praktek. Selang sehari, masbayi vomit ini kali pertama lihat si kecil itu vomit. Lumayan sering ya, sehari ada 5 x kalo ga salah.. Kadang lagi tidur, mancur kaya air mancur taman. Jika sedih rasanya. Badan subfebris, anget aja. Minta minum terus. Berbekal ilmu yang dipunya cuma kukasi obat antimuntah karena biasanya muntah ini merupakan gejala saja bukan diagnosis. 

    Hari kedua tambah gejala diare. Dia nggak sampe mules2 segala tapi langsung aja nge-sorrr.. Mulai males makan dan minum. Tapi siangnya aktif aja. Walaupun sudah beli oralit dan prebiotik, tapi karena Pipo Mimo nya khawatir akhirnya dibawa ke RS. Dikasih antidiare, antimuntah, antibiotik. Malemnya sambil tidur pun dia masih diare aja. Nggak rewel dan nggak bangun. Malah bikin cemas.

    Besoknya ke DSA langganan karena BAK udah kurang, makan minum berkurang, lemes. Ngeri banget kan.. Kalo dehidrasi. Walauuu nggak ada tanda dehidrasi berat. Akhirnya ketemu dr Bas our fav pediatrician.. Ganti antibiotik. 

    Yap. Pada dasarnya anak diare yang terpenting atasi dulu dehidrasi. Makanya penting untuk ngasih oralit, air apapun tajin, air sayur, air teh bahkan boleh. Justru dr Bas nggak ngebolehin minum air putih karena bikin kembung. Sepulang dari DSA masih diare. Tapi yang aku wajibin minum adalah zinc dan prebiotik selain air teh dll. 

    Zinc memang pilar diare yang penting banget (meski di hari ke berapa mas bayi mau muntah karena minum zinc kemungkinan refluks karena konsumsi obat terlalu lama). Biasanya meski sudah tidak diare zinc disarankan untuk tetap diminum untuk menghindari kekambuhan. 

    Di atas adalah 5 pilar diare menurut WHO, antibiotik diberikan sesuai anjuran (apabila memang benar-benar diperlukan). Oralit menurutku penting, meski pada kenyataannya mas bayi lebih suka minum yang lain ketimbang oralit.

    Hari keempat meski masih lemes, tapi dia sudah nggak diare, subfebris masih. Sejak hari senin Pipo Mimo sudah bilang kalau tangan dan kakinya kuning. Hari selasa baru aku bener-bener cek dan ngeh kalau yep sibayi kuning. 

    Agak syok yaa.. Secara dia baru sembuh mual muntah demam yang mana bikin parno. Setelah konsul via WA dengan pediatrician, dari fotonya mirip kaya warna kebanyakan wortel. Memang agak oranye gitu. Tapi tetep disarankan ke DSA untuk cek lebih lanjut. 

    Perjuangan cari DSA di akhir tahun. Pagi itu agak panik karena aku mulai parno .. Mikir diferensial diagnosis yang mungkin. Aku nyari ganti jaga untukku supaya jam 12 bisa langsung ke DSA pembimbingku dulu, karena dr. Bas gak praktek. Sudah dapat, pas nelpon RS ternyata beliau keluar kota. Akhirnya tetep jaga dan pulang jaga langsung bebenah dan nyomot bayi yang belum mandi karena ngejar antrian.

    Apotek yang dituju, DSA libur juga. Pindah RS berikutnya, poli tutup dan DSA yang dituju juga libur. Akhirnya ngejar ke yang masih praktek. Dr baru.

    Awalnya DSA yakin ini kuning karena makanan, karena di sklera putih nggak kuning/ ikterik. Tapi lihat perut juga kuning, DSA ragu dan saran ambil lab. Emaknya jadi melas. Cuma, demi memastikan akhirnya bayi diambil darah untuk cek bilirubin dan enzim hati. 

    Untungnya bayi masih dalam kondisi lemes, aku nahan sendirian saat diambil darah masih kuat. Nangisss kejer. Tapi setelah spuit dicabut dan dia digendong berhenti nangis. Dulu waktu koas sering lihat bayi bolak2 tusuk buat diinfus. Kasihan aja. Kalau anak sendiri apalagi, meskipun aku tahu susah buat ambil darah pada bayi dan aku ga boleh marah2 kalau ternyata itu kejadian. Alhamdulillah sekali ambil, selesai ambil darahnya. Setengah jam nunggu hasil agak takut hasilnya jelek. Hasil keluar, enzim hati naik sedikit tapi masih ok. Diagnosis yang aku simpulkan karena DSA dikonsul hasil lab aja, dan ngeresepin curcuma dan multivit : karotenemia. 

    Ternyata beberapa temen ada yang mengalami hal serupa. Dan ehem aku pun pernah dapat pasien yang demikian. Dan.. Tentang karotenemia ini pun sudah pernah kubaca di buku MPASI lalu. Tapi berhubung ada riwayat GEA (Gastroenteritis Akut) jadi pikiran kemana-mana. 

    Jadi apa sih Karotenemia? Itu adalah kelebihan betakaroten dalam darah. Kenapa? Karena terlalu banyak konsumsi makanan tinggi betakaroten. Siapa tersangkanya? Biasanya buah yang berwarna oranye dan sayur yang berwarna hijau pekat. Meski, beberapa juga di luar syarat itu. 

    Masbayi sempet gtm nggak mau makan nasi, dan protein hewani. Jadi hampir tiap hari makan puding jagung telur susu, kadang tambah oatmeal. Sayuran kesukaannya buncis dan wortell. Buah yang liat aja udah minta ya.. Pepaya. Padahal wortel udah kubatasi, tapi aku lupa makanan yang lainnya. So.. Itulah yang terjadi. 

    Sekarang dia lagi puasa wortel dan mengurangi betakaroten. Warna kuning khas karotenemia adalah warna kuning oranye di kulit. Sklera atau selaput putih mata tidak ikut kuning, ini yang paling penting. Dan nantinya warna itu akan hilang dengan stop konsumsi makanan tinggi betakaroten. Meski agak lama ya hilangnya. Hal ini tidak berbahaya. 

    Ada yang pernah ngalami anak diare? Atau karotenemia? Share yaa..