TORC

Bismillahirrahmanirrahim…

#latepost

Premarital Check up 

Cek Lab Pre marital 

Sebelum menikah, aku melakukan cek laboratorium pre marital. Aku pilih beberapa saja yang menurutku krusial. Hasilnya mengejutkan, IgG toxoplasma tinggi. Padahal aku nggak pernah pelihara kucing (tapi pernah pelihara kelinci, marmut, dkk) Dan aku suka banget lalapan, dan sempat konsumsi raw food beberapa bulan ke belakang. Saat hamil, aku cek lagi karena khawatir. Dan hasilnya meningkat.

Setelah diberi masukan oleh dr. Prita, Sp.OG supaya cek ulang IgG toxo, kemarin aku cek laborat lagi. Sebetulnya diminta sekalian dengan aviditas toxo, cuma setelah tahu mahal banget, ditunda tunggu hasil (harapannya igG turun).

Disarankan juga cek IgG IgM Rubella dan CMV. Agak galau di sini. Butuh tambahan biaya juga untuk cek. Meski pilih laborat dengan harga paling murah. Galau juga, seandainya bisa, pilih IgG saja atau IgM saja untuk menghemat. Sementara kalau lihat paket pre marital, ada laborat yang memasukkan pemeriksaan IgM saja, dan ada yang memasukkan IgG saja. Jadi sebetulnya kalau mau ngirit, periksa yang mana? Seperti yang kita tahu, IgG adalah kekebalan, artinya di masa lalu kita pernah terpapar. Sementara IgM adalah infeksi sekarang.

Akhirnya karena berpikiran riwayat saya berhubungan dengan anak-anak Rubella + CMV + semasa koas dulu, jadi diputuskan untuk pemeriksaan lengkap.TORC minus H.

Besoknya ambil hasil. Dagdigdug. Sepulang puskesmas mampir kan, kubawa pulang. Dan ternyata IgG toxo naik 5 angka. IgG CMV + 41. Ahhhh.. kenapa bisa beginiiiii. Alhamdulillah IgM negatif semua. Konsul lagi ke dokter Prita. Memang, pendapat dokter OG beda-beda. Ada yang berpendapat kalau IgG yang + santai saja. Ada yang menyarankan pengobatan.

dr. Prita menyarankan untuk cek aviditas. Setahu saya sih untuk melihat sudah berapa waktu yang lalukah saya terpapar? Menentukan perlu terapi atau tidak. Sementara belum, tapi kita lihat saja nanti.

#edit

Akhirnya aku melakukan pemeriksaan aviditas toxo. Apa itu? Mudahnya, dengan cek ini kita tahu infeksi (lama) toxo itu sudah lebih dari 4 bulan yang lalu atau baru terjadi belakangan ini saja. Lupa harganya, tapi lumayan juga. Apabila indeks aviditas > 0,3 atau high avidity (tergantung reagen yang digunakan), berarti infeksi terjadi > 4 bulan, dan apabila indeks aviditas < 0,2 atau low avidity, berarti infeksi terjadi < 4 bulan.

Alhamdulillah hasilnya high avidity. Aman, insyaAllah. Untuk IgG CMV ku, oleh dr Prita Sp.OG disarankan untuk (kalau mau) konsumsi obat imunitas. Oleh DSOG ku di sini, dengan hasil IgG Toxo ku yang tidak terlalu tinggi, dan hasil IgG CMV ku itu.. tidak perlu pengobatan. Hanya jaga kesehatan, jangan drop. Alhamdulillah, di saat sebelum hamil bisa beberapa kali tumbang dalam sebulan karena migrain, atau flu beberapa bulan sekali, saat hamil bisa dibilang sehat sekali.

Jadi, kalau ada kesempatan waktu dan biaya, bagus sekali untuk cek TORCH (aku nggak cek H(erpes), hemat biaya). Salam sehat ya.

Advertisements

Sepatu Cinderella

Bismillahirrahmanirrahim

Tragedi!

Jam 4 di hari H pernikahan, begitu selesai mandi, Bu Bambang (rias) sudah datang. On time sekali, seandainya aku telat bangun, malu banget yaa.. soalnya beliau masih ada (banyak) jadwal ngerias setelah ngerias aku.

Di tengah ngerias, aku baru ingat kalau selop nikah belom ada di tangan! Panik. Langsung kukabari ibu, yang antara panik-kesel-males jadi satu. Desainer yang juga bikin selop itu dihubungi nggak bisa. Mateng! Terpaksa pake selop sepanjang hayat (alias satu-satunya selop yang aku punya dan itu wedges!) Akhirnya Ibu minta WO ngurusin.

Finally setelah subuh, tu selop dateng dianterin, katanya baru nyampek (dikirim dari tukang bikin selop). Rasanya bahagia banget pas selop itu udah di kamar. Dan hasilnya juga cakep. Ini dia.. Harga menyesuaikan kok, nggak terlalu mahal juga.

res

KUA H-5

Bismillahirrahmanirrahim

12.05.14

Karena Mas Ib baru sampai di Jawa beberapa hari yang lalu, jadi Senin ini kami baru bisa pergi ke KUA bareng buat nasehat pernikahan, dan tanda tangan, dan ngelengkapin syarat.

Setelah ke Puskesmas ngurus SKD, Mas Ib muter bareng bapaknya di Pwt sementara aku masih di Puskesmas Kutasari nunggu jam pulang (pasien bejibun bo). Pulang berusaha cepat sampai, beberes, langsung cus ke KUA bareng bapak. Harapannya langsung cus-cus-cus, terus bisa nganter undangan, blablabla. Ternyataaa.. tidak Saudara-saudara.

Kami terhambat oleh dua orang yang akan bercerai. Pak penghulu sedang memberi nasehat pada mereka. Nasehat yang panjang. Dan aku tahu sebenernya Pak Penghulu juga sedang menatar kami. Sembari batuk-batuk, mengantuk, lapar, aku juga mendengarkan cerita Pak Penghulu dan kadang pertengkaran dua insan yang sedang berusaha bersatu kembali itu.

Setelah 1,5 jam menunggu, akhirnya kami duduk di kursi, bersebelahan. Tanda tangan. Ditanya kenal berapa lama, dikenalin siapa, diberi nasehat agama, dll. Mas Ib ditanyain, sudah belajar ijab qabul belum, ditanya mahar, haha. Nggak lama, alhamdulillah. Abis itu kami berpisah. Mas Ib dan bapaknya harus pulang, aku juga harus melanjutkan tugas hari itu.

Cari pelat nama buat ditempel di piala nikah. Belum nemu yang bisa cepet. Dimana oh dimanaaaaa…

PIALA

Teteh Iya bantuin ngasi piala

#throwback

11.8.2014

Akhirnya nemu tempat bikin plat deket rumah. Soal piala ini, memang piala bergilir di angkatan FK kami. Yang menikah sebelumnya harus ngasi ke yang menikah berikutnya dengan plat nama sudah terpajang. Makanya, karena yang nikah di tanggal 18 Mei, alias sehari setelah pernikahanku ada 3 orang dan itu di Jakarta semua, makanya ribet banget.. hiksss…

Untuk ada Septi yang bantuin. Jadi pas hari jumat, 14 Mei, aku udah ga bisa kemana-mana. Minta tolong ambilin plat di tukang plat sama yang kerja di rumah. Udah itu hari H, si Septi kupasrahi tugas mulia buat naro tu piala abis aku pake foto ke travel.. buat dikirim ke Jakarta.. what a day! Berbagai tragedi dilalui tu piala.. yah.. yang penting udah sampe yaa..

 

DIY Ring Cushion

Bismillahirrahmanirrahim

Agak-agak susah nyari ring cushion yang dekat sini. Atau mungkin aku yang nggak tahu ya.. Jadi waktu nyari di instagram, malah nemu yang keren-keren. Terutama dari luar negeri. Yasudah, niat bikin ini mah.

Sebenernya ada bahan satin yang lagi dijahit baju, cuma kalau nunggu sisanya nggak tahu kapan. Nah, pas kemaren ke tukang jahit ambil baju kebaya bridesmaidnya si Tya, aku bawa sekalian sisanya. Hihi. Jadi tuh bahan hycon-nya tadinya mau kupakai buat gamis bagian bawah, ternyata nggak cukup. Mungkin maksudnya buat furing ya. Tapi berhubung aku pengen gamis, jadi dibeliin sifon sama penjahitnya. Bahan hycon dan lebihan kebaya aku bawa pulang.

Sebenernya masih meriang, dan pengen pergi cari kebutuhan. Cuma karena panas banget di luar, jadi meski belum mandi, aku gunting pola buat bikin cushion. Aku kacau kalau suruh gunting bahan. Ga suka bikin pola. Ga punya penandanya juga. Jadi yaa, berantakan.

Terus mulai jahit-jahit. Apapun seadanya. Benang seadanya. Pita seadanya. Maklum, emang suka numpukin barang-barang sih. Hehe. Alhasil beginilah jadinya… Dari ukuran 23 cm (entahlah kenapa juga bikin segitu) berubah jadi kecill, hihi. Karena nggak rapi-rapi, aku jahit lagi berulang-ulang. Aturan mah ring cushion/pillow gedean yahh.. Gapapa deh. Ini juga nggak tahu nantinya dipakai atau enggak. Tapi seneng aja bisa bikin beginian.

SONY DSC

SONY DSC

 

Sebenernya pengen bikin lagi yang pakai satin polos, cuma keburu males dan keburu waktu. Akhirnya ini juga nggak jadi dipakai karena terlalu rame dan jelek, lagi, hahah.

Card Invitation (with love)

Bismillahirrahmanirrahim

Kenapa harus beda? Kamu kok gitu sih ngebedain undangan? Kayak nggak dianggep nih jadinya.

Bukan gitu.. dari awal aku emang pengen banget ngasih undangan pribadi buat teman dekat. Sempat di “Nggak usah, undangannya masih sisa banyak kok.” sama ortu. Tapi tetep siap sedia model undangan pribadinya. Dan ternyata orang yang diundang membengkak kaan. Kalau bikin undangan lagi, harga udah beda, mepet, dan sebenernya nggak puas juga sama hasilnya.

Akhirnya, aku bikin DIY invitation. Sejak awal pengen bikin undangan yang ‘muda’ dan eye catching tapi berasa ga sopan karena presentase undangan terbanyak kan temen ortu. Yasud.

Kayak apa undangan DIY-nya? Btw ini beneran menguras tenaga, bikin amplop sendiri dong.. penuh perasaan deh pokoknya. Meski sebagaimanapun cantiknya, yang penting kan tanggal walimah, abis itu ga akan disimpen dan dipigurain juga kan. Jadi sederhana lebih baik.

Bahan-bahannya

  • Kertas foto untuk ngeprint undangan
  • Kertas tebal warna ungu (nggak sengaja liat kertas ukuran HVS (legal) warna-warni, pas banget ada yang ungu, jatuh cinta deh 🙂 harganya 400, beli di TokBuk Mutiara)
  • Kertas roti (yang buat alas roti atau apalah, beli yang paling kecil, isi banyak banget cuma 10 ribu, beli di Toko Bahan Kue Intisari)
  • Lem, penggaris, cutter, gunting

Hunting Hantaran

Bismillahirrahmanirrahim

Sesuai adatnya, biasanya dari keluarga calon mempelai pria sebelum hari H akan datang sambil membawa bingkisan. Rencana awalnya acara seserahan diadakan pagi sebelum akad, tapi akhirnya malah jadi malam hari H-1 pake plus plus pula (plus ijin nikah dan tantingan, yang awalnya nggak akan diadakan).

Pas aku libur, diajak beli untuk milih barang-barang sama bulik-nya Mas Ib. Di antaranya baju, sepatu, sandal, tas, makeup, woman things. Karena baru mulai jam 2 kurang, akhirnya aku memutuskan ke 1 tempat yang paling lengkap di kota ini. Awalnya sih mau nyari kemana-mana tapi repot ah. Bagusnya sih, luangkan waktu nggak cuma sehari. Dan pilih tempat mana saja yang akan dikunjungi untuk membeli masing-masing barang. Alhamdulillah dapet semuanya di satu tempat itu, meski beberapa barang yang dibeli bukan yang ‘ter’.

Kelar deh, cuma 2 jam lebih hehe. Untungnya bulik yang nemenin ngasih banyak masukan juga. Suka mati gaya kalo harus beli barang dalam satu waktu, kadang kalo nggak mood nggak bakal dapet dah. Ya namanya juga wanita, apalagi kalau sudah capek ya.

peace

Packagingnya semua diurus sama keluarga Mas Ib, sederhana saja. Ada beberapa yang ditambah lagi dari ibu mertua.

Throwback – Undangan

Bismillahirrahmanirrahim….

6 April 2014 (It’s 1 month 1 week 4 days until The Day)

Si bapak lagi nulisin label. Buat ditempel undangan. Se-ca-ra dari total undangan, rekor terbanyak dimenangkan oleh kolega bapak. Wajar sih, hehe.

Jadi aku masih santai. Sementara baru pinjem buku kenangan SMA. Buat anak SMP dan SD dan Kuliah pake 1 aja cukup kali ya? Hihihi. Soalnya, selama ini undangan dari mereka juga simpel, via grup atau bbm atau sms. Kalau anak-anak SMA beberapa yang sudah nikah tu ngirim undangan ke rumah, jadi… we’ll see.

Undangan ini semua yang ngurusin bapak. Awalnya pengen simpel dan murah, tapi ternyata dianggap kurang menghormati tamu undangan. Jadi semua terserah padanya aku begini adanya… eh… bukan. Semua bapak yang bikin mulai dari kata-kata, model, dll. Tentu semua dipaskan dengan budget harga undangan dari WO.

Yang terjadi adalah, bahasa undangannya bukan indonesia atau inggris melainkan bahasa jawa. Yang mana aku sendiri juga ngartiinnya susah. Tapi kalau kuprotes, kata bapak kan yang penting tanggal dan nama mempelai jelas. Uhm. Okay Dad…

Mari kita lihat hasilnya seperti apa..

9 April 2014

Dengdong. Aku mulai bimbang. Pengennya sih nggak cuma kasih undangan via fb atau bbm buat temen-temen. Cuma apa daya, alamat aku kadang nggak punya. Nganterinnya kapan. Dan kalau dititipin kadang bisa nggak sampe dan akhirnya malah sama aja kaya nggak kasih undangan.

Terus aku tergoda pengen bikin invitation card kayak orang luar gitu. Cukup pake picmonkey.com semua sudah berhasil digarap. Sempet kesel karena laptop berdaya pikir rendah itu menghambat pekerjaan. Setelah pindah ke pc baru deh setsetset, langsung enak. Ini hasilnya, rencana sih pakai amplop bikin sendiri, ini undangan buat temen deket aja.

save the date 2

 

21 April 2014

Argh.. counting the day! *masih kipas-kipas

Tanggal 18 kemarin, undangan datang. Finally. Setelah mundur 1 hari dari jadwal. Langsung kami sortir, lumayan banyak yang apkir dan beda warna, lem nggak pada tempatnya, kebalik nempelnya, phew. Ya, sesuai harga ya. Meski lumayan juga sih, cuma nggak puas.

SONY DSC SONY DSC SONY DSC

Selama 3 hari, ngebungkus undangan. Yah, aku yang kontribusinya paling dikit karena harus nyambi jaga. Pas habis jaga sore yang crowded, langsung ditodong bantuin. Ampe tengah malem lebih sambil nonton Masih Dunia Lain (hihi) sampe tepar ngantuk baru stop. Besoknya bangun pagi, lanjutin, ngantuk lagi. Haha. Males.

Harus mulai nempelin label.. Ommmmooo

Scrapbook Pigura

Bismillahirrahmanirrahim

Yah, nggak tahu deh penamaannya betul atau enggak. Tapi mupeng bikin yang begituan. Cakep-cakep, lihat di instagram. Coba aja searching. Kebetulan, punya piguranya. Jenis pigura yang kayak box. Hadiah dari si Hikari Azzahirah 🙂 makacii yaa.

SONY DSC

Pertama, bikin konsep. Yang gampang.

Terus googling bahan scrap, pelengkap.

Print di kertas foto.

bts

Taro di pigura.

BTS, berantakan

BTS, berantakan

Coba sebelum ditempel

Coba sebelum ditempel

Dibikin pake kertas biasa dulu buat nyobain

Dibikin pake kertas biasa dulu buat nyobain

Hasil

Hasil

Syarat KUA

Bismillahirrahmanirrahim..

DOR! Aku nggak ngerti harus mulai dari mana untuk urusan KUA. Jadi, sementara aku stripping jaga, bapak yang ngurusin sampai tingkat Pak Kayim. Hehe. Sementara aku jaga, bapak butuh KTP-ku. Dan aku nggak punya pulsa buat kirim via line.. beli pulsa dulu, 15 ribu raiiibb cuma buat kirim via line.

Yang penting sih ada berkas-ku masuk ke KUA, katanya. Sementara punya si Mas masih belum nyampe, baik surat numpang nikah maupun yang lainnya, kepotong dinas luar. Abis itu yang ngurusin sih WO, hehe…

Bagi anda yang akan melangsungkan Pernikahan di KUA (Kantor Urusan Agama) harap membawa surat-surat sebagai berikut :

  1. Foto Copy KTP dan Kartu Keluarga (KK) untuk calon Penganten (caten) masing-masing 1 (satu) lembar.
  2. Surat pernyataan belum pernah menikah (masih gadis/jejaka) di atas segel/materai bernilai Rp.6000,- (enam ribu rupiah) diketahui RT, RW dan Lurah setempat. Contoh blanko surat pernyataan belum pernah menikah.
  3. Surat Pengantar RT – RW setempat.
  4. Foto copy piagam masuk Islam (jika mualaf).
  5. Surat keterangan untuk nikah dari Kelurahan setempat yaitu Model N1, N2, N4, baik calon Suami maupun calon Istri.
  6. Pas photo caten ukuran 2×3 masing-masing 4 (empat) lembar & ukuran 4×6 masing-masing 1 lembar (latar belakang warna biru), bagi anggota ABRI/TNI/POLRI harus berpakaian dinas.
  7. Bagi yang berstatus duda/janda harus melampirkan Akta Cerai asli beserta salinan putusan berita acaranya dari Pengadilan Agama, kalau Duda/Janda mati harus ada surat kematian dan surat Model N6 dari Lurah setempat.
  8. Harus ada izin/Dispensasi dari Pengadilan Agama bagi :
    • Caten Laki-laki yang umurnya kurang dari 19 tahun;
    • Caten Perempuan yang umurnya kurang dari 16 tahun;
    • Laki-laki yang mau berpoligami.
  9. Ijin Orang Tua (Model N5) bagi caten yang umurnya kurang dari 21 Tahun baik caten laki-laki/perempuan.
  10. Bagi caten yang akan menikah bukan di wilayahnya (ke Kecamatan/Kota lain) harus ada surat Rekomendasi Nikah dari KUA setempat.
  11. Bagi anggota ABRI/TNI/POLRI dan Sipil ABRI/TNI/POLRI harus ada surat Izin Kawin dari Pejabat Atasan/Komandan.
  12. Kedua caten mendaftarkan diri ke KUA tempat akan dilangsungkannya akad nikah sekurang-kurangnya 10 (sepuluh) hari kerja dari waktu melangsungkan Pernikahan. Apabila kurang dari 10 (sepuluh) hari kerja, harus melampirkan surat Dispensasi Nikah dari Camat setempat. From here.

IMG_20140324_204834_wm

 

17 April 2014

Wah.. Sebulan lagi ternyata.  Dan undangan belum ada di tangan. How come? Ah santai.. (gundulmu) Hihi,

Oya, hari ini jam 9 pagi ke KUA buat nganter syarat yang kurang (foto 2×3 sebanyak 4 lembar, tadinya kirain 3×4 ternyata salah..) sama SKD. Penghulunya lagi nikahin orang, jadi aku suruh balik sana jam 2 siang.

Jam 2 siang, ketemu pak penghulu buat tandatangan. Aku sama bapak tandatangan dah tuh, sekalian interogasi, menekankan bahwa ini pernikahan bukan karena paksaan. Dan ternyata SKD ku salah, harus dari Puskesmas (padahal yang aku denger, masalah SKD dan suntik TT kadang g mutlak, dan nggak diperhatiin) Okey.. Masalahnya adalah aku dan Mas Ib harus periksa kesehatan di Puskesmas yang sama, di kecamatan-ku. Terus nanti lanjut tandatangan Mas Ib di KUA, lanjut nasehat pernikahan.

Kalau aku tanya-tanya temen, beberapa (oke hampir semua) nggak harus jejer berdua ngedengerin nasehat pernikahan. Tapi pernah baca juga ada yang pake kursus sebelum nikah. Intinya, aku harus duduk berdua di depan pak penghulu sebelum akad. Mmm..

Ya udah, aku komunikasikan. Alhasil nanti setelah Mas Ib sampai di Jawa, kami bikin jadwal tour ke Puskesmas dan KUA. Dan aku juga harus minta ijin kerja…

 

27 Juni 2014

Akhirnya pada suatu hari sepulang aku dari puskesmas, kami berdua ketemuan di KUA. Tentunya bersama bapak masing-masing. Sebelumnya Mas Ib sudah ke Puskesmas Purwokerto Timur untuk meminta Surat Keterangan Dokter. Nah, di KUA kami menunggu lamaaaa sekali karena pak penghulu sedang memberi nasehat kepada dua orang yang akan bercerai. Uh membosankan. Tapi seru juga karena sebetulnya Pak Penghulu sepertinya sengaja memberi ilmu pernikahan untuk kami semua yang ada di ruangan. Ngantuk. Sementara Mas Ib sesekali main tab, aku batuk-batuk parah, dan akhirnya kami berdua bisa duduk di depan Pak Penghulu. Sebentar saja, karena dianggapnya kami sudah cukup menyerap ilmu dari penjelasan sebelum itu. Lalu diingatkan soal doa-doa yang harus dilafalkan. Sudah. Kami berpisah untuk bertemu kembali di H-1.

Gaun Akad & Walimah

Bismillahirrahmanirrahim

Menentukan model baju yang akan dipakai itu malesin, soalnya ribet, hehe. Udah cari berbagai model, masih aja belum nemu yang sreg. Yang pertama dicari adalah model baju akad. Berdasarkan petunjuk tetua Unyut, hihi, ada tempat jahit yang lumayan dan harga juga nggak mahal. Waktu nikahannya temenku, dia juga bikin di sana dan puas. Harga miring.

Akhirnya berbekal model seadanya, kami ke sana. Bu Mei namanya. Nunggu lama banget sambil lihat-lihat model di majalah, akhirnya sudah memutuskan model. Brokat yang kubeli warnanya putih memplak, bukan putih tulang. Sementara aku belum beli dalemannya, jadi setelah diukur, disuruh beli lagi bahan satin dan tile buat bikin veil.

Kami ke toko Laris Manis, nyari satin yang bagus, bahannya jatuh dan halus, nggak sumuk juga kalau dipakai. Eh.. nggak ada yang warna putih memplak. Akhirnya beli warna putih tulang. Tile dapet yang bagus juga, nggak kasar, tapi lembut, warna putih.

Setelah kubawa lagi, ternyata warnanya bagus juga perpaduannya. Tinggal tunggu jadi 🙂 Semoga memuaskan.

Untuk baju saat walimah. Aku dan ibu beli bahan belakangan. Menentukan model, pengen yang simpel aja. Tadinya pengen bikin sewa perdana, di mana kita jahit di tukang riasnya, bayarnya sekitar 60% dengan model yang kita mau tapi hasil akhir nanti setelah kita pakai, bajunya buat dia. Setelah dipikir lagi, kalau bikin sendiri dengan harga yang sama malah bisa buat sendiri. Makanya bikin yang nggak heboh. Modelnya mirip punya OSD tapi beda warna, dan modif model.

Warnanya dari awal pengen ada sentuhan ungu. Jadi aku beli brokat ungu, sifon ungu, satin abu-abu. Nggak semuanya kualitas pertama kok, cuma nyari yang di tangan rasanya enak, bahannya jatuh, itu aja. Ukurannya juga nggak maksimal. Brokat, kita cari nggak full 3 meter, cuma ambil tepiannya buat ditempel aja di satin abu-abunya.

Setelah tanya-tanya, kami dapat rekomendasi Desain dan Rumah Jahit Bhyandha. Di sana ketemu sama Mba Ida. Untuk range harga jahit 1 juta ke atas, sesuai budget bisa, menyesuaikan bahan manik dan batu-batuan yang bakal dipakai. Kami cari yang pertengahan aja. Setelah digambar sketsa baju, mulai diukur. Ditawari bikin selop juga, dengan harga sekitar 250 ribu. Berhubung belum punya, dan agak malas nyari juga, akhirnya ngukur kaki buat bikin selop dengan heels 7 cm. Nggak terlalu tinggi, supaya nggak ngalahin Masnyah 😀

Buat Mas Ibnu, model jasko. Kami beli bahan warna abu-abu yang dekat sama warnaku. Sebelumnya Mas Ibnu diukur sama penjahit langganan dekat rumah, yang garapannya rapi dan pakem. Ngukurnya waktu khitbah, hehe. Soalnya kerjanya jauuh sih. Nah, setelah beli bahan yang pas untuk jasko dan dalemannya, kami tinggal naruh di penjahit Lestari, langganan kami.

14 April 2014

Akhirnya baju akad selesai juga. Sebelumnya sudah pernah fitting. Bukan superoke, tapi cukup bagus, dengan harga wajar.

25 Juni 2014

The photos

This slideshow requires JavaScript.

Simpel banget kan gaun akadnya. Sebenernya di bagian pinggang ada variasinya, tapi nggak kelihatan jelas. Untuk cape pake punya salon, sebenernya payetnya ga matching banget tapi karena masih sama-sama putih jadi kelihatan pas. Apalagi ditambah aksesori bros di dada. Kain tile untuk veil juga beli di toko kain lalu dibordir dan payet. Mayetnya yang agak lama deh.

Para penggemar OSD pasti tahu gaun nikahnya yang dibikin by Irna La Perle untuk walimah utama, warna merah marun yang sederhana tapi bagus. Waktu nonton doi nikah, suka aja ngeliatnya, tanpa kepikiran sebentar lagi juga akan melangsungkan hal serupa. Gaun dalaman lengan kutung dari bahan sifon ungu, jubah dari satin abu diberi ceplok kebaya ungu, di dada ditutup selempang ungu yang dipeniti di bahu, veil abu plisir ungu. Meski jadi di waktu yang sangat mepet dan nggak sesuai janji, tapi hasilnya SUKA banget. Alhamdulillah 😀

Kalau jasko Mas Ib termasuk agak gagal nih, karena dibuatnya nggak sesuai harapan. Harusnya semacam jas, diberi kain kaku di dalamnya tapi ini enggak, jadi terlalu lemas. Karena sudah terlanjur dijahitkan di penjahit biasa, akhirnya dibawa ke desainer dan rumah mode yang bikin bajuku juga untuk dipayet, ditambah kancing yang sesuai juga. Hasilnya kurang oke, karena bagian kerah lupa dikasih kancing sama penjahitnya, jadi kesannya kurang rapi dan kurang gagah rrr.. Haha. Dan salah satu penyebabnya juga karena gak fitting. Padahal jas hitam yang untuk akad itu jahit di penjahit yang sama lhoo. Tapi mungkin karena nggak biasa jahit jasko, jadi hasilnya kurang sip. Harusnya dari awal ditaro di desainer aja kali yaa.