Rekreasi : Jalan-jalan ke Purbasari Riverworld

Bismillahirrahmanirrahim

PicsArt_07-13-09.12.34-01

Siapa ibu yang paling males jalan, lebih seneng ngendon di rumah? Aku yang paling duluan angkat tangan. Karena sebagai Ikatan Anak Rumahan Indonesia, aku paling males jalan-jalan terutama kalau hari libur hehe.

Rencana ini sudah lama banget dipikirkan. Bahkan tadinya mau janjian double date tapi kendala kendaraan belom ada. Qadarullah hari ini ada odong-odong yang nganggur dan bisa dibawa jalan. Ada yang rela nemenin pula, karena berdua aja ke tempat begini oh aku tak sanggup.

Pertama kali aku ke tempat ini adalah saat SD dulu, naik angkot sekelas haha. Bhayangkhan sudah lama banget kan. Nah karena konon sudah jauh lebih besar dan berbeda, jadi aku pengen mengenalkan keanekaragaman hayati pada anak. Kasihan dia jarang main kecuali ibunya free day.

Kami berangkat agak kesiangan, jam setengah sebelas setelah kusiapin segala bekal yang mungkin dibutuhkan. Sampai sana seperti biasa si anak mengkirut, gak mau turun dari gendongan. Tipikal anak ini, agak lama ‘manasinnya’. Kami masuk, mulai ke aquarium yang tentu sudah lebih baik daripada dulu. Banyak ikan-ikan sungai yang fantastis. Piranha ada juga lho. Serem banget lewat depan mereka, semua menghadap ke kami. Baris kayak mau nerkam, hihi.

IMG_20170713_110334-01.jpeg

Selain itu bintangnya adalah Arapaima Gigas yang dulu cuma sebiji doang, sekarang udah kayak kumpulan ikan mas di kolam. Banyak dan gedhaayy. Eh lupa ngasih tahu kalau di sana tadi ramai banget karena banyak yang wisata. Pupus sudah bayanganku wisata-pribadi karena kupikir anak-anak sudah pada sekolah (bhay).

Setelah lihat ikan dan burung, mampir main ayunan sambil nyuapin anak dulu. Kami nggak beli jajan atau minum. Sudah bawa air putih dari rumah. Buat anak, sudah bawa makan, buah, jajan, minum. Komplit. Setelah itu barulah si anak kecil ini mau diajak jalan.

Lihat perahu aku iseng nanya, “Ich mau naik perahu?” “Au.” Wow, dia mau. Okaylah. Kami beli tiketnya yang murah, cuma 3000 per orang buat keliling kolam naik perahu. Mau ngetes si anak juga, dia takut gak, ternyata enggak, masih tetep makan jagung keju meski ga senyum sedikitpun.

Abis itu si anak lebih aktif main naik tangga, dan jalan-jalan sendiri. Eh tapi malah udah waktunya pulang karena pintu keluar sudah di depan, hehe. Pas lihat pelampung bebek dia nunjuk-nunjuk sambil bilang “Bebe Bebe.” Mungkin dia minta, tapi nggak kukasih lah.

Sekian channel travelling with baby kali ini. Hihi. Semoga next bisa bikin judul Berlibur di Malang, dan main ke Batu Secret Zoo 🙂 ciao~

Gamis by @hayalabelle

 

 

#MomenPertama Pergi ke Pasar Berdua

Bismillahirrahmanirrahim

1499740395318.jpg

Cie… ke pasar aja dibikin blog. Ya kaya ga tau aja blogger, hal yang ga penting bisa dijadiin penting. Setuju? Hihi.

Kali ini Buni mau cerita tentang #MomenPertama. Jadi ceritanya si bayi lagi dalam proses penyapihan dari gadget. Ini murni kesalahan emak-nya. Pas sebelum lebaran bayi sakit, jadi biar dia diem di kasur dikasihlah tontonan. Sebelumnya anaknya aktif dan eksis, dia cuma mau nongkrongin hape sebentar aja, atau pas mau tidur (ini karena emaknya pengen dia berhenti main dan segera ngantuk).

Abis dia sakit, giliran emaknya sakit. Bolak-balik dia minta gendong emak yang lagi sempoyongan demam, minta ‘ana’ ‘mimi madu’ dll. Jadi demi kesembuhan segera, anaknya dikasi gadget biar emak bisa tidur. Niatnya kalau sudah sembuh, puasa gadget lagi.

Eh.. abis emak sembuh. Emak sakit lagi seminggu setelah lebaran. Nempel lagi sama gadget, dan dia jadi fasih bilang ‘awat n tadi’ alias pesawat yang tadi. ‘eta n tadi’ alias kereta yang tadi. Dan dia milih kalau mau nonton, ga bisa dikasi yang ga suka. Pasti rewel dan nangis.

Abis emak mendingan, anaknya sakit lagi >,< Pokoknya berat banget deh kemaren, eh ga juga sih. Alhamdulillah hehe. Saking abis Vomit dan Diare seharian, besoknya si anak ikutan Vomit. Buni ga minum obat, lupa. Lupa ngisi perut tepat waktu juga. Pas masuk kerja sekaki-kaki semua kesemutan, hampir mati rasa, dan aneh aja.

Pusing si biasa aja. Tapi bersyukur di hari yang biasanya pasien banyak, hari itu sedikit. Ditensi ternyata 80/60. Jadi pulangnya dengan kaki kebas itu pergi ke sate kambing, 😀 Udah cukup setrong belum sih sebagai makhluk LDM?

Back to the topic. Jadi karena pagi ini setelah mainan semua ditumpahin dan bayi bosen, dia mulai nyari gadget. Sementara dia belum mau makan, dan comfort food dia yaitu OATMEAL BUAH kehabisan stok oatmeal. Jadi, kuajak aja dia ke mini market. Kami gak mandi, ngapain mandi? Haha. Mungkin ini biasa bagi sebagian orang, tapi bepergian gak mandi biasanya BIG NO buatku.

Bayi senang diajak jalan naik mobil. Kami masuk ke mini market 24 jam. Ichi kukasi keranjang merah, tapi dia mau yang biru. Dia jalan, masukin barang-barang yang menurutnya menarik tapi kutaro lagi saat dia ga tau. Aku ajak dia cari oatmeal dan beberapa barang. Terakhir kuajak ke mini market dia nongkrong di depan rak susu dan gak mau pergi. Oya, dia minta wafer, lapar.

Alhamdulillah kali ini dia nurut untuk beli yang dibutuhkan aja dan pergi ke kasir. Karena tenaga masih full. Sekalian aja kuajak dia ke PASAR MANIS. Info aja PASAR MANIS ini Pasar yang belum lama diresmikan oleh Presiden. Awalnya berupa Gedung Kesenian, tapi disulap jadi Pasar Modern.

Tempatnya nggak terlalu besar, seruangan itu isinya sudah pepek (e dibaca seperti beras) artinya lengkap. Ruang utama berisi sayuran, buah-buahan, jajanan, lauk, bumbu-bumbu, daging. Naik ke tingkat 2 ada sembako. Turun ke basement ada aneka ikan. Pasarnya cenderung bersih, nggak becek. Kecuali bagian ikan ada lah basahnya tapi masih ditolerir.

Ngomong-ngomong ini kali kedua aku ke pasar ini. Karena bawa bayi, aku belanja yang aku paling butuh aja. Di pasar ini bisa pembayaran non tunai, dan sebetulnya ada troli belanja. Aku sombong banget berangkat ga bawa gendongan karena kupikir bayi udah bisa jalan inih. Dan ternyata zonk.

Begitu masuk tempat baru dan ramai, bayi nggak mau turun dan harus digendong. Jadi, tips pertama adalah BAWA GENDONGAN. Ini penting banget kalau kamu pergi berdua doang. Padahal ga penting banget tips-nya alias geje wkwk.

Abis itu beli barang di tempat yang paling lengkap. Tujuanku adalah beli sayur, itu yang utama. Karena nggak mau ribet, aku cari di 1 kios yang hampir mencakup semua yang aku mau. Sayuran apa sih, sayuran yang jarang ada di warung. Rontak-rantek (sejenis rumput dan krokotan) yang mungkin kalau kalian lihat kayak makanan kambing hihi, kembang turi (aku suka banget, kemarin beli yang putih dan mupeng sama yang pink), daun pepaya jepang (ini ga pahit sama sekali, enakk). Karena banyak, aku titipin dulu di penjualnya sementara aku cari bumbu. Ini tips kedua : TITIPIN BARANG BIAR GA BERAT.

Bumbu juga cuma bawang merah ama putih, mayan harga lagi turun, hihi. Udah kelar, cuma beli itu doang. Tapi berat lho sodara-sodara. Bayi udah agak mau turun pas disuruh ambil jeruk sambal yang dikasi penjualnya buat mainan, abis itu dia ga mau lagi jalan, takut liat pedagang lain. Padahal kalo ditanyain penjualnya juga nyaut si. Tips ketiga : BELI YANG PALING PENTING, JANGAN LAPAR MATA, BERAT NDAN!

Pas mau balik, udah ambil titipan, mau dibawain sekalian karena liat kerempongan paripurna emak yang jalan ke pasar ama anaknya tapi gak mandi. Tapi aku nolak karena parkir mayan di seberang, kesian. Jadi selain gendong anak 11 kilo, aku bawa 2 keresek belanjaan. Eh ada jajan, mampir. Beli yang dipilih sama anak. Jadi tips nomer empat : GA USAH BEKEL, BELI AJA BANYAK KALI, hehe.

Sekeluarnya dari pasar, liat tukang ikan hias aku iseng tanya ke anak kicik. “Mau ikan?” “Au.” Wow kemajuan, biasanya nggak ada tertarik-tertariknya sama ikan. Jadilah kubeli dengan niatan bisa menarik si anak kecil supaya gampang mandi, lupa gadget, dan latihan motorik halus (nangkap ikan).

Akhirnya kami pulang. Di jalan as always dia minta kode rahasia para bayi, aku bilang, “Sebentar lagi sampai ya….” Dia ketiduran di jok sebelah 😛

Bagi yang penasaran nasib ikan di atas. Dengan sangat menyesal, anak bayi lagi suka nuang cairan dari 1 benda ke benda lain. Jadi toples isi air ikan itu dituang ke wadah yang lebih besar ama dia, dikobok dan ditangkapin ikannya. Entah ikannya terlalu lemah, atau anaknya tangannya lihai… akhirnya si ikan dipijit ama dia… huhu. Demi menyelamatkan teman-temannya, ikannya dilepas di selokan kolam ikan depan rumah.

 

THE END

 

Ada yang suka belanja ke pasar berdua anak aja? Share yuk 🙂

Hotel Dalu vs Star Hotel Semarang

Bismillahirrahmanirrahim

Sejak punya bayi, kalau nginap di hotel ada beberapa pertimbangan. Pertama adalah kenyamanan. Saat di Semarang kemarin, karena kurang pengalaman dan info jadi memutuskan hotel yang sekiranya nyaman saja. Mari kita buat review VS nya :

Layanan jemput dari Stasiun / Bandara

Setahuku keduanya punya layanan ini. Yang aku nikmati adalah dari Hotel Dalu Jl. Majapahit, karena petualangan berawal dari sana. Jam 3 sore, 1 jam sebelum sampai di Semarang kami dikabari bahwa mobil tidak bisa menjemput. Kami disarankan naik taksi dari Stasiun dan biaya akan ditanggung hotel. Betul lho, yay!

Kamar tipe Superior

Hotel Dalu yang kupesan tipe yang ada di Pegipeg*.com saja. Terdiri dari 2 kasur single (menurutku lebih nyaman untuk kami dan terasa lebih lega), meja, gantungan baju, TV, toiletries (sikat gigi, handuk, sandal), kamar mandi air hangat (shower, WC duduk, wastafel), teko listrik plastik + cangkir + tehkopigula. Pemandangan kamar : tembok. Makan untuk 2 orang, tapi kami bertiga tidak dikenai biaya tambahan 🙂

Star Hotel. Jl. MT Haryono. Kami memilih kamar di lantai 9, sengaja karena ingin melihat suasana malam dari ketinggian. Kamar kami cukup lapang. Dengan 2 single bed, nakas, meja panjang, TV, almari, 2 bantal tambahan, kulkas, brankas, shower + WC duduk + wastafel air panas. Pemandangan kamar : kota Semarang dari ketinggian. Tidak mendapat sarapan.

Akses Kuliner / Wisata

Kedua hotel ini tidak terlalu jauh dari pusat kota / Simpang lima. Paling hanya 10 menit-an dengan gojek. Jadi untuk kuliner sebetulnya cenderung sama-sama mudah.

Hotel Dalu sejalur dengan Pempek Ny. Kamto, Richeesee Factory, bersebelahan persis dengan ACE Hardware (nyesel gak mampir liat sale haha), Lotte Mart.

Star Hotel bersebelahan persis dengan Java Supermall. Memudahkan sekali untuk mencari makan dan berjalan santai di mal.

Star Hotel ini sendiri punya sesuatu yang berbeda dari kebanyakan hotel. Dia punya swimming pool di rooftop, tepatnya di lantai 30. Dengan cafe untuk grill dan bersantai di sebelahnya. All you can eat. Aku sendiri cuma penasaran ke lantai tertinggi ini, jadi aku dan emak Laili ini bawa 2 krucil bayi lucu ke lantai 30 cuma buat mastiin di sana ada kolam renangnya hahaha. Masih bagusan kolam renangnya Grand Kanaya >,< tapi pemandangan lampu kelap-kelipnya wow. Kolam renang tutup jam 8 malam.

Sarana Pendukung ASIP/MPASI

Kalau dibandingkan tentu Star Hotel lebih mumpuni. Dia punya kulkas, dan teko pemanas air yang lebih bagus. Keduanya memudahkan untuk membuat MPASI dan menyimpan ASI.

 

Jadi kalian mau nginap di mana kalau ke Semarang? Hehehe

3 Nights at Semarang

Bismillahirrahmanirrahim

Bepergian membawa bayi ada di urutan bawah wishlist-ku. Well ya aku ngebayangin aja gimana rempongnya, hahaha. Anak rumahan begini ya. Tapi ada urusan tak terduga, di hari Selasa aku ditugasi ke Semarang untuk 4-5 Februari 2017. Bawa bayi 15 bulan untuk acara full day itu berarti harus bawa ART juga. Alhamdulillah konfirmasi ke ART, dia mau. Yeay.

Tapi, meninggalkan bayi hanya dengan ART bikin mikir juga hihi. Akhirnya aku bawa sertalah adikku. Langsung cari hotel dan tiket kereta. Aku sama sekali buta Semarang, dan aku nggak suka perjalanan dengan mobil ke sana. Jadi langsung aja pesan tiket kereta Kamandaka, kereta satu-satunya dari Purwokerto ke Semarang dengan jarak tempuh 5 jam kurang.

Mencoba pesan hotel dengan Travelok* tapi gagal, apalagi hotel di Jl. Majapahit yang muncul hanya 1 hotel (padahal aslinya banyak). Hmmm… Harus buru-buru pesan takut dapat hotel kejauhan (dan ternyata lokasinya masih tetap jauh, karena lokasi yang dituju pun nggak muncul di google map). Yoweslaaaaa… pake Pegipeg* akhirnya. Ga banyak cincong langsung booked.

Berhubung hotel yang kupilih untuk malam 1 dan 2 adalah hotel biasa, sayang ya… jalan-jalan bisa beberapa tahun sekali gitu hehe. Jadi untuk hotel di malam terakhir saat sudah bebas tugas aku cari hotel yang agak mendingan. Kenapa 3 malam? Harusnya sih bisa aja cuma 2 malam, tapi karena jadwal mepet sama jam keberangkatan terakhir kereta jadi diundur ke Senin pagi dini hari.

Di malam pertama kami menginap di Hotel Dalu Jl. Majapahit sementara malam ketiga kami memutuskan menginap di hotel Star Jl. MT Haryono. Pesan tiket untuk 4 orang supaya lebih longgar dan nyaman.

Kami berangkat hari Jumat 3 Februari jam 11 siang. Beberapa hari terakhir Ichi di-sounding secukupnya, aku kasi video Bob si Kereta, Thomas, dan Kereta Api. “Ichi mau ke Semarang, naik kereta? Tutututut gujes gujessss. Gimana? Tututut gujes gujess… ”

Aku memang khawatir, karena Ichi gampang takut. Meski sekarang udah mendingan gak kayak waktu masih kecil, bisa geger! Haha. Suara kereta kan besar ya, kalau dia takut, sepanjang perjalanan apa gak serem?

Tapi ketakutanku ternyata ga terjadi. Begitu masuk melewati pemeriksaan, Ichi antusias sekali lihat kereta. Wow… dia nunjuk-nunjuk kereta. Bahkan saat peluit menyala, dan kereta lain jalan dia masih antusias. Alhamdulillah. Hmm tahukah… sepanjang jalan dia ceria sekali, makan nggak berhenti, naik-turun koper saat sedikit bosan, dan tidur saat mengantuk. Tanpa minta jalan-jalan dan gendong. Good job, Boy! Proud of you! Menyanyi, dan menyapa tetangga kursi. Sampai dipuji Bude-bude kalau mas bayi anaknya anteng.

Pemandangan dari kereta

Setelah sampai di Stasiun Tawang, rencana awal kami dijemput oleh Hotel karena mereka punya layanan jemput juga. Tapi di perjalanan kami ditelepon karena ternyata mereka tidak bisa jemput, jadi kami akan diganti biaya taksi. Alhamdulillah.

Kamar kami kecil, tapi no problem lah. Kami dapat akses wifi. Bersebelahan dengan ACE Hardware (dan sekarang nyesal ga mampir). Sejalur dengan pempek Ny. Kamto, Richesee Factory, Lotte mart. Dengan lokasi yang dituju jaraknya memang agak jauh, jadi aku memutuskan download aplikasi gojek.

Pengalaman pertama order gojek sedikit lucu, karena salah pencet order, pak gojek ini datang padahal belum waktunya berangkat. Bayaran gojek rata-rata hanya 5000 saja, tapi atas dasar kemanusiaan biasanya kulebihkan.

Malamnya kami makan di Citraland, sibayi bahkan sempat minta ASI di taksi dan tertidur. Tapi begitu liat mall dia antusias dan makan lahap. Pulangnya ngantuk lagi. Untuk sarapan, Hotel Dalu punya menu sederhana yang enak. Aku suka deh pokoknya. Bahkan di sarapan kedua menunya lengkap sekali.

Malam kedua kami sudah capek dan ngantuk, jadilah order go-food Richessee ahay. Lemak-lemakkkk. Hari ahad siang aku ada acara, bayi dan kroco-kroco pindahan hotel. Untuk hotel dan wisata lebih lengkap kayaknya harus ada postingan lain, hihi. Tunggu yaaaa 🙂

Lunpia Express

Tekwan

Hari ahad itu menyenangkan. Wisata ke Masjid Agung Jawa Tengah dan penuh lampu kota Semarang (akan ada postingan berikutnya ya hehe) Special thanks to Mas Toffan dan Mba Ade yang ngajak kami ke sana. Hmmm. Indah! Lagi-lagi order go-food untuk beli oleh-oleh Pempek Ny. Kamto pesanan dan Lunpia Express pesanan (pesan crab tapi habis, huhu) karena waktu yang sempit. Gara-gara nunggu pesenan go-food gak datang-datang, temenku Laeli kelamaan nunggu di McD Java Supermall (kami janjian). Pas dia memutuskan ke lobi hotel, aku malah ke Mall beli Solaria karena belum makan malam. Tapi kami tetep ketemuan dong, bahkan ke rooftop segala. Jam 10 malam! Bersama 2 bayi, eim! Makasi kakak Kenzie..

Masjid Agung Jawa Tengah dari puncak Menara

Swimming Pool di Star Hotel Semarang

Paginya di hari terakhir kami bangun setengah 3, agak parno terlambat kereta tapi sebetulnya sih kalau cek ot jam 4.30 pun mungkin keburu banget. Tapi hikmahnya berangkat stasiun jam 4 ya shalat subuhnya di mushala Stasiun Tawang.

Perjalanan pulang sibayi cranky. Ngantuk. Minta ke bordes. Daripada bikin riuh dan jadi tontonan orang, aku bawa bayi ke bordes dan berdiri di sana bergetar hebat, goyang-goyang dan berisik. Tahu lah gimana bordes. Di depan toilet. Mana pintu ngebuka sendiri, pintu samping ituuu yang harusnya terkunci dengan baik >,< Aku takuut. Jadilah nyebrang ke gerbong belakang. Hey.. sepi.

AC adem, sepi, dan si bayi pun pulas. Sejak dari Slawi rewel, Bumiayu tidur sampai Purwokerto. Dan dia bangun dengan bahagia.

Pengalaman yang sangat menyenangkan >,<

Tips Bunichi Bepergian bersama Bayi Naik Kereta (ala-ala aja sih, ya)

  1. Prepare dengan baik masalah baju, jaket, makanan, mainan, buku, gendongan, dll. Ingat, tetep usahakan space jangan terlalu banyak, repot bawanya.
  2. Gimana kalau bayi nggak suka makanan hotel atau mall atau resto? Bunichi bawa oatmeal, dan buah-buahan. Jadi kalau sarapan si bayi lebih sering makan oatmeal buah.
  3. Mandinya gimana? Biasanya pakai bak. Sejujurnya yang mandiin bayi selalu rewang, tapi kalau pengalaman nginep di hotel sebelumnya, ya pakai shower mandinya. Kalau kemarin, pakai air wastafel diguyur pakai baskom (bawa baskom buat steril alat)
  4. ASIP gimana? Jam siang bayi datang ke klinik untuk ng-ASI, tapi dia terlalu asyik main jadi nggak mikir ng-ASI, lebih suka jegjegan. Tetap bawa BP meski nggak dipakai hehe. Sebaiknya sih mompa, terutama kalau masih banyak ASI-nya.
  5. Untuk kasus darurat, Buni save video mainan dan Bob si Kereta. Walaupun pas lagi pulang tuh ini nggak mempan, tapi pas berangkat sempat bikin dia agak anteng dibanding naik-turun kursi.
  6. Selalu siap ng-ASI dimanapun berada, baik di kereta maupun di taksi.
  7. Jangan lupa sounding ya. Pas pulang bayi lupa disounding, tapi juga karena ngantuk jadi nggak kayak berangkatnya.

    Kalau tips kalian apa? 

    Staycation* di Grand Kanaya Baturraden

    Bismillahirrahmanirrahim

    post-1

    Sebagai anak rumahan, kami jarang banget pelesir. Bahkan yang dekat sekalipun. Bahkan yang kalau orang jauh-jauh rela datang, kami yang sepelemparan batu pun jarang. Nah, ayah memutuskan mudik karena akan bepergian jauh dan mungkin belum punya agenda untuk pulang sampai akhir tahun. Jadi ayah memutuskan pulang di awal bulan.

    Kami berencana berlibur. Karena ayah yang mudik dari ujung Sumatra itu cuma punya 2 malam untuk bersama dengan bunda dan Ichi. Tidak jauh, hanya ke dataran tinggi di kaki gunung Slamet yang jaraknya hanya kurang lebih 30 menit.

    Sabtu, 5 Nov 2016.

    Semalam ayah sampai. Ichi yang sudah tidur, kebangun sambil senyum malu. Gitu terus, sampai tidur lagi. Ayah masuk angin. Akumulasi kehujanan belakangan ini, bangun kepagian karena harus ke bandara, dan sampe rumah dikasih kopi hehe. Vomit, mules. Muka udah lemes aja. “Yah, kalau gini nggak usah aja besok.” “Jangan dong, udah dibayar.” Jadi buni kerokin aja sama kasih teh pahit. Katanya ini pertama kalinya dikerokin, mengaduh sampai gaduh. Idih ayah, waktu hamil Ichi buni gini juga kalii ampe kirain mau brojol. Ampe pasien lagi periksa divomitin juga. Bolak-balik moncor atas bawah, taunya sembuhnya abis dikerokin (hadeh). Udah, abis kerokan sembuh deh.

    Sepanjang hari buni kerja. Ayah benerin pompa sumur. Bunda kondangan ke tempat besties (My Dije Bude Sude) yang selama anggota Chortle nikah selalu hadiroh, maaf banget ya De kami nggak datang lengkap, nggak datang bareng, nggak datang akad. Maafffin dulu padahal sampe bela-belain datang ke nikahanku dan nolak kerjaan keluar kota.

    Sorenya kami sekeluarga berangkat ke Baturraden. Mampir dulu ke Pringsewu makan bareng. Seneng banget si Ichi mainan sedotan dan disuapin kentang. Selesai makan, check in di Grand Kanaya Baturraden, hotel baru yang ngehits banget karena pool-nya. Oya kami nggak pake aplikasi, langsung nelpon dan transfer. Untuk biaya menginap per malam 300K weekday, 400K weekend.

    Setelah ganti pospak, ganti baju (sibayi risih pake lengan panjang) kami nonton teve dan kruntelan. Seneng banget si kecil itu liat teve yang guedee hihi. Udah selesai, nagih ng-asi dan langsung tepar.

    Ahad, 6 November 2016

    post-4

    post-2

    Paginya bayi bangun seperti biasa, jam 6. Jam 7 udah dimandiin padahal biasanya mandi paling cepet jam 8 hihi. Mandi pake shower hangat, udah asal cepet dan nggak pake keramas takut kedinginan. Sebenernya cuaca nggak dingin amat sih. Kamar hotel emang nggak pakai ac karena di dataran tinggi.

    post-5

    Medang disit ben gak edy*n

    7.30 kami sudah siap breakfast. Menu : nasi goreng, nasi + lauk, omelet, bubur manis, susu murni, teh, kopi, buah, roti tawar. Karena lokasi breakfast di samping pool, kami sambil nonton yang pada berenang. Ichi nggak mau kalah, ngiterin tuh kolam tapi nggak pake berenang. Foto-foto aja hhihi.

    Niatnya sih mau langsung berangkat ke lokawisata karena ayahnya pengen mengenang masa pacaran (halal) dulu. Tapi Ichi ngantuk akhirnya bobo dulu. Sekalian check out kami nitip koper dan dengan pede jalan menuju lokawisata. Sekadar bayangan, jalanan sepanjang hotel – lokawisata itu sekitar 30 derajat kalau nggak salah kira ya. Jadi ya kalo paham pasti ngojek atau naik angkot dari terminal (kami nggak bawa mobil) haha.

    post-3

    Ayah gendong bayi belasan kilo, bunda bawa ransel ama lemak. Kaki udah kayak digandulin ama gajah. Berkali-kali berhenti buat minum. Angkot udah nggak mau berhenti, angkot aja susah mau ngerem-nya, gimana kita… Jadi ya sampe lokawisata bercucur keringat dan berkonde semua betisnya. Di sana langsung nongkrongin tukang pecel ama mendoan. Yang sampe mendung menggelayut nggak juga dikirim, akhirnya dibatalin dan memutuskan pulang daripada bayi keujanan repot. (Ini sebenernya pengen dokumentasiin tapi apa daya, ngeluarin hape pun tangan lunglai rasanya *lebay emang)

    Turun naik angkot. Pesen taksi buat pulang. Mampir beli makanan. Alhamdulillah sampe rumah juga. Sibayi nempel sama ayahnya, sampe waktunya ayah berangkat lagi ke rantau.

    See u soon Pap. Jalan-jalan lagi yaaa.

    Plus Minus Hotel Grand Kanaya Baturraden

    1. Dari gerbang ke lobi jauh ya. Kalau jalan lumayan, ga ada transport lain.
    2. Gak ada lift, jadi kalau dapet lantai 3 nggak usah bolak-balik turun.
    3. Gak ada AC dan kulkas. Mungkin karena dataran tinggi ya, meski kemaren nggak dingin-dingin amat, kulkas masih ok sih kalau ada 😀
    4. Breakfast kurang yummy kalau dibandingkan hotel yang tarifnya serupa.
    5. Pemandangan dari kolam renang baguss. Kalau dari kamar sih cuma kelihatan bagian belakang hotel yang lagi dibangun.
    6. Ada taman bermain, ayunan dan jungkat-jungkit. Mayaan buat main sama anak.
    7. Pool-nya, yang jelas, ok banget. Bisa dipakai sama pengunjung luar hotel juga.
    8. Kamarnya bagus bersih rapi. Kamar mandi jugak. Kelengkapan cuma handuk 2 biji, keset, sabun sampo, air mineral, pemanas air, teh kopi gula. Sandal sebenernya butuh banget itu.. dingiiin.

    *Artinya liburan tetapi tinggal di rumah atau kita berlibur ke tempat yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal. Bisa itu dilakukan di dalam kota atau sedikit ke pinggiran. (Nationalgeographic.co.id)

    Tips staycation bawa bayi 1 tahun.

    1. Bawa baju ganti, celana, pospak, kaos kaki, sandal, sabun + sampo (2 in 1), minyak telon, jajan, mainan, gendongan, tisu basah, tisu kering. Handuk sih pakai yang di hotel aja.
    2. Briefing dulu sebelum bepergian
    3. Rencanakan akan makan apa bayi saat bepergian dan stay di hotel
    4. Siap-siap kalau si anak minta titah.

    Ada yang mau menambahkan?

    Ada yang punya pengalaman serupa?

    Hiking to the Mount Selok and the Beach!

    Bismillahirrahmanirrahim

    SONY DSC

    SONY DSC

     

    Ini catatan perjalananku untuk mengakhiri liburan panjang di 2013. Jadi ingat, waktu itu ditanyain sama teman, liburan kemana. Dengan sedih aku jawab nggak ke mana-mana, hehe. Kata temanku yang lain, sebelum internship manfaatkanlah waktu untuk pelesir. Niscaya nanti pas udah kerja nggak ngarep jalan-jalan. Oke, Selok cuma sekitar 1 jam punjul/lebih perjalanan, tapi pretty cool.

    Aku tahu pantai ini dari Mba Em, yang menyebut-nyebut Pantai Selok saat pernikahannya, bagus katanya. Aku yang bosan disodori pantai di daerah Cilacap pun penasaran, seperti apa bagusnya sih? Letaknya di Adipala, Cilacap. Kalau lewat Rawalo, lokasi ini nggak terlalu jauh dari rumah. Tanpa persiapan berarti, Sabtu waktu duha kami-aku,bapak,adek- berangkat. Yang jelas, si kecil Alph (kameraku Sony A200) harus ikut.

    Begitu masuk kawasan wisata, kami disodori 2 pilihan, gunung Selok atau pantai Selok. Aku jawab, “Mana saja yang penting ada WC!” Akhirnya entah atas pertimbangan apa Bapak ambil kanan, berarti Gunung Selok. Bayar tiket, per orang 3000 x 3 + biaya mobil = 12.000 Qadarullah lampu indikator aki menyala, ada yang tidak beres. Aku tanya, “Yakin bisa naik? Kalau enggak udah deh nggak usah.” Aku khawatir tahu-tahu nanti mesin mati, kejadiannya kayak dulu deh turun gunung tanpa mesin menyala.

    Bapak terlalu yakin meski tidak meyakinkan. Akhirnya kami tetap naik. Obyek pertama adalah Gua Jepang. Uh, menyeramkan, hanya numpang foto saja. Lanjut lagi sampai di gerbang Padepokan Jambe Lima, sama seramnya, mistis. Lagi-lagi cuma numpang foto. Padahal itu sedang nahan (banget) hajat kecil. Akhirnya sampai di lahan parkir. Cari WC, ada. Alhamdulillah air-nya lumayan bersih dan lancar.

    Setelah markir mobil dalam posisi agak njungkir, kami menuruni jalan setapak yang katanya menuju pantai. Waini patut dicoba, pikir kami. Dengan bangunan gapura kokoh di depan jalan. Awalnya paving blok masih dalam kondisi mulus dan indah. Kelamaan suasana hutan makin terasa menyeramkan. Khawatir ada ular atau monyet yang lewat, apalagi saat itu memang tampaknya cuma kami turis lokal sok jago yang lewat situ.

    SONY DSC

    SONY DSC

    SONY DSC

    SONY DSC

    SONY DSC

    Kayak di Pura Bali kaaan 🙂

     

    SONY DSC

     

    Di tengah perjalanan kami melewati jembatan, dengan nuansa kuno. Lalu pemandangan pantai dari kejauhan mulai tampak. Wow, seperti Menganti dilihat dari bukit. Keren! Apakah pantai itu akan terjangkau pemandangan itu oleh kaki-kaki kami? Setelah puas berfoto, kami melanjutkan perjalanan yang kelamaan berubah haluan menjadi hiking *tepok jidat*.

    Tampaklah sebuah bangunan yang menampakkan aura tersendiri berdiri kokoh di depan kami. Bagaimana tidak, bangunan yang cukup indah itu berwarna putih kelabu di bagian pintu gapura depannya, dan.. ini kan hutan bro. Milik siapakah hunian itu? Ingin sekali masuk dan melongok.

    Papan penunjuk jalan mengatakan jarak goa dan pantai masih 300 meter. Hm. Jarak segitu dengan medan begini, apakah tidak seram? Dan… 300 m itu lumayan jauh kan bro. Tapi kata adekku, “Ayolah, masa nyerah!” Akhirnya, meski pagi hanya makan sepotong telur dadar aku tetap melaju.

    Hwaa perjalanan makin menegangkan! Jalanan curam, paving mulai menghilang. Okeoke, pantai sudah makin terlihat meski cukup jauh juga. Tapitapitapi, iniii…. Jalanan sudah menukik, tangga basah berlumut dengan derajat 60 kurang lebih. Aku takuuutt. Tapi nggak ada jalan lain yang lebih oke. Adekku mulai merongrong, sia-sia kalau sudah sampai sini nggak lanjut. Lagipula nanti bisa cari jalan lain. Jalan lain apanya! Kalau naik lagi ke atas aku nggak mungkin sanggupppp, kalau mutar, masa iya harus jalan di pesisir pantai terus naik gunung jalan kaki di pantai sepi ini?

    SONY DSC

    Lihat tuh di kejauhan 🙂

     

    SONY DSC

    SONY DSC

    Rumah putih itu konon dibangun Presiden Soeharto

     

    SONY DSC

    SONY DSC

    Ini curam banget lho, dan licin. Hati-hati ya!

    Di akhir dari perjalanan menuju dataran rendah itu, sebuah tangga dengan lebar tidak terlalu nyaman untuk dipijak terbentang berbalut lumut dan basah oleh air. Di atas tadi saja aku hampir menggelundung karena tanah yang membuat terpeleset. Naini? Parah. Adekku sudah mulai turun, berpegangan pada bambu yang digantung di tebing. Bapak menyusul. Setelah memotret, dan memosisikan Alph dalam keadaan lebih aman, aku mulai turun sambil berdoa dan berpegangan pada apa saja yang bisa dipegang.

    Tap, tap, tap. Huah. Sampai juga di dataran rendah, rasanya gemetaaar. Sampai di tanah berpasir itu kami langsung disambut Gua yang berbau hio. Lalu berjalan lagi rupanya ada 2 buah warung di sana, dengan beberapa orang di dalamnya. Rasanya cukup mistis karena pengaruh hio tadi. Sepi pula. Orang-orang berkata-kata pelan. Kami memutuskan mampir di warung untuk melepas lelah.

    Goreng mendoan, minuman, dan mi cup jadi pilihan, tidak ada es di sana padahal cuaca cukup panas. Kami ditanyai lewat mana. Begitu menceritakan kami lewat atas, semua menyarankan untuk tidak kembali naik ke sana. Capek, hehe. Nggak akan kuat. Jadi bapak ngojek ambil mobil di parkiran, sembari lanjut ngisi air aki yang habis.

    Berjam-jam kami menunggu, dalam posisi kekenyangan, tidak bisa beranjak karena tidak bawa uang sepeserpun. Lupa. Uang di mobil. Bapak terlanjur pergi sebelum membayar makanan. Jadi sambil duduk, ngobrol, bengong kami menunggu. Banyak beberapa rombongan datang, membawa juru kunci atau tidak. Masuk ke gua dengan membawa jerigen, dupa, sesajen. Makin terasa seperti berada di Dunia Lain. Beberapa orang di warung juga datang dari Jakarta, sengaja datang ke tempat itu untuk melakukan ‘sesuatu’. Masuk ke gua, harus membayar tiket masuk. Dan jerigen (yang banyak dijual di warung-warung sekitar) itu untuk mengambil air (yang katanya) suci.

    Bagimu agamamu, bagiku agamaku.

    Oya, sembari menunggu, ada ayam berkaki empat yang bulunya bagus tapi sayang jalannya hanya bisa dengan 1 kaki (padahal punya 4 kaki ya). Aku lupa namanya, tapi jelas ayam ini tidak untuk dijual. Terus bapak nanya-nanya soal Pak Harto yang konon sering singgah di situ. Ternyata memang benar, dan rumah pagar putih itu yang biasanya ditinggali beliau.

    SONY DSC

    SONY DSC

    Seperti telaga yaa

     

    Waktu sudah makin sore, belum dhuhur pula. Lihat-lihat nggak ada tempat yang bisa kupakai untuk shalat. Tempat ini membuatku berpikir bahwa hanya kami berdua saja yang muslim. Padahal mungkin tidak. Untungnya bapak segera datang membawa si mobil yang tadi akinya ngadat. Segera saja kuajak pulang setelah membayar.

    Sebetulnya tempat itu sepertinya sulit dijangkau oleh tipe-tipe mobil dalam kota kalau melalui jalur pantai. Ada 2 mobil seperti panther yang mampu menjangkau tempat tadi, melewati pepasiran luas yang memisahkan gunung dengan laut. Sangsi, tapi bapak memaksa membawa mobil kecil itu. Begitu kami keluar menuju pantai, wow, rasanya seperti di gurun. Oke mungkin seperti Bromo. Atau apalah tapi ini keren. Yang jelas bapak konsentrasi menyetir melintasi jalan yang penuh pasir. Tersaruk-saruk, sampai pelepah pohon turut menyangsang di bagian bawah mobil.

    Kami sampai di dekat pantai. Ada mushala. Shalat dulu di sana. Tadinya berniat langsung pulang, tapi sayang belum ke pantai. Meski aku sangsi pantainya akan indah. Tapi ternyata wowww… sepi dan luaass. Sejauh mata memandang hanya ada pasir dan laut. Di kejauhan gunung terlihat samar karena cahaya matahari yang menyilaukan. Pasirnya bersih, dan membentuk salur-salur yang indah. Langsung berpose karena kamera sedang dikuasai adek. Dan hasilnya aku suka 😀

    Puas main air (sampai copot sepatu) main pasir, giliran adekku mainan, aku motrek. Subhanallah, penciptaan Allah yang begitu rupa. Mungkin pantai ini salah satu destinasi pantai yang aku suka. Terutama di weekday, karena sepii. Nggak ada pedagang, jadi harus siap bawa makanan.

    Kamu tinggal di Jawa Tengah atau daerah lain? Wajib datang ke pantai ini. Suka hiking atau naik gunung? Mencari gunung, pantai, gurun sekaligus? Coba sensasinya naik-turun gunung hutan SELOK ini. Puas sekali!

    SONY DSC

    SONY DSC

    SONY DSC

    SONY DSC

     

    Tulisan ini re-post. Postingan lalu dari blog lama, sudah diubah settingan jadi draft. Aku pindah sini supaya lebih banyak yang baca, moga-mogaa.. Yuk visit Jawa Tengah, explore dulu daerahmu sebelum kamu main ke daerah lain 🙂

    1 Banner Jan-Feb 2015

     

    Yogyakarta, Berdua

    Bismillahirrahmanirrahim

     

    Logawa

     

    Yogya? Lagi? Haha.. kota ini sudah seperti kampung kedua saking seringnya kukunjungi. Kali ini aku pergi besamo suami. Perjalanan ke Yogya sudah sering dibincangkan, beberapa kali. Tapi selalu gagal. Kali ini harus berhasil. Setelah 2 hari istirahat di rumah, pada Senin tanggal 26 kami berangkat setelah sebelumnya beli tiket PP naik Logawa.

    “Logawa kereta apa?”

    “Ekonomi.”

    “Yah, hadap-hadapan dong?”

    “Iya.”

    Karena berdua, pengennya suami pake yang eksekutif. Tapi demi menghemat, lagian cuma 2,5 jam aja nggak masalah lah sempit-sempitan. Akhirnya dengan tiket berangkat sebesar 105K (sebelumnya cuma separonya lho 😦 malah sempet ngalami tiket 6500 waktu SD!) dan tiket pulang seharga 65K akhirnya kami berangkat. Alhamdulillah di hari senin itu longgar, jadi kami cuma dapat teman duduk waktu dari Kutoarjo, sebelumnya cuma berdua aja 🙂

    Sampai di Yogya, kami langsung cari becak buat cari penginapan. Aku memang nggak booking penginapan sebelumnya, karena mau langsung cari di daerah Sosrokusuman (kalau backpacking selalu nginap di sini). Bayanganku, mau cari hotel dengan harga 200K an saja, yang penting bersih, dekat Malioboro, murah kan. Tapi ternyata suami nggak mau, jadi kami cari dengan harga sedikit di atasnya.

    Tukang becak di sini agak maksa ya. Jadi begitu kami naik, kami ditunjukin 2 hotel seharga 200an, katanya. Dekat dengan Malioboro, katanya. Tapi, karena aku sudah sering ke sana, ‘dekat’ kata pak becak itu terlalu jauh lah. Hotel yang lebih tampak seperti motel.

    Di kali pertama. “Ini mba, bagus hotelnya.”

    “Nggak mau pak, saya mau Sosrokusuman saja.” Orang mau cari yang deket Mall (biar gampang kemana-mana, karena kami ga ada kendaraan, malah ditaro di ujung entah di mana).

    “Ini bagus kok, dicoba dulu.”

    “ENGGAK.”

    Kali kedua, bukannya ke Sosrokusuman (FYI, gang ini ada persis di samping Mal Malioboro) malah ditunjukin di hotel lain yang katanya, “Ini tinggal lurus, nanti belok kiri, deket banget ke Malioboro.”

    “Deket gimana, Pak. Ini jauh. Saya nggak mau, ke Sosrokusuman saja.”

    “Lah, udah capek gini.” Keluhnya. Aku tahu pak becak ini bisa dapat komisi dari hotel yang ditunjukkannya. Pengalaman lalu, dulu saya ditunjukin hotel sama tukang becak jelek dan kotor lumutan gitu. Ga mau lah.

    “Kan tadi saya bilang ke Sosrokusuman. Gimana sih Pak.”

    “Sudah, turuti saja Pak.” Suami bilang.

    Genjoooott lagi. Dan ternyata bener masih jauh dari Malioboro Mal.

    Bukan ke Sosrokusuman, kami kembali dipaksa ke Jl. Dagen. Oke gapapa, karena jalannya lebih luas dan letaknya cuma di seberang Sosrokusuman. Pas lihat hotel Whiz yang mentereng, 2 kali kami minta berhenti tapi becak terus melaju. “Di sana, Kumbokarno, bagus itu.”

    Dan kami salah. Karena sudah males cari hotel, dan khawatir hotel penuh karena liburan mahasiswa. Kami terima hotel ini, dengan harga kepala 3 tapi bikin merana. Nggak asik. Pak becak minta tambahan 5K, aku kasih 10K mau ga dibalikin, ogah.

    Dari hotel, kami langsung menuju toko buku taman pintar. Jalan kaki dong. Dan di sana, suami begitu bersemangat. Karena tempat ini lebih banyak di isi buku pendidikan yang murah, maka dengan gencar dia meneliti satu demi satu buku yang ada. Aku bosyaaan.

    Dari sana kami ke Togamas. Lama lagi, aku yang biasanya suka banyak pilih buku dan boros, nggak beli apapun. Yang aku cari memang nggak ada, jadi ya sudah, nggak maksa beli yang lain. Duduk aja di pinggir kolam sampai kelaperan.

    Abis itu kami makan soto ayam di seberang Togamas, dan pulang. Oya, kami booking Whiz hotel (hotel yang kami lihat waktu naik becak itu) untuk malam berikutnya. Di hotel sampai abis maghrib karena sakit kepala kumat (kesel banget kan, ni penyakit emang suka nongkrong kalo kecapekan). Malamnya kami makan di sekitaran Dagen saja, lele goreng. Pengen banget ke oseng mercon tapi suami ga bisa makan pedess.

     

     

    sarapan

    Menu sarapan hotel. Atas : Kumbokarno, Bawah : Whiz

    Besoknya, setelah sarapan cuma nongkrong di hotel. Siap checkout, langsung pindah hotel Whiz. Karena weekday, kami dapat harga promo (katanya). Kalo bisa sih booking di web aja, kayaknya lebih murah. Di sini semalam untuk double kami dapat harga 400K.

    Abis masuk kamar. Kami keluar untuk makan, dan jalan. Ke mana? Suami nggak mau yang jauh-jauh. Ke tempat wisata juga gak niat. Apalagi ke mall. Maunya ke… Toko buku lagiii karena ada yang belum kebeli kemarin.

    “Iya, mau. Tapi naik becak.”

    Akhirnya kami naik becak ke Taman Pintar, karena panas lagi terik buanget. Di sana aku nagih jajanin buku, buat ongkos nungguin. Sempet lost contact, nyariin muter ga ketemu. Untung doi kalau di satu kios, lama banget.. jadi ketemu lagi deh.

    Malamnya kami ke Mall Malioboro cari sepatu. Abis cari sepatu, minta ke Gramedia.

     

     

    vredeburg

     

    Whiz

    Pemandangan dari hotel Whiz

     

    whiz2

    Kamar minimalis

    becaks

    Naik becak ke Taman Pintar

    Toko buku

    Udah mirip yang jual

    Bakmi djowo di Yogyakarta ini selalu bikin kangen. Aku pengeeen. Cari info katanya yang deket ada di deket alun-alun, dari malioboro lurus aja ke alun-alun. Tapi karena hujan dan suami juga nggak mau jauh-jauh akhirnya ngemper aja. Nggak seenak waktu makan di depan kantor Hiperkes, yang kuahnya putih. Huwaaa. Tapi enak anget sih di hari hujan.

    Bakmi Djowo

    Bakmi Djowo

    Nggak nyangka nemu gudeg cuma di samping hotel. Padahal aku udah pengen dari lama, penasaran sama gudegnya Yu Djum. Tadinya sih pengen nasgor seafood Solaria aja, tapi diajak ke sini. Minumnya es beras kencur. Ah endeus bang get !

    Yu djum

    Makan gudeg, di jl Dagen, sebelah hotel Whiz

    Rabu, siang. Kami pulang. Paginya cuma ke Mal bentar beli titipan adek. Abis itu suami baca buku. Aku ngga jelas ngapain. Begitu jam 12 kami keluar hotel, naksi ke Lempuyangan, 35K ga mau pake argo! Arrrgh. Terus nunggu sampe jam 3 sore. Pulang dan sampe rumah dengan selamat, Alhamdulillah 🙂 Bawa belasan buku lhooo dari sana ckck. Kayak tukang jualan buku dah.

     

    pulang

    Pulang!

    Lain kali kita ke sana lagi ya. Tapi ke tempat lain juga. Hihi.

     

     

    Nyaman Bersama Railink ARS KNO-Medan-KNO

    Bismillahirrahmanirrahim…

    Ada sekelumit cerita yang akan ku tulis di sini. Tentang perjalanan lalu di Medan, terutama tentang transportasi yang kupakai. Perjalanan yang menyenangkan karena di waktu yang singkat banyak cerita yang bisa kupetik. Siapa tahu di antara kalian ada yang dalam waktu dekat akan menyambangi kota Medan.

    Sebelum berangkat ke Medan, aku banyak mencari tahu tentang kota ini. Waktuku sebenarnya nggak banyak di sana. Hanya 2 malam. Tapi aku tetap mencari kemungkinan berwisata, jadi aku mencari tempat wisata yang kira-kira bisa dikunjungi. Aku buta Medan, begitu juga Bapak yang pergi bersama kala itu. Meski beliau sudah ke banyak pulau di Indonesia, termasuk Kalimantan, Papua, Sulawesi, Sumatra ini belum terjamah.

    Aku banyak menggunakan info dari surfing di internet, karena kami tidak ada keluarga di sana yang bisa ditanyai. Salah satunya info yang kudapat ya tentang Railink ARS ini. Begitu tahu ada kereta api bandara yang bisa membawa kita ke Medan dari Kualanamu (dan sebaliknya) dalam waktu singkat dan nyaman, langsung saja aku pesan tiket untuk pulang (via online) karena tiket Kualanamu – Medan kami putuskan beli on site.

    Boarding jam 11 siang dari Bandara Soekarno Hatta, pesawat kami agak terlambat. Sampai di Bandara Kualanamu Medan jam 13.05, kami mengambil bagasi dan langsung menuju ke stasiun bandara untuk menunggu kereta ke Medan. Ditawari taksi 150K ke Medan sih, tapi kami tetap membeli tiket Railink ARS (belinya di bandara, di stasiun juga ada sih sebetulnya). Kami tidak ingin melewatkan kesempatan menjajal kereta yang belum ada di tempat lain di Indonesia ini kan. Harganya 80K sekali jalan (saat itu, kalau tidak salah sekarang 100K tapi silahkan cek lagi di website-nya), kalo belinya berlipat makin murah. Kami diberi kartu masuk stasiun dan nomor kursi. Untuk Kualanamu-Medan 45 menit, Medan – Kualanamu 30 menit.

    Stasiun Kualanamu

    Stasiun Kualanamu, pstt ada wifi lho!

    Siap masuk kereta

    Siap masuk kereta

    Begitu masuk stasiun Bandara yang hanya berjarak sebentar saja dari pintu Bandara, hwahh.. kayak di luar negeri deh. Gede dan bersih. Karena kereta dijadwalkan jam 2 siang, kami menunggu dulu di ruang tunggu sambil ngemil roti dan minum. Begitu pengumuman disiarkan kalau penumpang boleh memasuki area bagian dalam di mana kereta sudah terparkir, kami baru masuk.

    Kami masuk menggunakan kartu yang sudah diberikan saat kami beli tiket tadi. Tipikal kereta ini seperti kereta di Jepang itu.. pintunya sudah dipaskan supaya kita bisa langsung masuk ke pintu kereta sesuai gerbong di tiket kita. Nggak seperti kereta Indonesia lainnya. Begitu masuk kereta kami dibuat tercengang lagi karena di dalam begitu bersih, rapi, dan muluuus. Hihi, iya dong kan termasuknya baru ni kereta.

    Setelah menyimpan koper di tempat khusus koper/bagasi yang luas itu, kami duduk di kursi kami. Penuh lho hari itu. Jadi narsisnya agak ditunda karena malu sama yang lain hihi. Suara mesin keretanya mulus sekali hampir nggak terdengar, goncangan pun miniimm sekali. Tahu nggak, kereta ini didesain khusus oleh Woojin Industrial System Co.Ltd, Korea, KA Bandara pertama di Indonesia ^^ Di tengah jalan kami berhenti sebentar, mungkin ada lalu lintas kereta yang berpapasan dengan kami. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke kota Medan.

    Setelah 2 malam di Medan, hari ketiga dini hari kami cabut dari hotel. Kami akan menggunakan kereta paling awal untuk menuju Kualanamu. Dengan menggunakan becak motor kami menuju stasiun Medan. Setelah menunjukkan tiket yang kami beli online, kami kembali diberi tiket dan dipersilahkan menunggu di ruang tunggu. Kami menunggu jam 4.00 tiba, keberangkatan kereta pertama, hal ini sangat membantu karena kami harus terbang di jadwal pagi. Meski itu dini hari, satu per satu penumpang datang, wah.. ramai. Ternyata banyak juga yang naik, kereta di gerbong 2 bahkan penuh. Lagi-lagi aku gagal bernarsis ria, hehe.

    Let me go home

    I’m just too far from where you are

    I wanna come home

    Lagu itu mengiringi kepulangan kami, ada rintik gerimis di luar jendela. Dengan berbekal kotak Bolu Meranti yang terkenal, 1 tas backpack dan 1 koper kecil milikku, kami pulang. Jawa, kami kembali. Terima kasih pengalamannya ya, Medan!

    Mau beli tiketnya ? Kunjungi http://www.railink.co.id/  makin banyak makin murah. Oya sekarang ada jadwal baru, 42 x PP ! Bayangkan. Cara pembayaran tiket ini pun macam-macam, bisa kredit, debit, dll. Mudah kan!

    ARS

    Stasiun Railink ARS Medan, bersih ya

    ARS

    Lihat, FULL!

    Begitu sampai di Stasiun Bandara Kualanamu, kita sudah punya jalan yang langsung menuju ke lantai 2 Bandara Kualanamu via eskalator. Asyik kan, tinggal tenteng barang saja udah sampai di Bandara. Ada trolley yang disediakan di stasiun, jadi nggak usah cemas bawa bolu seabrek ya! Tinggal nunggu check in dan babay Medan! Sampai jumpa kembali.

    Jadi, apakah kalian tertarik mencoba? Harus dong, kalau nggak coba boleh dibilang rugi 🙂 Dan pas pasang foto-foto Stasiun dan keretanya di DP BBM, banyak yang nanyain. Agak-agak mirip luar negeri gitu sih yaaa soalnya, jadi bikin penasaran. Tapi ada juga yang udah ngerti, soalnya udah pernah nyobain. Hehe. Kalau ke Medan lagi, aku juga lebih milih naik kereta ini lagi. Ya secara aku ini kan pecinta kereta.

    Ada yang sudah pernah coba? Share ya!

    Mantai Berdua

    Bismillahirrahmanirrahim

    Seminggu ini suami cuti pulang ke Jawa nengokin istri. Berbagai rencana dirancang, salah satunya mau main ke Yogyakarta. Tapi menjelang rencana keberangkatan, karena sudah mulai hujan dan bapak juga lagi pergi ke Medan (di rumah cuma berdua kalau kami jadi pergi ke Yogya) akhirnya batal.

    Di rabu sore akhirnya kami naik kereta (pengen naik kereta berdua, secara kami suka naik kereta) ke Kroya buat mudik ke kampung halaman suami. Gaya banget nggak sih dari Pwt – Kroya kok naik kereta? Naik motor, cape dan risiko kehujanan. Naik mobil, lagi agak trobel. Naik bis, males ribetnya dan lama. Kalau naik kereta, cuma setengah jam udah sampai, nanti di stasiun Kroya minta jemput Bapak Mertua, hihi.

    Harganya 35 ribu, kami beli buat berangkatnya sementara tiket pulang kami beli di Kroya. Keesokan harinya, kami keliling. Biasa, kalau ke Cilacap ini, banyak yang harus dikunjungi. Selain keluarga si Mas, keluarga dari bapak saya juga banyak di kota ini.

    Kami berangkat menuju pantai Jetis di Ds. Congot, setelah awalnya ditemani rintik hujan alhamdulillah cuma sebentar. Nah, di sana sepi banget, maklum bukan masa liburan. Seneng banget foto-foto. Mau main air males, akhirnya narsisong. Di sini akhirnya aku pakai tongsis pertama kalinya, hahaha. Pamer banget. Soalnya kalau mau foto berdua kalo ngga ada si tongtong ini ngga bisa. Ngambil kulit kerang buat kenang-kenangan, hihi.

    Mampir ke Tempat Pelelangan Ikan, buat makan ikan di resto seafood di sana. Di perjalanan Mas-nyah nyangkut di proyek Tambak Udang Vanname yang sedang dikerjakan. Emang ya, kalau udah suka, istri suka kelupaan, hihi. Nah lanjut di resto kami pesan ikan kerapu bakar yang kata Mr. Ib nggak enak karena kurang matang, harus cobain ikan bakar di Aceh katanya.. yaya.

    Dari sana, kami lanjut ke rumah Simbah saya dan Bude. Disambut ramai karena nggak ngabarin dulu, hihi. Main sama dedek Al juga yang makin lucu. Di rumah Simbah, ternyata beliau sedang bikin gula buat dijual 😀 Bantuin ngaduk sebentar aja udah panas bukan maiin.. pakai tungku soalnya.

    Pulangnya, seperti biasa kami dioleh-olehi segala macam. Metik kecombrang kesukaanku. Dipetikin daun turi, daun so, dibawain telur asin (yang jatuh remuk pas nabrak jalan lubang). Lanjut ke rumah Simbahnya Mas. Karena mau hujan, kami nggak lama-lama. Di rumah Mr. Ib sore itu kami siap-siap pulang, Ibu mertua baru pulang kerja udah nyiapin semua yang bisa dibawa. Sayuran, singkong, pisang, bumbu pecel bikinan sendiri (bikin semalam dan sore sebelum kami pulang), lele panenan sendiri. Si Mas agak males bawa barang banyak-banyak, hihi.. katanya kami jadi kayak ringsung (orang gila yang bawa barang macem-macem) soalnya total kami bawa 3 kresek besar selain 2 ransel yang kami panggul masing-masing.

    Magrib kami diantar ke stasiun, masuk ke kereta Serayu Pagi setelah shalat magrib. Dan kembali pulang ke rumah. Karena kepanasan-gerimis, sakit kepala deh. Tapi alhamdulillah setelah makan pecel (dari sayur oleh-oleh) dan telur asin, kerokan bawang merah, minum cokelat anget oleh-oleh Mas dari Aceh, sembuh :’)

    Lalu jumat kami berangkat ke Banjarnegara karena sepupu ada yang nikah. Malamnya kami ikut seserahan, lalu terpaksa nginap di hotel karena rumah Eyang penuh sama keluarga yang lain. Esoknya kami kondangan, dan segera pulang karena Mas harus siap-siap untuk berangkat ke Jakarta. Ya.. waktunya pulang. Terimakasih untuk 1 minggu ke belakang 🙂 See u very soon.

    This slideshow requires JavaScript.

    Seminggu di Yogyakarta

    Bismillahirrahmanirrahim

    BIHUN SOLARIA

    Sepulang dari Medan, 2 hari kemudian harus ke Yogyakarta ada pelatihan Hiperkes. Biasanya sih naik Logawa, kereta pagi yang cuma butuh biaya 50K dari kota ini. Tapi, mau ngapain dari pagi sampai sore di MES? Sementara temanku baru datang malam hari. Mau jalan sendirian malas aja. Akhirnya beli tiket Gajahwong seharga 110K, sebelum tahu kita ternyata bisa beli tiket reduksi di 1-2 jam sebelum keberangkatan dari stasiun PWT hanya seharga 38K saja.

    Kereta telat datang. Sekitar jam 3 PM lebih sampai juga di Lempuyangan. Langsung naik becak (di Lempuyangan agak susah cari taksi) ke lokasi di Jl. Ireda, belakang Purawisata. Tempatnya yang nyempil dan nggak dekat wisata, bikin kemana-mana agak susah. Setelah masuk kamar, keluar cari makan dan persediaan minum dll. Hari Ahad itu cukup sepi. Beli ramesan seharga 11K dan belanja mineral dll. Masuk kamar, nunggu penghuni kamar lain datang.

    Selain kuliah di 8 pagi – 5 sore, kadang keluar bareng temen. Hari pertama ngemall Malioboro karena listrik mati se-Jawa DIY kan. Rencana beli tiket pulang gagal, padahal udah pesen online di depan ATM corner, pas mau bayar baru inget kalo listrik mati jaringan ATM juga mati. Alhasil batal beli tiket. Cuma muter, makan, pulang. Nyari lilin di mana-mana habis. Akhirnya pakai cara terdesak, pakai kapas dicelup minyak goreng, dibakar.

    Besoknya, ngebecak sore-sore cari Indomar## buat beli tiket. Berhasil. Lain waktu, ke XT Square buat foto 3D. Besoknya ke Gramedia Sudirman buat ngubek bazar buku. Dan akhirnya, setelah jenuh lama-lama di kota orang, akhirnya pulang juga di Sabtu sore. Yang mana banyak banget orang liburan ke kota ini karena memang lagi banyak acara Suro. Lempuyangan macet. Harus geret koper, angkut 2 tas, dari depan pintu keluar ke pintu masuk. Antri cetak tiket, diserobot (halo warga Indonesia yang masih suka nyerobot 🙂 belajar ya!). Akhirnya bisa nongkrong manis nungguin kereta datang setengah jam sebelum keberangkatan.

     

    Cuaca di Yogya siang hari itu panas banget. Di lantai 2, dengan beberapa unit AC pun nggak bisa ngalahin. Selain itu kamar yang berdebu, AC yang sempet bocor, imunitas turun, bikin virus flu gampang banget nemplok. Sempat tepar berat, sampai nitip temen 1 MES buat beli obat *makasi ya dr. Esti ^^ mau direpotin buat mampir K24 hehe. Alhamdulillah digerojok vitamin, air bening, makan banyak… sembuh 🙂 Nikmat mana lagi yang kamu dustakan? Sehat dan waktu luang begitu berharga..

    This slideshow requires JavaScript.