Bayi Opname

Bismillahirrahmanirrahim

PicsArt_03-28-11.11.10.png

Adalah hari Selasa. Badan tiba-tiba berasa flu dalam sekali jeglek dan merinding-rinding naga-naganya berasa mau sakit (dalam artian sakit beneran). Menamatkan praktek siang itu sambil meriang, dan pulangnya melawan hujan. Sampai rumah udah memutuskan gak akan mandi, karena badanku tidak seperti dulu (Ceila). Sebenernya karena sakit ‘agak’ parah sebelumnya rasanya sama kayak gini, dan diperparah karena maksa mandi. Gak mau mengulangi.

Bener aja sorenya menggigil disko, suhu naik. 38 derajat C. Langsung minum obat dan meringkuk, jadwal jaga sore dialihkan. Nggak berakhir seperti sakit yang biasanya, malamnya masih demam. Adumak… sakit beneran. Kepala nyut-nyutan. Bayi nemplok kayak perangko. Malem masi meringkuk sambil gigil-gigil sedap. Nafsu makan masih bisa dipaksakan.

Ehla kok besokannya, magrib si bayi semlenget anget. Maunya bobooooo. Jam 9 malam ditengok demam, cek suhu 40 derajat. Dibangunin kasi paracetamol oral, dimuntahin. Buru-buru pesan Dumin supp. Dikasi paracetamol dari dub** turunnya cuma 38, naik lagi 40. Nggak mau nyusu, nggak bersuara, tiduuurr aja.

Sebetulnya demam baru 1 hari biasanya sih masih observasi ya, cuma karena anaknya lemes banget dan nggak mau nyusu jadi meski perih diputuskan untuk infus saja. Dikuat-kuatin denger tangisannya. Sampai malam berikutnya setelah masuk paracetamol oral dan injeksi demam masih di kisaran 39 derajat. Ada ptekie (bintik merah) di dada.

PicsArt_03-28-11.19.20.png

Hasil lab alhamdulillah normal, jadi DSA minta urinalisis untuk cari tahu penyebab infeksi. Buat dapetin urin agak susah ya, coba ditatur anaknya nangis. Akhirnya pakai plastik dipakein di dalam pampers, nangiiisss lah gak nyaman, dan berkali-kali nggak dapat juga, sampai sore baru diakumulasiin sampai peras-peras tu plastik 😀

Malam pertama anaknya susah tidur, jadi yang nungguin juga nggak tidur. Secara tengah malam infus macet dan diobok-obok hampir 1 jam untuk cari posisi, yang ternyata 3 jam kemudian tangan bengkak, cairan gak masuk pembuluh darah tapi ke jaringan sekitarnya.

PicsArt_03-28-11.20.20.png

Paginya infus dicopot sambil berdoa demamnya gak naik lagi supaya gak perlu pakai infus. Tapi ternyata demam lagi 38 derajat, tapi masukin Dumin saja dari bawah. Abis itu subfebris saja, anget-anget. Semalam aman. Paginya DSA visit, karena sudah gak demam dan hasil lab serta urinalisis bagus jadi BLPL (boleh pulang).. Yeay!!! Meski sampe sekarang masi males makan dan lemes. Semangat kakak!!

Ada yang punya pengalaman serupa? Pelukan yuk.

Advertisements

Nyeri Dada

Bismillahirrahmanirrahim

Lupa tepatnya, tapi hari itu dada kiri terasa nyeri. Tajam, senit-senit. Terutama kalau bergerak, tarik napas dalam, dan batuk. Parahnya lagi aku sedang batuk yang lumayan sering. Hiks banget kan. Karena nggak tahan nyerinya, akhirnya minum pereda nyeri. Gak ada perubahan. Besoknya lebih parah lagi, terutama waktu bangun tidur.

Tetep ya, kalau ngalamin sendiri ya bingung juga. Sementara diagnJadi tosis pribadi adalah muscle spasm di dinding dada. Sampai 2 hari konsumsi pereda nyeri masih belum berkurang. Manalah batuk makin merajalele.. aku lelahh. Waktu aku raba sendiri memang nampaknya aku menemukan lokasi mana yang harus aku kompres dingin.

Di hari ketiga aku mulai mempelajari, karena otot kalok lagi tegang gitu pasti harusnya ada posisi pw ya, kurangi aktivitas yang terlalu berat. Oles-oles yang panas. Alhamdulillah mendingan, dan posisi tidur miring kiri dengan tangan agak maju ke depan adalah posisi batuk yang nyaman tanpa rasa nyeri.

Bisa dibayangkan gak kalo mau batuk, aku belain gegoleran dulu posisi pw daripada merasakan nyeri senut kayak dicium lele (kali). Alhamdulillah sekarang udah sembuh. Jadi teman, sebetulnya nyeri dada kiri tidak hanya karena masalah jantung ya. Banyak sekali yang tersembunyi di dalam situ. Kalau jantung, lebih sering tidak bisa ditentukan pusat nyeri, sering menjalar ke lengan kiri, rahang, punggung, disertai muntah dan keringat berlebih.

Jaga kesehatan ya teman, aktivitas berat boleh tapi ukur kemampuan kita ^^

KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi)

Bismillahirrahmanirrahim

Nyuntik anak orang, atau istri orang sih pernah. Dan setelahnya, kita nggak pernah tahu apa yang terjadi pada mereka.

Dan, apa yang terjadi pada bocah-bocah setelah diimunisasi? Si bayi sudah 4 kali imunisasi. Tiap bulan! Dan imunisasi terakhir bikin emaknya aras-arasen alias males untuk imunisasi berikutnya, hihi.

Makin ke sini tampaknya bayi sudah makin ngerti kalau imunisasi itu sakit! Di imunisasi DPT (Pentavalen) pertama, bayi belum terlalu parah ewelnya. Cuma memang lesu sehari semalam. Demam di malamnya (karena nggak pakai yang minimal demam) ngeruntuh dan malaise. Demam sampai 38,5 kalau nggak salah, masuk paracetamol drop sekali besokannya udah bisa cengar-cengir lagi.

Imunisasi PCV (tambahan) pas disuntik dia nggak nangis, 1 detik setelah dicabut injeksinya baru deh dia ngeh kalau harus nangis. Tapi langsung gendong, berhenti seketika. Malemnya agak rewel, minta gendong, nangisnya lebih keras dari biasanya, dan subfebris aja nggak sampai minum paracetamol.

Akhirnya jadwal DPT 2 tiba, hiks.. ga suka deh sama DPT haha. Vaksin yang minimal panas (yang harganya lebih mahal ituu) emang lagi langka, katanya registrasinya yang sedang bermasalah. Jadi, lanjut pentabio seperti biasa. Buset deh. Ini anak jadi nggak mau nyusu, minta gendong sepanjang hari bahkan tidur nggak mau ditaro, ngerintih, dan.. pas siang abis diimunisasi itu tangisan terkeras sepanjang sejarah hidupnya. Mimo-neneknya sampai gemeteran sekujur tubuh. Bahkan yang biasanya digendong langsung anteng, dia nggak mau berhenti, seakan batas maksimal suaranya dia pake.

Akhirnya aku masukin paracetamol buat anti nyeri, kali aja dia ngerasa sakit banget.. dan kayaknya emang bekas injeksi dia bengkak dikit. Setelah digendong sambil naik-turun macam scotjump gitu.. akhirnya dia tidur di gendonganku. Dan selama 3 hari dia nggak mau senyum lebar main seperti biasa, dan nyusu nya pun harus nunggu dia setengah sadar, atau disendokin itu juga dikit doang. Selama itu pula aku migrain. Bolak-balik minta maaf ke bayi dan baru bisa nempelin kantong air dingin ke paha bekas injeksi. Dan di hari ke empat dia kembali mau teriak dan ketawa riang, hepiii!

Sekian dan terima kasih. Bulan depan injeksi lagi.. arrrr.

1 Minggu Setelah Melahirkan

Bismillahirrahmanirrahim

Selama koas obsgyn (kandungan kebidanan) aku udah banyak menemukan berbagai macam tipe ibu yang akan melahirkan, tanpa pernah tahu bagaimana rasanya. Teriakan sahut-sahutan, ngakunya ga hamil (tapi udah mau lahir aja), nyesal bikin karena ngeluarinnya sakit (biasanya ini nona), sampai yang santai banget et causa kelahiran anak ke 5 dst.

Dan well, setiap aku cerita tentang melahirkan ke teman yang akan melahirkan, nggak bisa dipungkiri aku cerita kalau.. ya itu sakit, meskipun semua akan hilang kalau si anak lahir dengan selamat.

Aku pro IMD, pro ASI, rooming in, bedding in. Tapi, nyatanya saat IMD (Insisiasi Menyusu Dini) bayiku merintih di dadaku, meski waktu lahir dia nangis keras. AC menurutku nggak terlalu dingin. Tapi ya, si bayi harus dibawa ke ruang lain. Aku ditinggal, dijahit, semua keluarga mengawal si bayi. Selama masa koas bagian anak, banyak nyawa dijemput salah satunya dengan cara… lahir biru, asfiksia, menangis merintih. Tangis keras itu sehat. Sambil nyeri dijahit, aku nggak tahu apa kabar bayiku di sana.

Datang-datang suami, pas kutanya gimana si bayi. Dengan wajah datar dia bilang, “Iya udah nggak nangis.” “HAH, maksudnya apa? Nggak nangis gimana?” “Iya, udah nggak nangis, kamu kok panik? Udah tidur.”

Entah banyak nonton sinetron atau terngiang cara menyampaikan berita buruk. Bayangin aja kalau ibu-ibu yang berharap anaknya nangis kenceng, dibilangin kalau anaknya udah nggak nangis suka parno hehe. Setelah kupastikan, ternyata memang sehat. Cuma dia emang kedinginan, jadi selama di ruang bayi dia masuk inkubator dan diberi oksigen pakai head box. Bapak-ibu juga sempat cemas karena bayangan mereka bayi sehat nggak akan masuk inkubator.

Karena belum pulih, belum bisa pee, belum bisa duduk lama, aku dipindahkan ke kamar siang hari (melahirkan jam 6 pagi). Bayi masuk kamar sore hari setelah mandi. Perjuangan pertama menyusui. Aku masih pada keyakinan lambung bayi kecil, dan 3 hari masih ditolerir. ASI ku nggak banyak, bahkan mungkin nggak ada. Di saat ibu lain PD sudah terasa penuh, PD ku kosong. Tapi bayi merah belum protes, dia lebih suka tidur.

Bayi pulang dengan bilirubin 5. Ikterik, kuning wajar. Harus cek bilirubin 2 hari kemudian, jemur dan susui. Bayi pulang, hore! Besoknya bayi demam, masih skin to skin, turun sedikit. Di popok ada bercak merah oranye. Darah? Bukan, hal ini wajar pada bayi merah. Tapi di esok hari suster judge merah di popok itu karena dehidrasi, ibuku makin panik.

Hari berikutnya aku-suami-bayi, cek bilirubin di RS. Nilainya 16. Maximal 11. Dang. Suhu : 38 . Tunggu instruksi Sp. A dan ini indikasi rawat inap untuk foto terapi. Aku nangis seketika itu juga. Telepon ibu sambil nahan tangis. Ibu langsung pulang kerja. Dari situ… judge makin parah : salah ibunya nggak mau ngasih sufor, dokter tapi kok nggak tahu. Mungkin di situlah aku mulai masuk baby blues tapi aku nggak sadar kalau aku stres… ke depannya selama seminggu aku betul-betul ‘biru’ pucat.

Cerita nginap di RS selama 3 hari sambil nungguin fototerapi, besok lagi deh belum edit fotonya ^^ .

Yang jelas, selama 1 minggu itu aku bagaikan zombie. Jalan belum rapi, muka pucat berantakan, belum menemukan posisi menyusui yang pas dan nyaman menyebabkan migrain, nyeri tengkuk, keringat selalu bercucuran kayak hujan, mata kuyu, ditambah harus selalu tampil prima saat tamu datang, bayi sering nangis jerit karena kurang minum. Hahaha.

Tapi terimakasih untuk suami yang rela tidur di lantai, selalu bikin susu kedelai + katuk, pijat oksitosin, dan 1 bulan cuti sambil dinas luar 😀

Tips untuk ibu baru dariku…

  1. Usahakan IMD
  2. Perawatan PD sejak sebelum melahirkan
  3. Siapkan lagu relaksasi, movie, di hp untuk menemani begadang. Atau tv kalau ada di kamar, bagus juga.
  4. Bantal menyusui, untuk bayi kecil butuh juga.. enak karena sampai samping
  5. Siapkan susu, cemilan, buah, pokoknya harus banyak makan. Minum pun banyak. Suplemen terutama suplemen besi.
  6. Baju menyusui harus nyaman, latihan menyusui sambil tiduran ya, hehe. Dan kalau sambil tiduran, enaknya baju piyama kaos.
  7. Selama bayi tidur, ikutlah tidur. Jangan lupa bangunkan tiap 2 jam ya. Bagusnya pakai popok kain aja.
  8. Panggil tukang pijet/ke salon/spa massage
  9. Aku baru bisa pijet entah kapan deh itu, dan itu sakit banget dan aku nyesel dipijet dukun pijet ibu hamil karena pada dasarnya aku nggak kuat dipijet keras-keras. Tapi dukunnya berdalih, ini ototnya tegang jadi sakit, saya cuma ngelus doang kok.
  10. Ayah wajib mendukung, siapkan ayah untuk selalu membantu kebutuhan ibu dan bayi yaa. Ganti popok aja itu sangat membantuuu.
  11. Kalau belum berani mandiin, panggil suster (biasanya di RS sedia) untuk mandikan. Paling ga sebelum puput.
  12. Ada yang mau nambahin?

Banyak juga yaa.. mumpung bayi lagi anteng ^^ Oyaaa… masa-masa begadang masih akan berlanjut paling ga sampai 2 bulan, 3 bulan udah mulai agak tenang karena miminya bentar-bentar doang.

Say Hi, Sorry, and Bye

Assalamu’alaikum sahabat bloggerku yang kusayang.

Mau pamitan dulu ya untuk sementara waktu (halah… emang ada yang kehilangan kalau kamu ga ada, hihi). Sementara mau nulis draft-draft dulu, dan kalau kangen sesekali blogwalking karena BW sangat menyenangkan, hehe. Alhamdulillah sebulan lagi banyak kegiatan, jadi semoga nggak kangen banget kalau nggak posting.

Buat semua teman-teman yang berinteraksi denganku di dunia maya maupun yang sudah pernah bertemu juga, mohon dimaafkan kalau ada salah kata ya 🙂 insyaAllah semua kesalahan sudah dimaafkan, kan sudah lewat lebaran, hihi.

And.. this is Hi, Sorry, and Bye ^^ Sampai jumpa lagi yaa..

PO 1 It’s Ginger Love

Alhamdulillah cetakan I sudah mendarat ^^ Siap kirimmm

Puteri Bintang

Bismillahirrahmanirrahim

Salam, kawans…

Alhamdulillah paket dari Penerbit Diandra Creative sudah datang. Isinya novel Pre Order 1 It’s Ginger Love! Novel ini novel Islami pertama yang aku buat dengan sepenuh hati. Sebetulnya cetakan ini adalah remake. Silahkan baca postingan sebelumnya.

Begitu mendarat, langsung aja dipoto-poto, silahkan lihat paradenya yaa ^^

SONY DSCSONY DSCSONY DSC

Perbedaan terbitan lawas dengan terbitan anyar, tebelnya bok! Perbedaan terbitan lawas dengan terbitan anyar, tebelnya bok!

Cover depan-belakang by talented Rizka Amalia (my SHS friend's) Cover depan-belakang by talented Rizka Amalia (my SHS friend’s)

Maap ya ada puding nyempil, persiapan buka nanti ^^ Maap ya ada puding nyempil, persiapan buka nanti ^^

View original post

SPD atau Skoliosis?

Bismillahirrahmanirrahim

Sejak kamis 11 Juni 2015 aku merasa daerah lipat paha kananku nyeri. Nyerinya tidak menjalar, tapi sangat nyeri kalau sedang kumat. Kumatnya sering, meski kadang hilang. Kalau sedang berjalan, tiba-tiba kumat, maka aku nggak berani lanjut jalan karena sangat nyeri, mau duduk pun kalau berubah posisi pasti nyeri. Kadang aku gabrukin aja tubuhku di lantai, huhu. Kalau waktunya shalat dan pas lagi kumat, ughh.

Hari berikutnya masih sama. Sampai aku nggak bisa kemana-mana, mobilitas menurun, nggak berani keluar rumah takut kumat. Aku mulai mencari tahu. Dari beberapa pengalaman dan jurnal yang ada, ada yang dinamakan dengan SPD (Symphisis Pubis Dysfunction). Beberapa gejala, penyebab, sangat mirip dengan yang aku alami. Penyebab paling seringnya adalah hormon relaxin yang release terlalu cepat, sehingga ligamen di pelvis/panggul melonggar untuk persiapan melahirkan. Hal ini banyak dialami pada TM 3 tapi kadang sudah muncul di TM2.

Penyebab yang lain adalah peningkatan BB yang cukup signifikan (yes, aku mengalaminya, sudah 9-10 kilo di bulan ke – 5) juga BB bayi, aktivitas yang terlalu tinggi, dll. Aku merasa pede menegakkan diagnosis ini, dan mulai mencari tatalaksana-nya. Dulu aku sama sekali nggak pernah dengar, dan katanya memang tidak semua DSOG mengetahui hal ini ini secara detail (wallahu a’lam).

Tapi di luar itu, aku coba konsulkan pada dr.Prita,Sp.OG (DSOG JIH aktivis BSMI) via sms (makasi sekali dok atas waktunya… huhu) Kalau menurut dr. Prita, ini bisa jadi skoliosis, atau flat foot, dll, justru arah ke SPD tidak ada. Berhubung suami dr. Prita adalah dr. ortopedi (dr. Basuki, Sp.OT) jadi dikonsulkan sekalian ke beliau, hihi. Karena katanya ada beberapa pasien dr. Prita yang sepertiku, setelah refer ke Ortopedi malah hasilnya skoliosis.

Saat diminta foto punggung untuk melihat simetris tidaknya bahu, aku mengirim foto menggunakan manset. Harapannya sih supaya skapula atau tulang belikat terlihat, karena kalau betul skolio antara kanan-kiri ada perbedaan. Tapi apa daya isinya lemak semua. Tapi setelah dilihat dr. Basuki, Sp.OT memang ada perbandingan di bahu kanan dan kiri. Jadi intinya aku skoliosis, meski kalau untuk derajat harus dilihat rontgent tapi aku yakin derajatnya ringan sekali.

Disarankannya adalah pencegahan ke arah yang lebih buruk, jadi rajin renang (ga bisa renang padahal), tidak angkat berat (bayiku mau digendong siapa nanti, huhu), tidak naik motor (kalau ke klinik pagi nggak ada mobil nganggur), tidur di kasur yang rata. Tapi aku akan berusaha melakukan pencegahan. Selain itu aku juga melakukan tatalaksana untuk SPD yaitu menggunakan maternity belt  (tadinya aku cari merk sorex tapi nggak nemu, ada yang serupa dan harganya juga nggak lebih dari 50 ribu) untuk menopang perut, juga beli ice pack /ice gel untuk digunakan kalau nyeri (dibekukan dulu) seharga 24 ribu (bisa untuk ASIP juga nanti). Selain itu aku juga melakukan exercise untuk SPD. Selain itu juga perlakukan dengan baik tulang panggul, hehe, seperti cara naik tangga dengan benar, tidak terlalu banyak berdiri atau berjalan, naik mobil dengan mengangkat 2 kaki secara bersamaan, dll.

Di hari ke-empat, kambuhnya hanya di pagi hari kalau bangun tidur. Semoga nggak akan kambuh lagi atau makin parah.

Alhamdulillah makin tua berangsur hilang. Pas habis lahiran udah hilang. Sempat takut pas lahiran kambuh, ternyata enggak.

Kalau butuh bacaan, silahkan dibaca-baca:

SPD Pregmed

Jurnal SPD NCBI

Self Care for SPD (video) 

Pengalaman SPD

It’s Ginger Love ! (Republish, Recover, Revisions)

Republish my first Solo Islamic Novel ^^

click for pre order fellassss

Puteri Bintang

Bismillahirrahmanirrahim

cover It's Ginger Love_prev (1)

Teman-teman tentu ingat novel debut pertama-ku yaitu Ginger Love, yang masih ada jejak-jejaknya di web ini. Hehe. Nah, beberapa waktu lalu aku merevisinya. Revisi yang cukup lumayan menurutku, karena ada penambahan beberapa tokoh, konflik, dan ini membuat buku yang tadinya tidak lebih dari 200 halaman melar menjadi di atas 300. Wow.

Karena ingin suasana baru, maka cover yang tadinya sederhana sekali (ngegambar sendiri lah pake ilmu pas-pasan) sekarang kuserahkan ke Rizka Amalia untuk desainnya.


“Dan akhirnya kita akan menemukan bahwa cinta itu hangat dan menghangatkan, seperti air jahe yang disesap, pelan-pelan menyusupi setiap celah.” Aristi Intan Soraya (dokter umum)

“Cinta itu hangat, selayaknya ilmu-terlebih ilmuddin-bisa membawa kehangatan bagi sekitar kita agar bisa mencintai islam.” Fajarotul M.

“Jail, usil, tapi baeek, arrghhh! Tanggungjawab aku jadi naksir Hanan!” Ai Nurfaiziyah (dokter umum)

“Bikin begadang! Ringan, ngena, ga bisa berhenti baca, endingnya bikin nghayal!” Destya Sandra Dewi (calon drg)


Republish with (many)…

View original post 69 more words

Peta Harta Karun

Bismillahirrahmanirrahim

Semua orang pasti punya masa kecil yang berkesan. Nah, aku mau cerita tentang salah satu permainan masa kecil yang berkesan buatku.

Waktu kecil, tiap liburan tiba aku langsung telepon ke rumah Eyang minta jemput. Ya soalnya kalau nunggu diantar kan harus nunggu orangtua free dulu ya. Kalau belum dibolehin pergi ke rumah Eyang yang berjarak sekitar 1,5 jam dari rumah, aku akan mulai melancarkan aksi-ku.

“Aku udah cium bau almari rumah Eyang…. Aku pengen ke sana.”

Bahkan, aku sempat nggak mau pulang dari rumah Eyang padahal esok hari harus sekolah. Aku mengunci diri di kamar sampai mobil orangtuaku pergi pulang karena menyerah nungguin aku buka pintu. Sejak saat itu aku hanya dibolehkan menginap di rumah Eyang maksimal 3 hari hahaha.

Eh kembali ke permainan. Rumah Eyang kan luas banget, nah aku punya satu sepupu perempuan yang beda sekitar 5 tahun. Suatu saat dia ngenalin sebuah permainan seru. Caranya, kami sama-sama buat peta harta karun. Bikinnya lebih lama daripada memainkannya. Tapi seru sekali.

Karena peta harta karun itu berbentuk begini:

Start. Maju 5 langkah. Belok kanan 7 langkah. Turun tangga. Belok kiri 20 langkah. Lalu sampai di sebuah ruangan, harus mencari kertas berisi rute selanjutnya. Dan seterusnya sampai kami mencapai garis finish.

Bisa dibayangkan kan untuk membuat rute itu butuh tenaga ekstra. Karena kami harus menyimpan rute selanjutnya di sebuah ruangan yang sebelumnya kami datangi.

Permainan ini menyenangkan sekali buat anak SD ingusan macam aku yang butuh hiburan di desa. Nanti kadang di akhir ada selipan kertas berisi tulisan yang disembunyikan. Tiap kali liburan aku selalu menanti permainan ini. Hehe. Boleh dicoba untuk anak-anak atau keponakan yang hiperaktif ^^

Tulisan ini diikutsertakan untuk Giveaway dr Meta Hanindita, Sp. A. Dan aku pengen banget jadi yang pertama punya bukunya, hahaha. Buku itu pasti akan berguna banget buat perkembangan anak-anakku nantinya. Tahu sendiri ibu-ibu zaman sekarang harus super kreatif karena sudah banyak makan ilmu tentang parenting. Anak-anak sekarang harus terus dididik supaya nggak keracunan bobroknya zaman, dan supaya karakternya terbentuk dari kecil. Pweaaseee.. dok, kasih bukunya buatku yaaa, hahaha.

Salam untuk si cerdas Naya.

Giveaway #PlayAndLearn Part 1 di metahanindita.com

Toko Buah Favorit

Bismillahirrahmanirrahim

SONY DSC

Siapa suka buah? Buah apa? Konon katanya, buah segar yang matang pohon lebih bagus dibandingkan dengan jus buah. Pada jus buah seratnya yang baik untuk pencernaan malah menghilang. Dan, kurang baik mencampurkan susu ke dalam buah asam. Karena asam akan mengikat protein dalam susu. Jadi kalau stroberi, ya stroberi aja nggak perlu pakai susu. Kalau mau susu rasa buah, carilah yang tidak asam.

Aku termasuk penyuka segala macam buah. Durian yang kadang ada yang gak doyan pun aku suka. Buah apa lagi sok disebut yang kalian ga suka *nantangin. Di kota ini ada beberapa supermarket, toko buah besar, warung jualan buah, pedagang buah emperan. Haha. Ke mana kalian suka beli?

Beberapa kali pas lagi pengen beli buah, aku ke supermarket yang konon isinya adalah barang-barang kualitas oke. Tapi nyatanyaaa… buahnya entah busuk, lembek, jamuran, ga oke deh. Meski kadang kalau lagi hoki, kita bisa dapat stok baru yang buahnya oke punya. Bahkan kadang ada potongan harga, tapi nggak setiap saat kaaan.

SONY DSC

Nah baru-baru ini aku nemu warung buah yang nggak terlalu jauh dari rumah tapi kualitasnya bagus. Buahnya pun beragam. Kalau kalian orang Purwokerto, boleh dicoba di Jl. HR Bunyamin, seberang DKT agak ke kanan. Pilih buah harusnya ada caranya ya, aku sih iseng aja. Kalau melon, pastikan warna kulitnya kuning semua jangan ada yang hijau. Sering kecele kalau dapet wangi tapi cuma sesisi, tetep aja ada bagian yang keras. Nah kalau kuning semua, dan wangi, insyaAllah enak dan lumer di mulut.

Selain di warung itu, belilah buah di pasar. Meski kadang kalau ke pasar, belanjaan udah terlalu banyak jadi nggak bisa beli buah banyak-banyak. Biasanya aku beli buah naga di pasar, karena aku bandingin sama di supermarket harganya jauh lebih murah. Lebih suka yang isinya merah karena lebih manis. Kamu suka yang isinya putih atau merah?

Mari biasakan makan buah. Paling tidak, seminggu sekali ada menu buah dalam makanan kita. Antioksidan dalam buah-buahan penting untuk mencegah kanker. Dan tahu nggak biji anggur juga mengandung antioksidan? Makanya ada orang yang suka makan anggur bareng sama bijinya sekalian… contohnya, suami saya. Ih aku mah lebih suka dibuang, hihi.