herstory

Baut Kok Ditelan?

Bismillah

Hari sabtu, jam 12 siang. Pulang praktek, ambil pesanan di PMI, hape ditinggal di mobil. Sampai rumah, adik laporan, ” Ichi nelan baut. Lagi ke IGD. ”

Kalau dibilang dunia runtuh saat itu, bisa jadi. Nggak tahu kondisinya bagaimana, sesak nggak, perdarahan nggak, kalau boleh milih saat itu aku pengen skip hari aja. Lalu bangun dan berharap itu mimpi.

Aku telpon ibu, posisi di IGD Elizabeth. Aku suru geser ke RS Geriatri karena Spesialis lebih banyak. Aku sambil menuju ke lokasi, nyetir dengan pikiran nggak tahu kemana. Kebayang anakku yang lucu itu kondisinya gimana. Karena kadang kondisi asli yang dilaporkan palsu. “Bisa napas kan Bu? ” tanyaku saat itu. Bisa. Entah palsu atau benar.

Ichi ditolak di Geriatri, ketiadaan SDM dan alat. Saran kr RSUD Margono. Aku minta stay di situ sebentar, aku mau 1 mobil saja. Ichi dalam kondisi tenang. Aku peluk dia, kupangku. Mulutnya menganga lebar. Ingin aku menangis saat itu juga. Aku takut dan khawatir. Bagaimana kalau posisi baut tidak menguntungkan? Goncangan mobil membuat sirkulasi nafas nya terganggu. Meski orang medis, aku nggak yakin akan bisa mengorek ilmuku saat itu.

Jalanan padat. Pipo-bapakku yang nggak pernah marah sampai bentak petugas kartu. Perjalanan ke Berkoh saja terasa lama. Ichi ngantuk. Aku waswas. Kuperhatikan nafasnya. Kadang ia lupa menganga, tapi sambil terpejam ia kembali membuka mulutnya. Ya Allah Nak…. Sabar ya. Kurapalkan doa yang aku ingat. Aku cuma ingin dia selamat.

Sampai di IGD RSUD kami dijemput tante yang bekerja di sana. Dibimbing, karena aku sudah nggak tahu masih punya otak nggak. Dokter kuminta periksa vital sign. Aku sudah mikir kesana sana minta Sp. THT atau siapapun, mengeluarkan baut itu, karena Ichi masih menganga.

Sekali waktu kutanyai. Ichi sakit nggak? Sakit. Tahan ya, nanti dibeliin mainan. Mau mainan apa? Pengeruk, katanya masih bisa bicara. Tapi kembali menganga lagi. Sakit sekali dadaku saat itu. Sepanjang dioper, dia pasti haus.. Tapi belum berani kasih minum.

Dari IGD kami langsung ke radiologi. Ichi hanya mau digendong olehku yang perutnya buncit, bodo amat, selama kuat aku bisa. Saat mau rontgen, dia minta kutemani tapi mustahil. Jadi akhirnya dia menurut masuk bersama Mimo. 2 kali jepret.

Alhamdulillah sudah di bawah. Kelegaan agak menguar. Kecemasan berkurang 10%. Masih ada risiko lain karena kupikir benda itu cukup tajam. Kami kembali ke IGD. Ditanyai rawat inap atau tidak. Segera kujawab ya, karena aku nggak bisa menanggung kecemasan sendirian. Kalau tiba-tiba ada gejala acute abdomen bagaimana? Aku merasa lebih aman di RS. Tante membantu menyatukan kamar, dapat.

Ichi kubelikan es krim. “Ichi, sudah turun bautnya ke perut, makan es krim dulu ya, coba dulu deh. ” Awalnya ia menolak mengatupkan mulutnya. Aku tahu pasti dia masih trauma dengan rasa nyeri tersangkut baut di kerongkongannya. Kelamaan dia mau juga mencicipi es krim dan mulai mengatupkan mulut.

Pergantian dokter. Dokternya kebetulan kenal. Tante juga lebih kenal. Langsung dikonsulkan ke Sp. Bedah Anak. Respon cukup cepat, kami boleh pulang, rawat jalan. Kecemasanku turun lagi 10%. Harusnya nggak apa-apa karena kami boleh pulang. Memang karena sudah di pencernaan, lebih baik kami observasi. Ichi sudah minta pulang, sambil mainan barang-barang di meja dokter.

“Pulang saja ya, saya bawakan antibiotik, nanti dilihat saja tiap kali pup. Kalau ada gejala acute abdomen segera ke IGD. Seminggu suruh kontrol kalau belum keluar, rontgent ulang.”

“Ayo pulang, beli mainan ya. ”

Kami pulang, mampir ke Toko mainan. Anak ini harus happy, dia baru mengalami hal traumatis. Kami belikan mainan. Lalu mampir ke Geriatri ambil mobilku. Aku pulang sendiri sambil mampir beli roti tawar, es krim, buah naga dan pisang Ambon.

Karena belum makan siang, sepulangnya dari RS Ichi makan pisang. Sorenya makan nasi. Pup pertama, nihil.

Sebisa mungkin kami beri makanan tinggi serat, tinggi karbo. Nasi, telur, pisang, buah naga, es krim, roti tawar. Sambil terus berdoa bautnya berjalan ke bawah. Hanya 1 klep lagi yang harus dilalui. Dengan bentuk runcing, kami berharap posisinya baik, dan melewati saluran pencernaan dengan mudah.

Flashback kejadian.

Ichi suka alat-alat pertukangan tapi belum pernah main benda seperti baut. Sambil ditemani, ia ambil baut yang tertanam di tembok, lalu menempelkannya di magnet obeng. Lalu entah bagaimana, benda itu langsung masuk ke kerongkongan. Ibuku ngeh dan berusaha mengeluarkan bautnya. Gagal. Beliau lari ke mushala sambil gendong Ichi, jam 12 siang tanpa sandal. Pipo juga pulang berlari tanpa sandal. Mungkin kalau kubayangkan mereka seperti sedang bertawaf di siang terik, hanya dengan degup jantung yang mungkin tak beraturan.

Malam tiba aku nggak bisa tidur nyenyak. Kupandangi terus di bocah yang tidurnya juga berulang kali merintih. Kutanya sakit? Katanya enggak. Kadang ingin lama menangis membayangkan kejadian itu, kemungkinan ke depan. Tapi demi Ichi kutahan. Sharing dengan dr Prita Sp. OG, dr Sri, Sp. A membuat agak lega. Kadang kalau sedang seperti ini aku benci kenapa LDM. Seolah aku sendiri yang harus mengatasi stressor setinggi itu. Tapi Allah maha baik.

Di hari Senin, aku memutuskan tidak berangkat kerja. Aku harus mengawasi bocah itu. Mungkin kalau bentuk logam tidak runcing, aku sedikit lebih tenang. Siangnya dia bilang mau pup. Aku bershalawat.

Saat itu juga kuputuskan bernadzar. Bukannya riya, tapi aku harus cerita karena kekuatan nadzar ini berkali-kali memberiku mukjizat. Ichi, doa ya biar bautnya keluar. Nanti beli mainan ya? Iya, boleh. Kamu minta apa aja kayanya bakal aku bolehin Nak, asal kamu sehat.

Tibalah masa menegangkan itu. Setelah selesai membersihkan pup Ichi. Aku duduk di hadapan feses berbau segar itu. Bagai mencari emas di tumpukan jerami. Aku perhatikan satu per satu bagiannya. Sekali sisir, nihil. Belum percaya kusisir lagi dengan bayangan benda kecil berwarna perak. Toing. Ada sebuah benda hitam dan itu… Baut!

Aku berteriak memanggil adikku, minta segera difoto. Ichi menangis melihatku menangis dan berteriak. Jangan bunnn jangan bunnn. (Ok aku mulai nangis lagi nih). Chii, bautnya sudah keluaar chiiiii udah keluar. Boleh beli mainann ya? Beli mainan? Boleeeh boleehh.

Ibu dan bapak yang baru pulang berlarian karena teriakanku. Mereka mengerubungi hasil penemuanku. Harta karun yang membuat kami tidak nyenyak tidur dan tidak nafsu makan. Alhamdulillah… Kukabarkan ke keluarga yang kemarin kuminta doanya. Mungkin kebahagiaan itu lebih membahagiakan daripada hari pernikahan.

Murnya masih di perut? Tanya Ichi. Engga Chi, udah keluar. Ni fotonya. Coba liat foto ronsennya. Ni masih di perut. Iya, tapi sekarang udah keluar. Boleh beli mainan? Bolehh. Nanti nunggu Pipo pulang ya. Iya. Boleh beli mainan? Pertanyaan itu terulang terus.

Ichi waktu bautnya masuk, sakit? Iya, di sini (tunjuk dada).. Uh.. Trenyuh.. Ngebayangin kalau kita nggak sengaja nelan benda besar, rasa sakitnya bagaimana.

Terima kasih Allah memberi kesempatan ini, dan memberi jawaban dan akhir yang Indah. Aku tulis di sini untuk trauma healing ku. Dan supaya ibu-ibu lebih waspada. Qadarullah, tapi semoga tidak terjadi lagi.

Advertisements
herstory

Apakah Harus Membuat Resolusi?

Bismillahirrahmanirrahim

Tahun lalu aku membuat resolusi. Ini resolusiku tahun lalu. Simpel saja, tapi tetap belum bisa terpenuhi. Heran. Ngapain saja sih aku tahun ini?

Tidak ada hal yang terlalu menarik. Hmm.. Menyapih anak termasuk progress ya? Di awal tahun akhirnya aku berhasil menyapih anak sulungku yang saat itu berusia sekitar 2,5 tahun. Dengan apa akhirnya? Karena sounding saja tidak cukup, aku menyapih dengan bratawali mentah (bukan kering, kering masih belum manjur).  Dan akhirnya berhasil.

Menyusui menyenangkan, pasti. Tapi ada kegembiraan juga terbebas dari kegiatan rutin yang membuat lengan terasa pegal setiap pagi, hahaha. Lalu apa lagi ya. Di pertengahan tahun alhamdulillah diberi amanah dalam hal keluarga. InsyaAllah nambah personil. Keinginan yang sudah dari tahun sebelumnya, alhamdulillah berkat doa Maryam 1-11, perbaikan pola makan, doa Nabi Zulkarnaen, Habbatussauda, ketepatan masa subur, intensitas bertemu suami, akhirnya Allah ijabah di waktu yang tepat.

Di akhir tahun, diberi amanah baru dalam hal pekerjaan. InsyaAllah resign dari pekerjaan utama yang selama 3 tahun kujalani, untuk pindah ke pekerjaan baru yang akan lebih teratur dan tanpa free day di weekday. Allah sudah mengatur, berdasarkan doa setiap orang yang mendoakan. Jadi akan dijalani dengan baik, insyaAllah. Semoga lancar dan barakah.

Jadi kalau dibilang, 2018 itu : Keluarga, Pekerjaan, Kesehatan. Alhamdulillah lebih buanyak (sekali) sehatnya dibanding sakitnya. Meski saat sakit pasti rasanya remuk redam. Terima kasih Allah memberi kesempatan untuk istirahat di akhir tahun.

Lalu, apa resolusi ke depan? Terinci dong bu. Plis.

Menjadi Pribadi yang Lebih Baik

Ah gitu lagi kan. Ya, nanti patokan resmi akan ditulis tangan saja. Kalau bisa ditempel sekalian. Karena progresivitas tabungan kok kayanya ga cihuy, ini harus ditingkatkan di tahun mendatang. Karena sungguh setahun itu ternyata benar-benar sebentar. Bagaimana nanti di akhirat? Apakah resolusi kita hanya soal duniawi? Hiks. Semoga Allah mudahkan kita dalam meraih yang terbaik dalam hidup kita. Meski resolusi tidak tercapai, jangan pernah berpikir kita gagal. Setuju?

herstory, review

Review – Zalfa Lippiematte

Bismillahirrahmanirrahim

Kondisi terkini : Anak bobo, hujan deras.

Beberapa waktu yang lalu, Zalfa (brand kosmetik muslimah) baru meluncurkan lipcream bertajuk : Zalfa Lippiematte. Peluncuran ini tersandung sebuah intrik (eh) di mana salah satu brand kosmetik ternama di Indonesia ini meminta Zalfa menghapus iklan ber-model milik mereka, dengan alasan modelnya sama dengan yang digunakan oleh si brand besar ini. Aku sendiri belum sampai menduga siapanya.

Hanya, warnanya yang lucu, dan line tentang Halal, BPOM, Paraben free (ini yang biasanya dipakai oleh ibu-ibu hamil dan menyusui). Jadi, walaupun aku masih punya stok lipstik dari MiCa (yang kecil-kecil) aku memutuskan pesan 2 biji dengan harga terendah di shoppee (harga diskon).

Dicuci pakai air dan digosok sedikit

Warna yang kupilih adalah Peachfull dan Maccared. Maccared ini aku beli untuk bikin ombre lips haha. Harusnya aku beli Nudetella untuk pasangannya, tapi malah beli Peachfull karena aku punya warna nude hadiah dari adik.

Sebenarnya aku belum pernah menemukan kecintaan pada lipcream, karena dari pengalamanku aku nggak menemukan yang cocok. Tapi ternyata si Lippiematte ini enak banget dipakai. Sekali pulas dia pigmented, wanginya seperti es krim, dipakai makan nggak mbrudul. Selama ini aku nggak suka kalau pakai lipcream karena kalau makan, itu kayak ngelotok di bibir. Harus dibersihkan dulu baru re-touch. Kalau ini, enggak.

Oya, aku juga coba swatch di tangan, aku pakai mandi berkali-kali stain-nya masih ada haha. Tapi asiknya ini kan halal, beda sama brand luar. Pokoknya nggak menyesal kalau beli ini. Harga ecerannya memang lumayan tinggi, tapi insyaAllah worthed.

Kondisi terkini : anak sudah bangun, hujan masih deras.

Note : Lipcream ini mengandung argan oil, dan uv filter. InsyaAllah akan melindungi bibir dengan baik. Ah suka deh.

herstory

Make Up Haul Focallure

Bismillahirrahmanirrahim

Sejak mulai mengenal dengdong, aku suka mengumpulkan barang-barang ngelenong. Hmm nggak lebay sih karena makin ke sini ternyata undangan makin sedikit, haha. Dulu waktu baru lulus, duh kayanya tiap bulan adaa aja undangan nikahan. Harus pinter yekan dandan, biar nggak amblas kalau ketemu teman-teman.

Dulu tuh nyari shading aja aku sampai belinya eyeshadow matte yang refill. Make up vlogger kayaknya belum musim dah. Yang jelas ilmu dandan itu bermanfaat banget sampai-sampai waktu khitbah aku juga dandan sendiri, dan dibilang cantik (sama keluarga aku, dan keluarga dia. Aku lupa sih dia bilang cantik enggak, sebelum sah aku kan sok jaga hati gitu), ihir.

Pas hamil kedua ini, dibanding hamil pertama yang lebih klewus dan buluk, agak mendingan lah. Karena mungkin lebih nyantai. Kerja juga lebih suka, dibanding tidur. Karena kalau tidur badan sakit semua dan kaki beraat banget. Kalau kerja, mual nggak terlalu berasa dan lebih hepi.

Makin seneng dandan, iya. Suka nontonin IG para make up vlogger. Terus jadi doyan belanja make up hahaha. Aduh gawat juga. Tapi aku kepincut sama Focallure nih. Brand make up dari Cina ini sempat booming ya. Kukira dari manee gitu ternyata Cina. Nah berhubung barang lenong beberapa memang butuh beli lagi, jadilah aku beli beberapa merk Focallure ini.

Sejak nikah, aku rupanya lebih suka barang make up dengan packaging warna hitam. Dulu aku beli make up bareng sama Bulik buat dibayarin beli bakal seserahan, hahaha. Aku beli Make Over, emang kece sih. Sekarang malah nggak pernah beli, mahal.

Aku beli Focallure ini di Shopee. Dan langsung diterbangkan dari Tiongkok sana. Harganya beda jauh sama di sini. Karena konon memang di sana harganya murce abis, karena diproduksi massal. Cuma ya itu harus suabaaar banget yak nunggunya. Tapi dengan harga segitu dan ongkir yang 10 ribu doang, aku nggak menyesal.

Pas barangnya datang, aku videoin proses unboxing-nya karena takut kenapa-napa barangnya. Etapi lengkap dan aman. Oke banget sih packagingnya.

Aku udah nyobain, dan aku salah karena nyobain barengan sama barang baru lainnya suncream wardah dan primer wardah yang baru juga aku cobain bersama Focallure baru. Alhasil jerawat geday bermunculan di dagu-ku. Huaaaa… sedih.

Akhirnya aku stop pakai primer dan foundie Focallure. Harusnya kan memang nyoba barang baru tu satu-satu, jadi tau mana yang bikin break out ya, haha. Etapi pas aku stop, jerawatnya berhenti muncul. Sekarang masih proses menenangkan si mantan jerewi dan rajin pakai skin care dulu.

Eh tapi si Focallure bener-bener cakep! Aku beli shading, foundie, hilither, concealer, dan blush on. Packagingnya oke dan simpel. Isinya nggak terlalu banyak, jadi kalau nggak cocok ya nggak engap. Secara keseluruhan, kalau dipakai oke sih. Pernah kupakai buat dandanin total orang rumah, okee gitu.

Penasaran nggak apa yang aku pakai untuk skin care selama hamil ini? Dann… aku yang udah lama banget nggak pakai perawatan apapun. Lama-lama tengsin juga ya, wajah dikasi sama Allah dibiarin aja. Bahkan pakai suncream aja cuma pagi doang, kan kasihan.. akhirnya jadi nggak sehat.

Skin care-nya di postingan selanjutnya yaa..

herstory

Membeli Barang Preloved

c6224947f8123289fcf94b7baba7b818Bismillahirrahmanirrahim…

Membeli atau menjual barang preloved mungkin sudah tidak mengherankan sekarang ini. Bahkan ada khusus marketplace yang sengaja mengusung tema ini dan memudahkan para penjual dan pembeli barang seken ini berinteraksi.

Aku sendiri sudah beberapa kali berhasil menjual dan membeli barang prelove. Hmm.. apa saja barang yang sudah pernah kubeli? Adakah barang ber-merk di dalamnya?

Barang-barang yang aku jual di akun khusus preloved bermacam, ada baju, tas, sepatu, sandal. Barang-barang yang lama tidak terjual biasanya dihibahkan. Alasan dijual biasanya selain tidak cukup, tidak sesuai, tidak nyaman, mengurangi space di almari. Kamarku sempit, apalagi sekarang untuk berdua dan bertiga kalau suami datang. Apalagi mau ketambahan bayi 1 lagi, wah… harus bebenah kan.

Alhamdulillah selama ini berjalan lancar aja sih penjualan barang sekenku. Sudah agak lama sejak aku mulai membeli barang seken juga. Kadang karena ibu bilang, nanggung amat beli seken sekalian aja deh yang baru.

Tapi kadang beli seken bagus itu bikin hati senang, hehe. Ya nggak sih.

Pertama kali aku beli seken, seingatku itu parfum The Body Shop. Haha.. sekelas parfum itu aja aku males beli barunya karena mahal. Buatku, saat itu. Dan takut nggak cocok baunya. Ternyata cocok dan suka. Selain itu beli jam tangan seken juga, merk puma.

Baru-baru ini aku beli barang yang lumayan juga. Karena lamaa banget kepengen tas Fossil sementara aku males beli seharga barunya yang jeti-jetian itu, aku rajin ngintip akun preloved barang branded. Hehehe.

Tapiii, tentu harus pilih akun yang trusted. Kalau bisa pakai rekening bersama. Dan kenali ke-authentic-an si barang. Karena seller sekarang pinter-pinter… bilangnya ori, tapi ori cina. Atau ori, tapi ori kw. Hadehh.. plis dehhh… kalau watak itu susah.

Akhirnya aku dapat juga sih tas yang barunya di atas sejeti dengan harga miring, very very good condition juga. Walaaau itu tanpa kunci hahahaha. Kunci fossil sendiri harganya 250-an ya wajar jadi harganya miring :p Tapi itu nggak berpengaruh banyak, aku suka modelnya.

Terakhir, aku lagi pengeeeen banget beli longchamp yang gede dan ada sling. Dulu aku males banget liat modelnya, tapi kesel kena tulah. Ya kali-kali lah mantengin, ada akun yang aku suka tongkrongin karena preloved dia murah dan authentic. InsyaAllah trusted. Alhamdulillah dapet harga miring banget LC yang medium, ah, begitu sampe juga cakep banget barangnya. >,<

Jadi keranjingan beli barang preloved. Tapi tetep, barang datang, harus ada yang pergi. Untuk itulah aku punya akun @hnnewpreloved 🙂

Coba teman-teman sebutkan barang apa yang termahal yang dibeli di lapak seken? Ayooo share yaa :*

herstory, kuliner, perjalanan

Solo-Travelling to Solo

Bismillahirrahmanirrahim

Hola. Sejak muncul leaflet Simposium Penyakit Kulit di Solo, aku pengen banget ikut. Kasus kulit cukup banyak, dan percaya nggak kalau tantangan tersendiri mengobatinya. Seperti kasus jamur diterapi steroid, atau bentuk asli Ujud Kelainan Kulit sudah tidak jelas karena krim yang tidak jelas. Pusing.

Awalnya aku mau boyong si sulung, yang berarti harus membawa serta 2 orang dayang. Mengapa 2? Yang 1 untuk momong which is ART, yang 1-nya lagi untuk momong ART. Hehe. Kalau dihitung-hitung, butuh dana yang nggak sedikit di perjalanan ini. Dan lagi saat kutanya ART, sepertinya doi agak mikir-mikir repotnya dan capeknya. Jadi kuputuskan untuk pergi sendiri.

Ijin Permaisuri dan Raja

Untuk pergi dan menginap tanpa membawa anak adalah hal yang cukup menantang. Tantangan pertama adalah ijin dari orang yang akan ditinggali anak. Meski masih serumah, sebagian besar kepengasuhan tidak diserahkan ke orangtuaku. Aku mengerjakan sendiri, dibantu ART. Sesekali saja bila butuh dibantu orangtua atau keluarga di rumah. Awalnya ijin nggak mulus, tapi akhirnya acc juga.

Sounding Anak

“Ich, bunda mau ke Solo. Nginap semalam. Boleh?”]

“Boleh.”

“Nggak tidur bareng. Tidurnya sama Pipo di rumah.”

“Iya. Nanti beliin mainan ya?”

“Iya.”

Menyiapkan Award

Sudah siap semuanya. Mimo – Nenek mulai ragu, karena Ich kadang masih suka nangis panggil bunda kalau bangun. Aku menyiapkan es krim, coklat, sereal, untuk kondisi-kondisi tertentu yang mungkin akan terjadi supaya kalau nangis, nggak lama-lama.

Pagi Jumat 9 / 11/ 18 subuh hari, aku berangkat menggunakan Kereta Api Logawa. Karena Ich belum bangun, aku nggak pamit. Tapi hal ini biasa terjadi karena aku bekerja, kadang terjadi seperti ini. Dan Ich ternyata paham. Buktinya selama 2 hari ke depan Ich tidak kesulitan melalui hari tanpaku. Justru aku yang berjuang hidup tanpanya.

Pergi tanpa anak pertama kalinya itu… nggak enak. Tapi seperti kata temenku, jangan mikirin anak, nanti dia kerasa. Oyaa aku pertama kali pergi ke Solo, katro yaa? Kalau ke Jogja sering, padahal Solo nggak terlalu jauh, tapi kok belum pernah, hehe.

Sepanjang perjalanan, berhubung dalam masa kehamilan 5 bulan agak kurang nyaman ternyata naik kereta ekonomi. Kakiku hampir kram karena duduk di tempat sempit diapit 4 orang laki-laki. Hikkkkksss. Aku memilih kursi dekat toilet, u know what lah ya.. itu kalau kandung kemih lagi ditendang-tendang rasanya pengen terbang ke toilet.

Toilet jongkok dan kereta berjalan adalah suram. 😀 Badan lagi gede-gedenya, goncang-goncang, bawa tas, tidaaakkssss… Wajib bawa pouch berisi dalaman karena bisa saja terjadi tragedi, air muncrat. Hahaha. Sejak saat itu aku ke toilet saat kereta berhenti. Tenang, kereta sekarang punya septic tank. Jadi nggak kayak jaman dulu, itu pee pada jatuh di rel kereta.

Di setengah jam terakhir aku sudah gak tahan, pengen meluruskan kaki. Akhirnya aku pergi ke restorasi, pesan bakso. Ternyata baksonya enak lho. Sayangnya karena hampir sampai, aku nggak habiskan mie-nya. Seger banget padahal. Huhu. Harganya.. ehem.. 20 ribu. Hahaha.

Pertama kali menginjakkan kaki ke Stasiun Purwosari. Yeay, happy. Langsung menuju toilet untuk berhajat. Setelah itu minta becak mengantar ke lokasi Simposium di Harris Hotel. Kan nggak tahu ya awalnya, ternyataaa itu cuma sejalur doang nggak sampai 1 km. Dan berapa bayar becaknya? 20.000 ngetok banget sih, tapi aku nggak bisa naik gojek, takut jatoh.

Karena acara di Harris Hotel, dan aku sendirian. Aku memilih menginap di hotel lain yaitu Pop Hotel yang harganya lebih murah. Yang ternyata 1 manajemen dan letaknya itu nempel dan dalam 1 lingkungan. amsohappy. Ih seneng.

Hotelnya asyik, millenial. Baik Harris maupun Pop, mereka sepertinya mengusung tema sporty. Seragam mereka bukan ala-ala hotel bintang 4 (Harris Hotel Bintang 4) mereka pakai kaos, semi jeans, sepatu olahraga. Begitu juga di Pop Hotel (Bintang 2) bahkan kadang sepatu kanan dan kiri beda warna.

Di Pop hotel, kamar yang aku pilih adalah kamar yang paling murah sepertinya, 235.000 di traveloka. Tanpa sarapan. Free wifi. Free pembatalan. Mengapa pilih tanpa sarapan? Karena aku nggak mau sarapan hotel, maunya nasi liwet. Hahaha. Dan beneran aku nyari nasi liwet emperan di pagi hari sendirian. Enaaak.

Apa saja isi kamarnya? Aku sengaja nggak bawa toiletries (demi keringkasan bawaan bumil) karena berharap di sana berlimpah, ternyataaa…

Kamar berisi 2 kasur bersekat pendek, sekatnya bisa dilepas, dan kasur bisa disatukan. Enak. TV dengan saluran berbayar. Brankas. Wastafel. Shower. Toilet duduk. Sampo 1 sachet, sabun kecil bundar. Karena aku belum nyoba ke kafe Pit Stop aku nggak tahu printilan ada di sana. Jadi saat malam pas aku nyari mainan buat oleh-oleh, aku sekalian beli sikat gigi, pasta, dll. Padahal sih di kafe-nya ada.

Kafenya seru lho. Malam-malam setelah keliling di Solo Grand Mall yang buatku rasanya seperti Cempaka Mas, aku nyobain ke kafe. Yah lapar mata beli jajan, minuman, bahkan hot cappucino yang enaaak. Kenapa aku memaksakan diri jalan sendirian malam-malam di Solo?

Butuh beli oleh-oleh mainan.

Lapar, tapi pengen nyari keluar.

Pengen menikmati Solo di kala malam.

Biar capek dan bisa tidur. Karena kalau di hotel aku sering kebangun nggak nyaman.

Pokoknya misi malam itu berhasil. Aku pulang, chat ama temen, nonton HBO lalu tidur. Kebangun di jam 1 nonton HBO lagi, lalu tidur lagi ingin cepat besok lalu pulang. Hari kedua Simposium berakhir jam 2. Di jam ishoma, aku pesan go-food untuk beli serabi notosuman Ny. Lydia dan Richeesee. Sorenya makan Richeesee di kamar, lalu check out.

Oya harusnya CO jam 12 tapi aku perpanjang, bayar 50% harga hari itu. Nggak papa dari pada aku pulang belum mandi, belum makan, belum siap-siap. Setengah 5 sore aku keluar padahal jadwal kereta jam 6 sore dan stasiun dekaat banget. Cuma cuaca udah mendung banget, dan aku takut nggak dapat becak. Rempong kan bawaan.

Di stasiun hujan deras banget. Tempiasnya ke kursi tunggu, seram pokoknya. Nunggu Jaka Tingkir datang. 5 jam kami berjalan pulang karena banyak berhenti menunggu persilangan. Sejujurnya aku lebih suka perjalanan siang. Aku nggak akan bisa nyenyak tidur di kereta karena memang nggak terlalu capek. Setengah 11 lebih akhirnya sampai di kota tercinta. Disambut si sulung yang bertanya terus soal mainannya, lalu tertidur dengan tabung pemadam mainan di pelukannya. FIN.

herstory

Body Shaming – Oldskool

Bismillahirrahmanirrahim

body shaming

Hari ini hati sedang kelabu biru sendu. Cailah. Perasaanku sih aku nggak pernah ngatain orang terlalu gemuk atau terlalu kurus. Kecuali anakku kupanggil ‘ndut’ padahal gak gendut.

Beberapa kali ku dikatai gemuk, oleh beberapa orang. Hiks. Kalau dalam kondisi mental maupun fisik yang biasa mungkin aku hanya ketawa saja. Tapi saat lagi hamil, dikatain, kadang beda hari masih dikatai sama aja oleh orang yang sama. Pengen nangis seketika itu juga.

Ingin ku memasang wajah seperti biasa. Hanya hatiku bilang, harus ada perubahan warna wajah. Mungkin bagi sebagian orang bercanda tentang postur itu biasa ya, tapi sebenarnya itu cukup menyakitkan. Ya diet dong. Ehem. Yaa.. kalau gampang ceritanya sih.

Tapii, mungkin ini bisa jadi batu loncatan supaya nanti di status ibu dua anak, tubuhku bisa kaya Yulia Baltschun gitu ya, hihi. Suatu kali akan kubuktikan, hahaha. Kalau sudah begitu sih, aku lebih baik menyendiri aja. Bukan tipikalku langsung mencak-mencak juga, lalu memusuhi orangnya.

Aku cuma berdoa banyak orang yang akan tercerahkan. Mau itu soal bugar dan sehatnya seseorang, bukankah lebih baik tidak menjadikan itu candaan ya? Apalagi dikatakan di depan orang banyak, atau di depan orang lain yang bukan teman kita? Apa mungkin yang berkata seperti itu sebenarnya iri pada kita dalam hal lain ya? Lalu mencari celah untuk membuat mereka bisa sedikit berbangga? Wallahu a’lam yang jelas seharian aku jadi harus mencari cara supaya hati bisa bahagia lagi. Menangis-nangis sambil membaca Al-Qur’an adalah salah satu yang mujarab.

Kamu pernah jadi korban Body Shaming? Saling menguatkan yuk 🙂

herstory, review

Make Up Routinity

Bismillahirrahmanirrahim

Minggu lalu di akun Jouska, akun tentang financial plan membuat insta story untuk bertanya kepada follower : ” Berapa dana yang dihabiskan untuk skin care/ make up selama setahun.

Jawabannya cukup bervariasi dan sempat membuat kaget juga. Ada yang menjawab di bawah 1 juta, 10 juta, bahkan 25 juta. Selain kaget biaya bisa menjadi sangat mahal, kaget juga bahwa sebenarnya masyarakat kelas menengah pun bisa mengalami hal serupa. Katakanlah di kota kecil ini perawatan di sebuah layanan kecantikan yang cukup ternama paling tidak 400 ribu 1 bulan, lalu kalikan 12. Lumayan ya.

Hal ini membuatku berpikir juga. Kemarin-kemarin, sempat terpikirkan keinginan membeli sepaket kecil lipstik kesayangan, gel aloe vera (karena harganya sedang murah), dan lain-lain. Tapi karena tanggal tua alhamdulillah masih bisa digagalkan dengan : pake dulu yang ada aja ga habis-habis.

Sejujurnya, kadang aku bisa beli beberapa lipstik kalau sedang ‘ingin’ padahal nantinya yang dipakai hanya satu saja. Jadi sekarang aku agak malas ganti ke merk baru, karena sudah cocok sekali dengan make up yang dipakai.

Aku pun bukan make up junkie. Secara rutin aku lihat make up mana yang sudah expired lalu kubuang. Yang ternyata tidak cocok kadang ku-prelove atau kuserahkan ke yang lebih cocok. Cuma kadang pengen coba yang hits, em.. walaupun ujung-ujungnya sering ga cocok.

Aku akan cerita rutinitas make up pagi ya. Kalau dinas sore aku jarang ber-make up. Make up-ku sebetulnya juga nggak covering amat, nggak flawless, cuma tetap terlihat lebih segar dan nggak kusam. Maklum kerja di layanan publik. Ini benda-benda yang selalu aku pakai sehari-hari, ada beberapa yang sudah sering repurchased.

  1. Pertama aku pakai Wardah Aloe Vera untuk melembabkan. Karena dengar-dengar walaupun kulit berminyak, pelembab itu penting juga. Aku belum pernah pakai merk Koreyah jadi nggak bisa membedakan. Sudah berkali-kali beli kalau ini. Harganya juga terjangkau lah. Awet pula.
  2. Kedua aku pakai UV filter. Sebelumnya sempat coba merk dari jepang yang terkenal itu (ga mahal sih) tapi jadi break out entah karena memang sedang masanya BO atau karena nggak cocok. Sempat istirahat, pakai lagi, eh jerawatan lagi. Lalu kucoba si Ice Sun NR Koreyah itu. Adem-adem gimana gitu, tapi terasa kurang mantap karena aku nggak berasa dia udah nempel atau belum. Harganya juga lumayan tapi sepertinya cepat habis. Sekarang aku masih nebeng aja si pakai Biore. Nggak lengket, cepat kering dan belum berasa gak cocok.
  3. Ketiga aku pakai foundation. Ku sudah pakai ini berulang kali, repurchased. Dia sih nggak full coverage juga. Cuma cukuplah buatku untuk sehari-hari. Lite, nggak berat dan nggedibel. Harga masih masuk kantong, halal.
  4. Keempat kalau lagi pengen pakai blush on. Hasil ngembat, karena punyaku nggak tahu di mana sih. Ini oriflame, dan cakep. Dan awet buanget.
  5. Kelima pakai bedak. Bedak yang cocok gak susah nih, karena nggak suka yang tebal, yang panas. Dan cari yang warna kulitnya cocok itu mayan susah juga. Sampai sekarang yang paling cocok adalah si mineral botanica ini dan bedak ponds. Ringan banget nggak kayak pakai bedak.
  6. Keenam tinggal pakai lipstik. Dari beli-beli macam-macam, akhirnya ini yang paling cocok. Mineral botanica udah paling cocok. Dia lembab, nggak bikin kering, tapi nggak berasa tebal. Warnanya juga udah cocok banget nggak ngejreng. Dan aweeet banget.
  7. Kalau lagi inget, dan wajah bersih, diolesin Laneige itu. Jarang banget sih, cuma pas bangun memang moist enak. Dan alhamdulillah cocok.

Sampai sini wajahku yang penting nggak breakout aja aku udah seneng banget. Selain itu cuma pakai facial foam aja. Minyak wangi, pakai switzal yang awet bianget… Lainnya udah nggak pernah pakai lagi. Sekian dan terima sharing.

Untuk harga, packaging, silahkan cari di para suhu make up. Hihi. Aku seringnya beli di shopee sih membandingkan harga yang paling murah tapi jelas ori. Atau di @ummuaisha yang barangnya pasti ori. Make up tuh memang cocok-cocokan banget. Mau itu mahal kalau nggak cocok ya wassalam. Jadi kalau udah cocok sih saranku pertahankan aja, daripada beli mahal abis itu ngejogrok.

family, healthstory, herstory

Tragedi Jatuh : Bibir Sobek dan Gigi Patah

Bismillahirrahmanirrahim

Beberapa kali dapat pasien anak sobek kepala, sobek bibir, sobek bagian kulit lain. Sekali waktu lihat teman sejawat, kepala anaknya sobek, dijahit 1 atau 2 hanya pakai chlor etil. Tuhaaan… Ku langsung berdoa semoga anakku nggak akan pernah mengalami hal seperti itu. Walau, aku sendiri pernah jahit 5 atau 7 di kepalaku, karena pingsan di warung tetangga.

Throwback.

Dulu lagi liburan sekolah, aku belum sarapan, diajak beli jus di warung gang sebelah. Emang dasar hipotensi postural mungkin ya, jadi kelamaan berdiri aku pingsan aja gitu. Setengah sadar, aku lagi dibaringin di risban, dengan kepalaku berdarah menetes-netes di kepala. Hihi. Aku kalau ketemu pasien anak, selalu bilang, “Bu Dokter juga pernah nih dijahit kepalanya, gapapa kok.”

Back to the jungle.

Jadi si sulung itu maunya bobo di kamar Pipo – Mimo (Eyang) dia tidur di tengah. Lalu Mimo shalat malam. Dia akrobat dan jatuh di bagian mulut dulu. Tergopoh-gopoh tengah malam itu Pipo bopong ICH yang darahnya ngucur di bibir, ke kamarku. Sontak aku bangun (ini udah kebiasaan banget, karena kalau di IGD dulu ada pasien selalu bangun kalau sedang bisa tidur). Aku gendong di anak yang lagi nangis itu.

Aku cuma kasi instruksi ambil sana-sini. Adekku yang masih stay tanggap. Karena Pipo udah lunglai diam aja di kursi. Mimo juga bingung mau ngapain dan agak merasa bersalah walau udah ngasi bantal di pinggiran kasur. Minta handuk kecil. Aku tekan perdarahannya, lama nggak berhenti. Udah khawatir lebar dan dalam, butuh dijahit. Aku udah mikir arahnya mau dibawa kemana. Tapi alhamdulillah lama-lama berhenti. Aku minta ambil es krim, untuk menghentikan perdarahan. Tapi bocahnya nggak mau.

Setelah darah berhenti, dia cape. Minta minum. Aku kasi air es. Abis itu dia minta gendoooonggg… baru akhirnya bisa kuletakkan di kasur. Aku observasi sampai jam 3 pagi. Sesekali dia kebangun merintih kesakitan, lalu tidur lagi. Aku cek luka di bagian dalam bibir bawahnya, dan giginya patah 1.

Paginya aku udah siap es krim. Lalu setelah mandi, dibawa beli 3 es krim sekaligus. Mungkin hari itu hari yang indah buat dia. Oya, aku juga meliburkan diri dari jadwal pagi sore klinik karena khawatir si bocah nggak siap mengalami nyerinya. Ternyata dia kooperatif.

Paginya kubuatkan oatmeal pisang kesukaannya, makan tanpa mengenai lokasi nyeri. Lalu beli agar pepaya. Lalu kupesankan brownies alpukat yang enak sekali dari temanku. Yang jelas aku membebaskannya makan hari itu. Membuatnya lupa dengan nyerinya tanpa obat anti nyeri atau antibiotik.

Setiap hari kupantau, karena kalau sampai lukanya terkena bakteri ya harus segera diberi antibiotik dan aku nggak terlalu suka memberikan obat yang harus habis diminum. Anaknya susah haha. Hari itu mulutnya masih bau anyir. Aku konsul ke teman drg seharusnya memang cek. Tapi aku takut kalau cek sekarang malah nantinya dia akan trauma, jadi nanti-nanti nunggu episode selanjutnya.

Di hari ketiga baru aku berani menyikat giginya. Gumpalan darah yang menempel di gigi atas alhamdulillah jadi bersih. Aroma pun jadi makin segar. Bibir bagian dalamnya sedang menyembuhkan lukanya, membentuk sariawan. Ada obat untuk sariawan, tapi ku memilih memberinya makan telur untuk proses penyembuhan luka.

Sekarang sudah 1 minggu sejak kejadian dan bibirnya sudah baik. Alhamdulillah proses recovery dimudahkan Allah. Aku pun menjadi lebih aware. Oya, aku langsung beli rail bed untuk jaga-jaga supaya dia nggak jatuh. Beli di informa. Memang agak kurang tinggi karena kasurku tebal, tapi itu sudah bagus sekali.

Hati-hati ya Moms. Dan kalau hal itu terjadi, jangan panik. Aku share tips untuk menangani luka di rumah ya 🙂

  1. Tetap tenang meski itu sulit. Kalau panik, anak juga akan membaca kepanikan kita. Sementara kita sendiri tidak akan bisa berpikir panjang.
  2. Cek kesadaran. Apakah anak sadar atau pingsan. Apakah ada kesulitan bernapas? Apakah ada yang tersangkut di jalan napas (hidung, mulut) entah itu darah, benda, muntahan.
  3. Tekan perdarahan di manapun lokasinya. Lokasi di kepala akan terlihat lebih banyak darah karena di sana banyak pembuluh darah. Tunggu 10 menit, bila masih tidak berhenti, baik itu dengan handuk maupun handuk yang diberi air es, segera bawa ke tempat pelayanan kesehatan terdekat. Terutama ke IGD RS atau klinik 24 jam dengan ruang tindakan.
  4. Jika darah sudah berhenti, tenangkan anak. Beri minum air dingin. Bantu kompres dengan lap dingin. Bila anak merintih berikan obat anti nyeri. Paracetamol dengan dosis 10 mg/ kgBB. Misal anak dengan berat 10 kg, beri dosis 100 mg. Paracetamol umumnya memiliki sediaan 120 mg/ 5 ml sendok takar.
  5. Bila luka diobservasi lebar, dalam, banyak, kotor, sebaiknya bawa ke dokter untuk penanganan lebih lanjut.
  6. Pemberian makanan diutamakan yang lembut dan dingin, seperti oatmeal, bubur sumsum, agar, puding, buah, es krim bila luka ada di bibir dalam.
  7. Luka jahitan tidak boleh terkena air, kontrol rutin 2 hari sekali ke layanan kesehatan terdekat.
  8. Beri kesibukan yang menyenangkan untuk anak supaya lebih mudah melupakan rasa sakitnya.
  9. Tetap semangat.
herpregnancy, herstory

Bundle of Joy – Best Moment 2018

Bismillah

Ada beberapa lomba blog yang sedang diadakan, tapi aku merasa lebih ingin ikut lomba blog di sini 🙂 Ehm temanya aku banget dan hadiahnya sesuai kebutuhan.

Best moment pasti akan selalu diabadikan di dalam smartphone, jadi ide kreatif blog giveaway ini pasti punya banyak peserta. Tapi hasil akhirnya tetap serahkan pada yang di atas *cengir.

unnamed

Foto ini belum lama di-capture, dan belum pernah tayang di media sosial manapun yang kupunya. Tapi di antara yang lain, mungkin foto ini berarti paling indah buatku, buat kami sekeluarga. Sejak 2 tahun lalu (maybe) aku sudah siap untuk hamil lagi. Nggak pernah pasang KB, karena memang nggak menunda punya anak lagi. Long Distance aja KB-nya, hehe. Karena sepertinya hal itu cukup menjarakkan kami kan. Buktinya, beberapa kali hasil testpack yang diharap positif, kebalikannya.

Karena usia mendekati 30 tahun, berbagai pertimbangan memutuskan kami untuk segera membuat program anak kedua. Ternyata Allah mengabulkan doa kami sebagai oleh-oleh Lebaran 2018 😀 As always sebelum hari terjadwal haid, aku sudah mulai testpack. Positif samar, 7 hari setelah ayahnya pulang kembali ke Aceh. Tapi hal itu masih meragukan, kan.

Selang beberapa hari berikutnya dicoba tes lagi, Masya Allah hasilnya makin jelas. Alhamdulillah, Kaichi akan punya adik, insyaAllah. Happy? Banget! Waktu ini paling tepat untuk kami, meski BB idealku belum tercapai, okelah nanti setelah lahiran akan kuperjuangkan hihi.

Di minggu ke-5 sejak Hari Pertama Haid Terakhir aku pergi ke SPOG langganan-ku. dr Yelly, Sp. OG yang menyatakan kalau kantung kehamilan sudah terlihat dan janinnya masih suangat kecil, belum bisa diukur. 3 minggu kemudian aku disarankan kembali. Dan terdeteksi kista hormonal sebesar 2,5 cm.

Saat kembali kontrol, ukuran janin sudah membesar sesuai usia kehamilan 7 minggu meski kalau terhitung sejak HPHT seharusnya berusia 8 minggu. Kata dokter nggak perlu khawatir, yang penting denyut jantung sudah terdeteksi. Dan kista, masih ada.

Bicara soal kista ini, kadang saat kehamilan memang bisa muncul kista hormonal yang wajar sekali. Dengan ukuran di bawah 5 cm hal ini seharusnya tidak masalah, karena biasanya saat plasenta terbentuk sempurna di usia kehamilan 3 bulan maka kista akan menghilang. Dan ya alhamdulillah di usia kehamilan 13 minggu kemarin kista sudah tidak terdeteksi.

Alhamdulillah gunanya smartphone, momen-momen yang nggak akan terulang ini bisa kembali dilihat dan membuat bibir tersenyum bahagia. Apalagi harus laporan sama Pak Bos di Aceh sana, harus ada bukti otentiknya kan. Ngomong-ngomong soal smartphone, buatku sampai sekarang yang terpenting adalah memori internal dan kameranya. Terakhir aku mengganti smartphone yang baru 2 tahun usianya karena pengen upgrade ke memori internal 64 GB.

Dannnn ternyata di hape Huawei Nova 3i  ada 2 kekuatan super itu, selain kemampuan keren lain sih. Gila ga sih dia punya memori internal 128 GB? 2 kali lipatnya hape-ku sekarang. Ini sih mendukung banget untuk jualan, pepotoan selfi, dan.. ehem game-nya anakku. Ini gede banget asli.

Terus gaes, sejujurnya aku juga baru tahu soal AI ini, haha katro ya. Hape Huawei Nova 3i ini punya kamera yang diperkuat sistem AI. Jadi dia tuh sistem yang cerdas gils. Jadi dia bisa mendeteksi apakah itu gambar pemandangan lansekap, atau objek yang seharusnya dibuat bokeh karena makro. Dan ada teknologi facial recognition yang secara otomatis mengenali pemilik wajah yang terdeteksi di kamera. Kita nggak perlu atur banyak, mereka melakukan semua sendiri. Wow. Mau lebih kaget lagi ga. Kamera diaaa di belakang itu 16 MP + 2 MP daan di depaan 24 MP + 2 MP. Mamam tuh.

Huawei Nova 3i ini punya desain yang masyaAllah keren, ada 2 warna dan yang iris purple tu aku banget Ya Allah. Jangan mupeng ya 😀 Layarnya 6,3 inch enak untuk nunyuk-nunyuk tapi ga kegedean juga ampe bleber tangan harus kepake semua.

huawei_nova3i_color_gradient

Untuk yang suka main game pasti hape ini akan membuat mereka nggak bisa tidur saking lancarnya main game dengan teknologi GPU Turbo. Selain itu ada bebas notifikasi juga, well siap-siap istri ngambek karena bebas hambatan. Hahaha. Untung suamiku ga suka gaming.

Tulisan ini diikutsertakan dalam giveaway blognya Jiwo. Terima kasih Jiwo, aku jadi punya bahan seru untuk di-posting. 🙂 Semoga aku dapat hadiahnya juga. Kalau iya, hape sebelumnya akan kulungsurkan ke suami yang hapenya sudah mulai hang. Ehem, tetep yang baru buatku ya.

 

Salam, Bunichi