Family Portrait Minim Budget

SONY DSC

Assalamu’alaikum

Heylo ūüôā Siapa yang suka baper lihat foto keluarga temen lain? Yang kece-kece itu pastinya.. hihi. Made in studio foto yang kece. Keluarga¬†Long Distance ini, emaknya juga kepengen punya foto keluarga yang agak-agak kece gitu kan. Nah mumpung si ayah lagi pulang selama 2 malam (catet, hahaha.. kami ga punya banyak waktu bareng tiap kali ayah berkesempatan pulang) jadi kami–emak red–pengen foto keluarga, titik harus jadi.

Sebetulnya hari Ahad itu Buni (emak,-red) harusnya praktek, tapi ngepasi ART ga bisa datang jadi minta ijin gantikan dulu alhamdulillah ada pengganti. Dan kelupaan harusnya memang jangan praktek karena ayah ada di rumah, dan ada acara kece AIMI Purwokerto juga.

17880209_10208940373935367_514338312835402360_o

Kami datang ke lokasi agak telat, lokasi di Merah Putih Resto Dekat Pasar Wage. Jam 10 bayi baru bangun, langsung mandiin dan bawa perlengkapan sedapatnya. Alhamdulillah lokasi dekat, gak sampai 10 menit sampek. Karena niatnya pulangnya tu mau cari spot foto yang ok, dan kalau gak dapat ya ke studio foto yang murah saja. Jadi kami bawa kamera si Sony Alpha A200 dan tripod yang kebetulan lagi gak sembunyi.

Gak kepikiran mau foto di MP, lupa kalau lokasinya cakep dan instagramable sampai Mimom menawarkan untuk foto keluarga (love u deh Mom >,<). Dengan kamera sakti Mimom, kami dijepret beberapa pose. Eits ini mau numpang foto apa ikut acara? Hihi. soalnya ruangan yang kami pesan udah full dengan peserta dan konselor yang kece-kece, jadi sambil momong anak kami ngungsi ples pepotoan.

Setelah itu, Buni juga ambil kamera jadul dan tripod untuk jejepretan di tempat-tempat strate(kh)is yang penting ada foto bertiga dalam fokus yang baik haha. Sampai si ayah kecapekan sesi foto kami hentikan :p

Yeay! Jadi kami punya foto (mayan) bagus dengan budget hanya es teh, es sarang burung, dan french fries. Ga jadi keluar uang dan waktu lebih lama.

Itulah salah satu tips Foto Keluarga Minim Budget kami, ada yang pernah melakukannya juga? Di mana lokasi favorit keluarga kalian? Share ya ūüôā

Bhay >,< See you latte !

Fotonya sih banyak, tapi yang bisa kami share cuma ini ya :*

This slideshow requires JavaScript.

Karotenemia : Kulit Menguning karena Wortel? 

Bismillah

Yuhuy.. Hari yang panas hari ini. Tapi tetap bersyukur, setidaknya kami sehat semua. 

Selasa minggu lalu tiba-tiba aku mengalami vomit, diare, dan demam. Sejak pagi, aku buru-buru kontak klinik karena mungkin nggak bisa praktek. Betul saja sampai siang makin parah. Masbayi yang kadang pengen mendekat diasuh ART dulu kecuali saat ng-asi dan bobo. Nrimo banget dia, pas lagi pengen dekat, mainan sendiri anteng, lalu ng-asi sebentar terus bobo siang. Malamnya juga. 

Besoknya sudah mendingan, tapi tetep nggak berangkat praktek. Selang sehari, masbayi vomit ini kali pertama lihat si kecil itu vomit. Lumayan sering ya, sehari ada 5 x kalo ga salah.. Kadang lagi tidur, mancur kaya air mancur taman. Jika sedih rasanya. Badan subfebris, anget aja. Minta minum terus. Berbekal ilmu yang dipunya cuma kukasi obat antimuntah karena biasanya muntah ini merupakan gejala saja bukan diagnosis. 

Hari kedua tambah gejala diare. Dia nggak sampe mules2 segala tapi langsung aja nge-sorrr.. Mulai males makan dan minum. Tapi siangnya aktif aja. Walaupun sudah beli oralit dan prebiotik, tapi karena Pipo Mimo nya khawatir akhirnya dibawa ke RS. Dikasih antidiare, antimuntah, antibiotik. Malemnya sambil tidur pun dia masih diare aja. Nggak rewel dan nggak bangun. Malah bikin cemas.

Besoknya ke DSA langganan karena BAK udah kurang, makan minum berkurang, lemes. Ngeri banget kan.. Kalo dehidrasi. Walauuu nggak ada tanda dehidrasi berat. Akhirnya ketemu dr Bas our fav pediatrician.. Ganti antibiotik. 

Yap. Pada dasarnya anak diare yang terpenting atasi dulu dehidrasi. Makanya penting untuk ngasih oralit, air apapun tajin, air sayur, air teh bahkan boleh. Justru dr Bas nggak ngebolehin minum air putih karena bikin kembung. Sepulang dari DSA masih diare. Tapi yang aku wajibin minum adalah zinc dan prebiotik selain air teh dll. 

Zinc memang pilar diare yang penting banget (meski di hari ke berapa mas bayi mau muntah karena minum zinc kemungkinan refluks karena konsumsi obat terlalu lama). Biasanya meski sudah tidak diare zinc disarankan untuk tetap diminum untuk menghindari kekambuhan. 

Di atas adalah 5 pilar diare menurut WHO, antibiotik diberikan sesuai anjuran (apabila memang benar-benar diperlukan). Oralit menurutku penting, meski pada kenyataannya mas bayi lebih suka minum yang lain ketimbang oralit.

Hari keempat meski masih lemes, tapi dia sudah nggak diare, subfebris masih. Sejak hari senin Pipo Mimo sudah bilang kalau tangan dan kakinya kuning. Hari selasa baru aku bener-bener cek dan ngeh kalau yep sibayi kuning. 

Agak syok yaa.. Secara dia baru sembuh mual muntah demam yang mana bikin parno. Setelah konsul via WA dengan pediatrician, dari fotonya mirip kaya warna kebanyakan wortel. Memang agak oranye gitu. Tapi tetep disarankan ke DSA untuk cek lebih lanjut. 

Perjuangan cari DSA di akhir tahun. Pagi itu agak panik karena aku mulai parno .. Mikir diferensial diagnosis yang mungkin. Aku nyari ganti jaga untukku supaya jam 12 bisa langsung ke DSA pembimbingku dulu, karena dr. Bas gak praktek. Sudah dapat, pas nelpon RS ternyata beliau keluar kota. Akhirnya tetep jaga dan pulang jaga langsung bebenah dan nyomot bayi yang belum mandi karena ngejar antrian.

Apotek yang dituju, DSA libur juga. Pindah RS berikutnya, poli tutup dan DSA yang dituju juga libur. Akhirnya ngejar ke yang masih praktek. Dr baru.

Awalnya DSA yakin ini kuning karena makanan, karena di sklera putih nggak kuning/ ikterik. Tapi lihat perut juga kuning, DSA ragu dan saran ambil lab. Emaknya jadi melas. Cuma, demi memastikan akhirnya bayi diambil darah untuk cek bilirubin dan enzim hati. 

Untungnya bayi masih dalam kondisi lemes, aku nahan sendirian saat diambil darah masih kuat. Nangisss kejer. Tapi setelah spuit dicabut dan dia digendong berhenti nangis. Dulu waktu koas sering lihat bayi bolak2 tusuk buat diinfus. Kasihan aja. Kalau anak sendiri apalagi, meskipun aku tahu susah buat ambil darah pada bayi dan aku ga boleh marah2 kalau ternyata itu kejadian. Alhamdulillah sekali ambil, selesai ambil darahnya. Setengah jam nunggu hasil agak takut hasilnya jelek. Hasil keluar, enzim hati naik sedikit tapi masih ok. Diagnosis yang aku simpulkan karena DSA dikonsul hasil lab aja, dan ngeresepin curcuma dan multivit : karotenemia. 

Ternyata beberapa temen ada yang mengalami hal serupa. Dan ehem aku pun pernah dapat pasien yang demikian. Dan.. Tentang karotenemia ini pun sudah pernah kubaca di buku MPASI lalu. Tapi berhubung ada riwayat GEA (Gastroenteritis Akut) jadi pikiran kemana-mana. 

Jadi apa sih Karotenemia? Itu adalah kelebihan betakaroten dalam darah. Kenapa? Karena terlalu banyak konsumsi makanan tinggi betakaroten. Siapa tersangkanya? Biasanya buah yang berwarna oranye dan sayur yang berwarna hijau pekat. Meski, beberapa juga di luar syarat itu. 

Masbayi sempet gtm nggak mau makan nasi, dan protein hewani. Jadi hampir tiap hari makan puding jagung telur susu, kadang tambah oatmeal. Sayuran kesukaannya buncis dan wortell. Buah yang liat aja udah minta ya.. Pepaya. Padahal wortel udah kubatasi, tapi aku lupa makanan yang lainnya. So.. Itulah yang terjadi. 

Sekarang dia lagi puasa wortel dan mengurangi betakaroten. Warna kuning khas karotenemia adalah warna kuning oranye di kulit. Sklera atau selaput putih mata tidak ikut kuning, ini yang paling penting. Dan nantinya warna itu akan hilang dengan stop konsumsi makanan tinggi betakaroten. Meski agak lama ya hilangnya. Hal ini tidak berbahaya. 

Ada yang pernah ngalami anak diare? Atau karotenemia? Share yaa.. 

Pertama Kali Pergi Berdua Krucil

Bismillahirrahmanirrahim..

Selama ini Ichi hanya main seputaran rumah saja. Warung, rumah tetangga. Haha. Paling jauh ke rumah nenek-neneknya. Hadeh. Emang emaknya anak rumahan, udah gitu mau main ke supermarket aja nggak boleh sama Pipo-Mimo- nya karena takut ketularan penyakit macem-macem. Maklum sampe umur hampir setahun udah 3 kali kena batpil.

Pada akhirnya emaknya udah ngebet bawa si anak ke supermarket, akhirnya dapat ijin. Eh malah dia seneng banget naik troli dan nggak mau berhenti. Malah dia dibeliin labu kabocha nggak boleh jauh-jauh, di samping dia terus sampe mau ditimbang nggak boleh. Nyapa mbak-mbak SPG. Nyapa kakak cewek yang main boneka, diajakin main.

Padahal, padahal yaa.. dia dulu tuh takut banget ketemu orang baru dan keramaian.

Ada metode namanya Briefing, ada di buku bunda Okina Fitriani. Seorang anak, kadang nggak terprediksi akan cocok dengan suatu tempat atau nggak. Betul nggak. Dia tahu-tahu diajak ke rumah mbah-nya di mana di sana ada speaker keras, ada orang berseliweran yang dia nggak kenal tapi selalu pengen nyapa. Alhasil dia berontak, dan bener-bener parahnya nggak mau sama siapa-siapa kecuali sama ibunya dan tidur karena capek aja. Kejer.

Briefing ini adalah cara kita untuk membantu si anak supaya dia menyiapkan dirinya untuk menghadapi sesuatu yang baru ini. Kita harus ngasih tahu anak, kalau kita mau ajak dia ke mana, mau ngapain, dengan siapa, nggak boleh ngapain.

Temen akrab pulang dari Jakarta dan ngajakin ketemuan di Foodcourt. Bayinya 5 bulan, aku belum pernah ketemuan lagi sejak dia lahiran. Otomatis pengen banget ikutan nongki. Sehari sebelumnya sudah sounding ke Ichi kalau akan dibawa ke foodcourt, ketemu sama temen bunda, Aisyah, Luna. Di sana mau makan. Nggak rewel ya. Blabla.

Bawa bayi itu persiapannya lumayan banyak. Pospak, baju ganti (penting!) kalau perlu baju ganti emaknya haha, tisu kering, tisu basah, cemilan, mainan, makan besar kalau lewat jam makan, gendongan. Setelah makan pagi, bobo, dan mandi akhirnya kami siap. Karena belum ada car seat, nggak bisa berangkat berdua aja tanpa bantuan taksi. Manggil taksi gak nongol juga sampe anaknya bosen.

Akhirnya naik taksi. Khawatir juga sih di dalam taksi bakal rewel. Tapi udah di-briefing. Kami duduk di belakang. Ichi nggak banyak tingkah, tapi nggak rewel dan mulai menikmati di akhir. Setelah turun, kami menuju foodcourt, dan amazingly Ichi enjoy. Dia ketawa-tawa, godain mas-mas waitress, maemnya mau, pengen nyolek (atau nyuwek) adek-adek ceweknya, blabla. Sampai negara es menyerang.

Ichi suka banget sama sedotan dan wadah minum. Kebetulan aku pesen es teh kemasan. Dia suka banget dan harus banget pegang. Pas aku meleng ambil makan, dia numpahin teh dan es es nya ke badan dia. Kejer, tegang, nangis. Aku angkat dari high cair, tapi kakinya ngejang, agak susah juga apalagi dia nangis. Langsung buka celana, berdiriin di bangku, dan dia… godain mas-mas lagi >,< haha. Inilah gunanya bawa baju ganti! Sempet saltum karena salah bawa baju tanpa lengan, aww. Pulangnya naik becak, karena aku pengen kasi pengalaman baru ke bayi gede ini. Dia nggak interest naik becaknya, dia suka lihat kendaraan, tapi tetep ke mainan yang dia baru beli (dibeliin emaknya karena nggak mau beranjak dari tempat mainan – kalau udah gede, kita bisa kasih pengertian ya kalau itu bukan tujuan dia ke sana).

Nah, itu pengalaman kami yang seru. Selanjutnya kami pergi ke tempat lain, berdua saja. Mungkin bagi sebagian mommy itu biasa, haha tapi buatku ini pengalaman baru. Dan akan terus dilakukan.

 

Bersih-bersih Karang di Gigi

Bismillahirrahmanirrahim

Tiba-tiba pengen nengok timeline wordpress. Sementara sibayi lagi mainan sama ayahnya. Postingan terbaru dari mba Lia, jadi inget cerita hari Sabtu kemarin.

Ayachi (ayahnya Ichi) udah lama nggak perawatan gigi. Pas aku cek giginya memang ada yang perlu dibersihkan. Karena nganter ke klinik, sekalian aja aku daftarin buat periksa dan bersih-bersih gigi. Ikutan masuk, ngobrol sebentar sama drg L. Pas dicek, dokternya heran karena M3 di kanan-kiri atas kok impaksi. Selama ini cuma 2 kali liat yang begitu. Jadi aku ‘pamer’ kalau aku semua Molar 3 nya impaksi. “Oh, jodoh kalau begitu, hehe.” Kata bu drg.

Setelah di-cek, tambalan ok. Cuma bersihin karang gigi. Sementara scaling dimulai, aku kembali ke ruangan buat pumping. Pas udah selesai, pak suami cus ke gramedia. Pulangnya laporan kalau tadi scaling-nya ga bayar, cuma administrasi anggota baru. Ehe! Doi jadi ketagihan, karena di Aceh habisnya sampai tus-tus.. >,<

Ayo scaling gigi, gigi bersih, nafas segar!

My Baby Delivery

Bismillahirrahmanirrahim

SONY DSC

Setelah 9 bulan atau tepatnya 39 minggu di dalam perut bundanya, akhirnya si kecil menunjukkan tanda-tanda ingin keluar sejak 17 Oktober 2015.

“Mungkin dia nunggu tanggal 17 kali, biar samaan sama nikahan orangtuanya?” Kataku. Pagi itu Sabtu, perut sudah mules. Berdasar teori blablabla, tetap saja aku belum pernah merasakan his/kontraksi. Pagi itu aku tanya-tanya bagaimana rasanya kontraksi sih? Nyerinya seperti nyeri haid, nyeri suprapubik dan nyeri low back. Pagi itu hampir rutin tiap 8 menit. Aku hitung pakai aplikasi¬†contraction counter. Tapi tetap ke RS untuk kontrol rutin. Dan siap mental kalau langsung suruh mondok.

“Belum lah, nih di USG aja nggak kenceng. Kalau sudah nggak bisa tidur, baru deh. Pak, dipacu ya… Paham nggak?” Pesan bu DSOG, pada suami yang kali pertama nemani kontrol kandungan. Yaa.. selama 9 bulan ini baru pernah nemani ke RS hehe.

Agak siangan mules memanjang jedanya, bisa tidur siang meski kadang terbangun. Mulai jam 8 malam-an, kontraksi merutin. Tiap 8 menit, lalu makin sering. Tapi masih bisa tidur-tidur ayam. Karena belum ada bloody show, masih santai. Malam jam 12, menurut hitungan aplikasi, kontraksi sudah rutin tiap 5 menit selama 40 detik. Nggak bisa tidur. Suami nanya, “Mau lahiran ya?” Nggak tahu, kataku. Masih belum bloody show. Tetap tarik napas buang napas. Suami ngusap punggung sambil kadang ketiduran. Entah kenapa diusap malah jadi makin kerasa, jadi aku minta nggak diusap.

Sampai jam 3 pagi udah nggak kuat, minta ke RS aja meski belum ada lendir/darah. Pas siap-siap ternyata kerasa kayak ada lendir tapi entah juga ga penting, udah ga enak. Berangkat ke RS, langsung masuk ke VK (kamar bersalin) lalu pee dulu ternyata sudah ada darah +, cek VT sudah buka 3-4. Sejak itu makin susah fokus atur napas karena hasrat mengejan dan sakitnya kontraksi. Muntah 2 kali karena perut kosong. Ibu maksain kurma yang memang aku siapkan untuk persiapan lahiran.

Tiap jam aku tanya jam berapa ke suami yang sengaja pasang tampang kocak yang buatku tampak menyebalkan karena nyeri banget haha. Soalnya yaa ini kan primigravida alias kehamilan pertama, yang menurut teori bukaan-nya lambat gitu, aku sampai berpikir mau SC aja meski nggak terucap, dan mikir harus berapa jam lagi sampai lengkap? Tiap kontraksi aku remas bed, bukannya tangan suami. Begitu ibu datang lagi ke RS, tangan ibu yang jadi sasaran.

Ternyata… jam 5 pagi sudah buka 9, bahagia juga karena akhirnya DSOG ditelpon. Aku memotivasi diri, sebentar lagi, sebentar lagi, tinggal nunggu dokter datang lalu lahir! Kontraksi datang seperti tanpa jeda, kata bidan aku panik, nggak rileks makanya masa jedanya sebentar. Bodo amat dah aku fokus napas ajaa, hahaha.

Dokter datang, ketuban ngepyok, bukaan lengkap. Sekitar setengah jam kemudian bayi lahir dengan drama :

“Filly ayo jangan ngejen di leher, di bawah kaya mau pup!”

“Kakinya ditarik, jangan njejak aku doong.”

“Lho lho gimana sih, pan***nya jangan diangkat, taroh Fil.”

“Ngejennya yang panjang, jangan pendek-pendek kasihan dedeknya nih udah mau keluar.”

Dengan segenap daya dan upaya, demi bayi aku usaha banget ngeluarin. Latihan ngejan dan pernapasan saat senam hamil menguap tiba-tiba saat di medan perang. Kalimat itu kalimat yang sama yang aku teriakkan pada para pasien melahirkan. Daaan ternyata memang terjadi hehe. Setelah ada tangis keras yang menggema, aku legaaaa banget. Akhirnya aku bisa melahirkan, haha. Sakit yang terjadi setelahnya nggak ada apa-apanya.

Sejak kontraksi sebelum melahirkan, sudah nggak bisa BAK. Setelah selesai jahit menjahit, kepingin pee. Pakai pispot dulu, nggak bisa keluar. Dipancing juga keluar dikit doang. Nggak berapa lama masih kebelet. Disuruh ke WC sambil latihan. Karena masih pusing, pakai kursi roda. Eh tetep nggak keluar sampai hampir pingsan di WC akhirnya balik ke bed dan pasang kateter. Sampai tengah hari baru boleh pindah kamar perawatan setelah pengawasan selesai.

Bladder training (latihan pee pakai kateter) sampai malam, baru deh kateter dilepas. Besoknya baru boleh pulang setelah bisa pee dan pup. Semalam jadi ibu baru, di mana badan masih remuk redam. Ditemenin ibu dan suami di kamar, dijengukin keluarga. Alhamdulillah. Welcome baby…

Baby Biodata

Untuk cerita 9 bulan ke belakang, sudah ada di draft. Cerita 2 minggu ke belakang yang penuh warna-warni insyaAllah ditulis kalau ada waktu, seperti sekarang, saat baby I bobok setelah ngajakin begadang. Seminggu awal masih kayak zombie yang pucat, sampai dipaksa-paksa makan, selain karena jadi ibu baru juga karena baby I harus mondok di RS :’) Doakan semoga sehat selalu ya..

Honey, Moon

Bismillahirrahmanirrahim

Kamu hanimun ke mana?

Aku? Aku nggak hanimun. Dapet jatah libur 7 hari dari Puskesmas aja udah bersyukur banget. Dan selama 7 hari itu aku dan suami nggak boleh kemana-mana dengan alasan masih banyak tamu ke rumah. Ya ada sih yang ke rumah, tapi nggak banyak. Kadang lagi ileran di kamar, eeeh ada tamu hahaha. Isin!

Aku yang pada dasarnya arum alias anak rumahan, begitu punya suami aktif banget pengen kemana-mana yang tiap hari ngajakin ke Baturraden yuk ke Baturraden yuk ke Baturraden yuk akhirnya kami berdua naik motor berdua ke sana. Sebelum nikah boro-boro diijinin naik motor naik ke kaki gunung itu, tapi setelah nikah boleh deh.

Di sana sih nggak ngapa-ngapain berhubung aku males jalan, hihi. Ceritanya ada di LINK ini tuh.

Sebelum nikah aku baca buku perencanaan finansial, di sana ada kalimat yang menonjok aku. Bahwa pengantin baru biasanya pengen ngabisin duit buat hanimun dan plesir kemana-mana. Padahal uang itu bisa di – save untuk investasi ke depannya. Kemarin juga denger motivator seorang CEO busana yang lumayan booming, orang-orang yang berhasil itu kadang dia kelihatan nggak punya. Ya nggak kelihatan punya mobil, rumah, tapi ternyata dia punya usaha yang duitnya milyaran.

Ada yang memilih langsung kredit rumah, mobil, dan kendaraan lain. Tapi bagi para pakar investasi, hal ini bukan pilihan yang tepat. Mobil sebagai benda yang mudah habis dan turun harga kalau dipakai. Tentu pilihan membeli mobil bisa ditunda dulu, uang yang kita punya bisa kita berdayakan untuk menelurkan uang lagi.

Hal yang kayak gini sangat menginspirasi meski pada kenyataannya sangat susah direalisasikan, maka aku pun masih banyak belajar.

Kembali ke hanimun. Suatu kali aku iseng bilang ke suami pengen ke Bali. Dijawabnya dengan, “Mahal, cari yang dekat aja.” Jadi perjalanan terjauh kami adalah Yogyakarta, dengan makanan yang..

A : Pengen solaria di mall.

S : Mahal, ini aja gudeg.

Hehe. Aku sih nggak banyak protes, soalnya aku tahu suami punya pengalaman saving duit lebih tinggi. Dia pernah ngumpulin duit beasiswa supaya nggak banyak terpakai di sana. Makanya dulu dia kurus gitu, begitu nyampe Indonesia lagi melar dah. Haha.

Tapi kalo soal buku jangan ditanya deh. Aku pernah uring-uringan karena suami kalau beli buku tuh nggak diitung. Masak pulang dari Yogyakarta kaya tukang kulakan buku. Banyaaak banget. Cuma kata dia, buku-buku itu investasi. Dia beli dengan harga sekian, terus dia bikin penelitian dll seharga sekian ++ jadi uang bukunya balik. Dibilang gitu ya mingkem deh.

Aku punya banyak keinginan. Dan masih harus banyak berjuang. Jadi kalau jalan-jalan yang butuh duit cukup banyak, mari nelan ludah dulu. Hidup berumahtangga memang bagusnya dari 0 dan sengsara dulu. Selalu begitu kan. Dari yang aku denger dari para orangtua. Kayak gini aja udah harus disyukuri, meski tetap harus usaha ya.

Oya, dan ga boleh kebanyakan liatin rumput tetangga. Kita nggak tahu apa yang hilang dari mereka atas apa yang mereka dapat sekarang. Betul kan? Jadi kalau ada orang lain bahagia, punya mobil bagus, rumah bagus, keliatan jalan-jalan mulu, kita nggak boleh iri. Kita kan nggak tahu, rejeki orang kan beda-beda. Orang ngeliat aku dokter, dipikirnya duitnya banyak tinggal duduk kali… padahallll. Haha. Pertama niatkan baik, jangan melulu duit. Tapi kelolalah duit kita sebaik-baiknya meski tidak banyak, dan banyak bersyukur.

Note to my self bangeet.

Se ma ngat pompom! Yeyeye.

Long Distance Marriage

Bismillahirrahmanirrahim

Suatu kali adik ketemu gede yang kami sendiri belum pernah ketemu, chatting soal kondisinya yang sedang dalam proses tapi masih mendapat beberapa tekanan karena ada kemungkinan bila mereka jadi menikah maka akan LDR selama bertahun-tahun karena statusnya yang CPNS baru di sebuah daerah terpencil.

Aku bertanya sejauh mana mereka terpisah? Yogyakarta – Cilacap. Lalu aku mengemukakan pendapatku, yang sejauh pengamatanku jarak seperti itu tidak terlalu jauh. Apalagi daerah asal mereka pun tidak lebih dari 1 jam perjalanan. Ia khawatir dengan banyak hal, terlebih karena akulah satu-satunya yang mengemukakan pendapat berbeda dibanding keluarga dan teman-temannya. Mereka berpendapat LDM bukan pilihan yang baik, ada banyak bahaya di baliknya.

Suatu kali yang lain, dalam curhatan pengantin baru. Aku yang menjerumuskan pengantin ini menjadi pengantin LDM, lebih jauh dari jarak aku dan suami (Jawa-Aceh) yaitu Jawa – Madinah. Tempat curhatnya ya aku. Bertanya, apakah ada sedih? Apakah ada tangis? Dan lainnya.

Kalau soal nangis dan sedih, ada dong meski jarang sekali. Sejak sebelum menikah kan memang orang bebas, sering pergi sendiri. Cuma pas PMS atau kondisi mellow lainnya yang bikin aku merasa merana. Kalau lagi pengen diturutin, ya sudah lah nangis sendiri di pojokan. Hehehe.

Eh kayaknya sih aku pernah bikin serupa ini tapi soal Line. Jadi ya itu sarana paling berguna saat ini selain medsos dan lainnya. Aku emang bukan orang yang bisa ngobrol panjang lebar, tapi kalau chatting bisa keluar semua. Makanya video call nggak tiap hari, yang harus tiap hari adalah say hello. Kepo-in fb, gangguin kalo doi lagi kerja. Kalo jawabnya pendek, baru deh mandek.

Nggak tahu juga akan bertahan berapa lama LDM ini, soalnya wacana tinggal bareng-nya ketunda mulu atas satu dan lain hal. Tapi tetep berdoa, semoga segera diberikan rezeki berupa tinggal serumah. Masak nunggu dinas luar mulu biar bisa ketemu biar hemat biaya perjalanan? Hehehe.

Ada yang LDM juga ? ūüėÄ Saling menguatkan yah, hahaha

1st Wedding Anniversary

Bismillahirrahmanirrahim

Bagi sebagian orang, usia pernikahan segini tentu masih piyik. Buatku, ini sebuah momen bercermin di mana “sudah 1 tahun ya.. apa yang sudah kuperbuat selaku seorang istri?”

Istri shalihah… sepertinya masih jauh perjalananku untuk sampai ke sana, meski buku-buku sudah beberapa kubaca. Aku masih harus terus berbenah, belajar menyatukan kepala wanita dan kepala laki-laki. Tahu kan kalau kedua jenis otak ini punya kekhasan masing-masing.

Yang jelas, saat tanggal 17 Mei 2015 terpampang, aku terpukau juga. Wow.. tak terasa sudah 1 tahun kami membentuk mahligai rumahtangga. Ada berbagai macam rasa di dalamnya.

Terima kasih ya, sudah menjadi separuh aku.

Serangkaian kata-kata ini kubuat di tengah malam. Tanggal 17 Mei 2015. Terkenang saat setahun lalu. Pertama kali kami bersentuhan. Pertama kali ia memasangkan sebuah bros khas Aceh (gerbang) di dadaku. Pertama kali ia mengimami shalat jamaah kami.

Aku merajut renda-renda

Menyusunnya sejak tak bisa

Mengaturnya bentuk sebuah pola

Ini cinta,

Yang kurasa berkali-kali

Padamu yang awalnya tak kukenali

Wahai penghuni hati kini

Perjalanan masih muda

Keluh kesah bahagia

Semua menjadi harmoni

Yang akan abadi hingga nanti..

Semoga kami makin dewasa. Makin memahami satu sama lain. Dapat menjadi orangtua terbaik bagi anak-anak kami. Dapat berpegangan tangan selamanya, dalam ikatan yang harmoni.

Terima kasih..

Kelas Edukasi MPASI AIMI Purwokerto

Bismillahirrahmanirrahim

Setelah hari yang padat, hari ahad kemarin masih memadatkan acara dengan menghadiri kelas edukasi MPASI AIMI. Alhamdulillah di Purwokerto sudah ada pergerakan ini (ceileh pergerakan) jadi nggak kudet amat ya. Soalnya aku sendiri pun masih butuh banyak belajar tentang ilmu baru ini. Seharusnya ada 3 kelas edukasi, 2 pertama adalah tentang ASI. Yang pertama ketinggalan, yang kedua berbarengan sama kegiatan lain, sehingga baru bisa terlaksana yang bagian terakhir.

Dengan konselor laktasi Mba Ika dan Mba Ayu yang menerangkan dengan mudah dimengerti, akhirnya yang awalnya datang sambil ngantuk karena kurang tidur jadi beger lagi. Apalagi ada gamesnya dan mencoba membuat sendiri MPASI.

Apa sih yang kamu tahu tentang MPASI? Ya ngasih makan anak, abis 6 bulan gitu. Jujur, aku sendiri belum beli buku dan belum baca banyak tentang MPASI. Cuma sekilas lalu kadang baca di website parenting. Dan aku harus mengakui hal ini ternyata amatlah penting.

MPASI bukan cara kita untuk membuat anak menjadi (harus) makan. Tapi membentuk pola supaya nantinya si anak tidak picky eater dan menikmati kegiatan makan. Kami diberi penjelasan bagaimana tekstur, jumlah, frekuensi, keragaman, dll untuk usia 6 bulan (2 minggu pertama), 6-9 bulan, 9-12 bulan, dst. Beda-beda tentu karena kebutuhan mereka berbeda dan kemampuan mereka pun berbeda.

Untuk usia 2 minggu pertama sejak 6 bulan, anak diberi 1-2 kali makan dengan porsi 2-3 sendok saja ditambah minum asi. Bubur lembut dengan menu tunggal. Menu tunggal di sini maksudnya sekali pemberian hanya 1 jenis makanan saja. Misal pure buah saja, atau bubur nasi lembek saja. Tidak perlu punya blender, karena kita hanya butuh saringan murah dan mencampurnya dengan air sampai ketika dibalik si bubur ini tidak langsung jatuh (jangan terlalu encer karena kandungan nutrisi akan kurang). Seringkali keluhan datang tentang BAB anak yang menjadi jarang, ternyata ini berkaitan dengan serat. Hindari semacam havermut karena kandungan serat terlalu tinggi. Juga perhatikan keragaman makanan. Jangan melulu diberi buah yang tinggi serat, nanti BAB terlalu padat. Ingat 4 bintang ya. Misal pagi bubur nasi, siang bubur alpukat, besok bubur daging begitu.

Makin besar anak, kemampuan motorik bagian mulut harus makin diasah. Sehingga tekstur makanan pun makin berubah. Menjadi bubur saring, lalu cincang, food finger, dan di atas 1 tahun sudah bisa makan makanan rumahan sama seperti orang dewasa. Untuk food finger, kita menyediakan makanan yang bisa digenggam oleh si anak dan dimasukkan ke dalam mulutnya. Kita tes dulu di langit-langit mulut kita, apabila begitu didorong ke langit-langit mulut si potongan makanan itu (misal wortel kukus) langsung patah berarti itu sudah baik untuk anak.

Bagaimana dengan susu? Anak saya nggak gemuk-gemuk. MPASI ini bisa kita tambahkan dengan lemak seperti margarin, mentega, minyak kelapa, dobel porsi daging untuk menambah protein. Jadi kita bisa mendapatkan manfaat makanan dari selain susu.

Usahakan beri makanan lokal dan terjangkau. Mengapa? Makanan lokal perjalanannya lebih dekat pada konsumen dibandingkan makanan impor. Juga tidak mengandung pengawet, serta tingkat kematangan dan nutrisinya tentu lebih baik. Maka tidak perlu memaksakan untuk membeli makanan ‘indah’ yang di luar kebiasaan makan kita.

Anak saya susah makan! Jangan menunjukkan kekecewaan dan kemarahan di depan anak, jangan paksakan makanan dengan mendorong keras pada anak. Reflek anak saat usianya cukup ia akan ingin meraih-raih makanan. Kadang anak memuntahkan makanan, mungkin refluk masih berjalan tapi tetap gigih dan lanjutkan pemberian. Apabila anak menolak, boleh kita sudahi dan ulangi lagi dalam beberapa waktu ke depan. Jangan biarkan anak makan > 30 menit, karena biasanya anak sudah bosan dan makanan sudah kurang enak. Ambil makanan dan ulangi lagi nanti. Jangan berikan makanan saat anak mengantuk atau baru menyusu, pasti tidak mau makan.

Oya, usahakan saat makan jangan biarkan konsentrasi terpecah. Dudukkan anak, supaya ia terlatih bila makan harus duduk. Contohkan demikian, jangan sampai orangtua makan sambil jalan-jalan. Jangan sambil menonton tv, main game, dll, biarkan ia menikmati proses makannya. Biarkan makanannya berceceran toh bisa dibersihkan.

Biasakan makan dan memasak di rumah. Kalau keluarga terbiasa membeli makanan warung, yaaa… anaknya suka ikut-ikutan dan suka makanan luar.

Memanaskan makanan yang sudah disiapkan lama atau sudah masuk kulkas, cukup rendam wadahnya dengan air hangat seperti sedang memanaskan ASIP tidak perlu memanaskan di atas kompor.

Well.. sebetulnya banyak sekali ilmu yang bisa didapat. Mungkin sebagian ibu sudah banyak tahu, dan sudah merasakan suka duka memberi MPASI. Apalah aku ini yang belum pernah mencobanya, ya kan. Aku sendiri nggak memungkiri kalau teori terlihat sangat mudah, tapi usaha kita pasti akan ada nilainya.

Untuk acara selanjutnya ada seminar tentang menyusui saat Ramadhan, info menyusul di FB AIMI Purwokerto ya. Untuk kelas edukasi selanjutnya mulai bulan September.

Photo by Mba Yuli Dwi

Ayo Kita Berlibur, Bu!

Bismillahirrahmanirrahim

Yuk keluar

“Jalannya yang rapi dong!” Kanjeng Ratu

Aku ini anak pertama dari 2 bersaudara. Perempuan semua. Keluarga kecil ya. Ini cerita tentang ibu. Waktu kecil aku dekat sekali sama ibu, sampai merasa bapak nggak pernah ngurusin. Sejak ibu kerja di kota sebelah, yang berarti kesibukannya makin banyak, aku jadi lebih dekat dengan si bapak yang kerjanya lebih dekat. Tapi kalau diingat-ingat, dulu waktu ibu belum terlalu capek kerja kami punya cerita-cerita seru bersama. Bikin kacang telor, cake, tart. Kegiatan itu, waktu kecil sangat menyenangkan!

Aku besar dengan dongeng. Tiap nginep di tempat eyang (ibunya ibu) selalu didongengin. Otomatis, ibu juga punya dongeng yang sama dengan eyang putri. Dan sampai sekarang aku masih suka minta didongengin meski ditolak mentah-mentah karena sudah ngantuk, terlalu capek, males, dan… lebih baik nonton Jodha Akbar! Yaudah lah dongeng buat cucunya aja ya.

Sebagai anak yang aslinya nggak suka ngomong banyak, aku merasa lebih klop sama bapak yang sama diamnya dan nggak banyak ngulik, ceramah, kepo dll. Sementara ibu, selain kepo, cerewet, rajin menasehati, dll. Hahaha. Tapi tampaknya, nantinya semua ibu akan seperti ini. Terutama soal boros! Dibanding adikku, aku ini agak susah mengendalikan keluar-masuk-nya uang dari ‘dompet’. Makanya ibu wanti-wanti bener.

Mulai dari suruh perawatan wajah (agak pinter dikit kenapa bedakannya), berat badan (agak kurusin dikit badannya), kerudung (pake kerudung yang bener jangan pipi semua), de el el. Mulai dari aku yang ogah banget dengerin semua perintah Ratu sampe akhirnya sadar dan mengakui kalau semua yang dibilang Nyonya Besar ini bener semua!

Mulai dari “Lulus dulu kuliahnya baru nikah,” sampe, “Kapan ngenalin calon mantu.” Itu semua udah lewat. Hehehe. Jadi, kalaupun kami kadang suka adu mulut. Suka kesel kalo Mamak ini kepo kegiatan anak-anaknya semua, tetep aja Mamak cuma satu-satunya di dunia. Yang kalo cerita seru banget sampe bikin ngakak. Yang kalo mantunya dateng selalu pengen masakin Rica-rica Entog spesial. Yang tiap lebaran selalu bikinin opor ayam sama pesen sate ayam. Yang kalo cerita masa kecil anak-anaknya suka heboh sendiri. Yang kalo nonton Mahabarata, semua yang ada di sekelilingnya harus diem.

Aku jadi dokter, itu buat ibu (dan bapak). Menikah dengan orang pilihan mereka (dan pilihanku) juga untuk kebahagiaan mereka (Alhamdulillah kami ga ada konflik perseteruan sama sekali soal ini, haha). Masih banyak impianku, terutama membahagiakan ibu.

Yang pertama, tentu ngasih cucu-cucu yang lucu buat ibu yang suka banget anak gembul ginuk-ginuk (aamiin). Yang kedua, pengen segera ngasih kerjaan (entah apa) buat ibu biar buruan pensiun hahaha.

Terus, pengen berlibur bersama sekeluarga.. Terutama… Ibuku ini belum pernah naik pesawat, di antara suami-anak-mantu-nya hihi. Jadii siapa tahu kami bisa liburan bersama dengan sokongan dari jauhdekat.com¬†¬†yang sering ngadain promo ini (siapa yang butuh tiket? klik ajaa!)¬†Pernah nyeletuk juga Kanjeng Ratu ini, “kapan bisa naik pesawat yaa, ibu doang yang belum pernah ini.” Hihi. Kami semua nantangin, emangnya berani naik pesawat?

Ibuku ini lahir di 15 Mei 1966, selama ini kami jarang banget ngasih kado-kado spesial. Bapak aja yang tugasnya ngasih kado yang agak mending. Kalo kami anak-anaknya sebatas surprise dan barang-barang yang kira-kira akan dipakai. Kami agak sulit pilih barang buat ibu kalau ibu-nya nggak minta sendiri atau nggak pengen sendiri. Sampai akhirnya kalau kami pergi kadang nggak kami beliin oleh-oleh karena kalau nggak suka oleh-olehnya ya nggak bakalan berguna. Ibu tipenya tuh suka sama oleh-oleh punya orang lain, hahaha. Kami lebih suka ngoleh-olehin bapak karena nggak banyak maunya, jarang beli sesuatu, dan apa aja dipake. Tapi kalo oleh-olehnya jalan-jalan, pasti mau buanget! Apalagi, mantunya juga kerjanya di Aceh, kali aja bisa nyamperin mantu… atau ke Luar Negeri sekalian atau umroh atau haji.. ya kan ya kan. Bisa terharu banget kalo kadonya indah banget begitu.. hiks.. apalagi jadwal haji-nya yang mundur bikin Maknyak agak kecewa ūüė•

Impian anak untuk orangtuanya cuma 1… yaitu.. bikin mereka BAHAGIA terus. Setujukah kalian semua? Ngomong-ngomong besok hari Ibu ya (meski awalnya diperingati sebagai hari wanita). Untuk semua Ibu… kudoakan kalian bahagia dunia dan akhirat serta diberi kesehatan dan keselamatan selalu.. aamiin :’)¬†Love you Moooomm…¬†

 

Happy Mother Day, Every Single Day