Review Viva Matte Lipstick vs Purbasari Matte Lipstick

Hola. Halo. Assalamu’alaikum.

IMG-20170403-WA0016-02.jpeg

Siapa ibu-ibu yang ga suka lipstik? Eh ada sih, tapi sebagian besar pasti punya paling gak 1 lah meski ada yang awet banget ga pernah dioles xixi. Aku sendiri suka lipstik sejak kapan ya.. Mungkin waktu Profesi Dokter, itupun jarang banget makenya. Karena sebelumnya bedakan aja males banget.

Jajan lipstik sempat jadi keasyikan tersendiri buatku. Sempat beli 3 atau 4 lipstik dalam waktu yang sama, karena penisirin sama booming-nya. Tapi setelah nyoba sebiji lip cream, rupanya lipstik masih lebih cocok untukku yang males ribet.

Kali ini aku akan mengulas lipstik matte terbaru dari Viva. Viva itu merk jadul banget kan.. Siapa yang gatau ya kan.. Nah aku penasaran abis ama viva matte nya yang harganya setara ama Purbasari matte yang masih tetep eksis.

IMG_20170403_200318-01.jpeg

Berby jajan lipstik. Itu cuma viva aja punya aku. Jajannya di @ummuaishaart

Dari segi packaging oke sih, warnanya kuning gonjreng. Biasa aja info yang terkandung kayak yang lainnya ya. Simpel.

IMG-20170403-WA0019-01.jpeg

Lipstik yang aku beli ini warna Peach Nectar. Karena aku liatnya cuma di ig padahal mah tokonya dekeet dari tempat praktek. *takut borong yang lainnya hahaha. Jadi ini minta ambilin ama OB.

IMG-20170403-WA0016-01

Mari kita bandingkan dengan Purbasari yang aku punya sebelumnya… Sori ya Purbasari-nya sudah penyok-penyok. Emang karena sudah mau abis jadi aku beli baru lagi.

IMG-20170403-WA0023-01

Viva vs Purbasari

IMG-20170403-WA0011-01

Atas Viva 701, bawah Purbasari 90

IMG-20170403-WA0018-01

Viva Peach Nectar (701) 

Dipulas di bibir, biar coveringnya ok si Viva ini harus pulas berulang kali. Ini kalau bibir item kayak aku ya. Kalau bibir pink si sekali pulas udah cukup banget. Peach Nectar ini cenderung ke oranye (terrnyataa) aku suka sih, meski oranye nya agak dominan.

Dibanding Purbasari, Viva ini lebih light.. Karena kalau Purbasari rasanya cukup ‘nggedibel’ tebel di bibir. Viva gak seberat itu. Lebih lembab.

Warna, dibanding Viva 701 aku lebih suka Purbasari 90. Tapi belum coba shade lain yaaa.. Aku ga mau cuma koleksi shade, jadi penting beli yang dibutuhkan aja.

Purbasari itu cukup transferproof menurutku jadi ga gampang hilang kayak merk lain. Pas aku coba Viva juga sama, awet. Aku coba tempel di gelas, di tangan, ga banyak yang pindah. Mirip-mirip lah.

Minusnya. Purbasari kadang suka ada yang ngegumpal. Jadi kalau dapet yang begitu, potong aja sampai gumpalan terbuang. Viva belum tau si ada yang gumpal gak.

Masalah wadahnya aku lebih suka Viva, bulat dan lebih kokoh.

Repurchase? Yes. InsyaAllah. Baik Viva maupun Purbasari. Karena murah 😍

Ada yang sudah pernah coba ? Kamu lebih suka yang mana?

 

 

 

 

My ‘Piyik’ Label

Bismillahirrahmanirrahim

Lama ga nongkrong di mari. Lama ga mantengin reader. Eh ya ga lama-lama banget sih. Kadang ya disapu juga ini rumah.

Mau cerita tentang proyek terbaruku. Hmm.. sebenernya ini udah berbulan-bulan sih mikir dan nyiapinnya. Ternyata ga semudah nyeplok telor ya. Ada aja hambatannya. Apa sih hambatannya? Niat kayaknya deh. Abis ngurusin semuanya sendiri. Pesen apa sendiri. Beli apa sendiri. Jadi ya menyesuaikan waktu dan keadaan. Stok ASIP kejar tayang tertolong karena Ichi udah banyak makannya, jadi masih bisa dikasih yang lain dulu.

Pada dasarnya mungkin aku menikmati jualan. Kadang aku iseng jualan juga. Dulu waktu masih kecil aku inget masukin jajanan ke plastik panjang terus dilem pakai lilin buat dijual. Lain waktu minta tolong ART gorengin pisang buat aku jajakan. Aku jajakan tu pisgor baru aja sampe rumah sebelah udah diborong 1 nampan mungkin lebih karena kasihan atau geli. Hehehe.

Terakhir selain jualin barang preloved yang beberapa kali langsung sold begitu pajang di medsos, juga bantu jualin buku temen, eh jual novel sendiri termasuk nggak sih? Ya gitu deh, tapi jualan sebelumnya pasang-surut. Kadang aja pengen, nanti bosen ya udah stop dulu.

Kali ini aku pengen mengenalkan ‘anak ayam’ku yang baru seumur biji jagung (umur berapa tuh) Untuk yang sedang butuh atau buat referensi dulu boleh difollow, di-like dan diintip.  Terima doa teman :))

4-punggawa

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

Kindly visit Haya La Belle 

Instagram

Bismillah

Bisa nulis di blog menurutku adalah anugerah juga. Setelah beberapa waktu lalu hanya posting di instagram, lagi-lagi kebosananku muncul. Bosenan, yes. Terakhir sih aku meninggalkan twitter yang entah jadi apa sekarang, setelah bosen isinya cuma retweet dan iklan. FB juga sesekali aja siapa tau bisa kepo suami, update seminar, dll karena masih banyak pemakainya. Dan instagram yang gampang banget tinggal jepret dan posting.

Lama-lama IG lumayan mempengaruhi. Sekali ngintip yang dagang fossil, di explore nongol semua fossil yang unyu. Sekali ngintip scandinavian house, langsung banyak rumah unyu scandi or shabby yang nongol. Sekali kepo gamis, keluar lagi gamis-gamis cantik lainnya.

Mau nggak mau, manfaat udah makin sedikit dibanding mudharat. Ada duit, liat barang cakep, pengen dibeli. Ada postingan keren, bikin berandai dan kadang lupa bersyukur. Hiks banget ya. Biasanya kalau udah gini mulai cek lagi apa aja yang difollow, dan unfollow yang kira-kira bikin kantong kering atau jiwa kering :p

Salah satu yang lumayan menyebalkan adalah selalu pengen posting kalau ada yang menarik. Candu. Meskipun IG IG gue IG IG lu terserah aja, tapi makjleb-jleb yang waktu nonton kajian.

Ibu-ibu ke taman bawa anaknya main sepeda. Posting status, -Lagi nemenin anak main sepeda.- “Kak, jagain adeknya main.” Si adek jatuh. “Aduh Kak, udah dibilang jagain adeknya.” Posting foto luka si adek. -Aduh, adek jatuh dari sepeda-

Nah. Mateng deh. Meski nggak memungkiri banyak ilmu juga yang bisa didapat kalau mau nyari, misal tentang ASI, MPASI, dll.

Jadi, ada yang anak gaul Instagram juga? Hihi..

 

 

 

Sad News

Bismillah

Hari ini setelah mengurus rujukan BPJS untuk proses membuat kacamata baru, aku mampir ke gramedia. Nggak bawa sibayi karena lagi bobo. Selesai muter gramedia, bawa gembolan, mau pulang, eeh ketemu Bu Lurah waktu KKN dulu. Bu Lurah ini alias Ibu Kepala Desa, asli beneran Kepala Desa bukan istri dari Pak Kepala Desa (dulu kocak banget pas nyari Kepala Desanya ternyata perempuan).

Ya ampun, nyerocos aja ngobrol sama beliau yang emang gaul banget karena masih muda. Dan baru tahu ada kabar duka, dan keluarga yang rumahnya kami tempati dulu waktu KKN. Biyunge alias Simbah yang dulu selalu masakin buat kami, meninggal bulan Mei lalu. Terbayang tempe goreng dan sambalnya. Pagi-pagi Simbah sudah masak di belakang, dan sampai sore adaa aja yang dikerjakan. Hiks. Ternyata bulan meninggalnya sama dengan meninggalnya eyang putri. Al Fatihah. Innalillahi…

Kabar lain adalah bapak kos yang kami tempatin. KKN itu menyenangkan sekali karena kami tinggal di rumah keluarga yang menyenangkan. Itulah kenapa saat selesai KKN aku menangis paling keras, hehe. Bapak kena serangan jantung, masuk ICU dan akhirnya pasang ring. Kabar ini bikin syok juga, secara aku lama nggak sowan tapi beritanya malah begini. Hiks. Sedihdih. Teringat lintasan bahagia kami saat KKN…

Kapan terakhir kalian kembali ke lokasi KKN kalian? 🙂

Suicide Nanggung

Bismillahirrahmanirrahim

Pas sore mau berangkat jaga, sekilas ada acara tipi yang menayangkan dimana seorang anak sedang melaporkan ibunya yang kurang memperhatikan anak-anaknya. Si ibu ini punya pacar, dan kerja juga. Anak sulungnya merasa dia dan adik-adiknya dicuekin. Waktu itu aku berpikir, bisa aja ini rekayasa, hari gini acara tipi kan harus wow.

Lalu di klinik aku kedatangan pasien yang diantar pacarnya, masuk ke klinik dengan tetesan darah yang berjatuhan ke lantai. “KLL? Jatuh dari motor? Ayo masuk ke ruangan langsung.”

Ternyata bukan. Ada 2 sayatan di lengan kiri bagian dalam, yang satu dalam sampai *maaf lapisan lemak terlihat, yang satu dangkal. Di pergelangan tangan bagian dalam, sisa sayatan tipis yang mengering. Tipe suicide nanggung. Sambil jahit, sambil dia teriak dan nangis, sambil dipaksa curhat. Rupanya si gadis ini sedang caper sama ibunya karena merasa nggak diperhatikan. Lho, kok serupa dengan kasus yang tadi?

Dalam hati pengen sekali rasanya ngasih tau cara bunuh diri yang baik dan benar supaya terhindar dari rasa sakit yang terlalu lama. Hihi. Tapi enggak. Suruh aja dia cerita sampai kesedihannya berkurang. Lalu nasihati dengan baik, dengan pesan sponsor : saya nggak mau jahit beginian lagi untuk yang kedua kali!

Dengan 13 jahitan dia pulang, diberi obat dan surat ijin. Saatnya kontrol dia kembali dengan kondisi psikologis lebih baik. “Gimana ibu?” “Sekarang kalau aku nyapu, sapunya diambil terus aku suruh istirahat nggak boleh nyapu,” katanya malu-malu. See? Dengan akhir begini, aku bahagia juga, meski menyesalkan tindakan terburu dari anak gadis yang ingin dimanja. Pelajaran untuk anak gadis dan para orangtua.

Membentengi Diri dari Rasa Ingin

Bismillahirrahmanirrahim

Ingin menurutku hal yang wajar bagi manusia. Meskipun kita harus bisa menetapkan batasannya. Contohlah kasusku.

Saat yang lain wisuda, aku tertunda karena beberapa hal. Saat itu seingatku aku merasa ingin berada di samping mereka. Kesal karena kenapa aku belum juga? Meski ku akui, orangtua sangat mempercayakan semua padaku. Selain sistem yang tidak terlalu mereka mengerti, mereka tahu aku bisa bertanggungjawab sendiri. Saat itu aku nonaktifkan FB (sebagai penggoda paling jahanam) untuk stop berlalulalang di sana, dan stop melihat foto wisuda teman-teman.

Lalu bagi seseorang yang belum menikah, undangan pernikahan bertubi-tubi itu sama menyesakkannya dengan pertanyaan kapan menikah, mana pacarnya, sudah punya calon belum. Semua pasti mengalami. Aku yakin! Tapi kadang saat kita mengalami sendiri, mengalami sesuatu seperti ketemu cowok yang sesuai lalu bertanya “Dia bukan ya?” lalu ternyata tidak. Menanti yang belum pasti. Ingin berada di pelaminan bukan sebagai tamu undangan. Hahaha. Nggak konyol, karena itu wajar. Fase itu ada beberapa tahun sebelum akhirnya masa berserah dan menerima. Bahkan keasyikan menonton video klip wedding pengantin-pengantin Malaysia, menciptakan dongeng dan imaji sendiri di otak tentang pernikahan yang diinginkan (meskipun saat menikah, sudah malas bikin yang heboh-heboh). Meningkatkan kemampuan diri dan ikhtiar.

Kemudian bagi seseorang yang belum juga diberi keturunan. Hal ini lebih menyakitkan daripada belum diberi jodoh. Kenapa? Ya, suami ada, istri ada, lalu kenapa belum ada anaknya? Tangisan, dan rengekan ke suami untuk sering pulang menghabiskan uangnya terbang kembali ke kandang, haha. Unfollow FB yang sering share foto dan status terkait kehamilan. Hide status BBM dengan tipe serupa. Hanya upaya untuk mengurangi rasa terpuruk saja, karena kita tidak bisa membuat dunia mengerti tapi kita yang harus membentengi. Tapi lalu masa penerimaan kembali datang. Sering simpan foto bayi lucu, sharing dengan teman sejawat, ikhtiar lagi.

IG manusia tajir berseliweran. Hahaha. Bagi orang yang hidup di desa, berpakaian seadanya rupanya mengundang komentar. Dulu aku adalah makhluk yang tidak kenal dengan alat makeup. Wajah hitam terkena matahari, kerudung seadanya model anak SMA, kondangan saudara pun pakai tunik batik biasa. Ibu yang kena, karena punya anak gadis harus dirawat jangan cuma mikirin penampilan sendiri. Nggak mempan. BB masih overweight, baju buluk yang kalau mau perhatiin pasti tahu kalau cuma punya beberapa pasang aja buat kuliah. Sampai pada suatu masa mengenal makeup, dan cara berpakaian yang lebih elegan. Sempat diserang demam online shopping sejak punya gaji dan melihat IG orang yang warna-warni indah sekali. Lalu memutuskan unfollow beberapa online shop dan IG yang menurutku nggak penting amat karena membuatku tergoda membeli sesuatu. Baru nanti kalau butuh tinggal cari mana yang sesuai di kantong. Sampai sekarang masih mencoba bertahan tidak membeli baju di atas harga 200 ribu. Baiklah itu bagus dan berkualitas, tapi kemampuanku masih belum sejajar dengan itu semua. Bahkan sempat curhat sama suami, tentang kekhawatiran kalau nantinya punya uang lebih takut tergoda dengan barang dengan harga fantastis itu.

Ini rumahku, mana rumahmu? Melihat banyak pasangan muda sudah memiliki rumah, tentu akan menyesakkan bagi para kontraktor. Apalagi melihat postingan lahan kosong, berubah menjadi rumah yang cantik. Alhamdulillah rumahku sudah jadi. Alhamdulillah rumah yang di sini sedang dibangun, yang di sana sudah dikontrakkan. Hihi. Tapi itu pemicu dan pengingat diri sendiri. Sebagus apapun rumah mereka, tidak akan senyaman rumah kita. Dan aku selalu berpikir, kemampuan daya beli itu proses. Mereka sudah menikah beberapa tahun, tentu wajar memiliki benda tersier. Itu pilihan, apakah kita menggunakan uang untuk kebutuhan tersier atau investasi.

Kebanyakan postingan IG-ku makanan. Kemarin sempat baca ada yang sampai dimaki gara-gara posting makanan mulu di BB. Haha. Itu aku banget. Ibu yang juga punya BB mengingatkan, jangan keseringan pasang foto makanan, orang lain bisa ngiler. Padahal kalau aku pasang foto makanan di BB rata-rata adalah karena aku juga pengen makanan itu, alias foto lama. Kalau ada yang balas chat, pengen, aku juga pengen sebetulnya. Tapi nggak wajib beli juga. Kalau lihat foto makanan di IG, resep simpel akan ku – like dan kubuat saat senggang. Kalau lihat makanan yang aku pengen dan bikin drooling, ya udah, kalau nggak ada ya cari substitusi atau bertawakal hahaha. Nggak ambil pusing.

Intinya sih, toleransi. Kita toleransi pada orang lain, juga mentoleransi pada kemampuan orang lain. Ibu-ibu sosialita yang posting gamis syari jutaan, tenteng kamera mahal, foto ootd di berbagai tempat bagus, mobil keren, pinter masak dan difoto keren juga, rumah indah dengan shabby-shabby mahal? Hak mereka, kita hanya membentengi diri dari rasa ingin memiliki yang sama. Dan berusaha mendapatkan apa yang memang kita butuhkan. Jadi mereka nggak dosa, kita nggak dosa. Kalau nggak sanggup lihat yang bling-bling, tutup mata saja. Pilihan kita untuk membiarkan apa yang harus kita lihat dan tidak.

Tapi ini note to my self juga, nggak boleh lebay dalam berbahagia. Meski merupakan suatu anjuran juga menyebarkan berita bahagia. Dan ga boleh lebay merutuki nasib sendiri saat melihat yang oke di luar sana. Karenaa… kita juga sudah diberi yang lebih oke sama Allah. Begitu kan? 

Long Distance Marriage

Bismillahirrahmanirrahim

Suatu kali adik ketemu gede yang kami sendiri belum pernah ketemu, chatting soal kondisinya yang sedang dalam proses tapi masih mendapat beberapa tekanan karena ada kemungkinan bila mereka jadi menikah maka akan LDR selama bertahun-tahun karena statusnya yang CPNS baru di sebuah daerah terpencil.

Aku bertanya sejauh mana mereka terpisah? Yogyakarta – Cilacap. Lalu aku mengemukakan pendapatku, yang sejauh pengamatanku jarak seperti itu tidak terlalu jauh. Apalagi daerah asal mereka pun tidak lebih dari 1 jam perjalanan. Ia khawatir dengan banyak hal, terlebih karena akulah satu-satunya yang mengemukakan pendapat berbeda dibanding keluarga dan teman-temannya. Mereka berpendapat LDM bukan pilihan yang baik, ada banyak bahaya di baliknya.

Suatu kali yang lain, dalam curhatan pengantin baru. Aku yang menjerumuskan pengantin ini menjadi pengantin LDM, lebih jauh dari jarak aku dan suami (Jawa-Aceh) yaitu Jawa – Madinah. Tempat curhatnya ya aku. Bertanya, apakah ada sedih? Apakah ada tangis? Dan lainnya.

Kalau soal nangis dan sedih, ada dong meski jarang sekali. Sejak sebelum menikah kan memang orang bebas, sering pergi sendiri. Cuma pas PMS atau kondisi mellow lainnya yang bikin aku merasa merana. Kalau lagi pengen diturutin, ya sudah lah nangis sendiri di pojokan. Hehehe.

Eh kayaknya sih aku pernah bikin serupa ini tapi soal Line. Jadi ya itu sarana paling berguna saat ini selain medsos dan lainnya. Aku emang bukan orang yang bisa ngobrol panjang lebar, tapi kalau chatting bisa keluar semua. Makanya video call nggak tiap hari, yang harus tiap hari adalah say hello. Kepo-in fb, gangguin kalo doi lagi kerja. Kalo jawabnya pendek, baru deh mandek.

Nggak tahu juga akan bertahan berapa lama LDM ini, soalnya wacana tinggal bareng-nya ketunda mulu atas satu dan lain hal. Tapi tetep berdoa, semoga segera diberikan rezeki berupa tinggal serumah. Masak nunggu dinas luar mulu biar bisa ketemu biar hemat biaya perjalanan? Hehehe.

Ada yang LDM juga ? 😀 Saling menguatkan yah, hahaha

Etika Berkendara

Bismillahirrahmanirrahim

Suatu kali sedang menuju Depo, di belakang ada taksi yang berulang kali klakson tapi masih belum punya kesempatan mendahului. Kami selalu berada di depannya. Kadang si taksi itu tersalip mobil lain, tapi tetap main klakson. Sampai akhirnya berhasil menyalip kami di jalur 2 arah menuju bundaran Margono, ternyata taksi itu hanya berisi supir taksi. Dan tujuannya hanya… PANGKALAN. Kirain lagi ngantar orang lahiran Pak.. sampai segitunya.

Ahad kemarin aku pergi sama teman ke sebuah bazar buku di GOR Satria. Waktu mau belok kanan ke pintu masuk GOR, ada pengendara mobil berhenti di samping marka. Otomatis mengganggu jalan ya… kasihan orang di belakang, sudah antri. Aku klakson sekali hanya untuk mengingatkan. Ternyata mobil itu masuk ke arah yang sama, di belakangku. Aku berhenti karena harus bayar tiket, tapi si pengemudi di belakang  mengklakson seolah terburu-buru ke suatu acara di dalam GOR.

Setelah selesai membayar parkir aku mengajukan mobilku, santai. Tapi pengemudi tadi menyalip (kaca jendelaku masih terbuka ya, harusnya dia lihat yang nyetir perempuan) dan menempatkan mobilnya di depanku. Kalau tadi dia mengklakson dan menyalipku, kenapa dia nggak langsung pergi ke tujuan kalau terburu-buru?

Ternyata dia sengaja menempatkan posisi di depanku, lalu berjalan pelan menghalangiku. Aku paham, aku menyalip ke kanan karena kondisi sangat lengang. Aku kembali menempatkan mobil di depan mobil tadi. Temanku teriak-teriak karena aku memang agak ngebut karena khawatir si pengemudi tadi berbuat nekat. Tak sampai sedetik si pengemudi mobil tadi menyalip dari arah kiri, memotong jalanku, dan menempatkan diri di depan mobilku… lalu memelankan laju kendaraannya lagi. Tepat di pintu masuk bagian belakang GOR.

Oh oke. Harus ada pemenang di sini.

Dan aku berhenti. Tidak ada mobil di belakang. Aku hanya ingin tahu reaksi lelaki pengendara mobil yang kekanakan itu. (Sayang sekali aku nggak catat nopolnya, tapi buat apa?)

Jujur aku kesalll sekali saat itu. Kekanakan. Tidak ada artinya sama sekali dia bertingkah seperti itu. Kenapa pula aku ladeni? Karena aku tidak pernah suka pengendara ugal-ugalan dan melanggar lalu lintas. Selama ini sebisa mungkin aku menaati aturan yang ada. Saat belok kiri dilarang dan banyak yang melanggar, aku tetap berhenti. Saat lampu hijau sebentar lagi menyala dan orang lain ada yang sudah melaju, aku masih menunggu sampai benar-benar hijau. Selama menggunakan mobil tidak pernah makan tempat khusus untuk roda 2, jadi aku sering sebal kalau ada pengguna mobil makan tempat yang tidak seharusnya.

Eh… masih menunggu reaksi orang tadi ya?

Akhirnya dia pergi tuh, ke arah kanan. Dan aku santai masuk ke parkiran lurus di depanku. Dan… aku merasa menang. Cukup sekali saja meladeni orang seperti itu. Darahku mendidih. Haha.

Ada pengalaman serupa? Share yuk!

When I Feeling Sad

Bismillahirrahmanirrahim

Setujukah kalian kalau wanita punya perasaan lebih halus dari para pria? Lebih perasa, sensitif, mudah menangis. Kemarin waktu lihat Kick Andy, Andy bertanya pada Antasari yang sepanjang acara tidak menampakkan raut sedih. “Pak Antasari, apakah Anda pernah menangis?”

“Ya, tentu. Setiap kali saya shalat (malam) saya teringat pada istri saya, anak, cucu, saya menangis.” (Redaksionalnya kurang tepat mungkin, agak lupa)

Lalu saat tayangan Fifi Aleyda Yahya mewawancarai Pilot Garuda yang terpaksa mendarat di Bengawan Solo 2002, meski tampangnya tegar tapi ketika harus mengingat masa di mana ia di ujung maut ia menangis berkaca dan terbata.

Laki-laki mungkin bisa menangis, sesekali. Tapi wanita lebih sering menangis, biasanya. Yang anti-mainstream juga ada sih. Hehe.

Menangis identik dengan kesedihan. Ada banyak faktor yang menjadi predisposisi kesedihan ini. Siapa manusia di dunia yang nggak pernah sedih? Berani angkat tangan? Lalu dengan apa kamu menetralkan hatimu yang sedang sedih?

Salah satunya selain curhat pada yang di atas, membaca buku La Tahzan yang sudah beberapa kali disebut. Membaca buku ini seperti membaca AL-Quran dan Hadits karena kebanyakan memang diambil dari sana.

Lalu ada lagi, sebuah kebiasaan entah sejak kapan. Kalau hatiku galau, gundah, sedih… Aku mulai meneriakkan bait-bait lirik dari My Favourite Things – OST The Sound of Music. Film klasik ini, siapa yang belum pernah nonton? Aku beberapa kali nonton, durasinya panjang. Pinjem CD nya di salah satu persewaan jadul di Metro Toko Buku. Ada 3 buah CD. Di dalam ceritanya, si Maria ini bilang kalau dia sedih dia nyanyi lagu itu dan dia ngajak anak-anak asuhannya buat nyanyi itu waktu lagi sedih.

Dan dengan tempo cepat, aku suka meneriakkan bait-bait kata yang memang agak belibet. Tapi setelah itu rasanya happy. Hehe. Sugesti mungkin. Mau coba? 😀

 

Pengemis atau Pemulung?

Bismillahirrahmanirrahim

Tadi pas nungguin adek di pinggir kampus, di bawah pohon yang teduh dan semilir angin. Tiba-tiba kakek-kakek (masih gagah) yang sedang memanggul karung mendekati.

“Maaf Mba mau minta tolong. Saya nggak punya uang buat naik angkot pulang.”

Aku agak ngerasa ini Pak Tua cuma modus. “Maaf nggak ada Pak.”

“Oh ya sudah.” Makin mendekatiku.

Aku yang sadar kalau di dompetku ada uang, dan secara sadar mengucap, “Maaf nggak ada.” Takut jadi ilang beneran, padahal bohong untuk kebaikan insyaAllah nggak apa. Tapi aku memutuskan ngubek dompet dan mengeluarkan uang 2000 karena nggak tahu ongkos angkot sekarang.

“2000 ya pak.”

“Iya Mba makasih. Mba lagi ngapain? Rumahnya mana?” Mulai ngajak ngobrol.

“Ng, Pak, silahkan cari angkot saja.”

“Iya Mbak.”

Si Pak tua jalan sekitar 200 meter dari aku. Tampak bicara dengan mahasiswa yang lagi duduk di bawah pohon rindang dekat Perpustakaan. Lalu si mahasiswa itu menampakkan gestur merogoh saku, lalu menyodorkan uang.

Nah. Silahkan berekspektasi. Tapi buatku pribadi, lebih baik memasukkan uang ke kotak infak daripada memberi pada para pengemis (terutama yang masih muda dan cakap bekerja).

Coba bayangkan, di pertigaan dekat GOR di sini ada seorang penjual koran yang menjual korannya di tengah jalan. Bisa tebak dia orang yang seperti apa?

Laki-laki tanpa kaki sempurna. Ya, untuk berjalan normal dia tidak bisa. Tingginya mungkin hanya sepanggul orang dewasa. Tapi dia memilih jalan yang halal dan bermartabat dari sekedar menipu atau meminta belas kasihan.

Miris ya?