Family Portrait Minim Budget

SONY DSC

Assalamu’alaikum

Heylo 🙂 Siapa yang suka baper lihat foto keluarga temen lain? Yang kece-kece itu pastinya.. hihi. Made in studio foto yang kece. Keluarga Long Distance ini, emaknya juga kepengen punya foto keluarga yang agak-agak kece gitu kan. Nah mumpung si ayah lagi pulang selama 2 malam (catet, hahaha.. kami ga punya banyak waktu bareng tiap kali ayah berkesempatan pulang) jadi kami–emak red–pengen foto keluarga, titik harus jadi.

Sebetulnya hari Ahad itu Buni (emak,-red) harusnya praktek, tapi ngepasi ART ga bisa datang jadi minta ijin gantikan dulu alhamdulillah ada pengganti. Dan kelupaan harusnya memang jangan praktek karena ayah ada di rumah, dan ada acara kece AIMI Purwokerto juga.

17880209_10208940373935367_514338312835402360_o

Kami datang ke lokasi agak telat, lokasi di Merah Putih Resto Dekat Pasar Wage. Jam 10 bayi baru bangun, langsung mandiin dan bawa perlengkapan sedapatnya. Alhamdulillah lokasi dekat, gak sampai 10 menit sampek. Karena niatnya pulangnya tu mau cari spot foto yang ok, dan kalau gak dapat ya ke studio foto yang murah saja. Jadi kami bawa kamera si Sony Alpha A200 dan tripod yang kebetulan lagi gak sembunyi.

Gak kepikiran mau foto di MP, lupa kalau lokasinya cakep dan instagramable sampai Mimom menawarkan untuk foto keluarga (love u deh Mom >,<). Dengan kamera sakti Mimom, kami dijepret beberapa pose. Eits ini mau numpang foto apa ikut acara? Hihi. soalnya ruangan yang kami pesan udah full dengan peserta dan konselor yang kece-kece, jadi sambil momong anak kami ngungsi ples pepotoan.

Setelah itu, Buni juga ambil kamera jadul dan tripod untuk jejepretan di tempat-tempat strate(kh)is yang penting ada foto bertiga dalam fokus yang baik haha. Sampai si ayah kecapekan sesi foto kami hentikan :p

Yeay! Jadi kami punya foto (mayan) bagus dengan budget hanya es teh, es sarang burung, dan french fries. Ga jadi keluar uang dan waktu lebih lama.

Itulah salah satu tips Foto Keluarga Minim Budget kami, ada yang pernah melakukannya juga? Di mana lokasi favorit keluarga kalian? Share ya 🙂

Bhay >,< See you latte !

Fotonya sih banyak, tapi yang bisa kami share cuma ini ya :*

This slideshow requires JavaScript.

Yogyakarta, Berdua

Bismillahirrahmanirrahim

 

Logawa

 

Yogya? Lagi? Haha.. kota ini sudah seperti kampung kedua saking seringnya kukunjungi. Kali ini aku pergi besamo suami. Perjalanan ke Yogya sudah sering dibincangkan, beberapa kali. Tapi selalu gagal. Kali ini harus berhasil. Setelah 2 hari istirahat di rumah, pada Senin tanggal 26 kami berangkat setelah sebelumnya beli tiket PP naik Logawa.

“Logawa kereta apa?”

“Ekonomi.”

“Yah, hadap-hadapan dong?”

“Iya.”

Karena berdua, pengennya suami pake yang eksekutif. Tapi demi menghemat, lagian cuma 2,5 jam aja nggak masalah lah sempit-sempitan. Akhirnya dengan tiket berangkat sebesar 105K (sebelumnya cuma separonya lho 😦 malah sempet ngalami tiket 6500 waktu SD!) dan tiket pulang seharga 65K akhirnya kami berangkat. Alhamdulillah di hari senin itu longgar, jadi kami cuma dapat teman duduk waktu dari Kutoarjo, sebelumnya cuma berdua aja 🙂

Sampai di Yogya, kami langsung cari becak buat cari penginapan. Aku memang nggak booking penginapan sebelumnya, karena mau langsung cari di daerah Sosrokusuman (kalau backpacking selalu nginap di sini). Bayanganku, mau cari hotel dengan harga 200K an saja, yang penting bersih, dekat Malioboro, murah kan. Tapi ternyata suami nggak mau, jadi kami cari dengan harga sedikit di atasnya.

Tukang becak di sini agak maksa ya. Jadi begitu kami naik, kami ditunjukin 2 hotel seharga 200an, katanya. Dekat dengan Malioboro, katanya. Tapi, karena aku sudah sering ke sana, ‘dekat’ kata pak becak itu terlalu jauh lah. Hotel yang lebih tampak seperti motel.

Di kali pertama. “Ini mba, bagus hotelnya.”

“Nggak mau pak, saya mau Sosrokusuman saja.” Orang mau cari yang deket Mall (biar gampang kemana-mana, karena kami ga ada kendaraan, malah ditaro di ujung entah di mana).

“Ini bagus kok, dicoba dulu.”

“ENGGAK.”

Kali kedua, bukannya ke Sosrokusuman (FYI, gang ini ada persis di samping Mal Malioboro) malah ditunjukin di hotel lain yang katanya, “Ini tinggal lurus, nanti belok kiri, deket banget ke Malioboro.”

“Deket gimana, Pak. Ini jauh. Saya nggak mau, ke Sosrokusuman saja.”

“Lah, udah capek gini.” Keluhnya. Aku tahu pak becak ini bisa dapat komisi dari hotel yang ditunjukkannya. Pengalaman lalu, dulu saya ditunjukin hotel sama tukang becak jelek dan kotor lumutan gitu. Ga mau lah.

“Kan tadi saya bilang ke Sosrokusuman. Gimana sih Pak.”

“Sudah, turuti saja Pak.” Suami bilang.

Genjoooott lagi. Dan ternyata bener masih jauh dari Malioboro Mal.

Bukan ke Sosrokusuman, kami kembali dipaksa ke Jl. Dagen. Oke gapapa, karena jalannya lebih luas dan letaknya cuma di seberang Sosrokusuman. Pas lihat hotel Whiz yang mentereng, 2 kali kami minta berhenti tapi becak terus melaju. “Di sana, Kumbokarno, bagus itu.”

Dan kami salah. Karena sudah males cari hotel, dan khawatir hotel penuh karena liburan mahasiswa. Kami terima hotel ini, dengan harga kepala 3 tapi bikin merana. Nggak asik. Pak becak minta tambahan 5K, aku kasih 10K mau ga dibalikin, ogah.

Dari hotel, kami langsung menuju toko buku taman pintar. Jalan kaki dong. Dan di sana, suami begitu bersemangat. Karena tempat ini lebih banyak di isi buku pendidikan yang murah, maka dengan gencar dia meneliti satu demi satu buku yang ada. Aku bosyaaan.

Dari sana kami ke Togamas. Lama lagi, aku yang biasanya suka banyak pilih buku dan boros, nggak beli apapun. Yang aku cari memang nggak ada, jadi ya sudah, nggak maksa beli yang lain. Duduk aja di pinggir kolam sampai kelaperan.

Abis itu kami makan soto ayam di seberang Togamas, dan pulang. Oya, kami booking Whiz hotel (hotel yang kami lihat waktu naik becak itu) untuk malam berikutnya. Di hotel sampai abis maghrib karena sakit kepala kumat (kesel banget kan, ni penyakit emang suka nongkrong kalo kecapekan). Malamnya kami makan di sekitaran Dagen saja, lele goreng. Pengen banget ke oseng mercon tapi suami ga bisa makan pedess.

 

 

sarapan

Menu sarapan hotel. Atas : Kumbokarno, Bawah : Whiz

Besoknya, setelah sarapan cuma nongkrong di hotel. Siap checkout, langsung pindah hotel Whiz. Karena weekday, kami dapat harga promo (katanya). Kalo bisa sih booking di web aja, kayaknya lebih murah. Di sini semalam untuk double kami dapat harga 400K.

Abis masuk kamar. Kami keluar untuk makan, dan jalan. Ke mana? Suami nggak mau yang jauh-jauh. Ke tempat wisata juga gak niat. Apalagi ke mall. Maunya ke… Toko buku lagiii karena ada yang belum kebeli kemarin.

“Iya, mau. Tapi naik becak.”

Akhirnya kami naik becak ke Taman Pintar, karena panas lagi terik buanget. Di sana aku nagih jajanin buku, buat ongkos nungguin. Sempet lost contact, nyariin muter ga ketemu. Untung doi kalau di satu kios, lama banget.. jadi ketemu lagi deh.

Malamnya kami ke Mall Malioboro cari sepatu. Abis cari sepatu, minta ke Gramedia.

 

 

vredeburg

 

Whiz

Pemandangan dari hotel Whiz

 

whiz2

Kamar minimalis

becaks

Naik becak ke Taman Pintar

Toko buku

Udah mirip yang jual

Bakmi djowo di Yogyakarta ini selalu bikin kangen. Aku pengeeen. Cari info katanya yang deket ada di deket alun-alun, dari malioboro lurus aja ke alun-alun. Tapi karena hujan dan suami juga nggak mau jauh-jauh akhirnya ngemper aja. Nggak seenak waktu makan di depan kantor Hiperkes, yang kuahnya putih. Huwaaa. Tapi enak anget sih di hari hujan.

Bakmi Djowo

Bakmi Djowo

Nggak nyangka nemu gudeg cuma di samping hotel. Padahal aku udah pengen dari lama, penasaran sama gudegnya Yu Djum. Tadinya sih pengen nasgor seafood Solaria aja, tapi diajak ke sini. Minumnya es beras kencur. Ah endeus bang get !

Yu djum

Makan gudeg, di jl Dagen, sebelah hotel Whiz

Rabu, siang. Kami pulang. Paginya cuma ke Mal bentar beli titipan adek. Abis itu suami baca buku. Aku ngga jelas ngapain. Begitu jam 12 kami keluar hotel, naksi ke Lempuyangan, 35K ga mau pake argo! Arrrgh. Terus nunggu sampe jam 3 sore. Pulang dan sampe rumah dengan selamat, Alhamdulillah 🙂 Bawa belasan buku lhooo dari sana ckck. Kayak tukang jualan buku dah.

 

pulang

Pulang!

Lain kali kita ke sana lagi ya. Tapi ke tempat lain juga. Hihi.

 

 

Mantai Berdua

Bismillahirrahmanirrahim

Seminggu ini suami cuti pulang ke Jawa nengokin istri. Berbagai rencana dirancang, salah satunya mau main ke Yogyakarta. Tapi menjelang rencana keberangkatan, karena sudah mulai hujan dan bapak juga lagi pergi ke Medan (di rumah cuma berdua kalau kami jadi pergi ke Yogya) akhirnya batal.

Di rabu sore akhirnya kami naik kereta (pengen naik kereta berdua, secara kami suka naik kereta) ke Kroya buat mudik ke kampung halaman suami. Gaya banget nggak sih dari Pwt – Kroya kok naik kereta? Naik motor, cape dan risiko kehujanan. Naik mobil, lagi agak trobel. Naik bis, males ribetnya dan lama. Kalau naik kereta, cuma setengah jam udah sampai, nanti di stasiun Kroya minta jemput Bapak Mertua, hihi.

Harganya 35 ribu, kami beli buat berangkatnya sementara tiket pulang kami beli di Kroya. Keesokan harinya, kami keliling. Biasa, kalau ke Cilacap ini, banyak yang harus dikunjungi. Selain keluarga si Mas, keluarga dari bapak saya juga banyak di kota ini.

Kami berangkat menuju pantai Jetis di Ds. Congot, setelah awalnya ditemani rintik hujan alhamdulillah cuma sebentar. Nah, di sana sepi banget, maklum bukan masa liburan. Seneng banget foto-foto. Mau main air males, akhirnya narsisong. Di sini akhirnya aku pakai tongsis pertama kalinya, hahaha. Pamer banget. Soalnya kalau mau foto berdua kalo ngga ada si tongtong ini ngga bisa. Ngambil kulit kerang buat kenang-kenangan, hihi.

Mampir ke Tempat Pelelangan Ikan, buat makan ikan di resto seafood di sana. Di perjalanan Mas-nyah nyangkut di proyek Tambak Udang Vanname yang sedang dikerjakan. Emang ya, kalau udah suka, istri suka kelupaan, hihi. Nah lanjut di resto kami pesan ikan kerapu bakar yang kata Mr. Ib nggak enak karena kurang matang, harus cobain ikan bakar di Aceh katanya.. yaya.

Dari sana, kami lanjut ke rumah Simbah saya dan Bude. Disambut ramai karena nggak ngabarin dulu, hihi. Main sama dedek Al juga yang makin lucu. Di rumah Simbah, ternyata beliau sedang bikin gula buat dijual 😀 Bantuin ngaduk sebentar aja udah panas bukan maiin.. pakai tungku soalnya.

Pulangnya, seperti biasa kami dioleh-olehi segala macam. Metik kecombrang kesukaanku. Dipetikin daun turi, daun so, dibawain telur asin (yang jatuh remuk pas nabrak jalan lubang). Lanjut ke rumah Simbahnya Mas. Karena mau hujan, kami nggak lama-lama. Di rumah Mr. Ib sore itu kami siap-siap pulang, Ibu mertua baru pulang kerja udah nyiapin semua yang bisa dibawa. Sayuran, singkong, pisang, bumbu pecel bikinan sendiri (bikin semalam dan sore sebelum kami pulang), lele panenan sendiri. Si Mas agak males bawa barang banyak-banyak, hihi.. katanya kami jadi kayak ringsung (orang gila yang bawa barang macem-macem) soalnya total kami bawa 3 kresek besar selain 2 ransel yang kami panggul masing-masing.

Magrib kami diantar ke stasiun, masuk ke kereta Serayu Pagi setelah shalat magrib. Dan kembali pulang ke rumah. Karena kepanasan-gerimis, sakit kepala deh. Tapi alhamdulillah setelah makan pecel (dari sayur oleh-oleh) dan telur asin, kerokan bawang merah, minum cokelat anget oleh-oleh Mas dari Aceh, sembuh :’)

Lalu jumat kami berangkat ke Banjarnegara karena sepupu ada yang nikah. Malamnya kami ikut seserahan, lalu terpaksa nginap di hotel karena rumah Eyang penuh sama keluarga yang lain. Esoknya kami kondangan, dan segera pulang karena Mas harus siap-siap untuk berangkat ke Jakarta. Ya.. waktunya pulang. Terimakasih untuk 1 minggu ke belakang 🙂 See u very soon.

This slideshow requires JavaScript.

Pulang

Bismillahirrahmanirrahim

Keadaan kamar ini nggak seberantakan seminggu ke belakang. Kenapa? Karena Mr. Ib sudah kembali ke Jakarta :’)

Jadi, Sabtu kemarin 16 Agt Mr. Ib mendarat di Jawa lagi, buat ngunjungin istri cerewetnya ini sekalian ada acara di Jakarta. Bukannya diajak jalan, isinya cuma dicuekin, dicerewetin, haha. Kasihan banget ya, jadwal pulangnya pas PMS gitu…

Hari jumat kemarin, kami pergi ke rumah Eyang, karena sejak nikahan belum pernah ketemu cucu menantu pertama ini. Alhamdulillah ketemu juga mereka berdua. Setelah nginep semalem di rumah Eyang, paginya aku di-drop di Puskesmas, kerja. Siangnya dijemput Mr. Ib yang ga bilang-bilang mau jemput. Sepanjang pulang pun nggak nanya belok kemana-kemananya, haha… pinter yaa nggak lupa jalan.

Sabtu sorenya kami ke rumah Mr. Ib di Cilacap. Naik motor. Pertama kalinya naik motor ngebonceng untuk perjalanan lebih dari 1 jam. Pake gendong tas gendut, pake rok, sendal bukan sendal gunung. Ya dikira-kira sendiri aja deh rasanya, sementara waktu itu ternyata emang PMS beneran karena udah encok-encok ga karuan.

Magrib sampai di rumah ibu mertua. Ngobrol-ngobrol sampe ngantuk, terus tidur. Besoknya abis bersih-bersih dan masak, mampir ke rumah Simbah (ibu dari bapak, yang memang nggak jauh) terus mampir juga ke rumah Simbahnya Mas Ib. Siangnya kami pulang dengan gembolan yang nggak kalah banyak. Dioleh-olehin segalaaa macem sama Simbah, Bude, Bumer… sampe bingung mau ditaro di mana.

Alhasil, semua hasil bumi (baca: buah, sayur, telor, makanan, dll) ditaro di depan, bareng ransel si Mr. Awalnya aku gendong ransel juga, tapi diminta sama si Mr buat gendong depan, biar aku nggak encok (asli, deh.. H1 period bikin rasa ga karuan).. Ngejar waktu soalnya suami mau reunian sama temen SMA. Di jalan ada 2 kecelakaan, koar-koar sama Mr Ib supaya nggak kenceng-kenceng. Alhamdulillah sampe juga di rumah dengan segala keletihan yang ada. Kapok naik motor jauh-jauh kalo bawa gembolannnn.. Huhu..

Ga sempet ke pantai. Ga sempet poto keren berdua. Udahlah.. dinikmati aja deh seminggu itu.

Semalem nganterin ke stasiun, ditungguin sampe bener-bener masuk kereta dan jalan tu kereta (riwayat ketinggalan kereta gitu looh).. Nanti seminggu di Jakarta, terus balik Aceh lagi. Pengen nyamperin di Jakarta tapi giliran aku harus ke Semarang.. Semoga cepet bareng ya.. 🙂

Wedding Trailer

Bismillahirrahmanirrahim

Butuh 2 bulan lebih untuk Seen Motion (FB) ngelarin videografi ini. Tadi hasilnya sudah dikirim dan puas 🙂 Meski ada file mentah sebesar 250 GB yang belum kuambil karena belum punya wadahnya. Ini trailer-nya sudah lebih dulu launching karena aku nggak sabar. Sementara 3 seri lainnya terbagi menjadi Seserahan, Sabtu Pagi, dan Walimah.

Backsound

Ramadhan Pertama

Bismillahirrahmanirrahim

Ramadhan tahun lalu statusku sebagai pengangguran. Sudah lulus, siap cari duit, tapi Internship diundur setelah Lebaran. Akhirnya sebagai pengangguran yang berbakti, setiap hari nyiapin menu non kolesterol buat Bapake. Ada resep-resep minimalis di blog lawas Serial Sehat.

Ramadhan tahun lalu, masih berstatus single yang mengharap jodoh. Hahaha. Siapapun pasti tahu, saat kita sedang ingin, maka kita akan berdoa. Di waktu itulah aku berusaha menajamkan ibadahku. Kegalauan harus dilawan. Kebodohan harus dilawan. Jadi selain sunnah, memperbanyak bacaan, berusaha mengatasi hati yang gundah. Berserah. Memanfaatkan setiap waktu mustajab untuk berdoa.

Doa ini hafal di luar kepala. Setiap sujud dan sebelum salam.

“ROBBI HABLII MILLADUNKA ZAUJAN THOYYIBAN WAYAKUUNA SHOOHIBAN LII FIDDIINI WADDUNYAA WAL AAKHIROH”.

Artinya:“Ya Robb, berikanlah kepadaku suami yang terbaik dari sisi-Mu, suami yang juga menjadi sahabatku dalam urusan agama, urusan dunia & akhirat”.

Mengharap sekali juga tidak, karena makin nyaman hati ini menyadari bahwa semua sudah diatur sedemikian rapi dan cantik. Makin aktif belajar tentang keluarga, parenting, finansial.

Lalu Ramadhan kali ini. Alhamdulillah sudah berstatus istri orang. Meski kami masih berjauhan, dan aku belum bisa bertugas menyediakan persiapan puasa untuk suami. Maaf yaaa…

SELAMAT BERPUASA anyway. RAMADHAN MUBARRAK. Semoga Ramadhan tahun ini tidak lewat begitu saja tanpa menabung banyak pahala. (Ini peringatan buatku pribadi sih) Kayaknya harus bikin jurnal kegiatan deh! Ya ampun…. Alhamdulillah semoga kita bisa melewati dengan baik ya. Diberi umur sampe nemu Ramadhan lagi aja seneng kaaannn?

link melaksanakan tahajud setelah tarawih

Book – Sabtu Bersama Bapak

Bismillahirrahmanirrahim

Terima kasih kepada Gagas Media yang sudah mengadakan kuis bertema Hari Ayah. Karena itu lah aku bisa baca sebuah buku baru tentang seorang Ayah yang mendidik anak-anaknya meski ia sudah tiada. Bagaimana caranya? Dalam sisa hidupnya ia merekam video untuk ditonton setiap Sabtu oleh kedua anak lelakinya. Mungkin sudah pernah mendengar cerita yang sama? Ya, tapi di sini cerita kehidupan Satya dan Cakra lebih ditonjolkan. Sesekali muncul wejangan dari sang Ayah yang penuh dengan pelajaran. Well, itu ada di buku parenting, tapi dengan cerita ringan seperti ini kita bisa memetik dengan lebih mudah ilmu-ilmu itu.

Dan buku ini kupersembahkan untuk my half.. (itu juga karena dia minta sih, haha, wajib baca!)

half

Bookworm

Bismillahirrahmanirrahim…

Aku banget. Coffee liker.

Aku banget. Coffee liker.

“Siapapun yang terhibur dengan buku-buku, kebahagiaan tak akan sirna dari dirinya.” -Ali bin Abi Thalib

Ibnu Al-Jahm: Saya sangat senang dan cinta kepada buku. Dan, bila saya berharap untuk mendapatkan manfaat darinya, maka Anda akan melihat saya jam demi jam memeriksa berapa halaman lagi yang tersisa, karena takutnya mendekati halaman terakhir. Dan bila buku itu berjilid-jilid dengan jumlah halaman yang banyak, maka sempurnalah hidup ini dan lengkaplah kegembiraan ini. (my fav quote)

Aku ini penikmat buku. Karena menurutku kata ‘pecinta’ terlalu obsesif. Dalam sebulan paling enggak ada 1 buku yang kuboyong ke rumah (prediksi aja sih, karena untuk pastinya itu tergantung kondisi keuangan negara, hahaha). Yang jelas aku bisa membatasi berapa rupiah yang kugunakan untuk ‘menabung’ di toko buku. Kalau cekak, maka aku harus memaksa diri membaca buku-buku yang masih terbungkus rapi di almari.

Dan sekarang aku mengenal seseorang yang ‘sangat menikmati buku’. Adalah Mr. Ib, pria 30 tahun ini dalam sebulan ini sudah membeli entah berapa buku tebal untuk dilahapnya sendiri (karena genre bukunya nggak aku banget, >,<) Tapi memang dibaca. Awalnya dicari yang paling menarik, lalu dibaca dari awal.

Wife. “Kok beli buku teruuusss?”

Husband. “Aku kan pengen kayak Muhammad Hatta.”

Iri.

Gimana enggak, lihat aja reading challenge 2014 ku. Sudah banting harga, cuma 20 untuk tahun ini. Dan ini sudah Juni, separo saja belum. Ampun deh. Padahal sudah disambi baca di Puskesmas, hahaha. Jadi, aku harus mengetatkan target membacaku (ya kecepatan bacaku nggak secepat Mr. Ib sih…) mengurangi waktu nongkrongin gadget. Semangat!

*Barusan Mr. Ib pamer buku baru lagi dooong… >,< miaw

Semoga suatu hari kami bisa punya perpustakaan pribadi yang nyaman dan lengkap 🙂 aamiin…

Line untuk LDR

Bismillahirrahmanirrahim…

Sejak adik tugas belajar di luar, Line jadi sarana mengasyikkan buat ngobrol. Meski hanya ngibril-ngibril nggak jelas, dan kadang nggak nyambung, kadang putus-nyambung *karena aku pakai energy saver. Mau video call juga oke, lebih hemat biaya dibanding nelepon pake pulsa biasa. Cuma ya harus stabil koneksi internet. Kalau di rumah sih alhamdulillah stabil, yang di sana itu yang kadang nggak stabil.

Sejak LDR sama suami untuk sementara (doi di Aceh), kami juga pakai Line. Kalau sambungan lagi nggak stabil ya telepon-teleponan aja, nggak pake video. Lumayan daripada lumanyun. Apalagi iconnya lucu-lucu, bisa mesra bisa juga bejek-bejekan ala krdt, haha. Silahkan dicoba ^^

Nih kukasi biar makin sip, hahaha.

Motion Creative Photography

Bismillahirrahmanirrahim…

Nggak terlalu nunggu-nunggu banget sih, karena secara sadar aku ngerti kalo nyetak foto dan ngeditnya lumayan lama. Eh si Mas Sukma Motion Creative cerita kalo ternyata paket album udah datang. Besokannya diantar ke rumah. Yeay. Makasi ya udah bersedia nganter ke rumah. Setelah 2 hari yang full itu. Ya, 2 hari. Rencana awal kan cuma pakai fotografi di hari H, karena acara memang dipadatkan hari itu. Tapi karena dari WO menyarankan ada acara ijin nikah dan tantingan, makanya tim foto dan video diminta standby dua hari. Senengnya sih karena ada banyak ‘warna’ di album foto, nggak melulu tentang akad dan resepsi. Cuma, karena mepet banget, foto berdua di pelaminan jadi cuma dikit, hiks… Harus bikin postwed yang banyak nih, hahaha.

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC


SONY DSC

SONY DSC

 

Album. Suka bangett! Tonal terutama, sama angle, dan candid-nya. Warna album juga suka, soft. Persentase puas-nya gede lah. Cuma ada beberapa hal kayak celana si Mas yang nyincing di saat nggak tepat, padahal tu foto mayor yang harusnya bakal dipajang di rumah (tepok jidat). Coba deh ntar diedit sendiri, kali aja bisa, haha. Selain album juga dikasih soft file, cuma ada beberapa yang belum diikutin, semoga aja ada cuma kelupaan. Kayak kondisi gedung waktu masih kosong, katering, detil backdrop, WO, tamu di rumah, tapi kalaupun nggak ada semoga ketangkap di kamera mas Eye (videografi). Ya nggak semua yang kamu pengen harus ada yahh, tenaga dan pikiran kan terbatas, heheh. Banyak maunya banget ni bocah. Tapi…. at all… SUKA. Thanks ya MOTION.

Ini slideshow beberapa dari total keseluruhan foto, ga semua dimasukin yaa.

This slideshow requires JavaScript.

 Wordpress Motion Creative | FB Motion Creative