Hotel Dalu vs Star Hotel Semarang

Bismillahirrahmanirrahim

Sejak punya bayi, kalau nginap di hotel ada beberapa pertimbangan. Pertama adalah kenyamanan. Saat di Semarang kemarin, karena kurang pengalaman dan info jadi memutuskan hotel yang sekiranya nyaman saja. Mari kita buat review VS nya :

Layanan jemput dari Stasiun / Bandara

Setahuku keduanya punya layanan ini. Yang aku nikmati adalah dari Hotel Dalu Jl. Majapahit, karena petualangan berawal dari sana. Jam 3 sore, 1 jam sebelum sampai di Semarang kami dikabari bahwa mobil tidak bisa menjemput. Kami disarankan naik taksi dari Stasiun dan biaya akan ditanggung hotel. Betul lho, yay!

Kamar tipe Superior

Hotel Dalu yang kupesan tipe yang ada di Pegipeg*.com saja. Terdiri dari 2 kasur single (menurutku lebih nyaman untuk kami dan terasa lebih lega), meja, gantungan baju, TV, toiletries (sikat gigi, handuk, sandal), kamar mandi air hangat (shower, WC duduk, wastafel), teko listrik plastik + cangkir + tehkopigula. Pemandangan kamar : tembok. Makan untuk 2 orang, tapi kami bertiga tidak dikenai biaya tambahan šŸ™‚

Star Hotel. Jl. MT Haryono. Kami memilih kamar di lantai 9, sengaja karena ingin melihat suasana malam dari ketinggian. Kamar kami cukup lapang. Dengan 2 single bed, nakas, meja panjang, TV, almari, 2 bantal tambahan, kulkas, brankas, shower + WC duduk + wastafel air panas. Pemandangan kamar : kota Semarang dari ketinggian. Tidak mendapat sarapan.

Akses Kuliner / Wisata

Kedua hotel ini tidak terlalu jauh dari pusat kota / Simpang lima. Paling hanya 10 menit-an dengan gojek. Jadi untuk kuliner sebetulnya cenderung sama-sama mudah.

Hotel Dalu sejalur dengan Pempek Ny. Kamto, Richeesee Factory, bersebelahan persis dengan ACE Hardware (nyesel gak mampir liat sale haha), Lotte Mart.

Star Hotel bersebelahan persis dengan Java Supermall. Memudahkan sekali untuk mencari makan dan berjalan santai di mal.

Star Hotel ini sendiri punya sesuatu yang berbeda dari kebanyakan hotel. Dia punya swimming pool di rooftop, tepatnya di lantai 30. Dengan cafe untuk grill dan bersantai di sebelahnya. All you can eat. Aku sendiri cuma penasaran ke lantai tertinggi ini, jadi aku dan emak Laili ini bawa 2 krucil bayi lucu ke lantai 30 cuma buat mastiin di sana ada kolam renangnya hahaha. Masih bagusan kolam renangnya Grand Kanaya >,< tapi pemandangan lampu kelap-kelipnya wow. Kolam renang tutup jam 8 malam.

Sarana Pendukung ASIP/MPASI

Kalau dibandingkan tentu Star Hotel lebih mumpuni. Dia punya kulkas, dan teko pemanas air yang lebih bagus. Keduanya memudahkan untuk membuat MPASI dan menyimpan ASI.

 

Jadi kalian mau nginap di mana kalau ke Semarang? Hehehe

3 Nights at Semarang

Bismillahirrahmanirrahim

Bepergian membawa bayi ada di urutan bawah wishlist-ku. Well ya aku ngebayangin aja gimana rempongnya, hahaha. Anak rumahan begini ya. Tapi ada urusan tak terduga, di hari Selasa aku ditugasi ke Semarang untuk 4-5 Februari 2017. Bawa bayi 15 bulan untuk acara full day itu berarti harus bawa ART juga. Alhamdulillah konfirmasi ke ART, dia mau. Yeay.

Tapi, meninggalkan bayi hanya dengan ART bikin mikir juga hihi. Akhirnya aku bawa sertalah adikku. Langsung cari hotel dan tiket kereta. Aku sama sekali buta Semarang, dan aku nggak suka perjalanan dengan mobil ke sana. Jadi langsung aja pesan tiket kereta Kamandaka, kereta satu-satunya dari Purwokerto ke Semarang dengan jarak tempuh 5 jam kurang.

Mencoba pesan hotel dengan Travelok* tapi gagal, apalagi hotel di Jl. Majapahit yang muncul hanya 1 hotel (padahal aslinya banyak). Hmmm… Harus buru-buru pesan takut dapat hotel kejauhan (dan ternyata lokasinya masih tetap jauh, karena lokasi yang dituju pun nggak muncul di google map). Yoweslaaaaa… pake Pegipeg* akhirnya. Ga banyak cincong langsung booked.

Berhubung hotel yang kupilih untuk malam 1 dan 2 adalah hotel biasa, sayang ya… jalan-jalan bisa beberapa tahun sekali gitu hehe. Jadi untuk hotel di malam terakhir saat sudah bebas tugas aku cari hotel yang agak mendingan. Kenapa 3 malam? Harusnya sih bisa aja cuma 2 malam, tapi karena jadwal mepet sama jam keberangkatan terakhir kereta jadi diundur ke Senin pagi dini hari.

Di malam pertama kami menginap di Hotel Dalu Jl. Majapahit sementara malam ketiga kami memutuskan menginap di hotel Star Jl. MT Haryono. Pesan tiket untuk 4 orang supaya lebih longgar dan nyaman.

Kami berangkat hari Jumat 3 Februari jam 11 siang. Beberapa hari terakhir Ichi di-sounding secukupnya, aku kasi video Bob si Kereta, Thomas, dan Kereta Api. “Ichi mau ke Semarang, naik kereta? Tutututut gujes gujessss. Gimana? Tututut gujes gujess… ”

Aku memang khawatir, karena Ichi gampang takut. Meski sekarang udah mendingan gak kayak waktu masih kecil, bisa geger! Haha. Suara kereta kan besar ya, kalau dia takut, sepanjang perjalanan apa gak serem?

Tapi ketakutanku ternyata ga terjadi. Begitu masuk melewati pemeriksaan, Ichi antusias sekali lihat kereta. Wow… dia nunjuk-nunjuk kereta. Bahkan saat peluit menyala, dan kereta lain jalan dia masih antusias. Alhamdulillah. Hmm tahukah… sepanjang jalan dia ceria sekali, makan nggak berhenti, naik-turun koper saat sedikit bosan, dan tidur saat mengantuk. Tanpa minta jalan-jalan dan gendong. Good job, Boy! Proud of you! Menyanyi, dan menyapa tetangga kursi. Sampai dipuji Bude-bude kalau mas bayi anaknya anteng.

Pemandangan dari kereta

Setelah sampai di Stasiun Tawang, rencana awal kami dijemput oleh Hotel karena mereka punya layanan jemput juga. Tapi di perjalanan kami ditelepon karena ternyata mereka tidak bisa jemput, jadi kami akan diganti biaya taksi. Alhamdulillah.

Kamar kami kecil, tapi no problem lah. Kami dapat akses wifi. Bersebelahan dengan ACE Hardware (dan sekarang nyesal ga mampir). Sejalur dengan pempek Ny. Kamto, Richesee Factory, Lotte mart. Dengan lokasi yang dituju jaraknya memang agak jauh, jadi aku memutuskan download aplikasi gojek.

Pengalaman pertama order gojek sedikit lucu, karena salah pencet order, pak gojek ini datang padahal belum waktunya berangkat. Bayaran gojek rata-rata hanya 5000 saja, tapi atas dasar kemanusiaan biasanya kulebihkan.

Malamnya kami makan di Citraland, sibayi bahkan sempat minta ASI di taksi dan tertidur. Tapi begitu liat mall dia antusias dan makan lahap. Pulangnya ngantuk lagi. Untuk sarapan, Hotel Dalu punya menu sederhana yang enak. Aku suka deh pokoknya. Bahkan di sarapan kedua menunya lengkap sekali.

Malam kedua kami sudah capek dan ngantuk, jadilah order go-food Richessee ahay. Lemak-lemakkkk. Hari ahad siang aku ada acara, bayi dan kroco-kroco pindahan hotel. Untuk hotel dan wisata lebih lengkap kayaknya harus ada postingan lain, hihi. Tunggu yaaaa šŸ™‚

Lunpia Express

Tekwan

Hari ahad itu menyenangkan. Wisata ke Masjid Agung Jawa Tengah dan penuh lampu kota Semarang (akan ada postingan berikutnya ya hehe) Special thanks to Mas Toffan dan Mba Ade yang ngajak kami ke sana. Hmmm. Indah! Lagi-lagi order go-food untuk beli oleh-oleh Pempek Ny. Kamto pesanan dan Lunpia Express pesanan (pesan crab tapi habis, huhu) karena waktu yang sempit. Gara-gara nunggu pesenan go-food gak datang-datang, temenku Laeli kelamaan nunggu di McD Java Supermall (kami janjian). Pas dia memutuskan ke lobi hotel, aku malah ke Mall beli Solaria karena belum makan malam. Tapi kami tetep ketemuan dong, bahkan ke rooftop segala. Jam 10 malam! Bersama 2 bayi, eim! Makasi kakak Kenzie..

Masjid Agung Jawa Tengah dari puncak Menara

Swimming Pool di Star Hotel Semarang

Paginya di hari terakhir kami bangun setengah 3, agak parno terlambat kereta tapi sebetulnya sih kalau cek ot jam 4.30 pun mungkin keburu banget. Tapi hikmahnya berangkat stasiun jam 4 ya shalat subuhnya di mushala Stasiun Tawang.

Perjalanan pulang sibayi cranky. Ngantuk. Minta ke bordes. Daripada bikin riuh dan jadi tontonan orang, aku bawa bayi ke bordes dan berdiri di sana bergetar hebat, goyang-goyang dan berisik. Tahu lah gimana bordes. Di depan toilet. Mana pintu ngebuka sendiri, pintu samping ituuu yang harusnya terkunci dengan baik >,< Aku takuut. Jadilah nyebrang ke gerbong belakang. Hey.. sepi.

AC adem, sepi, dan si bayi pun pulas. Sejak dari Slawi rewel, Bumiayu tidur sampai Purwokerto. Dan dia bangun dengan bahagia.

Pengalaman yang sangat menyenangkan >,<

Tips Bunichi Bepergian bersama Bayi Naik Kereta (ala-ala aja sih, ya)

  1. Prepare dengan baik masalah baju, jaket, makanan, mainan, buku, gendongan, dll. Ingat, tetep usahakan space jangan terlalu banyak, repot bawanya.
  2. Gimana kalau bayi nggak suka makanan hotel atau mall atau resto? Bunichi bawa oatmeal, dan buah-buahan. Jadi kalau sarapan si bayi lebih sering makan oatmeal buah.
  3. Mandinya gimana? Biasanya pakai bak. Sejujurnya yang mandiin bayi selalu rewang, tapi kalau pengalaman nginep di hotel sebelumnya, ya pakai shower mandinya. Kalau kemarin, pakai air wastafel diguyur pakai baskom (bawa baskom buat steril alat)
  4. ASIP gimana? Jam siang bayi datang ke klinik untuk ng-ASI, tapi dia terlalu asyik main jadi nggak mikir ng-ASI, lebih suka jegjegan. Tetap bawa BP meski nggak dipakai hehe. Sebaiknya sih mompa, terutama kalau masih banyak ASI-nya.
  5. Untuk kasus darurat, Buni save video mainan dan Bob si Kereta. Walaupun pas lagi pulang tuh ini nggak mempan, tapi pas berangkat sempat bikin dia agak anteng dibanding naik-turun kursi.
  6. Selalu siap ng-ASI dimanapun berada, baik di kereta maupun di taksi.
  7. Jangan lupa sounding ya. Pas pulang bayi lupa disounding, tapi juga karena ngantuk jadi nggak kayak berangkatnya.

    Kalau tips kalian apa? 

    Staycation* di Grand Kanaya Baturraden

    Bismillahirrahmanirrahim

    post-1

    Sebagai anak rumahan, kami jarang banget pelesir. Bahkan yang dekat sekalipun. Bahkan yang kalau orang jauh-jauh rela datang, kami yang sepelemparan batu pun jarang. Nah, ayah memutuskan mudik karena akan bepergian jauh dan mungkin belum punya agenda untuk pulang sampai akhir tahun. Jadi ayah memutuskan pulang di awal bulan.

    Kami berencana berlibur. Karena ayah yang mudik dari ujung Sumatra itu cuma punya 2 malam untuk bersama dengan bunda dan Ichi. Tidak jauh, hanya ke dataran tinggi di kaki gunung Slamet yang jaraknya hanya kurang lebih 30 menit.

    Sabtu, 5 Nov 2016.

    Semalam ayah sampai. Ichi yang sudah tidur, kebangun sambil senyum malu. Gitu terus, sampai tidur lagi. Ayah masuk angin. Akumulasi kehujanan belakangan ini, bangun kepagian karena harus ke bandara, dan sampe rumah dikasih kopi hehe. Vomit, mules. Muka udah lemes aja. “Yah, kalau gini nggak usah aja besok.” “Jangan dong, udah dibayar.” Jadi buni kerokin aja sama kasih teh pahit. Katanya ini pertama kalinya dikerokin, mengaduh sampai gaduh. Idih ayah, waktu hamil Ichi buni gini juga kalii ampe kirain mau brojol. Ampe pasien lagi periksa divomitin juga. Bolak-balik moncor atas bawah, taunya sembuhnya abis dikerokin (hadeh). Udah, abis kerokan sembuh deh.

    Sepanjang hari buni kerja. Ayah benerin pompa sumur. Bunda kondangan ke tempat besties (My Dije Bude Sude) yang selama anggota Chortle nikah selalu hadiroh, maaf banget ya De kami nggak datang lengkap, nggak datang bareng, nggak datang akad. Maafffin dulu padahal sampe bela-belain datang ke nikahanku dan nolak kerjaan keluar kota.

    Sorenya kami sekeluarga berangkat ke Baturraden. Mampir dulu ke Pringsewu makan bareng. Seneng banget si Ichi mainan sedotan dan disuapin kentang. Selesai makan, check in di Grand Kanaya Baturraden, hotel baru yang ngehits banget karena pool-nya. Oya kami nggak pake aplikasi, langsung nelpon dan transfer. Untuk biaya menginap per malam 300K weekday, 400K weekend.

    Setelah ganti pospak, ganti baju (sibayi risih pake lengan panjang) kami nonton teve dan kruntelan. Seneng banget si kecil itu liat teve yang guedee hihi. Udah selesai, nagih ng-asi dan langsung tepar.

    Ahad, 6 November 2016

    post-4

    post-2

    Paginya bayi bangun seperti biasa, jam 6. Jam 7 udah dimandiin padahal biasanya mandi paling cepet jam 8 hihi. Mandi pake shower hangat, udah asal cepet dan nggak pake keramas takut kedinginan. Sebenernya cuaca nggak dingin amat sih. Kamar hotel emang nggak pakai ac karena di dataran tinggi.

    post-5

    Medang disit ben gak edy*n

    7.30 kami sudah siap breakfast. Menu : nasi goreng, nasi + lauk, omelet, bubur manis, susu murni, teh, kopi, buah, roti tawar. Karena lokasi breakfast di samping pool, kami sambil nonton yang pada berenang. Ichi nggak mau kalah, ngiterin tuh kolam tapi nggak pake berenang. Foto-foto aja hhihi.

    Niatnya sih mau langsung berangkat ke lokawisata karena ayahnya pengen mengenang masa pacaran (halal) dulu. Tapi Ichi ngantuk akhirnya bobo dulu. Sekalian check out kami nitip koper dan dengan pede jalan menuju lokawisata. Sekadar bayangan, jalanan sepanjang hotel – lokawisata itu sekitar 30 derajat kalau nggak salah kira ya. Jadi ya kalo paham pasti ngojek atau naik angkot dari terminal (kami nggak bawa mobil) haha.

    post-3

    Ayah gendong bayi belasan kilo, bunda bawa ransel ama lemak. Kaki udah kayak digandulin ama gajah. Berkali-kali berhenti buat minum. Angkot udah nggak mau berhenti, angkot aja susah mau ngerem-nya, gimana kita… Jadi ya sampe lokawisata bercucur keringat dan berkonde semua betisnya. Di sana langsung nongkrongin tukang pecel ama mendoan. Yang sampe mendung menggelayut nggak juga dikirim, akhirnya dibatalin dan memutuskan pulang daripada bayi keujanan repot. (Ini sebenernya pengen dokumentasiin tapi apa daya, ngeluarin hape pun tangan lunglai rasanya *lebay emang)

    Turun naik angkot. Pesen taksi buat pulang. Mampir beli makanan. Alhamdulillah sampe rumah juga. Sibayi nempel sama ayahnya, sampe waktunya ayah berangkat lagi ke rantau.

    See u soon Pap. Jalan-jalan lagi yaaa.

    Plus Minus Hotel Grand Kanaya Baturraden

    1. Dari gerbang ke lobi jauh ya. Kalau jalan lumayan, ga ada transport lain.
    2. Gak ada lift, jadi kalau dapet lantai 3 nggak usah bolak-balik turun.
    3. Gak ada AC dan kulkas. Mungkin karena dataran tinggi ya, meski kemaren nggak dingin-dingin amat, kulkas masih ok sih kalau ada šŸ˜€
    4. Breakfast kurang yummy kalau dibandingkan hotel yang tarifnya serupa.
    5. Pemandangan dari kolam renang baguss. Kalau dari kamar sih cuma kelihatan bagian belakang hotel yang lagi dibangun.
    6. Ada taman bermain, ayunan dan jungkat-jungkit. Mayaan buat main sama anak.
    7. Pool-nya, yang jelas, ok banget. Bisa dipakai sama pengunjung luar hotel juga.
    8. Kamarnya bagus bersih rapi. Kamar mandi jugak. Kelengkapan cuma handuk 2 biji, keset, sabun sampo, air mineral, pemanas air, teh kopi gula. Sandal sebenernya butuh banget itu.. dingiiin.

    *Artinya liburan tetapi tinggal di rumah atau kita berlibur ke tempat yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal. Bisa itu dilakukan di dalam kota atau sedikit ke pinggiran. (Nationalgeographic.co.id)

    Tips staycation bawa bayi 1 tahun.

    1. Bawa baju ganti, celana, pospak, kaos kaki, sandal, sabun + sampo (2 in 1), minyak telon, jajan, mainan, gendongan, tisu basah, tisu kering. Handuk sih pakai yang di hotel aja.
    2. Briefing dulu sebelum bepergian
    3. Rencanakan akan makan apa bayi saat bepergian dan stay di hotel
    4. Siap-siap kalau si anak minta titah.

    Ada yang mau menambahkan?

    Ada yang punya pengalaman serupa?

    Hiking to the Mount Selok and the Beach!

    Bismillahirrahmanirrahim

    SONY DSC

    SONY DSC

     

    Ini catatan perjalananku untuk mengakhiri liburan panjang di 2013. Jadi ingat, waktu itu ditanyain sama teman, liburan kemana. Dengan sedih aku jawab nggak ke mana-mana, hehe. Kata temanku yang lain, sebelum internship manfaatkanlah waktu untuk pelesir. Niscaya nanti pas udah kerja nggak ngarep jalan-jalan. Oke, Selok cuma sekitar 1 jamĀ punjul/lebih perjalanan, tapiĀ pretty cool.

    Aku tahu pantai ini dari Mba Em, yang menyebut-nyebut Pantai Selok saat pernikahannya, bagus katanya. Aku yang bosan disodori pantai di daerah Cilacap pun penasaran, seperti apa bagusnya sih? Letaknya di Adipala, Cilacap. Kalau lewat Rawalo, lokasi ini nggak terlalu jauh dari rumah. Tanpa persiapan berarti, Sabtu waktu duha kami-aku,bapak,adek- berangkat. Yang jelas, si kecil Alph (kameraku Sony A200) harus ikut.

    Begitu masuk kawasan wisata, kami disodori 2 pilihan, gunung Selok atau pantai Selok. Aku jawab, ā€œMana saja yang penting ada WC!ā€ Akhirnya entah atas pertimbangan apa Bapak ambil kanan, berarti Gunung Selok. Bayar tiket, per orang 3000 x 3 + biaya mobil = 12.000 QadarullahĀ lampu indikator aki menyala, ada yang tidak beres. Aku tanya, ā€œYakin bisa naik? Kalau enggak udah deh nggak usah.ā€ Aku khawatir tahu-tahu nanti mesin mati, kejadiannya kayak dulu deh turun gunung tanpa mesin menyala.

    Bapak terlalu yakin meski tidak meyakinkan. Akhirnya kami tetap naik. Obyek pertama adalah Gua Jepang. Uh, menyeramkan, hanya numpang foto saja. Lanjut lagi sampai di gerbang Padepokan Jambe Lima, sama seramnya, mistis. Lagi-lagi cuma numpang foto. Padahal itu sedang nahan (banget) hajat kecil. Akhirnya sampai di lahan parkir. Cari WC, ada. AlhamdulillahĀ air-nya lumayan bersih dan lancar.

    Setelah markir mobil dalam posisi agak njungkir, kami menuruni jalan setapak yang katanya menuju pantai. Waini patut dicoba, pikir kami. Dengan bangunan gapura kokoh di depan jalan. Awalnya paving blok masih dalam kondisi mulus dan indah. Kelamaan suasana hutan makin terasa menyeramkan. Khawatir ada ular atau monyet yang lewat, apalagi saat itu memang tampaknya cuma kami turis lokal sok jago yang lewat situ.

    SONY DSC

    SONY DSC

    SONY DSC

    SONY DSC

    SONY DSC

    Kayak di Pura Bali kaaan šŸ™‚

     

    SONY DSC

     

    Di tengah perjalanan kami melewati jembatan, dengan nuansa kuno. Lalu pemandangan pantai dari kejauhan mulai tampak. Wow, seperti Menganti dilihat dari bukit. Keren! Apakah pantai itu akan terjangkau pemandangan itu oleh kaki-kaki kami? Setelah puas berfoto, kami melanjutkan perjalananĀ yang kelamaan berubah haluan menjadi hiking *tepok jidat*.

    Tampaklah sebuah bangunan yang menampakkan aura tersendiri berdiri kokoh di depan kami. Bagaimana tidak, bangunan yang cukup indah itu berwarna putih kelabu di bagian pintu gapura depannya, dan.. ini kan hutan bro. Milik siapakah hunian itu? Ingin sekali masuk dan melongok.

    Papan penunjuk jalan mengatakan jarak goa dan pantai masih 300 meter. Hm. Jarak segitu dengan medan begini, apakah tidak seram? Danā€¦ 300 m itu lumayan jauh kan bro. Tapi kata adekku, ā€œAyolah, masa nyerah!ā€ Akhirnya, meski pagi hanya makan sepotong telur dadar aku tetap melaju.

    Hwaa perjalanan makin menegangkan! Jalanan curam, paving mulai menghilang. Okeoke, pantai sudah makin terlihat meski cukup jauh juga. Tapitapitapi, iniiiā€¦. Jalanan sudah menukik, tangga basah berlumut dengan derajat 60 kurang lebih. Aku takuuutt. Tapi nggak ada jalan lain yang lebih oke. Adekku mulai merongrong, sia-sia kalau sudah sampai sini nggak lanjut. Lagipula nanti bisa cari jalan lain. Jalan lain apanya! Kalau naik lagi ke atas aku nggak mungkin sanggupppp, kalau mutar, masa iya harus jalan di pesisir pantai terus naik gunung jalan kaki di pantai sepi ini?

    SONY DSC

    Lihat tuh di kejauhan šŸ™‚

     

    SONY DSC

    SONY DSC

    Rumah putih itu konon dibangun Presiden Soeharto

     

    SONY DSC

    SONY DSC

    Ini curam banget lho, dan licin. Hati-hati ya!

    Di akhir dari perjalanan menuju dataran rendah itu, sebuah tangga dengan lebar tidak terlalu nyaman untuk dipijak terbentang berbalut lumut dan basah oleh air. Di atas tadi saja aku hampir menggelundung karena tanah yang membuat terpeleset. Naini? Parah. Adekku sudah mulai turun, berpegangan pada bambu yang digantung di tebing. Bapak menyusul. Setelah memotret, dan memosisikan Alph dalam keadaan lebih aman, aku mulai turun sambil berdoa dan berpegangan pada apa saja yang bisa dipegang.

    Tap, tap, tap. Huah. Sampai juga di dataran rendah, rasanya gemetaaar. Sampai di tanah berpasir itu kami langsung disambut Gua yang berbau hio. Lalu berjalan lagi rupanya ada 2 buah warung di sana, dengan beberapa orang di dalamnya. Rasanya cukup mistis karena pengaruh hio tadi. Sepi pula. Orang-orang berkata-kata pelan. Kami memutuskan mampir di warung untuk melepas lelah.

    Goreng mendoan, minuman, dan mi cup jadi pilihan, tidak ada es di sana padahal cuaca cukup panas. Kami ditanyai lewat mana. Begitu menceritakan kami lewat atas, semua menyarankan untuk tidak kembali naik ke sana. Capek, hehe. Nggak akan kuat. Jadi bapak ngojek ambil mobil di parkiran, sembari lanjut ngisi air aki yang habis.

    Berjam-jam kami menunggu, dalam posisi kekenyangan, tidak bisa beranjak karena tidak bawa uang sepeserpun. Lupa. Uang di mobil. Bapak terlanjur pergi sebelum membayar makanan. Jadi sambil duduk, ngobrol, bengong kami menunggu. Banyak beberapa rombongan datang, membawa juru kunci atau tidak. Masuk ke gua dengan membawa jerigen, dupa, sesajen. Makin terasa seperti berada di Dunia Lain. Beberapa orang di warung juga datang dari Jakarta, sengaja datang ke tempat itu untuk melakukan ā€˜sesuatuā€™. Masuk ke gua, harus membayar tiket masuk. Dan jerigen (yang banyak dijual di warung-warung sekitar) itu untuk mengambil air (yang katanya) suci.

    Bagimu agamamu, bagiku agamaku.

    Oya, sembari menunggu, ada ayam berkaki empat yang bulunya bagus tapi sayang jalannya hanya bisa dengan 1 kaki (padahal punya 4 kaki ya). Aku lupa namanya, tapi jelas ayam ini tidak untuk dijual. Terus bapak nanya-nanya soal Pak Harto yang konon sering singgah di situ. Ternyata memang benar, dan rumah pagar putih itu yang biasanya ditinggali beliau.

    SONY DSC

    SONY DSC

    Seperti telaga yaa

     

    Waktu sudah makin sore, belum dhuhur pula. Lihat-lihat nggak ada tempat yang bisa kupakai untuk shalat. Tempat ini membuatku berpikir bahwa hanya kami berdua saja yang muslim. Padahal mungkin tidak. Untungnya bapak segera datang membawa si mobil yang tadi akinya ngadat. Segera saja kuajak pulang setelah membayar.

    Sebetulnya tempat itu sepertinya sulit dijangkau oleh tipe-tipe mobil dalam kota kalau melalui jalur pantai. Ada 2 mobil seperti panther yang mampu menjangkau tempat tadi, melewati pepasiran luas yang memisahkan gunung dengan laut. Sangsi, tapi bapak memaksa membawa mobil kecil itu. Begitu kami keluar menuju pantai, wow, rasanya seperti di gurun. Oke mungkin seperti Bromo. Atau apalah tapi ini keren. Yang jelas bapak konsentrasi menyetir melintasi jalan yang penuh pasir. Tersaruk-saruk, sampai pelepah pohon turut menyangsang di bagian bawah mobil.

    Kami sampai di dekat pantai. Ada mushala. Shalat dulu di sana. Tadinya berniat langsung pulang, tapi sayang belum ke pantai. Meski aku sangsi pantainya akan indah. Tapi ternyata wowww… sepi dan luaass. Sejauh mata memandang hanya ada pasir dan laut. Di kejauhan gunung terlihat samar karena cahaya matahari yang menyilaukan. Pasirnya bersih, dan membentuk salur-salur yang indah. Langsung berpose karena kamera sedang dikuasai adek. Dan hasilnya aku suka šŸ˜€

    Puas main air (sampai copot sepatu) main pasir, giliran adekku mainan, aku motrek. Subhanallah, penciptaan Allah yang begitu rupa. Mungkin pantai ini salah satu destinasi pantai yang aku suka. Terutama diĀ weekday,Ā karena sepii. Nggak ada pedagang, jadi harus siap bawa makanan.

    Kamu tinggal di Jawa Tengah atau daerah lain? Wajib datang ke pantai ini. Suka hiking atau naik gunung? Mencari gunung, pantai, gurun sekaligus? Coba sensasinya naik-turun gunung hutan SELOK ini. Puas sekali!

    SONY DSC

    SONY DSC

    SONY DSC

    SONY DSC

     

    Tulisan ini re-post. Postingan lalu dari blog lama, sudah diubah settingan jadi draft. Aku pindah sini supaya lebih banyak yang baca, moga-mogaa.. Yuk visit Jawa Tengah, explore dulu daerahmu sebelum kamu main ke daerah lain šŸ™‚

    1 Banner Jan-Feb 2015

     

    Yogyakarta, Berdua

    Bismillahirrahmanirrahim

     

    Logawa

     

    Yogya? Lagi? Haha.. kota ini sudah seperti kampung kedua saking seringnya kukunjungi. Kali ini aku pergi besamo suami. Perjalanan ke Yogya sudah sering dibincangkan, beberapa kali. Tapi selalu gagal. Kali ini harus berhasil. Setelah 2 hari istirahat di rumah, pada Senin tanggal 26 kami berangkat setelah sebelumnya beli tiket PP naik Logawa.

    “Logawa kereta apa?”

    “Ekonomi.”

    “Yah, hadap-hadapan dong?”

    “Iya.”

    Karena berdua, pengennya suami pake yang eksekutif. Tapi demi menghemat, lagian cuma 2,5 jam aja nggak masalah lah sempit-sempitan. Akhirnya dengan tiket berangkat sebesar 105K (sebelumnya cuma separonya lho šŸ˜¦ malah sempet ngalami tiket 6500 waktu SD!) dan tiket pulang seharga 65K akhirnya kami berangkat. Alhamdulillah di hari senin itu longgar, jadi kami cuma dapat teman duduk waktu dari Kutoarjo, sebelumnya cuma berdua aja šŸ™‚

    Sampai di Yogya, kami langsung cari becak buat cari penginapan. Aku memang nggakĀ booking penginapan sebelumnya, karena mau langsung cari di daerah Sosrokusuman (kalauĀ backpacking selalu nginap di sini). Bayanganku, mau cari hotel dengan harga 200K an saja, yang penting bersih, dekat Malioboro, murah kan. Tapi ternyata suami nggak mau, jadi kami cari dengan harga sedikit di atasnya.

    Tukang becak di sini agak maksa ya. Jadi begitu kami naik, kami ditunjukin 2 hotel seharga 200an, katanya. Dekat dengan Malioboro, katanya. Tapi, karena aku sudah sering ke sana, ‘dekat’ kata pak becak itu terlalu jauh lah. Hotel yang lebih tampak seperti motel.

    Di kali pertama. “Ini mba, bagus hotelnya.”

    “Nggak mau pak, saya mau Sosrokusuman saja.” Orang mau cari yang deket Mall (biar gampang kemana-mana, karena kami ga ada kendaraan, malah ditaro di ujung entah di mana).

    “Ini bagus kok, dicoba dulu.”

    “ENGGAK.”

    Kali kedua, bukannya ke Sosrokusuman (FYI, gang ini ada persis di samping Mal Malioboro) malah ditunjukin di hotel lain yang katanya, “Ini tinggal lurus, nanti belok kiri, deket banget ke Malioboro.”

    “Deket gimana, Pak. Ini jauh. Saya nggak mau, ke Sosrokusuman saja.”

    “Lah, udah capek gini.” Keluhnya. Aku tahu pak becak ini bisa dapat komisi dari hotel yang ditunjukkannya. Pengalaman lalu, dulu saya ditunjukin hotel sama tukang becak jelek dan kotor lumutan gitu. Ga mau lah.

    “Kan tadi saya bilang ke Sosrokusuman. Gimana sih Pak.”

    “Sudah, turuti saja Pak.” Suami bilang.

    Genjoooott lagi. Dan ternyata bener masih jauh dari Malioboro Mal.

    Bukan ke Sosrokusuman, kami kembali dipaksa ke Jl. Dagen. Oke gapapa, karena jalannya lebih luas dan letaknya cuma di seberang Sosrokusuman. Pas lihat hotel Whiz yang mentereng, 2 kali kami minta berhenti tapi becak terus melaju. “Di sana, Kumbokarno, bagus itu.”

    Dan kami salah. Karena sudah males cari hotel, dan khawatir hotel penuh karena liburan mahasiswa. Kami terima hotel ini, dengan harga kepala 3 tapi bikin merana. Nggak asik. Pak becak minta tambahan 5K, aku kasih 10K mau ga dibalikin, ogah.

    Dari hotel, kami langsung menuju toko buku taman pintar. Jalan kaki dong. Dan di sana, suami begitu bersemangat. Karena tempat ini lebih banyak di isi buku pendidikan yang murah, maka dengan gencar dia meneliti satu demi satu buku yang ada. Aku bosyaaan.

    Dari sana kami ke Togamas. Lama lagi, aku yang biasanya suka banyak pilih buku dan boros, nggak beli apapun. Yang aku cari memang nggak ada, jadi ya sudah, nggak maksa beli yang lain. Duduk aja di pinggir kolam sampai kelaperan.

    Abis itu kami makan soto ayam di seberang Togamas, dan pulang. Oya, kami booking Whiz hotel (hotel yang kami lihat waktu naik becak itu) untuk malam berikutnya.Ā Di hotel sampai abis maghrib karena sakit kepala kumat (kesel banget kan, ni penyakit emang suka nongkrong kalo kecapekan). Malamnya kami makan di sekitaran Dagen saja, lele goreng. Pengen banget ke oseng mercon tapi suami ga bisa makan pedess.

     

     

    sarapan

    Menu sarapan hotel. Atas : Kumbokarno, Bawah : Whiz

    Besoknya, setelah sarapan cuma nongkrong di hotel. SiapĀ checkout, langsung pindah hotel Whiz. Karena weekday, kami dapat harga promo (katanya). Kalo bisa sihĀ booking di web aja, kayaknya lebih murah. Di sini semalam untukĀ double kami dapat harga 400K.

    Abis masuk kamar. Kami keluar untuk makan, dan jalan. Ke mana? Suami nggak mau yang jauh-jauh. Ke tempat wisata juga gak niat. Apalagi ke mall. Maunya ke… Toko buku lagiii karena ada yang belum kebeli kemarin.

    “Iya, mau. Tapi naik becak.”

    Akhirnya kami naik becak ke Taman Pintar, karena panas lagi terik buanget. Di sana aku nagih jajanin buku, buat ongkos nungguin. Sempet lost contact, nyariin muter ga ketemu. Untung doi kalau di satu kios, lama banget.. jadi ketemu lagi deh.

    Malamnya kami ke Mall Malioboro cari sepatu. Abis cari sepatu, minta ke Gramedia.

     

     

    vredeburg

     

    Whiz

    Pemandangan dari hotel Whiz

     

    whiz2

    Kamar minimalis

    becaks

    Naik becak ke Taman Pintar

    Toko buku

    Udah mirip yang jual

    Bakmi djowo di Yogyakarta ini selalu bikin kangen. Aku pengeeen. Cari info katanya yang deket ada di deket alun-alun, dari malioboro lurus aja ke alun-alun. Tapi karena hujan dan suami juga nggak mau jauh-jauh akhirnya ngemper aja. Nggak seenak waktu makan di depan kantor Hiperkes, yang kuahnya putih. Huwaaa. Tapi enak anget sih di hari hujan.

    Bakmi Djowo

    Bakmi Djowo

    Nggak nyangka nemu gudeg cuma di samping hotel. Padahal aku udah pengen dari lama, penasaran sama gudegnya Yu Djum. Tadinya sih pengen nasgor seafood Solaria aja, tapi diajak ke sini. Minumnya es beras kencur. Ah endeus bang get !

    Yu djum

    Makan gudeg, di jl Dagen, sebelah hotel Whiz

    Rabu, siang. Kami pulang. Paginya cuma ke Mal bentar beli titipan adek. Abis itu suami baca buku. Aku ngga jelas ngapain. Begitu jam 12 kami keluar hotel, naksi ke Lempuyangan, 35K ga mau pake argo! Arrrgh. Terus nunggu sampe jam 3 sore. Pulang dan sampe rumah dengan selamat, Alhamdulillah šŸ™‚ Bawa belasan buku lhooo dari sana ckck. Kayak tukang jualan buku dah.

     

    pulang

    Pulang!

    Lain kali kita ke sana lagi ya. Tapi ke tempat lain juga. Hihi.

     

     

    Nyaman Bersama Railink ARS KNO-Medan-KNO

    Bismillahirrahmanirrahim…

    Ada sekelumit cerita yang akan ku tulis di sini. Tentang perjalanan lalu di Medan, terutama tentang transportasi yang kupakai. Perjalanan yang menyenangkan karena di waktu yang singkat banyak cerita yang bisa kupetik. Siapa tahu di antara kalian ada yang dalam waktu dekat akan menyambangi kota Medan.

    Sebelum berangkat ke Medan, aku banyak mencari tahu tentang kota ini. Waktuku sebenarnya nggak banyak di sana. Hanya 2 malam. Tapi aku tetap mencari kemungkinan berwisata, jadi aku mencari tempat wisata yang kira-kira bisa dikunjungi. Aku buta Medan, begitu juga Bapak yang pergi bersama kala itu. Meski beliau sudah ke banyak pulau di Indonesia, termasuk Kalimantan, Papua, Sulawesi, Sumatra ini belum terjamah.

    Aku banyak menggunakan info dariĀ surfing di internet, karena kami tidak ada keluarga di sana yang bisa ditanyai. Salah satunya info yang kudapat ya tentang Railink ARS ini. Begitu tahu ada kereta api bandara yang bisa membawa kita ke Medan dari Kualanamu (dan sebaliknya) dalam waktu singkat dan nyaman, langsung saja aku pesan tiket untuk pulang (via online)Ā karena tiket Kualanamu –Ā Medan kami putuskan beli on site.

    Boarding jam 11 siang dari Bandara Soekarno Hatta, pesawat kami agak terlambat. Sampai di Bandara Kualanamu Medan jam 13.05, kami mengambil bagasi dan langsung menuju ke stasiun bandara untukĀ menunggu kereta ke Medan. Ditawari taksi 150K ke Medan sih, tapi kami tetap membeli tiket Railink ARS (belinya di bandara, di stasiun juga ada sih sebetulnya). Kami tidak ingin melewatkan kesempatan menjajal kereta yang belum ada di tempat lain di Indonesia ini kan. Harganya 80K sekali jalan (saat itu, kalau tidak salah sekarang 100K tapi silahkan cek lagi di website-nya), kalo belinya berlipat makin murah. Kami diberiĀ kartu masuk stasiun danĀ nomor kursi. Untuk Kualanamu-Medan 45 menit, Medan ā€“ Kualanamu 30 menit.

    Stasiun Kualanamu

    Stasiun Kualanamu, pstt ada wifi lho!

    Siap masuk kereta

    Siap masuk kereta

    Begitu masuk stasiun Bandara yang hanya berjarak sebentar saja dari pintu Bandara, hwahh.. kayak di luar negeri deh. Gede dan bersih. Karena kereta dijadwalkan jam 2 siang, kami menunggu dulu di ruang tunggu sambil ngemil roti danĀ minum. Begitu pengumumanĀ disiarkan kalau penumpang boleh memasuki area bagian dalam di mana kereta sudah terparkir, kami baru masuk.

    Kami masuk menggunakan kartu yang sudah diberikan saat kami beli tiket tadi. Tipikal kereta ini seperti kereta di Jepang itu.. pintunya sudah dipaskan supaya kita bisa langsung masuk ke pintu kereta sesuai gerbong di tiket kita. Nggak seperti kereta Indonesia lainnya. Begitu masuk kereta kami dibuat tercengang lagi karena di dalam begitu bersih, rapi, dan muluuus. Hihi, iya dong kan termasuknya baru ni kereta.

    Setelah menyimpan koper di tempat khusus koper/bagasi yang luas itu, kami duduk di kursi kami. Penuh lho hari itu. Jadi narsisnya agak ditunda karena malu sama yang lain hihi. Suara mesin keretanya mulus sekali hampir nggak terdengar, goncangan pun miniimm sekali. Tahu nggak, kereta ini didesain khusus oleh Woojin Industrial System Co.Ltd, Korea, KA Bandara pertama di Indonesia ^^ Di tengah jalan kami berhenti sebentar, mungkin ada lalu lintas kereta yang berpapasanĀ dengan kami. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke kota Medan.

    Setelah 2 malam di Medan, hari ketiga dini hari kami cabut dari hotel. Kami akan menggunakan kereta paling awal untuk menuju Kualanamu. Dengan menggunakan becak motor kami menuju stasiun Medan. Setelah menunjukkan tiket yang kami beli online, kami kembali diberi tiket dan dipersilahkan menunggu di ruang tunggu. Kami menungguĀ jam 4.00 tiba, keberangkatan kereta pertama, hal ini sangat membantu karena kami harus terbang di jadwal pagi. Meski itu dini hari, satu per satu penumpang datang, wah.. ramai. Ternyata banyak juga yang naik, kereta di gerbong 2 bahkan penuh. Lagi-lagi aku gagal bernarsis ria, hehe.

    Let me go home

    Iā€™m just too far from where you are

    I wanna come home

    Lagu itu mengiringi kepulangan kami, ada rintik gerimisĀ di luar jendela. Dengan berbekal kotak Bolu Meranti yang terkenal, 1 tasĀ backpack dan 1 koper kecil milikku, kami pulang. Jawa, kami kembali. Terima kasih pengalamannya ya, Medan!

    Mau beli tiketnya ? KunjungiĀ http://www.railink.co.id/ Ā makin banyak makin murah. Oya sekarang ada jadwal baru, 42 x PP ! Bayangkan. Cara pembayaran tiket ini pun macam-macam, bisa kredit, debit, dll. Mudah kan!

    ARS

    Stasiun Railink ARS Medan, bersih ya

    ARS

    Lihat, FULL!

    Begitu sampai di Stasiun Bandara Kualanamu, kita sudah punya jalan yang langsung menuju ke lantai 2 Bandara Kualanamu via eskalator. Asyik kan, tinggal tenteng barang saja udah sampai di Bandara. Ada trolley yang disediakan di stasiun, jadi nggak usah cemas bawa bolu seabrek ya!Ā Tinggal nunggu check in dan babay Medan! Sampai jumpa kembali.

    Jadi, apakah kalian tertarik mencoba? Harus dong, kalau nggak coba boleh dibilang rugi šŸ™‚ Dan pas pasang foto-foto Stasiun dan keretanya di DP BBM, banyak yang nanyain. Agak-agak mirip luar negeri gitu sih yaaa soalnya, jadi bikin penasaran. Tapi ada juga yang udah ngerti, soalnya udah pernah nyobain. Hehe. Kalau ke Medan lagi, aku juga lebih milih naik kereta ini lagi. Ya secara aku ini kan pecinta kereta.

    Ada yang sudah pernah coba?Ā Share ya!

    Mantai Berdua

    Bismillahirrahmanirrahim

    Seminggu ini suami cuti pulang ke Jawa nengokin istri. Berbagai rencana dirancang, salah satunya mau main ke Yogyakarta. Tapi menjelang rencana keberangkatan, karena sudah mulai hujan dan bapak juga lagi pergi ke Medan (di rumah cuma berdua kalau kami jadi pergi ke Yogya) akhirnya batal.

    Di rabu sore akhirnya kami naik kereta (pengen naik kereta berdua, secara kami suka naik kereta) ke Kroya buat mudik ke kampung halaman suami. Gaya banget nggak sih dari Pwt – Kroya kok naik kereta? Naik motor, cape dan risiko kehujanan. Naik mobil, lagi agak trobel. Naik bis, males ribetnya dan lama. Kalau naik kereta, cuma setengah jam udah sampai, nanti di stasiun Kroya minta jemput Bapak Mertua, hihi.

    Harganya 35 ribu, kami beli buat berangkatnya sementara tiket pulang kami beli di Kroya. Keesokan harinya, kami keliling. Biasa, kalau ke Cilacap ini, banyak yang harus dikunjungi. Selain keluarga si Mas, keluarga dari bapak saya juga banyak di kota ini.

    Kami berangkat menuju pantai Jetis di Ds. Congot, setelah awalnya ditemani rintik hujan alhamdulillah cuma sebentar. Nah, di sana sepi banget, maklum bukan masa liburan. Seneng banget foto-foto. Mau main air males, akhirnya narsisong. Di sini akhirnya aku pakai tongsis pertama kalinya, hahaha. Pamer banget. Soalnya kalau mau foto berdua kalo ngga ada si tongtong ini ngga bisa. Ngambil kulit kerang buat kenang-kenangan, hihi.

    Mampir ke Tempat Pelelangan Ikan, buat makan ikan di resto seafood di sana. Di perjalanan Mas-nyah nyangkut di proyek Tambak Udang Vanname yang sedang dikerjakan. Emang ya, kalau udah suka, istri suka kelupaan, hihi. Nah lanjut di resto kami pesan ikan kerapu bakar yang kata Mr. Ib nggak enak karena kurang matang, harus cobain ikan bakar di Aceh katanya.. yaya.

    Dari sana, kami lanjut ke rumah Simbah saya dan Bude. Disambut ramai karena nggak ngabarin dulu, hihi. Main sama dedek Al juga yang makin lucu. Di rumah Simbah, ternyata beliau sedang bikin gula buat dijual šŸ˜€ Bantuin ngaduk sebentar aja udah panas bukan maiin.. pakai tungku soalnya.

    Pulangnya, seperti biasa kami dioleh-olehi segala macam. Metik kecombrang kesukaanku. Dipetikin daun turi, daun so, dibawain telur asin (yang jatuh remuk pas nabrak jalan lubang). Lanjut ke rumah Simbahnya Mas. Karena mau hujan, kami nggak lama-lama. Di rumah Mr. Ib sore itu kami siap-siap pulang, Ibu mertua baru pulang kerja udah nyiapin semua yang bisa dibawa. Sayuran, singkong, pisang, bumbu pecel bikinan sendiri (bikin semalam dan sore sebelum kami pulang), lele panenan sendiri. Si Mas agak males bawa barang banyak-banyak, hihi.. katanya kami jadi kayak ringsung (orang gila yang bawa barang macem-macem) soalnya total kami bawa 3 kresek besar selain 2 ransel yang kami panggul masing-masing.

    Magrib kami diantar ke stasiun, masuk ke kereta Serayu Pagi setelah shalat magrib. Dan kembali pulang ke rumah. Karena kepanasan-gerimis, sakit kepala deh. Tapi alhamdulillah setelah makan pecel (dari sayur oleh-oleh) dan telur asin, kerokan bawang merah, minum cokelat anget oleh-oleh Mas dari Aceh, sembuh :’)

    Lalu jumat kami berangkat ke Banjarnegara karena sepupu ada yang nikah. Malamnya kami ikut seserahan, lalu terpaksa nginap di hotel karena rumah Eyang penuh sama keluarga yang lain. Esoknya kami kondangan, dan segera pulang karena Mas harus siap-siap untuk berangkat ke Jakarta. Ya.. waktunya pulang. Terimakasih untuk 1 minggu ke belakang šŸ™‚ See u very soon.

    This slideshow requires JavaScript.

    Seminggu di Yogyakarta

    Bismillahirrahmanirrahim

    BIHUN SOLARIA

    Sepulang dari Medan, 2 hari kemudian harus ke Yogyakarta ada pelatihan Hiperkes. Biasanya sih naik Logawa, kereta pagi yang cuma butuh biaya 50K dari kota ini. Tapi, mau ngapain dari pagi sampai sore di MES? Sementara temanku baru datang malam hari. Mau jalan sendirian malas aja. Akhirnya beli tiket Gajahwong seharga 110K, sebelum tahu kita ternyata bisa beli tiket reduksi di 1-2 jam sebelum keberangkatan dari stasiun PWT hanya seharga 38K saja.

    Kereta telat datang. Sekitar jam 3 PM lebih sampai juga di Lempuyangan. Langsung naik becak (di Lempuyangan agak susah cari taksi) ke lokasi di Jl. Ireda, belakang Purawisata. Tempatnya yang nyempil dan nggak dekat wisata, bikin kemana-mana agak susah. Setelah masuk kamar, keluar cari makan dan persediaan minum dll. Hari Ahad itu cukup sepi. Beli ramesan seharga 11K dan belanja mineral dll. Masuk kamar, nunggu penghuni kamar lain datang.

    Selain kuliah di 8 pagi – 5 sore, kadang keluar bareng temen. Hari pertama ngemall Malioboro karena listrik mati se-Jawa DIY kan. Rencana beli tiket pulang gagal, padahal udah pesen online di depan ATM corner, pas mau bayar baru inget kalo listrik mati jaringan ATM juga mati. Alhasil batal beli tiket. Cuma muter, makan, pulang. Nyari lilin di mana-mana habis. Akhirnya pakai cara terdesak, pakai kapas dicelup minyak goreng, dibakar.

    Besoknya, ngebecak sore-sore cari Indomar## buat beli tiket. Berhasil. Lain waktu, ke XT Square buat foto 3D. Besoknya ke Gramedia Sudirman buat ngubek bazar buku. Dan akhirnya, setelah jenuh lama-lama di kota orang, akhirnya pulang juga di Sabtu sore. Yang mana banyak banget orang liburan ke kota ini karena memang lagi banyak acara Suro. Lempuyangan macet. Harus geret koper, angkut 2 tas, dari depan pintu keluar ke pintu masuk. Antri cetak tiket, diserobot (halo warga Indonesia yang masih suka nyerobot šŸ™‚ belajar ya!). Akhirnya bisa nongkrong manis nungguin kereta datang setengah jam sebelum keberangkatan.

     

    Cuaca di Yogya siang hari itu panas banget. Di lantai 2, dengan beberapa unit AC pun nggak bisa ngalahin. Selain itu kamar yang berdebu, AC yang sempet bocor, imunitas turun, bikin virus flu gampang banget nemplok. Sempat tepar berat, sampai nitip temen 1 MES buat beli obat *makasi ya dr. Esti ^^ mau direpotin buat mampir K24 hehe. Alhamdulillah digerojok vitamin, air bening, makan banyak… sembuh šŸ™‚ Nikmat mana lagi yang kamu dustakan? Sehat dan waktu luang begitu berharga..

    This slideshow requires JavaScript.

     

    Visit Purwokerto

    Bismillahirrahmanirrahim..

    Iseng-iseng, siapa tahu ada yang punya tujuan Purwokerto dan sama sekali nggak punya gambaran kota ini. Bahkan mungkin ada yang menyangka Purwokerto sama dengan Purwakarta. Atau menyangka letaknya di Jawa Timur.

    Sejak umur 1 tahun – 25 tahun aku hanya berkutat di kota ini, meski begitu nggak tahu-tahu amat juga karena aku arum (anak rumahan). Dulu pas sekolah, mentok-mentok mainnya ke toko buku dan alat tulis, belanja alat tulis lucu tuh bahagia aja. Hahaha. Kalo engga main ke rumah temen, seringnya sih rumahnya di-main-in karena nggak jauh-jauh amat dari rumah. Jadi, tulisan di bawah ini buat yang buta banget soal Purwokerto.

    Cerita tentang Purwokerto.

    Bisa naik apa saja ke sini? Ada banyak kereta yang sepertinya selalu lewat sini, terutama Jakarta-Jawa Timur. Jadi kamu dari Jakarta, Semarang, Cirebon, Surabaya, Madiun, Solo, Tegal, Yogyakarta, dll bisa naik kereta untuk pilihan awal. Stasiun kereta ini termasuk besar, dan ada di tengah kota. Bus sudah pasti, apalagi Terminal yang sudah lebih tertata daripada dahulu. Naik pesawat, bisa, tapi bandara (kecil)nya di Kota sebelah, jadi masih tetap harus jalan darat ke sini.

    Penginapan. Banyak sekali penginapan di kota ini, karena aku anak sini jadi untukĀ rate memang kurang paham. Dari sekian banyak,Ā kalian bisa pilih hotel di kota atau di Baturraden (di kaki gunung Slamet) atau dekat dengan Rumah Sakit Umum Daerah Tipe B Margono Soekarjo. Karena kota ini kecil, simpel aja kalau mau kemana-mana kok. Homestay ada, vila ada, guest house juga ada. HotelĀ paling bagus di sini : Aston (pusat kota, dekat pusat kuliner, UNSOED, RS Elizabeth, RS Wijaya Kusuma), Horrison (dekat Aston), Santika (dekat Terminal, lebih jauh dari pusat kota), dengan harga rata-rata di atas 700K kurang lebih. Untuk hotel yang sedang, tapi pelayanan oke, bisa dicoba hotel Wisata Niaga, 1 kamar sekitar 250K. Di Baturraden lebih banyak lagi pilihan hotel dan homestay, tapi cukup jauh dari kota. Cek penginapan.Ā 

    Ingin ke Baturraden? Baturraden ini tempat wisata di kaki gunung Slamet, jaraknya sekitar 15 km dari kota Purwokerto. Hanya lurus ke arah utara, bisa langsung ketemu gerbangnya. Naik angkutan kota, taksi, bisa. Isinya? Hutan, jelas. Air terjun, Pancuran, Air belerang, Mandi belerang/air panas, Telaga, Peternakan sapi, dll. Pilihlah waktu selain musim hujan, karena kurang asyik kalau harus pakai payung jalan-jalannya. Baturraden Adventure Forest untuk yang tertantang main flying foxĀ dll. Paintball di jalan raya Baturraden).Ā Makanan di tempat wisata iniĀ macam-macam, untuk di lingkungan wisata, nikmatilah Pecel + Mendoan hangat + Sate ayam/kelinci + Susu sapi murni. Harga masih wajar. Cek Baturraden.

     

    Museum. Museum BRI (dekat stasiun). Museum Jenderal Soedirman. Suka sejarah? Ingin tahu uang kuno, brankas kuno, di sini tempatnya. Tepat di seberang BRI. Di dekat sini ada soto legendaris, soto jalan Bank, soto Sungeb. Nikmati soto ayam dengan kuah khas soto Sokaraja.

    Mau makan di mana? Ada lokasi strategis untuk wisata kuliner. Daerah GOR Satria. Pagi hari banyak warung tenda aneka makanan, dari bubur ayam, opor, soto lamongan, empal gentong, serabi khas Purwokerto, gudeg banyumas, dll. Banyak pula resto, mulai dari Sop Ayam Pak Min, Bebek H. Slamet, Nasi uduk Jakarta, Es Duren Legendaris, Ramen, Donat Eigo, Donat Madu, Omah Kerang. Malamnya pun banyak lapak, mulai dari seafood, nasi goreng, canai, teh tarik, roti maryam, jagung bakar, angkringan. Atau bisa ke daerah Kampus UNSOED, banyak pilihan makanan.

    Bakso terkenal : Bakso Pekih, Bakso Cuangky dan Siomay Wahyuningsari, Bakso Kuningsari (Bakso bola tenis), Bakso Pak Kardi (Jl. Karang kobar)

    Soto terkenal : Soto Sokaraja (Soto Lama, Soto Kecik), Soto Sutri (Dagingnya guede), Soto Jalan Bank, Soto Pak No (Semarangan)

    Nasgor terkenal : Nasi goreng witosari, nasi goreng nylekito

    Taman. Balai Kemambang, Andhang Pangrenan, Alun-alun Purwokerto.

    Oleh-oleh. Pergi saja ke daerah Sawangan, di sana banyak pusat oleh-oleh. Bisa beli Mendoan baik matang maupun mentah, dengan tepung dan kecap khasnya. Getuk khas Sokaraja, keripik tempe, mino/nopia. Itu makanan khas kami. Ini yang dekat kota ya. Kalau yang sudah agak di pinggiran, untuk wisatawan yang ke arah Yogyakarta bisa beli di Sokaraja. Di sana ada pusat oleh-oleh terutama Getuk Asli H. Tohirin.

    Angkutan kota di sini hanya sampai jam 5 sore, selebihnya bisa pakai becak atau taksi. Taksi yang mangkal di stasiun, taksi koprimka (kuning), Satria Mas . Menurutku pribadi, untuk taksi peringkat pertama dipegang taksi Kobata (Biru) kedua baru Koprimka (Kuning) dari segi pelayanan. Untuk tarif masing-masing sama-sama argo. Nomor telepon taksi : KobataĀ (0281) 642440 ā€“ 642441, Koprimka :Ā (0281)Ā 622666, Satria Mas : (0281)Ā 7668400.

    Dekat pantai. Dekat gunung. Dekat sungai.Ā 

    Ingin sekalian ke pantai? Cilacap hanya 2 jam perjalanan, banyak pantai yang bisa didatangi. Ada benteng pendem, nusakambangan juga.Ā Beberapa yang kukunjungi.

    Ingin ke gunung? Negeri di atas awan, Dieng. Hanya 3 jam perjalananĀ untuk keĀ Wonosobo.

    Ingin ke sungai? Arung jeram ada di Banjarnegara. Mengarungi Serayu dengan berbagai jarak. Hanya 2 jam perjalanan.

    Waterboom? 1 jam ke Owabong, Purbalingga. 1 jam untuk menikmati Arapaima Gigas, ikan amazon diĀ river world Purbasari. Kolam renang Walik, nikmati kesegaran air langsung dari gunung. Museum serangga. Semua di Purbalingga, 1 jam dari Purwokerto.

    Backpacker Purwokerto

     

    Photo by Kinjeng Aerialcam.Ā 

     

     

    Flash Trip to Medan

    Bismillahirrahmanirrahim….

    Barang gembolan

    Karena suatu keperluan, aku harus berangkat ke Medan. Medan! Belum pernah sekalipun menjejakkan kaki ke Sumatra, haha. Rencananya, pertama kali ke Sumatra itu ya ke Aceh ikut suami (yang ternyata belum terlaksana). Akhirnya aku langsung pesan tiket sana-sini dan browsing info tentang Medan, makanan, tempat wisata, dll. Ada banyak keinginan pelesir kesana-kemari, tapi karena di hari Sabtu harus udah ada di Jawa lagi makanya maksimal Kamis udah harus pulang.

    Purwojaya

    Purwojaya

    Senin malam sekitar jam 8 berangkat naik kereta Purwojaya ke Gambir. Karena malam hari, disambi tidur-tidur ayam. Jam 1 lebih sampai di Gambir.

    Gambir, dini hari

    Gambir, dini hari

    Di Gambir nunggu bus Damri pertama yang menuju ke Bandara Soekarno Hatta, pukul 3 dini hari. Nunggu dulu di Gambir, lanjut ke Bandara. Di Bandara pun masih kepagian. Jadwal pesawat jam 10 siang. Setelah shalat subuh, makan, nunggu, molor, ga jelas.

    Bandara Soekarno Hatta

    Bandara Soekarno Hatta

    Air Asia kami molor. Boarding jam 11 siang. Sampai di Bandara Kualanamu Medan jam 13.05, ambil bagasi, langsung menuju ke stasiun bandara buat nunggu kereta ke Medan. Ditawari taksi 150 ke Medan sih, tapi kami tetep beli tiket (belinya di bandara, di stasiun juga ada sih sebetulnya). Harganya 80K sekali jalan, kalo belinya berlipat makin murah. Dikasi kartu masuk stasiun sama nomor kursi. Untuk Kualanamu-Medan 45 menit, Medan – Kualanamu 30 menit. Oya.. dibanding Cengkareng, Kualanamu ini menurutku kebersihannya kurang. Semua dilihat dari toilet. Uhh, 2 kali nyobain 2 toilet Kualanamu (pas berangkat dan pulang) semua bau nggak enak..

    Stasiun Kualanamu

    Stasiun Kualanamu

    Ini ruang tunggunya, sebelum kita boleh masuk ke tempat kereta stay. Jam 14.00 sudah boleh masuk kereta, asik banget keretanya. Meski pas masuk agak ada semriwing bau toilet, tapi ini kereta keren bok. Kayak di Jepang dah, mulus pula.

    Siap masuk kereta

    Siap masuk kereta

    Begitu sampai di Medan, kami langsung cari penginepan deket lokasi acara. Ketemu taksi, bentor, dll yang nawarin kita tumpangan. Memutuskan naik taksi, tapi doi ga mau pake argo, minta 60 K. Begitu masuk, nggak tahu itu sopir asli atau engga karena ga pake seragam, AC ga dingin, argo ilang. Yah, padahal itu taksi putih yang di Jakarta terkenal bagus dan low rate. Dengan sopir yang nyetirnya cukup menyeramkan, dan klakson di mana-mana.Ā Jam 4 sorean baru ketemu tempatnya, dan bersih-bersih badan karena capek banget. Kami nginap di MES, 1 orang dikenakan tarif 150 ribu. Kamar pake kasur tingkat, AC, ada lemari, meja, kamar mandi dalam (yang kotor banget, harus nguras bak mandi dulu). Menangnya cuma karena deket banget sama lokasi, selain itu udah males cari hotel, udah capek bangets.

    Mie Aceh

    Mie Aceh

    Malemnya karena laper, belom makan siang, akhirnya jalan cari makanan yang deket-deket aja. Ternyata daerah ini deket Terminal, pantes aja jalanan rame bukan main. Nyebrang, jalan di pinggir, harus hati-hati. Selain gelap, banyak lubang tersembunyi. Nyari ATM nemunya jauuh banget. Dari yang pengen nasi goreng, akhirnya nemu mie aceh. Ya karena kelihatannya di daerah situ adalah makanan ala kadarnya, jadi mungkin yang kukunjungi adalah mie aceh alakadarnya. Kebetulan yang kumakan ini, kalau kubandingkan sama mie aceh yang pernah kumakan di Purwokerto, masih enak kedai yang di Purwokerto. Bumbunya sih enak, cuma sayurnya kurang banyak, dan pakenya lemak, bukan ayam atau seafood. Acarnya sedikit, dan kalo boleh aku lebih milih pake emping daripada kerupuk ini. Tapi kopi acehnya enak, karena direbus lama dan disaring. Harga masih wajar.

    Terusan beli nasi goreng buat makan pagi besokannya karena males keluar. Ternyata nasgornya adalah sudah jadi. Maksudnya, penjualnya tinggal bikinin telor dadar, ngebungkus nasgor yang udah dimasak entah kapan, ngasih acar, dan kerupuk. Yah sudahlah, hahaha. Kena lagi guwwwe. Ternyata di sebelahnya ada tukang nasgor yang agak rame. Tapi aku sudah lelaaah, ingin segera tiduurr.

    Rabunya, sore baru selesai acara. Memutuskan pindah hotel yang lebih dekat dengan stasiun. Hasil ngobrol sama orang Medan (ngecurhat juga soalnya):

    1. Di sini klakson di mana-mana, dia pernah ke Jawa dan ngerasa ayem adem banget.. begitu sampai di Medan lagi, dia harus menghadapi kenyataan itu, lagi, šŸ˜€
    2. Taksi yang terpercaya cuma si burung biru, termurah pula. Naik bentor oke juga sensasinya, tapi kan kita ga tau harus nawar gimana, secara mukanya jawa banget. (Untung aku udah punya nomernya nih catet! 061 846 1234)
    3. Cari hotel sebaiknya jangan deket stasiun, mahal (yaa secara di sana adanya Aston, Aryaduta, dll yang menjulang ituu) di depan Tiptop ada yang lumayan, sekitar 230 ribu. (Tapi rada jauh dari stasiun)
    4. (Nyari ulos murah di mana?) Di sini jarang yang khusus jualin, palingan di tempat wisata, di mall ya mahaaal. (Aku juga udah ga minat beli, karena ga ada waktunya)
    5. (Meranti di mana? Oleh-oleh sini?) Bika Ambon Zulaikha, palingan.
    Hotel Inn Dharma Deli

    Hotel Inn Dharma Deli

    Nonton aja sihh

    Nonton aja sihh

    Jadilah nelepon si burung biru, buat antar cari hotel. Searching yang harganya wajar dekat stasiun. Di hotel itulah akhirnya kami numpang semalam. Hotelnya kebagian yang jadul. Langit-langitnya berbercak. Kamar mandi kayak lama tak tersentuh. AC nggak jos. Cangkir dan sendok harus dicuci dulu. Yahh mungkin inilah kualitas bintang 3 yang termurah… Paling enggak, bisa tidur.

    Karena sampai hotel udah magrib, rencana mau ke masjid Medan, ke rumah cina, ke istana Maimun, semua harus dikubur. Padahal udah beli tongsis buat narsis, hahaha! Akhirnya naik taksi, cari bolu meranti legendaris.

    “Wah kok nggak dari siang, biasanya udah tutup jam 8. Abis-abisan.”

    Boro-boro, ini aja baru bisa jalan-jalaaan. Akhirnya diantar ke lokasi diiringi rintik hujaan, untung masih buka, dan rame. Kalap pesen bolu keju 60-65 K buat oleh-oleh yang di rumah. Beli pancake durian 80 KĀ (yang nantinya akan menjadi suatu kesalahan), bika ambon, sama teri medan 50 K. Minta packing rapi buat naik pesawat, masuk kardus, tutup plastik karena hujan. Si mbaknya masuk-masukin dengan gesit.

    Bolu Legendaris

    Bolu Legendaris

    Karena nggak mungkin bawa kardus gede buat makan, jadi kami drop di hotel, titip di resepsionis. Jalanlah kami. Nggak berani nyebrang jalan depan hotel yang nggak berhenti-berhenti ngalir mobil, angkot, motor, beberapa ngebut. Di depannya sih ada Merdeka walk, kayaknya banyak makanan. Terus ada penyebrangan kalo mau jalan dikit ke kiri, tapi tetep harus nyebrang lagi buat sampe Merdeka walk. Akhirnya kami jalan yang nggak usah nyebrang. Muterin aston. Ngelewatin BI, balai kota. Makkk.. kaki udah perih banget.. akhirnya makan di mal dan tertendang dengan harga yang harus dibayar.

    BI

    BI

    Cokelat panas

    Cokelat panas

    Lupa namanya -_-

    Lupa namanya -_-

    Nasi Sapi

    Nasi Sapi

    Makanan itu semua di atas 100, lupa 110 atau 150K aku lupa kalau itu adalah mal. Dan harga segitu ya sewajarnya harga mal. Maklum, biasa di desa. Di Jakarta pun kalau makan, cari yang murah-murah (dasar murahan, haha). Jadi selama perjalanan ini, harus terpaksa makan di Bandara, Stasiun, Kereta, Mall.. membuatku merasa miskin mendadak. Hiks. Padahal itu juga kadang kita rapel makannya, atau dijejelin roti.

    Gramedia Medan

    Gramedia Medan

    Abis dari makan, karena belom keliling Medan (apaan siiih, ke Medan kok ga kemana-mana) akhirnya main ke Gramedia di Santika hotel. Sebenernya pengennya tuh ke Gramedia yang sebelumnya kami lewatin, lagi ada bazar, tapi entah di mana namanya ga ngerti. Jadi, aku beli buku di Gramedia buat mengatasi kepanikanku naik pesawat, cari yang lucu. Selain itu beli bantal sapi gramedia, yang kalo di purwokerto harus beli buku 200K baru boleh beli tuh boneka seharga 95 K. Akhirnya aku beli di sini seharga 99 K. Bodooo amat, aku butuh yang buat dipegang saat cemas naik pesawat. Soalnya sebelum ke Medan, udah muterin toko di Purwokerto, liat onlen shop juga, ga ada bantal leher selucu itu. Bentuknya kalo jadi boneka adalah sapi, kalo dibalik jadi bantal leher simpel isi pasir.

    Balik ke hotel lagi. Bungkusan kami masih titip di resepsionis karena berat. Kami harus checkout jam 3 pagi, dijanjiin nasi goreng dalam dus buat sarapan. Udah capek bangetttt, tapi nggak bisa tidur karena ngebayangin besoknya harus pulang naik pesawat. Akhirnya maksa tidur jam 11 lebih dan bangun 2.30, mandi, siap-siap, cus. Emang dari awal agak kurang sreg sama pegawai di resepsionisnya, terlihat kurang handal, kurang cekatan, kurang care. Padahal dari depan, ni hotel keren banget loohh, mayan deh. Oh, mungkin karena pelayanan standar, haha. Jadilah kami nggak dibawain sarapan, seperti yang dijanjikan. Gotong sendiri beban berat ke depan hotel. Niatnya mau jalan, tapi ga kuat bawanya, akhirnya ngebentor yang dihargai 15.000 padahal cuma 1 menit.

    Let me go home

    Let me go home

    Karena sebelumnya udah beli tiket railink Medan-Kualanamu via internet, tinggal nukerin aja pas di stasiun Medan. Nunggu jam 4.00 keberangkatan kereta pertama. Ternyata banyak juga yang naik, kereta di gerbong 2 penuh. Mau beli tiketnya >Ā http://www.railink.co.id/

    ARS

    ARS

    ARS

    ARS

    Ni dalamnya. Masih bagus. Kursinya ada yang hadap depan, belakang. Tempat bagasi luas. Lagu let me go home mengiringi kami.

    Troley

    Troley

    Mushola

    Mushola

    Mezzanine

    Mezzanine

    Sampai di stasiun ARS Kualanamu, langsung ada jalan ke lantai 2 Bandara. Jadi bisa langsung check in. Karena pesawatku jam 8, sementara itu masih setengah 5 pagi, jadi muter-muter cari mushala. Yang bikin kerepotan. Penunjuk arah mushala nggak jelas. Pas nanya CS, katanya di bawah ini. Pas liat penunjuk arah, mushalanya (Mushala ^ M) sampai kami sampai lantai 1 via lift, dan baru ngeh kalau di antara lantai 1 dan 2 ada lantai Mezzanine, dan di situlah ada sempilan bernama Mushala.

    Di baliknya ada lepuh dan lecet

    Di baliknya ada lepuh dan lecet

    Penerbangan berjalan sempurna. Meski aku tetep lebih suka naik kereta yaa. Di Cengkareng, ambil bagasi. Mau makan, nggak ah, ditahan aja. Eh beli roti Boy buat nahan laper. Mau makan di Gambir aja. Nunggu Damri ke Gambir di terminal 3 (terminal anak bontot) lumayan lama. Akhirnya datang juga. Sampai Gambir, makan soto dengan harga yang kalau mau dilogika siiih, harga segitu di Purwokerto bisa dapet 2 porsi soto penuh. Di sana kami nunggu kereta kami jam 16.20 padahal baru bisa cek in 1 jam sebelumnya, dan kami sampai Gambir jam 12. Jadi ya nongkrong di resto soto dulu, sambil shalat, nonton, baca. Sampai tiba-tiba…

    Cowok, item, kecil, mata melotot, datengin si Babe dari pintu belakang resto, ngedempetin badannya sambil ngomong, “Sedekahnya PAK.”

    Aku umpetin tab. Melototin tu orang yang tetep jarak wajahnya cuma 10 cm dari muka babeh.. Pengen kugaprukin koper! Tapi kami cinta damai. Akhirnya ngasi 5000 buat si PEMALAK itu. Pindahlah kami ke ruang tunggu yang meski panas, tapi banyak orang yang serupa dengan kami, koper dan bawaan besar.

    Despicable Me 2

    Despicable Me 2

    Mata udah ngantuk dan berat, tapi belum bisa cek in. Nonton udah, mau baca ngantuk, mau tidur ga bisa.

    Gambir

    Gambir

    Akhirnya bisa masuk ke lantai 2. Memandangi gereja di seberang. Dan gedung kementerian di ujung sana. Diiringi musik orkes keroncong. Kucing-kucing kurus yang seliweran.

    Bima

    Bima

    Akhirnya mas Bima dateng ngejemput. Di kereta nyesel banget nggak beli KFC 20 ribu di stasiun, karena ternyata laper dan beli popmie + kopi seharga 22K hiksss. Perut kembung, mual, udah pengen banget sampe rumah, dan tidur…

    Dan begitu sampai Purwokerto… bersyukur banget. Pulangnya makan, ngemil bolu Meranti keju yang enak banget, mandi, shalat, tidur. Dan satu hal lagi yang kusyukuri.. Aku bebas Asam Mefenamat di perjalanan kali ini. Bebas migrain, bebas TTH. Oh mungkin lain kali harus bawa Ranitidin karena masalahku cuma flatus sepanjang jalan dan nausea. Hew.

    Sekian cerita 3 hari perjalanan PP Medan. Jadi, Medan itu..

    Ingatlah bahwa kamu di Medan! Lebih baik pakai bahasa Indonesia daripada Monggo Monggo yang aku selalu keceplosannn itu.

    Sediakan waktu luang untuk kuliner, wisata, dll.. karena pasti nyesel kalo ke Medan cuma dapet bolu doang hehe..

    Melihat salah satu pengendara motor, cewek, berjilbab, nyelonong aja sementara lampu merah udah lama (yang lain udah anteng diem) itu buatku merupakan suatu… wow.

    Kalau jalan di trotoar jangan sambil ngobrol, apalagi malem-malem, bisa ngga liat lubang (ini sih di Jakarta juga begini).

    Dan kalo beli pancake durian, diinget aja kalo tu pancake bisanya cuma 8 jam di luar frezer.. makanya nggak heran, setelah engap2an di dalam kardus semalaman, masuk bagasi pesawat, sampe rumah udah gembung ber-gas dan bau asem.. padahal 80K, kalo di Purwokerto 50K aja cukup, dan bisa dimakan hihi..

    Tips perjalanan jauh :

    1. Pakai sepatu paling nyaman, sandal gunung boleh. Berhubung aku ada acara yang harus pakai sepatu, dan kalau bawa sandal nggak nyukup jadilah kaki pada lecet karena jalan jauh. Padahal sepatu ini termasuk nyaman.
    2. Bawalah bekal barang secukupnya, supaya kalau masih longgar masih bisa diisi oleh-oleh.
    3. Pelajari tempat yang akan dituju, kalau bisa kabari kenalan yang ada di sana, tentu nggak boleh ngerepotin yaa..
    4. Sebaiknya, untuk wanita, bepergian jauh dengan mahram jika memungkinkan.
    5. Baju di perjalanan, usahakan senyaman mungkin. Karena nggak akan sempat mandi-mandi di jalan, aku suka pakai baju perjalanan berupa gamis bahan kaos melar karena menyerap keringat dan adem banget. Bagian bawah didobel rok tipis. Ada gamis dauky yang aku taksir kemarin sebelum perjalanan ini, bahannya kaos melar, bawahnya rayon lebar tapi ga dapet karena ukurannya jumbo semua.
    6. Tisu basah kayaknya wajib, selain buat elap-elap keringat, buat elap toilet duduk! Aku paling suka nyari toilet jongkok, karena nggak tega pake yang duduk.. kadang ada cipratan pee.. bekas sepatu.. hiks.. makanya suka banget kalo nemu toilet yang bersih. Peringkat kebersihan toilet kemarin.. 1 oleh Bandara SH, 2 oleh Gambir, 3 oleh Kualanamu (sempet agak kesel.. karena CSnya pada ngumpul bercandaan di kursi depan toilet, begitu aku masuk cuma ada 1 CS, dan ternyata toiletnya itu bau (bukan bau bekas pup ya..) banget.. šŸ˜¦