3 Nights at Semarang

Bismillahirrahmanirrahim

Bepergian membawa bayi ada di urutan bawah wishlist-ku. Well ya aku ngebayangin aja gimana rempongnya, hahaha. Anak rumahan begini ya. Tapi ada urusan tak terduga, di hari Selasa aku ditugasi ke Semarang untuk 4-5 Februari 2017. Bawa bayi 15 bulan untuk acara full day itu berarti harus bawa ART juga. Alhamdulillah konfirmasi ke ART, dia mau. Yeay.

Tapi, meninggalkan bayi hanya dengan ART bikin mikir juga hihi. Akhirnya aku bawa sertalah adikku. Langsung cari hotel dan tiket kereta. Aku sama sekali buta Semarang, dan aku nggak suka perjalanan dengan mobil ke sana. Jadi langsung aja pesan tiket kereta Kamandaka, kereta satu-satunya dari Purwokerto ke Semarang dengan jarak tempuh 5 jam kurang.

Mencoba pesan hotel dengan Travelok* tapi gagal, apalagi hotel di Jl. Majapahit yang muncul hanya 1 hotel (padahal aslinya banyak). Hmmm… Harus buru-buru pesan takut dapat hotel kejauhan (dan ternyata lokasinya masih tetap jauh, karena lokasi yang dituju pun nggak muncul di google map). Yoweslaaaaa… pake Pegipeg* akhirnya. Ga banyak cincong langsung booked.

Berhubung hotel yang kupilih untuk malam 1 dan 2 adalah hotel biasa, sayang ya… jalan-jalan bisa beberapa tahun sekali gitu hehe. Jadi untuk hotel di malam terakhir saat sudah bebas tugas aku cari hotel yang agak mendingan. Kenapa 3 malam? Harusnya sih bisa aja cuma 2 malam, tapi karena jadwal mepet sama jam keberangkatan terakhir kereta jadi diundur ke Senin pagi dini hari.

Di malam pertama kami menginap di Hotel Dalu Jl. Majapahit sementara malam ketiga kami memutuskan menginap di hotel Star Jl. MT Haryono. Pesan tiket untuk 4 orang supaya lebih longgar dan nyaman.

Kami berangkat hari Jumat 3 Februari jam 11 siang. Beberapa hari terakhir Ichi di-sounding secukupnya, aku kasi video Bob si Kereta, Thomas, dan Kereta Api. “Ichi mau ke Semarang, naik kereta? Tutututut gujes gujessss. Gimana? Tututut gujes gujess… ”

Aku memang khawatir, karena Ichi gampang takut. Meski sekarang udah mendingan gak kayak waktu masih kecil, bisa geger! Haha. Suara kereta kan besar ya, kalau dia takut, sepanjang perjalanan apa gak serem?

Tapi ketakutanku ternyata ga terjadi. Begitu masuk melewati pemeriksaan, Ichi antusias sekali lihat kereta. Wow… dia nunjuk-nunjuk kereta. Bahkan saat peluit menyala, dan kereta lain jalan dia masih antusias. Alhamdulillah. Hmm tahukah… sepanjang jalan dia ceria sekali, makan nggak berhenti, naik-turun koper saat sedikit bosan, dan tidur saat mengantuk. Tanpa minta jalan-jalan dan gendong. Good job, Boy! Proud of you! Menyanyi, dan menyapa tetangga kursi. Sampai dipuji Bude-bude kalau mas bayi anaknya anteng.

Pemandangan dari kereta

Setelah sampai di Stasiun Tawang, rencana awal kami dijemput oleh Hotel karena mereka punya layanan jemput juga. Tapi di perjalanan kami ditelepon karena ternyata mereka tidak bisa jemput, jadi kami akan diganti biaya taksi. Alhamdulillah.

Kamar kami kecil, tapi no problem lah. Kami dapat akses wifi. Bersebelahan dengan ACE Hardware (dan sekarang nyesal ga mampir). Sejalur dengan pempek Ny. Kamto, Richesee Factory, Lotte mart. Dengan lokasi yang dituju jaraknya memang agak jauh, jadi aku memutuskan download aplikasi gojek.

Pengalaman pertama order gojek sedikit lucu, karena salah pencet order, pak gojek ini datang padahal belum waktunya berangkat. Bayaran gojek rata-rata hanya 5000 saja, tapi atas dasar kemanusiaan biasanya kulebihkan.

Malamnya kami makan di Citraland, sibayi bahkan sempat minta ASI di taksi dan tertidur. Tapi begitu liat mall dia antusias dan makan lahap. Pulangnya ngantuk lagi. Untuk sarapan, Hotel Dalu punya menu sederhana yang enak. Aku suka deh pokoknya. Bahkan di sarapan kedua menunya lengkap sekali.

Malam kedua kami sudah capek dan ngantuk, jadilah order go-food Richessee ahay. Lemak-lemakkkk. Hari ahad siang aku ada acara, bayi dan kroco-kroco pindahan hotel. Untuk hotel dan wisata lebih lengkap kayaknya harus ada postingan lain, hihi. Tunggu yaaaa 🙂

Lunpia Express

Tekwan

Hari ahad itu menyenangkan. Wisata ke Masjid Agung Jawa Tengah dan penuh lampu kota Semarang (akan ada postingan berikutnya ya hehe) Special thanks to Mas Toffan dan Mba Ade yang ngajak kami ke sana. Hmmm. Indah! Lagi-lagi order go-food untuk beli oleh-oleh Pempek Ny. Kamto pesanan dan Lunpia Express pesanan (pesan crab tapi habis, huhu) karena waktu yang sempit. Gara-gara nunggu pesenan go-food gak datang-datang, temenku Laeli kelamaan nunggu di McD Java Supermall (kami janjian). Pas dia memutuskan ke lobi hotel, aku malah ke Mall beli Solaria karena belum makan malam. Tapi kami tetep ketemuan dong, bahkan ke rooftop segala. Jam 10 malam! Bersama 2 bayi, eim! Makasi kakak Kenzie..

Masjid Agung Jawa Tengah dari puncak Menara

Swimming Pool di Star Hotel Semarang

Paginya di hari terakhir kami bangun setengah 3, agak parno terlambat kereta tapi sebetulnya sih kalau cek ot jam 4.30 pun mungkin keburu banget. Tapi hikmahnya berangkat stasiun jam 4 ya shalat subuhnya di mushala Stasiun Tawang.

Perjalanan pulang sibayi cranky. Ngantuk. Minta ke bordes. Daripada bikin riuh dan jadi tontonan orang, aku bawa bayi ke bordes dan berdiri di sana bergetar hebat, goyang-goyang dan berisik. Tahu lah gimana bordes. Di depan toilet. Mana pintu ngebuka sendiri, pintu samping ituuu yang harusnya terkunci dengan baik >,< Aku takuut. Jadilah nyebrang ke gerbong belakang. Hey.. sepi.

AC adem, sepi, dan si bayi pun pulas. Sejak dari Slawi rewel, Bumiayu tidur sampai Purwokerto. Dan dia bangun dengan bahagia.

Pengalaman yang sangat menyenangkan >,<

Tips Bunichi Bepergian bersama Bayi Naik Kereta (ala-ala aja sih, ya)

  1. Prepare dengan baik masalah baju, jaket, makanan, mainan, buku, gendongan, dll. Ingat, tetep usahakan space jangan terlalu banyak, repot bawanya.
  2. Gimana kalau bayi nggak suka makanan hotel atau mall atau resto? Bunichi bawa oatmeal, dan buah-buahan. Jadi kalau sarapan si bayi lebih sering makan oatmeal buah.
  3. Mandinya gimana? Biasanya pakai bak. Sejujurnya yang mandiin bayi selalu rewang, tapi kalau pengalaman nginep di hotel sebelumnya, ya pakai shower mandinya. Kalau kemarin, pakai air wastafel diguyur pakai baskom (bawa baskom buat steril alat)
  4. ASIP gimana? Jam siang bayi datang ke klinik untuk ng-ASI, tapi dia terlalu asyik main jadi nggak mikir ng-ASI, lebih suka jegjegan. Tetap bawa BP meski nggak dipakai hehe. Sebaiknya sih mompa, terutama kalau masih banyak ASI-nya.
  5. Untuk kasus darurat, Buni save video mainan dan Bob si Kereta. Walaupun pas lagi pulang tuh ini nggak mempan, tapi pas berangkat sempat bikin dia agak anteng dibanding naik-turun kursi.
  6. Selalu siap ng-ASI dimanapun berada, baik di kereta maupun di taksi.
  7. Jangan lupa sounding ya. Pas pulang bayi lupa disounding, tapi juga karena ngantuk jadi nggak kayak berangkatnya.

    Kalau tips kalian apa? 

    Advertisements

    Soto Kuah Kuning (Semarangan feat Lamongan)

    SONY DSC

    Bismillahirrahmanirrahim

    Buka kali ini bikin 1 menu aja, semua bahan ada di tukang sayur. Siang cuma bikin kuah kaldu dan rebus telor. Sore menjelang buka baru nyiapin kelengkapannya. Dibanding bikin soto sokaraja, soto ini jauh lebih gampang. Cepet pula. Dimakannya pakai nasi, tempe, dan perkedel (kebetulan pas ada perkedel kemarin). Enak lagi pakai sate kerang ya, whoaaa. Soto ini andalan kalau pas lagi pengen kuah-kuah. Biasanya sih rikues aja sama khadimat, hehe. Kenapa Semarang feat Lamongan? Karena ditambahin kobis aja kayak soto Lamongan hehehe. Jadi inget dulu temen ampe ngidam soto lamongan gitu pas hamil. Selamat mencobah. ^^

    Aku pakai resep SAJIAN SEDAP ini 

    Soto Ayam Kuah Kuning

    Bismillahirrahmanirrahim

    SONY DSC

    Bingung kan sama judul resepnya? Ya lah aku juga bingung. Ini mau bikin soto lamongan, atau soto semarang, aku aja nggak paham. Hehe. Berbekal resep dari khadimat, aku bikin soto ini. Yang jelas hasilnya enak dan bisa dimakan, haha. Diusahakan cuma pakai minyak baru sesedikit mungkin, dan no msg. Kalau yang rasanya menggugah dan enak bangetngetnget kayak di warung-warung, mungkin karena minyaknya cukup banyak jadi buat ngeluarin rasa dari bumbu, dan msg tentu buat kuah kaldunya.

    the recipe!

    Bahan :

    1. Ayam bagian dada
    2. Tauge, rendam air panas
    3. Sohun, rendam air panas
    4. Kubis, iris
    5. Tomat, potong kecil
    6. Bawang merah/putih goreng

    Bumbu :

    1. Bawang bombay seperempat, iris
    2. Bawang putih 3 btr, Jahe 1 ruas, keprek
    3. Kunyit 2 ruas, bakar, kupas kulitnya, keprek
    4. Kemiri 2 butir, haluskan
    5. Merica bubuk
    6. Pala bubuk atau butir diulek kasar (sedikit saja)
    7. Daun jeruk (kalau ada, aku nggak pakai)
    8. Lengkuas, iris
    9. Daun Salam 4 lembar
    10. Sereh keprek 2 buah
    11. Garam, gula, minyak
    12. Daun bawang, iris
    13. Cabai merah + rawit merah

    Cara membuat :

    1. Rebus ayam yang sudah dicuci bersih, buang busa-busa yang mengapung di air
    2. Tumis : bombay + kemiri halus + bawput keprek + jahe keprek + kunyit keprek dalam 1 sdm minyak panas
    3. Masukkan tumisan bumbu ke dalam rebusan ayam,
    4. Tambahkan lengkuas, daun salam, sereh, daun jeruk
    5. Beri garam, gula, merica, pala (ini biasa deh, pake feeling.. koreksi, koreksi)
    6. Angkat ayam yang sudah matang, suwir-suwir, masukkan lagi ke kuah (sengaja, nggak digoreng ayamnya)
    7. Sudah dicicip? Masukkan daun bawang iris, angkat..
    8. Tata tauge, sohun, kubis, tomat, daun bawang, tuang kuah + ayam suwir, taburi bawang goreng, beri sambal..
    9. Mau tambahin nasi, telur rebus, emping, kecrutin jeruk nipis, lebih lazizzzz 🙂
    10. Selamat menikmati!

    Sambal :

    1. Rebus cabai merah dan rawit merah
    2. Ulek, beri garam sedikit, sudah deh..
    SONY DSC

    Siap disajikan

    SONY DSC

     

    Pakai nasi merah putih

    Pakai nasi merah putih

    Tuang kuahnya, pakai sambal, bawang goreng

    Tuang kuahnya, pakai sambal, bawang goreng

    SONY DSC

    Salam dari dapoer HN ^^

    Semarang Sehari

    Bismillahirrahmanirrahim…

    Listening to : Bunga-bunga cinta by Ebiet G. Ade

    Getar-getar cintaku dan cintamu
    Terwujudlah semua angan-anganku
    Aku ada bersamamu, engkau ada bersamaku
    Selamat pagi isi bumi, selamat tinggal bayang-bayang sepi
    Selamat tinggal bayang-bayang sepi

    Kemarin, untuk pertama kalinya aku menumpang ular besi menuju Semarang. Memang, kereta Pwt-Smg ini belum lama beroperasi (lagi), kata bapak sih dulu pernah ada rute ini, tapi jarang yang naik karena jam-nya gak oke. Dengan 70 ribu, hanya sekitar 4,5 jam kami bisa menumpang kereta ekonomi AC Kamandaka ini.

    Jadi ceritanya kami ada acara penarikan dokter iship di Dinkes Prov, Semarang. Karena aku paling nggak suka perjalanan darat ke Semarang, pilihan naik kereta sangat menggiurkan. Jadilah aku dan beberapa kawan naik kereta ini. Awalnya bertiga, lama-lama teman lain ikut pesan tiket, 1 gerbong pula. Jam keberangkatan jam 5 pagi. Meski bukan morning person, tapi kalau ada jadwal pagi, aku siapkan semampunya. 3 gadget kusetel alarmnya.

    Jam 5 mereka berteriak-teriak. Kupencet ‘tunda 5 menit’ tapi begitu ingat pukul 5 harus ada di stasiun, langsung bangkit ke kamar mandi. Bapak aku bangunin. Kami nunggu subuh setengah 5, sementara mobil harus sudah siap pacu. Begitu selesai shalat, langsung berangkat lah ke stasiun. Menunggu teman, yang tiketnya masih di tanganku. Aku panasi supaya buru-buru masuk, kereta sekarang kan nggak semolor dulu. Nggak mau ketinggalan kaya seseorang gitu *lirik poto suami.

    Akhirnya datang jugaa temansku itu… Kami masuk, dan wow.. kursi hampir penuh lah.. Nggak bisa deh kalo mau asal pilih tempat duduk. Apalagi itu hari senin, rupanya banyak yang sekalian berangkat kerja. Kalau tujuannya Tegal, mereka bisa sampai di sana pada pukul 7.. cool.

    Banyak ngobrol, sekitar jam 10 kami sampai, yaa keretanya agak lemot.. Naik taksi dari St. Semarang Poncol ke Dinkes, yang ternyata jaraknya cuma sepelemparan batu (tapi yang ngelempar atlet lempar lembing). Deket sih, tapi kalo bawa gembolan bumil dan busui (dua temanku ini yang satu bumil 9 bulan–aku paksa bawa baju persiapan lahiran–, dan busui bayi 1 bulan) berat juga, hihi.. panas pulaa…

    Sampai Dhuhur di Dinkes Prov, shalat di lantai 3, lalu melanjutkan perjalanan setelah ganti baju dan usap-usap keringat. Nge-mall dulu dahh.. ke Paragon. Yang tinggal jalan doang dari sana. Laperrr. Makan di Solaria (udah halal) yang nasgornya porsi kuli, ga abis kan… (maap ya).. muter di Matahari (cari diskonan).. Jam 3 nongkrong di Jco (numpang duduk doang) lanjut ke SemarangPoncol lagi naik becak yang minta 20 ribu, kutawar 15 ribu (ngomongnya udah se-semarang mungkin) hanya buat perjalanan 5 menit-an kali.. Aww..

    Sampai di Stasiun, ngemper dulu sambil nunggu kereta datang. Dikirain bakal kosong, ternyata banyak juga yang ikut naek kereta balik ini.. Yasud lah…

    Menyenangkan betewe, kami disuguhi pemandangan laut yang super indaahhh (Subhanallah) di samping kereta. Bener-bener deket banget sama ombaknya.. Kadang ada batu-batuan dan pepohonan pinggir pantai. Kadang cuma kelihatan garis air laut seakan kereta berada di bawahnya.. Sayangnya baik berangkat maupun pulang, kursi kami nggak langsung di samping pantai.. jadi yaa dari jauh aja nontonnya..

    Plabuan (klik untuk link)

    Tapi, perjalanan ini juga berarti perpisahan. Karena mungkin kami akan lama kembali ketemu dengan teman-teman seperjuangan. Selama setahun ini kami berjuang bersama, baik yang 1 lokasi maupun yang beda lokasi. Rumah Sakit, Puskesmas, ketemu para dokter, perawat, bidan, semua menyenangkan!

    Di perpisahan Puskesmas, waktu menyampaikan terima kasih, agak bergetar dan berkaca.. meski hanya 4 bulan tapi kenapa begitu mengena ya? Pokoknya selama 1 tahun itu banyak sekali kenangan, ilmu, dll yang mengagumkan… Dulu mungkin malas banget menghadapinya. Ketakutan. Bahkan turun beberapa kilo di awal. Tapi stabil di tengah. Dan naik di akhir -_-…

    Terima kasih semua. Untuk kenangannya.

    This slideshow requires JavaScript.