3 Nights at Semarang

Bismillahirrahmanirrahim

Bepergian membawa bayi ada di urutan bawah wishlist-ku. Well ya aku ngebayangin aja gimana rempongnya, hahaha. Anak rumahan begini ya. Tapi ada urusan tak terduga, di hari Selasa aku ditugasi ke Semarang untuk 4-5 Februari 2017. Bawa bayi 15 bulan untuk acara full day itu berarti harus bawa ART juga. Alhamdulillah konfirmasi ke ART, dia mau. Yeay.

Tapi, meninggalkan bayi hanya dengan ART bikin mikir juga hihi. Akhirnya aku bawa sertalah adikku. Langsung cari hotel dan tiket kereta. Aku sama sekali buta Semarang, dan aku nggak suka perjalanan dengan mobil ke sana. Jadi langsung aja pesan tiket kereta Kamandaka, kereta satu-satunya dari Purwokerto ke Semarang dengan jarak tempuh 5 jam kurang.

Mencoba pesan hotel dengan Travelok* tapi gagal, apalagi hotel di Jl. Majapahit yang muncul hanya 1 hotel (padahal aslinya banyak). Hmmm… Harus buru-buru pesan takut dapat hotel kejauhan (dan ternyata lokasinya masih tetap jauh, karena lokasi yang dituju pun nggak muncul di google map). Yoweslaaaaa… pake Pegipeg* akhirnya. Ga banyak cincong langsung booked.

Berhubung hotel yang kupilih untuk malam 1 dan 2 adalah hotel biasa, sayang ya… jalan-jalan bisa beberapa tahun sekali gitu hehe. Jadi untuk hotel di malam terakhir saat sudah bebas tugas aku cari hotel yang agak mendingan. Kenapa 3 malam? Harusnya sih bisa aja cuma 2 malam, tapi karena jadwal mepet sama jam keberangkatan terakhir kereta jadi diundur ke Senin pagi dini hari.

Di malam pertama kami menginap di Hotel Dalu Jl. Majapahit sementara malam ketiga kami memutuskan menginap di hotel Star Jl. MT Haryono. Pesan tiket untuk 4 orang supaya lebih longgar dan nyaman.

Kami berangkat hari Jumat 3 Februari jam 11 siang. Beberapa hari terakhir Ichi di-sounding secukupnya, aku kasi video Bob si Kereta, Thomas, dan Kereta Api. “Ichi mau ke Semarang, naik kereta? Tutututut gujes gujessss. Gimana? Tututut gujes gujess… ”

Aku memang khawatir, karena Ichi gampang takut. Meski sekarang udah mendingan gak kayak waktu masih kecil, bisa geger! Haha. Suara kereta kan besar ya, kalau dia takut, sepanjang perjalanan apa gak serem?

Tapi ketakutanku ternyata ga terjadi. Begitu masuk melewati pemeriksaan, Ichi antusias sekali lihat kereta. Wow… dia nunjuk-nunjuk kereta. Bahkan saat peluit menyala, dan kereta lain jalan dia masih antusias. Alhamdulillah. Hmm tahukah… sepanjang jalan dia ceria sekali, makan nggak berhenti, naik-turun koper saat sedikit bosan, dan tidur saat mengantuk. Tanpa minta jalan-jalan dan gendong. Good job, Boy! Proud of you! Menyanyi, dan menyapa tetangga kursi. Sampai dipuji Bude-bude kalau mas bayi anaknya anteng.

Pemandangan dari kereta

Setelah sampai di Stasiun Tawang, rencana awal kami dijemput oleh Hotel karena mereka punya layanan jemput juga. Tapi di perjalanan kami ditelepon karena ternyata mereka tidak bisa jemput, jadi kami akan diganti biaya taksi. Alhamdulillah.

Kamar kami kecil, tapi no problem lah. Kami dapat akses wifi. Bersebelahan dengan ACE Hardware (dan sekarang nyesal ga mampir). Sejalur dengan pempek Ny. Kamto, Richesee Factory, Lotte mart. Dengan lokasi yang dituju jaraknya memang agak jauh, jadi aku memutuskan download aplikasi gojek.

Pengalaman pertama order gojek sedikit lucu, karena salah pencet order, pak gojek ini datang padahal belum waktunya berangkat. Bayaran gojek rata-rata hanya 5000 saja, tapi atas dasar kemanusiaan biasanya kulebihkan.

Malamnya kami makan di Citraland, sibayi bahkan sempat minta ASI di taksi dan tertidur. Tapi begitu liat mall dia antusias dan makan lahap. Pulangnya ngantuk lagi. Untuk sarapan, Hotel Dalu punya menu sederhana yang enak. Aku suka deh pokoknya. Bahkan di sarapan kedua menunya lengkap sekali.

Malam kedua kami sudah capek dan ngantuk, jadilah order go-food Richessee ahay. Lemak-lemakkkk. Hari ahad siang aku ada acara, bayi dan kroco-kroco pindahan hotel. Untuk hotel dan wisata lebih lengkap kayaknya harus ada postingan lain, hihi. Tunggu yaaaa 🙂

Lunpia Express

Tekwan

Hari ahad itu menyenangkan. Wisata ke Masjid Agung Jawa Tengah dan penuh lampu kota Semarang (akan ada postingan berikutnya ya hehe) Special thanks to Mas Toffan dan Mba Ade yang ngajak kami ke sana. Hmmm. Indah! Lagi-lagi order go-food untuk beli oleh-oleh Pempek Ny. Kamto pesanan dan Lunpia Express pesanan (pesan crab tapi habis, huhu) karena waktu yang sempit. Gara-gara nunggu pesenan go-food gak datang-datang, temenku Laeli kelamaan nunggu di McD Java Supermall (kami janjian). Pas dia memutuskan ke lobi hotel, aku malah ke Mall beli Solaria karena belum makan malam. Tapi kami tetep ketemuan dong, bahkan ke rooftop segala. Jam 10 malam! Bersama 2 bayi, eim! Makasi kakak Kenzie..

Masjid Agung Jawa Tengah dari puncak Menara

Swimming Pool di Star Hotel Semarang

Paginya di hari terakhir kami bangun setengah 3, agak parno terlambat kereta tapi sebetulnya sih kalau cek ot jam 4.30 pun mungkin keburu banget. Tapi hikmahnya berangkat stasiun jam 4 ya shalat subuhnya di mushala Stasiun Tawang.

Perjalanan pulang sibayi cranky. Ngantuk. Minta ke bordes. Daripada bikin riuh dan jadi tontonan orang, aku bawa bayi ke bordes dan berdiri di sana bergetar hebat, goyang-goyang dan berisik. Tahu lah gimana bordes. Di depan toilet. Mana pintu ngebuka sendiri, pintu samping ituuu yang harusnya terkunci dengan baik >,< Aku takuut. Jadilah nyebrang ke gerbong belakang. Hey.. sepi.

AC adem, sepi, dan si bayi pun pulas. Sejak dari Slawi rewel, Bumiayu tidur sampai Purwokerto. Dan dia bangun dengan bahagia.

Pengalaman yang sangat menyenangkan >,<

Tips Bunichi Bepergian bersama Bayi Naik Kereta (ala-ala aja sih, ya)

  1. Prepare dengan baik masalah baju, jaket, makanan, mainan, buku, gendongan, dll. Ingat, tetep usahakan space jangan terlalu banyak, repot bawanya.
  2. Gimana kalau bayi nggak suka makanan hotel atau mall atau resto? Bunichi bawa oatmeal, dan buah-buahan. Jadi kalau sarapan si bayi lebih sering makan oatmeal buah.
  3. Mandinya gimana? Biasanya pakai bak. Sejujurnya yang mandiin bayi selalu rewang, tapi kalau pengalaman nginep di hotel sebelumnya, ya pakai shower mandinya. Kalau kemarin, pakai air wastafel diguyur pakai baskom (bawa baskom buat steril alat)
  4. ASIP gimana? Jam siang bayi datang ke klinik untuk ng-ASI, tapi dia terlalu asyik main jadi nggak mikir ng-ASI, lebih suka jegjegan. Tetap bawa BP meski nggak dipakai hehe. Sebaiknya sih mompa, terutama kalau masih banyak ASI-nya.
  5. Untuk kasus darurat, Buni save video mainan dan Bob si Kereta. Walaupun pas lagi pulang tuh ini nggak mempan, tapi pas berangkat sempat bikin dia agak anteng dibanding naik-turun kursi.
  6. Selalu siap ng-ASI dimanapun berada, baik di kereta maupun di taksi.
  7. Jangan lupa sounding ya. Pas pulang bayi lupa disounding, tapi juga karena ngantuk jadi nggak kayak berangkatnya.

    Kalau tips kalian apa? 

    Advertisements

    Karotenemia : Kulit Menguning karena Wortel? 

    Bismillah

    Yuhuy.. Hari yang panas hari ini. Tapi tetap bersyukur, setidaknya kami sehat semua. 

    Selasa minggu lalu tiba-tiba aku mengalami vomit, diare, dan demam. Sejak pagi, aku buru-buru kontak klinik karena mungkin nggak bisa praktek. Betul saja sampai siang makin parah. Masbayi yang kadang pengen mendekat diasuh ART dulu kecuali saat ng-asi dan bobo. Nrimo banget dia, pas lagi pengen dekat, mainan sendiri anteng, lalu ng-asi sebentar terus bobo siang. Malamnya juga. 

    Besoknya sudah mendingan, tapi tetep nggak berangkat praktek. Selang sehari, masbayi vomit ini kali pertama lihat si kecil itu vomit. Lumayan sering ya, sehari ada 5 x kalo ga salah.. Kadang lagi tidur, mancur kaya air mancur taman. Jika sedih rasanya. Badan subfebris, anget aja. Minta minum terus. Berbekal ilmu yang dipunya cuma kukasi obat antimuntah karena biasanya muntah ini merupakan gejala saja bukan diagnosis. 

    Hari kedua tambah gejala diare. Dia nggak sampe mules2 segala tapi langsung aja nge-sorrr.. Mulai males makan dan minum. Tapi siangnya aktif aja. Walaupun sudah beli oralit dan prebiotik, tapi karena Pipo Mimo nya khawatir akhirnya dibawa ke RS. Dikasih antidiare, antimuntah, antibiotik. Malemnya sambil tidur pun dia masih diare aja. Nggak rewel dan nggak bangun. Malah bikin cemas.

    Besoknya ke DSA langganan karena BAK udah kurang, makan minum berkurang, lemes. Ngeri banget kan.. Kalo dehidrasi. Walauuu nggak ada tanda dehidrasi berat. Akhirnya ketemu dr Bas our fav pediatrician.. Ganti antibiotik. 

    Yap. Pada dasarnya anak diare yang terpenting atasi dulu dehidrasi. Makanya penting untuk ngasih oralit, air apapun tajin, air sayur, air teh bahkan boleh. Justru dr Bas nggak ngebolehin minum air putih karena bikin kembung. Sepulang dari DSA masih diare. Tapi yang aku wajibin minum adalah zinc dan prebiotik selain air teh dll. 

    Zinc memang pilar diare yang penting banget (meski di hari ke berapa mas bayi mau muntah karena minum zinc kemungkinan refluks karena konsumsi obat terlalu lama). Biasanya meski sudah tidak diare zinc disarankan untuk tetap diminum untuk menghindari kekambuhan. 

    Di atas adalah 5 pilar diare menurut WHO, antibiotik diberikan sesuai anjuran (apabila memang benar-benar diperlukan). Oralit menurutku penting, meski pada kenyataannya mas bayi lebih suka minum yang lain ketimbang oralit.

    Hari keempat meski masih lemes, tapi dia sudah nggak diare, subfebris masih. Sejak hari senin Pipo Mimo sudah bilang kalau tangan dan kakinya kuning. Hari selasa baru aku bener-bener cek dan ngeh kalau yep sibayi kuning. 

    Agak syok yaa.. Secara dia baru sembuh mual muntah demam yang mana bikin parno. Setelah konsul via WA dengan pediatrician, dari fotonya mirip kaya warna kebanyakan wortel. Memang agak oranye gitu. Tapi tetep disarankan ke DSA untuk cek lebih lanjut. 

    Perjuangan cari DSA di akhir tahun. Pagi itu agak panik karena aku mulai parno .. Mikir diferensial diagnosis yang mungkin. Aku nyari ganti jaga untukku supaya jam 12 bisa langsung ke DSA pembimbingku dulu, karena dr. Bas gak praktek. Sudah dapat, pas nelpon RS ternyata beliau keluar kota. Akhirnya tetep jaga dan pulang jaga langsung bebenah dan nyomot bayi yang belum mandi karena ngejar antrian.

    Apotek yang dituju, DSA libur juga. Pindah RS berikutnya, poli tutup dan DSA yang dituju juga libur. Akhirnya ngejar ke yang masih praktek. Dr baru.

    Awalnya DSA yakin ini kuning karena makanan, karena di sklera putih nggak kuning/ ikterik. Tapi lihat perut juga kuning, DSA ragu dan saran ambil lab. Emaknya jadi melas. Cuma, demi memastikan akhirnya bayi diambil darah untuk cek bilirubin dan enzim hati. 

    Untungnya bayi masih dalam kondisi lemes, aku nahan sendirian saat diambil darah masih kuat. Nangisss kejer. Tapi setelah spuit dicabut dan dia digendong berhenti nangis. Dulu waktu koas sering lihat bayi bolak2 tusuk buat diinfus. Kasihan aja. Kalau anak sendiri apalagi, meskipun aku tahu susah buat ambil darah pada bayi dan aku ga boleh marah2 kalau ternyata itu kejadian. Alhamdulillah sekali ambil, selesai ambil darahnya. Setengah jam nunggu hasil agak takut hasilnya jelek. Hasil keluar, enzim hati naik sedikit tapi masih ok. Diagnosis yang aku simpulkan karena DSA dikonsul hasil lab aja, dan ngeresepin curcuma dan multivit : karotenemia. 

    Ternyata beberapa temen ada yang mengalami hal serupa. Dan ehem aku pun pernah dapat pasien yang demikian. Dan.. Tentang karotenemia ini pun sudah pernah kubaca di buku MPASI lalu. Tapi berhubung ada riwayat GEA (Gastroenteritis Akut) jadi pikiran kemana-mana. 

    Jadi apa sih Karotenemia? Itu adalah kelebihan betakaroten dalam darah. Kenapa? Karena terlalu banyak konsumsi makanan tinggi betakaroten. Siapa tersangkanya? Biasanya buah yang berwarna oranye dan sayur yang berwarna hijau pekat. Meski, beberapa juga di luar syarat itu. 

    Masbayi sempet gtm nggak mau makan nasi, dan protein hewani. Jadi hampir tiap hari makan puding jagung telur susu, kadang tambah oatmeal. Sayuran kesukaannya buncis dan wortell. Buah yang liat aja udah minta ya.. Pepaya. Padahal wortel udah kubatasi, tapi aku lupa makanan yang lainnya. So.. Itulah yang terjadi. 

    Sekarang dia lagi puasa wortel dan mengurangi betakaroten. Warna kuning khas karotenemia adalah warna kuning oranye di kulit. Sklera atau selaput putih mata tidak ikut kuning, ini yang paling penting. Dan nantinya warna itu akan hilang dengan stop konsumsi makanan tinggi betakaroten. Meski agak lama ya hilangnya. Hal ini tidak berbahaya. 

    Ada yang pernah ngalami anak diare? Atau karotenemia? Share yaa.. 

    Staycation* di Grand Kanaya Baturraden

    Bismillahirrahmanirrahim

    post-1

    Sebagai anak rumahan, kami jarang banget pelesir. Bahkan yang dekat sekalipun. Bahkan yang kalau orang jauh-jauh rela datang, kami yang sepelemparan batu pun jarang. Nah, ayah memutuskan mudik karena akan bepergian jauh dan mungkin belum punya agenda untuk pulang sampai akhir tahun. Jadi ayah memutuskan pulang di awal bulan.

    Kami berencana berlibur. Karena ayah yang mudik dari ujung Sumatra itu cuma punya 2 malam untuk bersama dengan bunda dan Ichi. Tidak jauh, hanya ke dataran tinggi di kaki gunung Slamet yang jaraknya hanya kurang lebih 30 menit.

    Sabtu, 5 Nov 2016.

    Semalam ayah sampai. Ichi yang sudah tidur, kebangun sambil senyum malu. Gitu terus, sampai tidur lagi. Ayah masuk angin. Akumulasi kehujanan belakangan ini, bangun kepagian karena harus ke bandara, dan sampe rumah dikasih kopi hehe. Vomit, mules. Muka udah lemes aja. “Yah, kalau gini nggak usah aja besok.” “Jangan dong, udah dibayar.” Jadi buni kerokin aja sama kasih teh pahit. Katanya ini pertama kalinya dikerokin, mengaduh sampai gaduh. Idih ayah, waktu hamil Ichi buni gini juga kalii ampe kirain mau brojol. Ampe pasien lagi periksa divomitin juga. Bolak-balik moncor atas bawah, taunya sembuhnya abis dikerokin (hadeh). Udah, abis kerokan sembuh deh.

    Sepanjang hari buni kerja. Ayah benerin pompa sumur. Bunda kondangan ke tempat besties (My Dije Bude Sude) yang selama anggota Chortle nikah selalu hadiroh, maaf banget ya De kami nggak datang lengkap, nggak datang bareng, nggak datang akad. Maafffin dulu padahal sampe bela-belain datang ke nikahanku dan nolak kerjaan keluar kota.

    Sorenya kami sekeluarga berangkat ke Baturraden. Mampir dulu ke Pringsewu makan bareng. Seneng banget si Ichi mainan sedotan dan disuapin kentang. Selesai makan, check in di Grand Kanaya Baturraden, hotel baru yang ngehits banget karena pool-nya. Oya kami nggak pake aplikasi, langsung nelpon dan transfer. Untuk biaya menginap per malam 300K weekday, 400K weekend.

    Setelah ganti pospak, ganti baju (sibayi risih pake lengan panjang) kami nonton teve dan kruntelan. Seneng banget si kecil itu liat teve yang guedee hihi. Udah selesai, nagih ng-asi dan langsung tepar.

    Ahad, 6 November 2016

    post-4

    post-2

    Paginya bayi bangun seperti biasa, jam 6. Jam 7 udah dimandiin padahal biasanya mandi paling cepet jam 8 hihi. Mandi pake shower hangat, udah asal cepet dan nggak pake keramas takut kedinginan. Sebenernya cuaca nggak dingin amat sih. Kamar hotel emang nggak pakai ac karena di dataran tinggi.

    post-5

    Medang disit ben gak edy*n

    7.30 kami sudah siap breakfast. Menu : nasi goreng, nasi + lauk, omelet, bubur manis, susu murni, teh, kopi, buah, roti tawar. Karena lokasi breakfast di samping pool, kami sambil nonton yang pada berenang. Ichi nggak mau kalah, ngiterin tuh kolam tapi nggak pake berenang. Foto-foto aja hhihi.

    Niatnya sih mau langsung berangkat ke lokawisata karena ayahnya pengen mengenang masa pacaran (halal) dulu. Tapi Ichi ngantuk akhirnya bobo dulu. Sekalian check out kami nitip koper dan dengan pede jalan menuju lokawisata. Sekadar bayangan, jalanan sepanjang hotel – lokawisata itu sekitar 30 derajat kalau nggak salah kira ya. Jadi ya kalo paham pasti ngojek atau naik angkot dari terminal (kami nggak bawa mobil) haha.

    post-3

    Ayah gendong bayi belasan kilo, bunda bawa ransel ama lemak. Kaki udah kayak digandulin ama gajah. Berkali-kali berhenti buat minum. Angkot udah nggak mau berhenti, angkot aja susah mau ngerem-nya, gimana kita… Jadi ya sampe lokawisata bercucur keringat dan berkonde semua betisnya. Di sana langsung nongkrongin tukang pecel ama mendoan. Yang sampe mendung menggelayut nggak juga dikirim, akhirnya dibatalin dan memutuskan pulang daripada bayi keujanan repot. (Ini sebenernya pengen dokumentasiin tapi apa daya, ngeluarin hape pun tangan lunglai rasanya *lebay emang)

    Turun naik angkot. Pesen taksi buat pulang. Mampir beli makanan. Alhamdulillah sampe rumah juga. Sibayi nempel sama ayahnya, sampe waktunya ayah berangkat lagi ke rantau.

    See u soon Pap. Jalan-jalan lagi yaaa.

    Plus Minus Hotel Grand Kanaya Baturraden

    1. Dari gerbang ke lobi jauh ya. Kalau jalan lumayan, ga ada transport lain.
    2. Gak ada lift, jadi kalau dapet lantai 3 nggak usah bolak-balik turun.
    3. Gak ada AC dan kulkas. Mungkin karena dataran tinggi ya, meski kemaren nggak dingin-dingin amat, kulkas masih ok sih kalau ada 😀
    4. Breakfast kurang yummy kalau dibandingkan hotel yang tarifnya serupa.
    5. Pemandangan dari kolam renang baguss. Kalau dari kamar sih cuma kelihatan bagian belakang hotel yang lagi dibangun.
    6. Ada taman bermain, ayunan dan jungkat-jungkit. Mayaan buat main sama anak.
    7. Pool-nya, yang jelas, ok banget. Bisa dipakai sama pengunjung luar hotel juga.
    8. Kamarnya bagus bersih rapi. Kamar mandi jugak. Kelengkapan cuma handuk 2 biji, keset, sabun sampo, air mineral, pemanas air, teh kopi gula. Sandal sebenernya butuh banget itu.. dingiiin.

    *Artinya liburan tetapi tinggal di rumah atau kita berlibur ke tempat yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal. Bisa itu dilakukan di dalam kota atau sedikit ke pinggiran. (Nationalgeographic.co.id)

    Tips staycation bawa bayi 1 tahun.

    1. Bawa baju ganti, celana, pospak, kaos kaki, sandal, sabun + sampo (2 in 1), minyak telon, jajan, mainan, gendongan, tisu basah, tisu kering. Handuk sih pakai yang di hotel aja.
    2. Briefing dulu sebelum bepergian
    3. Rencanakan akan makan apa bayi saat bepergian dan stay di hotel
    4. Siap-siap kalau si anak minta titah.

    Ada yang mau menambahkan?

    Ada yang punya pengalaman serupa?

    Ichi is Turning 1

    Bismillahirrahmanirrahim

    ich

    18 Oktober 2016

    Wow. 1 tahun yang lalu aku baru merasakan mulesnya orang mau lahiran. Yang membayangkannya pun nggak ngerti bagaimana. Kata orang kayak mau ke belakang, kayak mau menstruasi. Yang jelas aku nggak ada bayangan. Semua ibu sepakat, rasanya nikmat! Meski demikian teteep aja pengen lagi, dan yang belum ngerasain mules (misal SC elektif) pun tetepp aja pengen lahiran normal untuk kelahiran berikutnya. Heran kan?

    Nggak terasa, setelah melewati rasanya punya bayi merah, lalu bayi yang mulai cerewet, mulai copycat semua yang orang lakuin. Mulai komunikatif. Semua terasa makin lucu. Meski kadang cape dan kesel, liat muka polosnya berasa gemes dan pengen ngakak lagi.

    Pagi-pagi keluarga sudah ngucapin selamat. Dia sih nggak tahu kalau hari itu dia sudah 1 tahun. Memang sudah niat pengen bikin nasi kuning aja untuk bagi-bagi tetangga aja. Kalo kue tart takut berakhir jadi mumi di kulkas karena kami emang kurang hobi krim-krim manis. Tapi berhubung buni berangkat kerja, jadi art baru bisa masak sore hari.

    Magrib naskun baru jadi dan dikirim ke tetangga. Mas bayi bangun tidur langsung diajak duduk untuk baca doa bersama. Dia nangis dong. Kaget mungkin pada baca doa bareng-bareng. Setelah selesai nangis, dia duduk di belakang sepiring naskun untuk kepungan dan piringnya sendiri. Mulai cowel-cowel naskun, dicicip, dikasih ke Mimo.

    Yang lain makan bareng sepiring, mas bayi makan disuapin pake tangan. Lahap alhamdulillah.

    Pas udah kelar, anaknya ART datang buat ngejemput. Eh malah bawa bola baru dan 2 kado dari cucu-cucu ART. Hadehh.. pake ngerepotin kan. Dikasih mobil-mobilan dan kereta-keretaan. Dan berakhir nangis karena dia takut semua kado itu. *lap keringet

    Yang jelas Nak, doa bunichi dan ayachi selalu yang terbaik untukmu. Jadi anak penyejuk mata dan hati kami. Dan doa-doa baik yang setiap orangtua selalu ucap untuk anaknya.

    Kiss. ***

    Terima Kasih Car Seat dan Tragedi Sapu

    Bismillahirrahmanirrahim

    Car seat. Beberapa ibu pasti memasukkan wish list ini ke persiapan melahirkan. So do I.  Mupeng lah sama car seat dan stroller. Tapi untung diingatkan kalau barang itu tidak akan lama dipakai. Padahal emak baru ini udah siap menghamburkan uang yang tak seberapa. Penyewaan barang bayi menolongku!

    Awalnya pajang status BBM : Pinjem bouncer di mana yaa?

    << Bouncer ini sengaja ga beli, siapa tau ada yang kasih tapi ternyata dikasi pas mas bayi sudah gede hihi.

    Beberapa teman menjawab Rafa Rental solusinya. Tapi berhubung pengen pinjem bouncer yang ala-ala arteiisss ternyata sedang out lama ga balik-balik akhirnya pake bouncer gendong dewek alias gendong aja sendiri.  Jadi beberapa kali di kemudian hari aku lebih suka pinjem daripada beli barang dan mainan.

    Urutan pinjeman untuk mas bayi: stroller, jumperoo, pagar mainan, evamat, push walker. Alhamdulillah semua tepat guna dan tepat waktu. Biasanya kalau mainannya Buni (panggilanku sendiri untukku) angkut ke mobil, mas bayi ngerang minta dibalikin. Begitu juga kalau mainannya dipakai teman sebayanya, dia akan ngejar dan berminat gaplok si pemakai.

    Balik ke judul. Jadi aku pengen lebih mandiri dari sebelumnya, kaliii, kali aja suatu saat pindah ke Luar Negeri kan siapa tahu udah bisa tanpa bantuan. Jadi pinjemlah car seat ini buat bepergian berdua. Selama ini kalau belanja mas bayi ditinggal aja di rumah. Gak ada yang bisa direpotin mangku bayi buat pergi. Pilihan gendong bayi naik motor sementara blacklist karena ga ada ijin resmi dari tetua.

    Untungnya dulu ga kebawa nafsu beli car seat karena nggak semua anak nurut duduk di sana dengan anteng. Ketar-ketir juga duit 70 ribu melayang percuma. Alhamdulillah pas dicoba duduk, dia antusias pengen segera jalanin mobil. Meski mukanya begitu nemplok di car seat itu muka nglesa banget, bersandar di belakang dan anteeeng banget.

    Dia duduk dengan pemandangan ibunya lewat spion tengah. Percobaan pertama ajak pergi ke gramedia, tante-nya duduk di sebelahnya. Yang mana menurutnya malah gangguin karena si Tante pengennya bersandar di paha montoknya. Alhamdulillah lancar. Tes kedua dijalankan.

    Hari ini ada acara AIMI. Sebagai anak baru aku pengen banget datang. Hari ahad adalah hari tanpa ART. Pipo Mimo – Kakek Nenek adalah orang yang jarang banget mau jalan, karena sepanjang weekday kerja. Jadi aku berangkat berdua bayi. Yang aku takutkan kalau di jalan dia reang (yang mana artinya adalah ribut) secara dulu-dulu dia suka begitu. Alhamdulillah lancar mulus, emaknya yang malah tegang di depan.

    Eh tragedi belom diceritain. Jadi bayi ini adalah fans berat sapu. Setiap ada sapu dia terobsesi. Tadi dia minta main sapu. Aku cenderung ngebolehin barang yang dia pengen pegang. Jadi aku jagain aja. Eh dia bikin gerakan mendadak dan tiba-tiba nangis sampe ga ada suara lamaa ga bersuara-suara. Aku panik. Kubawa dia ke luar main semprotan. Berhenti tapi nangis lagi. Pipo langsung agak garang, ajak gendong bayi, tapi kuajak lagi dengan dalih mimik. Biasanya dia emang suka kalo nangis gini terus mimik, secara dari tadi kulihat emang dia ngantuk. Sambil mimik kulihatin apa yang bikin dia nangis kok nggak kelihatan apa-apa. Ternyata pas bangun matanya merah 😦 Seharian ini moodnya ga bagus.

    Tapi alhamdulillah di acara AIMI dia oke aja. Begitu sampe, kusuapin pisang sama roti tawar karena jam jajan dia ketimpa bobo. Pas kukasih maksi jadi males deh. Jajan sore kutiadakan, akhirnya malem makan lahap banget pake oseng buncis-tahu-ayam-wortel-telor puyuh.

    Semakin siang di lokasi, bayi yang bolak-balik minta main keran air akhirnya bosen dan nangis. Jadilah aku pamitan dulu sebelum mendung menggayut berubah menjadi hujan deras. Alhamdulillah bayi mau dan nurut dan senang duduk sendirian di car seat-nya, lalu dia tidur di ayun mobil yang bergoyang.

    Sekian. Salam dari kopi, kacang goreng, dan minyak angin.

    PS : Mohon maaf bagi para pengurus AIMI Purwokerto yang tadi mau digigit bayi karena menyapa dia yang sedang kesal kebosenan, dia mah gitu.. >,<

    Pertama Kali Pergi Berdua Krucil

    Bismillahirrahmanirrahim..

    Selama ini Ichi hanya main seputaran rumah saja. Warung, rumah tetangga. Haha. Paling jauh ke rumah nenek-neneknya. Hadeh. Emang emaknya anak rumahan, udah gitu mau main ke supermarket aja nggak boleh sama Pipo-Mimo- nya karena takut ketularan penyakit macem-macem. Maklum sampe umur hampir setahun udah 3 kali kena batpil.

    Pada akhirnya emaknya udah ngebet bawa si anak ke supermarket, akhirnya dapat ijin. Eh malah dia seneng banget naik troli dan nggak mau berhenti. Malah dia dibeliin labu kabocha nggak boleh jauh-jauh, di samping dia terus sampe mau ditimbang nggak boleh. Nyapa mbak-mbak SPG. Nyapa kakak cewek yang main boneka, diajakin main.

    Padahal, padahal yaa.. dia dulu tuh takut banget ketemu orang baru dan keramaian.

    Ada metode namanya Briefing, ada di buku bunda Okina Fitriani. Seorang anak, kadang nggak terprediksi akan cocok dengan suatu tempat atau nggak. Betul nggak. Dia tahu-tahu diajak ke rumah mbah-nya di mana di sana ada speaker keras, ada orang berseliweran yang dia nggak kenal tapi selalu pengen nyapa. Alhasil dia berontak, dan bener-bener parahnya nggak mau sama siapa-siapa kecuali sama ibunya dan tidur karena capek aja. Kejer.

    Briefing ini adalah cara kita untuk membantu si anak supaya dia menyiapkan dirinya untuk menghadapi sesuatu yang baru ini. Kita harus ngasih tahu anak, kalau kita mau ajak dia ke mana, mau ngapain, dengan siapa, nggak boleh ngapain.

    Temen akrab pulang dari Jakarta dan ngajakin ketemuan di Foodcourt. Bayinya 5 bulan, aku belum pernah ketemuan lagi sejak dia lahiran. Otomatis pengen banget ikutan nongki. Sehari sebelumnya sudah sounding ke Ichi kalau akan dibawa ke foodcourt, ketemu sama temen bunda, Aisyah, Luna. Di sana mau makan. Nggak rewel ya. Blabla.

    Bawa bayi itu persiapannya lumayan banyak. Pospak, baju ganti (penting!) kalau perlu baju ganti emaknya haha, tisu kering, tisu basah, cemilan, mainan, makan besar kalau lewat jam makan, gendongan. Setelah makan pagi, bobo, dan mandi akhirnya kami siap. Karena belum ada car seat, nggak bisa berangkat berdua aja tanpa bantuan taksi. Manggil taksi gak nongol juga sampe anaknya bosen.

    Akhirnya naik taksi. Khawatir juga sih di dalam taksi bakal rewel. Tapi udah di-briefing. Kami duduk di belakang. Ichi nggak banyak tingkah, tapi nggak rewel dan mulai menikmati di akhir. Setelah turun, kami menuju foodcourt, dan amazingly Ichi enjoy. Dia ketawa-tawa, godain mas-mas waitress, maemnya mau, pengen nyolek (atau nyuwek) adek-adek ceweknya, blabla. Sampai negara es menyerang.

    Ichi suka banget sama sedotan dan wadah minum. Kebetulan aku pesen es teh kemasan. Dia suka banget dan harus banget pegang. Pas aku meleng ambil makan, dia numpahin teh dan es es nya ke badan dia. Kejer, tegang, nangis. Aku angkat dari high cair, tapi kakinya ngejang, agak susah juga apalagi dia nangis. Langsung buka celana, berdiriin di bangku, dan dia… godain mas-mas lagi >,< haha. Inilah gunanya bawa baju ganti! Sempet saltum karena salah bawa baju tanpa lengan, aww. Pulangnya naik becak, karena aku pengen kasi pengalaman baru ke bayi gede ini. Dia nggak interest naik becaknya, dia suka lihat kendaraan, tapi tetep ke mainan yang dia baru beli (dibeliin emaknya karena nggak mau beranjak dari tempat mainan – kalau udah gede, kita bisa kasih pengertian ya kalau itu bukan tujuan dia ke sana).

    Nah, itu pengalaman kami yang seru. Selanjutnya kami pergi ke tempat lain, berdua saja. Mungkin bagi sebagian mommy itu biasa, haha tapi buatku ini pengalaman baru. Dan akan terus dilakukan.

     

    Lebaran Pertama Sibayi

    Bismillahirrahmanirrahim

    Akhirnya bisa colongan di klinik ni posting biar gak buluk amat. Mau cerita tentang lebaran pertama sibayi. Mulai dari kebingungan apakah emaknya bisa shalat sementara ada bayi 8 bulan yang masih histeris sama orang banyak asing. Berserah aja akhirnya. Kalau ada stroller mungkin bisa jadi pilihan ya, karena aku rencana nyewa tapi nggak ada yang ready jadi nggak pakai.

    Pagi jam 5 sibayi udah kumandiin. Infonya sih jam 7 mulainya dan ternyata salah pemirsa. Jam setengah 7! Dan kami sampai parkiran di saat shalat kurang 5 menit. Lelarian, buru-buru gelar tiker dan dudukin sibayi di depan samping. Dikasih mainan, eh ternyata dia milih mainan tas emaknya. Alhamdulillah sampai selesai dia nggak ngerengek sama sekali.

    Pas dengerin khotbah sambil dikasih cemilan, pas mau selesai baru deh dia ngerasa ngantuk dan makin lapar. Siangnya kami mudik ke rumah suami. Drama pun dimulai. Di rumah mbahnya lagi ada acara kumpul keluarga besar. Sibayi yang nggak familiar sama mbahnya, sama rumahnya, denger suara speaker, ketemu orang baru yang menyapa dia, langsung kejer dan nggak mau lepas dari emaknya.

    Yang biasanya kalau emaknya ngapa-ngapain dia mau digendong dan mainan sama ayahnya, ini sama sekali. Bahkan ke wc, mandi, shalat, harus ngikut. Malamnya nangis lagi sampai keluar keringet buanyak, nafasnya pendek-pendek, mingsek-mingsek kesian banget. Tidurnya nggak nyenyak karena panas, maklum daerah pantai.

    Besoknya udah bisa senyum-senyum, mandi mood oke. Begitu ditinggal emaknya mandi, nangis lagi. Bahkan denger suara motor, suara kembang api, speaker masjid, dia jadi histeris (dan ini kebawa sampai beberapa hari kemudian). Karena emaknya gak kuat akhirnya minta pulang haha. Di jalan kalau mobil jalan, bayi enak bobo. Begitu macet, dan itu panjaaang dan lama. Bayi bangun, mainan, makan, lama-lama bosen dan mau mulai rewel. Alhamdulillah udah mau kelar macetnya, mobil jalan dia bobo lagi. Entahlah, dia kalo posisi gak enak nggak mau ngasi.

    Sampai di rumah, ketemu lagi sama Mimo Piponya tapi masih gampang banget nangis. Bobo kecapekan. Besoknya baru kembali seperti sedia kala. Haha bayii bayii…

    Ada cerita menarik tentang mudik?

    Mohon maaf lahir batin ya teman.

    Atopi

    Bismillahirrahmanirrahim

    Dulu waktu si bayi masih baru lahir, di wajah suka muncul bercak merah setelah mandi. Bercak itu hilang kalau udah beberapa saat selesai sesi mandi. Lama-lama bercaknya juga muncul di badan. Aku curiga anak ini alergi dingin. Lapor sama DSA-nya cuma disuruh mandi anget dan buruan dikeringin (itu si iya dok, 😀 ya emang begitulah harusnya kan)

    Belakangan, hampir bebarengan fenomena equinox yang sempet heboh itu, si bayi susah tidur. Apalagi waktu AC nggak kunyalain (karena bayi lagi pilek), dan ayah-nya ikut tidur sekasur. Sampai harus digendong dan dikipas terus pindah kamar.

    Akhirnya ketahuan juga karena muncul semacam plak kasar berpapul di sekujur punggung, dada, belakang telinga, lengan. Tadinya kupikir biang keringat, tapi merahnya nyala banget dan cuma muncul kalo bayi keringetan banyak. Udah stop bedak yang kadang kupakein di punggung, telon juga stop cuma taro di udel doang. (FYI biang keringat banyak terjadi pada bayi karena kelenjarnya belum sempurna, jadi memang ga boleh dikasi apa-apa macam bedak atau krim).

    Aku menduga si bayi punya atopi alias alergi. Walaupun emak bapaknya bukan atopi, Mimo alias utinya punya alergi obat dan seafood. Hiks.. jadilah sharing sama beberapa sejawat yang anaknya atopi juga. Diputuskanlah ganti toiletriesnya. Sebelum yang parah ini, sabun udah ganti Switz** hipoalergenic yang baunya ga wangi itu. Dan kuganti Pige** hipoalergenic yang wanginya enak banget (aku lanjut karena tanda alergi ga muncul). Airnya aku kasi lactac*d baby (sempat ga pake lagi karena jarang nongol merah-merahnya). Jadi sabun sampo bedak dll yang bejibun itu akhirnya ga kepake dulu.

    Karena parah banget, niatnya mau ke Spesialis KK. Soalnya kalo malem, kupingnya digarukin mulu ampe lecet, mukanya juga, hobi kucek-kucek mata. Apalagi pas sekalinya dikasi bedak dingin, pas itu masih basah belum kering langsung pake baju lagi… merahhh banget sepunggung-dada. Hiks. Jadi curiganya ya dia nggak bisa basah keringat. Abis mandi juga muncul merah. Kulitnya jadi kasar bersisik kering. Hiiiiks lagi.

    Sekarang bajunya nggak 2 lapis, kalo ga kaos dalam aja ya kaos luar aja. Sering diganti juga. AC on. Kipas ready. Sabun dan samponya ganti sebam*d dan lotionnya pakai must*la stelatopia emollient cream yang belinya harus online. Alhamdulillah sekarang ga separah dulu, semoga enggak ya. Oya, belum ke Sp.KK karena kemungkinan dapetnya kortikosteroid dan anti histamin aja sih.. namanya anak atopi ya yang penting penyebabnya. Dan si krim must*la ini merupakan line untuk atopi, dari Prancis, klaimnya bisa menurunkan penggunaan kortikosteroid si obat dewa itu.

    Nanti aja curhat sama DSA-nya kalau jadwal imunisasi. Sementara perawatan kulitnya aja, sama yang penting bobo-nya nggak susah kayak kemaren-kemaren. Ada yang punya pengalaman yang sama? Atau malah juga atopi/alergi?

     

     

    Pejuang ASI

    Bismillahirrahmanirrahim

    Sungguuh kangennya nulis di sini. Setelah sebelum melahirkan bikin bosen temen karena selalu posting masakan, lalu bikin bosen dengan postingan hamil dan melahirkan, setelahnya akan bikin bosen postingan tentang anak. Mau gimana lagi, 100% hidupku sekarang pasti tentang mengurus anak. Nggak bisa sering praktek masak macem-macem, jalan-jalan seru (ini si emang aslinya arum-anak rumahan), nggak bisa posting seru deh.. pasti ngebosenin. Maafkan ya..

    Lihat aja isi sd card smartphone, dulu masih ada foto narsis diri sendiri, sekarang semua isinya baby bunny. Dulu heran sama yang tiap hari ganti PP BBM sekali sehari selalu pajang foto anak bayi dengan pose dan baju yang beda, sekarang aku mengerti… karena nggak ada yang lain di hape. Sungguh, nggak ada ide lain.

    Tentang pejuang ASI, aku udah dari sebelum melahirkan sangat kukuh berniat menjadi pejuang ASIX. Tapi nyatanya, karena sesuatu hal, bayi kemasukan sufor. Hal ini sama terjadi pada beberapa teman, bahkan yang juga konselor laktasi. Setiap ibu menginginkan yang terbaik bagi mereka, bagi anak-anak orang lain juga. ASI paling bagus. Tapi nyatanya kadang tidak semulus itu.

    Meski sempat baby blues, terutama karena judge orang lain yang merasa mampu memberi ASIX pada bayinya… berniat menyebarkan virus #mamabahagiaasinyabanyak #pejuangasix supaya tidak ada yang memberikan sufor pada anak mereka, tapi malah jatuhnya membuat asi para ibu baru yang asinya nggak deras makin macet.

    Dukungan suami yang bilang, “Udahlah, anak asi dan sufor sama cerdasnya, nih ada bukunya.”

    Manajemen penggunaan sufor seminimal mungkin, lalu saat anak bayi minum sufor aku pumping untuk mulai persiapan ASIP. Alhamdulillah sekitar 3 bulan sudah lepas sufor. Ibu yang tadinya menyarankan sufor + asi saja supaya lebih santai, karena dulu asi beliau juga nggak deras, menjadi bangga cucunya sekarang hanya asi dan nggak butuh beli sufor.

    Selain itu, ambil jadwal praktek minimal, nggak bisa lama kalau keluar rumah, dll adalah salah satu yang kuanggap perjuangan ASI. Pernah baca kalau bayi menyusu langsung hasilnya pasti beda dengan perah. Dan ASI perah masing-masing ibu berbeda, ada yang bisa banyak dalam beberapa menit saja, ada yang empot-empotan.

    Yang jelas, bagi para mamasui… bahagialah, karena hanya itu jalan untuk membesarkan anak yang bahagia. Mau seperti apapun, asi, sufor, campur, fc, spoonfeeding, dll… kalian tetap seorang ibu yang melahirkan dan membesarkan anak dengan bahagia. Betul kan?

    Oya, hari ini setengah judge datang ke aku karena jual botol susu. Botol susu si bayi kelebihan, daripada mubazir aku jual. Tapi malah dibilang, “pakai botol?” sama seperti waktu jual sufor yang nggak kepake, “pake sufor?”. Memang aku nggak menganjurkan pakai botol, pakai sufor pun engga yaa.. itu terpaksa, meski beberapa kawan konselor laktasi memakainya dengan alasan ketidakmampuan sumber daya untuk memberikan dengan selain botol. Dibilang nanti ga pinter nyedot sedotan, ga pinter minum gelas, soalnya pasti balik ke botol. Senyumin aja, dan bilang si anak ini nerimo-an, hehe.. pakai sendok dia mau, pakai botol dia mau. Tapi tetep, yang terbaik bukan dengan botol, dan bukan dengan nyinyir 😀 Salam ^^

    KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi)

    Bismillahirrahmanirrahim

    Nyuntik anak orang, atau istri orang sih pernah. Dan setelahnya, kita nggak pernah tahu apa yang terjadi pada mereka.

    Dan, apa yang terjadi pada bocah-bocah setelah diimunisasi? Si bayi sudah 4 kali imunisasi. Tiap bulan! Dan imunisasi terakhir bikin emaknya aras-arasen alias males untuk imunisasi berikutnya, hihi.

    Makin ke sini tampaknya bayi sudah makin ngerti kalau imunisasi itu sakit! Di imunisasi DPT (Pentavalen) pertama, bayi belum terlalu parah ewelnya. Cuma memang lesu sehari semalam. Demam di malamnya (karena nggak pakai yang minimal demam) ngeruntuh dan malaise. Demam sampai 38,5 kalau nggak salah, masuk paracetamol drop sekali besokannya udah bisa cengar-cengir lagi.

    Imunisasi PCV (tambahan) pas disuntik dia nggak nangis, 1 detik setelah dicabut injeksinya baru deh dia ngeh kalau harus nangis. Tapi langsung gendong, berhenti seketika. Malemnya agak rewel, minta gendong, nangisnya lebih keras dari biasanya, dan subfebris aja nggak sampai minum paracetamol.

    Akhirnya jadwal DPT 2 tiba, hiks.. ga suka deh sama DPT haha. Vaksin yang minimal panas (yang harganya lebih mahal ituu) emang lagi langka, katanya registrasinya yang sedang bermasalah. Jadi, lanjut pentabio seperti biasa. Buset deh. Ini anak jadi nggak mau nyusu, minta gendong sepanjang hari bahkan tidur nggak mau ditaro, ngerintih, dan.. pas siang abis diimunisasi itu tangisan terkeras sepanjang sejarah hidupnya. Mimo-neneknya sampai gemeteran sekujur tubuh. Bahkan yang biasanya digendong langsung anteng, dia nggak mau berhenti, seakan batas maksimal suaranya dia pake.

    Akhirnya aku masukin paracetamol buat anti nyeri, kali aja dia ngerasa sakit banget.. dan kayaknya emang bekas injeksi dia bengkak dikit. Setelah digendong sambil naik-turun macam scotjump gitu.. akhirnya dia tidur di gendonganku. Dan selama 3 hari dia nggak mau senyum lebar main seperti biasa, dan nyusu nya pun harus nunggu dia setengah sadar, atau disendokin itu juga dikit doang. Selama itu pula aku migrain. Bolak-balik minta maaf ke bayi dan baru bisa nempelin kantong air dingin ke paha bekas injeksi. Dan di hari ke empat dia kembali mau teriak dan ketawa riang, hepiii!

    Sekian dan terima kasih. Bulan depan injeksi lagi.. arrrr.